Selasa, 14 Mei 2013


Aku melihat kembali kalender tahun lalu di kamarku. Ada satu kebahagiaan yang menyelinap seketika ke sekujur tubuhku—mempercepat kemudi detak jantungku. Angka 4 dalam bulan Februari menjadi momen penting sekaligus membahagiakan: Ya. Dari sana perjalanan kita bermula—

***

Hari ini adalah hari ke-365... bulan ke-48... tahun pertama, sejak aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadamu dan kamu menerimaku: Ya, aku mengingatnya! Aku bahagia mengenalmu.

“Malam nanti ada festival band se-Banyuwangi di lapangan Maron, Genteng. Kamu tahu?” waktu itu kamu bertanya melalui SMS.
“Benarkah?” aku sedikit terkejut, “Kamu ntar ke sana?” sambungku, balik bertanya.

“Kalau jadi, aku ke sana. Masku jadi panitia dalam acara tersebut dan aku diajak.”

“Oh, ya sudah. Gampang,” sejujurnya aku tidak tahu mengapa harus membalas pesanmu dengan kalimat itu.

Tapi untunglah kamu menangkap maksudku, dan, “Kamu mau lihat?” tanyamu.

“Insya Allah,” aku senang mendengarnya tersebab, barangkali, inilah kesempatanku untuk bertemu denganmu.

Dalam benakku, aku sudah merencanakan segala sesuatu untuk merayakan pertemuanku denganmu: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.

Tentang perjumpaan kita nanti malam, aku sudah menyiapkan pakaian mana yang cocok kukenakan. Sementara semua rencanaku telah kusiapkan, di luar hujan.

 Ah, bagaimana ini? Mengapa harus turun hujan? Umpatku dalam hati. Perasaanku sedikit terguncang. Ada kekhawatiran yang entah bagaimana caranya mulai menjalar ke dalam diriku. Dan pertanyaan itu menyerbuku: Bagaimana jika hujan sore ini tak kunjung berhenti?

***

Sore itu aku masih duduk di teