Aku melihat kembali kalender tahun lalu di
kamarku. Ada satu kebahagiaan yang menyelinap seketika ke sekujur
tubuhku—mempercepat kemudi detak jantungku. Angka 4 dalam bulan Februari
menjadi momen penting sekaligus membahagiakan: Ya. Dari sana perjalanan kita
bermula—
***
Hari ini adalah hari ke-365... bulan
ke-48... tahun pertama, sejak aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadamu
dan kamu menerimaku: Ya, aku mengingatnya! Aku bahagia mengenalmu.
“Malam nanti ada festival band se-Banyuwangi
di lapangan Maron, Genteng. Kamu tahu?” waktu itu kamu bertanya melalui SMS.
“Benarkah?” aku sedikit terkejut, “Kamu
ntar ke sana?” sambungku, balik bertanya.
“Kalau jadi, aku ke sana. Masku jadi
panitia dalam acara tersebut dan aku diajak.”
“Oh, ya sudah. Gampang,” sejujurnya aku
tidak tahu mengapa harus membalas pesanmu dengan kalimat itu.
Tapi untunglah kamu menangkap maksudku,
dan, “Kamu mau lihat?” tanyamu.
“Insya Allah,” aku senang mendengarnya
tersebab, barangkali, inilah kesempatanku untuk bertemu denganmu.
Dalam benakku, aku sudah merencanakan
segala sesuatu untuk merayakan pertemuanku denganmu: Menyapamu atau tersenyum
kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak
biasa.
Tentang perjumpaan kita nanti malam, aku
sudah menyiapkan pakaian mana yang cocok kukenakan. Sementara semua rencanaku
telah kusiapkan, di luar hujan.
Ah,
bagaimana ini? Mengapa harus turun hujan? Umpatku dalam hati. Perasaanku
sedikit terguncang. Ada kekhawatiran yang entah bagaimana caranya mulai
menjalar ke dalam diriku. Dan pertanyaan itu menyerbuku: Bagaimana jika hujan sore
ini tak kunjung berhenti?
***
Sore itu aku masih duduk di teras
rumah—menatapi hujan yang tak kunjung reda. Dalam hati, aku merapal doa
dalam-dalam, “Tuhan, hentikan hujan hingga nanti malam.”
***
Ping!
Satu pesan diterima. Darimu.
“Ternyata festival band-nya bukan malam
nanti, melainkan besok. Untuk nanti malam, Masku cuma persiapan.”
Aku bingung mau menjawab bagaimana. Sementara,
jam sudah menunjukkan pukul 06:15 pm. Akhirnya kuputuskan untuk meneleponmu
saja—
“Halo? Bagaimana? Malam ini kamu nggak bisa
keluar?” tanpa basa-basi aku langsung menyodorkan pertanyaan.
“Nggak tahu juga. Kayaknya enggak deh,
orang festivalnya nggak jadi sekarang kok. Lagipula sekarang juga hujan; nanti
di Maron aku juga mau ngapain?”
Kita diam...
Maka aku berpikir, apakah malam ini kita
tidak bisa bertemu?
Tiba-tiba aku ingat bahwa hari ini, Sabtu
tanggal 4 Februari, adalah hari terakhir kamu di sini. Besok, pagi-pagi sekali
kamu mesti pulang ke Gresik. Lalu, ah ya, aku teringat kembali rencanaku untuk
merayakan pertemuanku denganmu: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar
menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.
“Ya sudah, ntar kamu sama aku saja,”
gurauku, mencoba merayumu.
“Mau ketemu di mana memangnya?”
“Di mana saja. Asalkan kita ketemu!”
“Ya sudah. Gampang.”
“Oke, aku berangkat sekarang...”
Ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Maka,
apakah malam ini kita tidak bisa bertemu? Rupanya bisa! :-)
***
... Sampai pada akhirnya kita berjumpa...
“Hai!” aku tersenyum.
Kamu hanya tersenyum lantas mempersilakan
masuk, “Ayo, masuk!”
Dari awal, aku tidak bisa menyembunyikan
kegembiraanku sebab pertemuan kita malam ini. Aku menantikan semua ini terjadi:
Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu
memulai percakapan yang tidak biasa.
Malam ini telah berhasil membuatku
bahagia—barangkali kamu juga.
“Aku nggak menyangka kita bisa
bertemu—berdua saja,” kita tertawa.
***
Malam itu kita duduk berdua. Hujan sudah
mulai reda. Lamat-lamat suara katak terdengar berirama. Suara Mas Habib yang
menyuruh kita masuk ke dalam rumah terdengar di telinga. Sementara, cerita kita
baru saja bermula.
***
“Mungkin cukup dulu, ya? Aku mau pulang,”
aku pamit.
“Iya,” kamu tersenyum. Ah, senyum seperti
inilah yang selalu aku tunggui... aku nikmati.
Seperti tatakrama tuan rumah terhadap tamu
mana pun; kamu mengantarku sampai teras depan.
“Bagaimana tentang kita?” sebelum
meninggalkanmu, aku memulai percakapan kita yang tak biasa. “Sesuai obrolan di
SMS tadi pagi: Maukah kamu jadi pacarku?”
Kamu diam saja.
“Nggak mau, ya?” candaku segera.
“Emangnya kamu yang dikasih pertanyaan?”
matamu sedikit melototiku.
“Ha-ha-ha! Ya sudah, begini saja; kamu
pilih A atau B? Kalau A berarti, kamu mau. Dan kalau yang B, berarti
sebaliknya.”
Tapi kamu masih diam.
“Yang B-kah?”
“Hah? Enggak!” kamu terlihat lucu dengan
ekspresimu semacam itu.
“Lantas?”
Untuk beberapa saat aku memutuskan diam
sebab dari tadi kamu juga hanya diam.
Tetapi, ah, aku tidak bisa diam terlalu
lama, ternyata. Hanya beberapa saat usai pertanyaan terakhirku, aku kembali
menyodorkan pertanyaan kepadamu.
“Ayolah, kesimpulannya gimana? Yang A?”
Kamu mengangguk dan tersenyum.
Melihatmu tersenyum, aku juga ikut
tersenyum untuk selanjutnya tertawa. Dan, kamu juga tertawa. Kita berbahagia
malam itu.
Sementara, hujan masih menjatuhkan
rinainya. Sudah pukul sepuluh lebih.
“Sudah larut malam, aku pulang, ya...”
Sekali lagi aku pamit.
“Iya, ini dibawa! Kasihan kamu. Ntar
kedinginan,” kamu menyodorkan syal warna biru untuk kubawa pulang.
“Makasih, ya...”
Kamu mengangguk, “Sama-sama.”
***
Demikianlah, Sayangku, sempurna sudah malam
itu.Aku bahagia! Terimakasih untukmu yang telah sudi menemaniku.
Malam itu, akan tetap kuingat: Pertama kumemanggilmu ‘Pin’;
menanyakan kapan kamu pulang; kedinginan; waktu kamu melepas jaket untuk kamu
berikan padaku tapi aku menolak; suara Mas Habib; suara Mas Zaky; kepastian;
dan semuanya tentangmu akan tetap teringat baik dalam memori otakku. Sementara
hujan, ia selalu menjadi alasan lain untukku bisa mengenangmu.
... Lalu angka 4 dalam bulan Februari
menjadi momen penting sekaligus membahagiakan: Ya. Sebab dari sana perjalanan
kita bermula—
Hari ini adalah hari ke-365... bulan
ke-48... tahun pertama, sejak aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadamu
dan kau menerimaku: Aku mengingatnya, Sayangku,aku bahagia mengenalmu. ;-)
Tegalsari,
Ahad, 03 Februari 2013
—10:28 pm
Ahad, 03 Februari 2013
—10:28 pm
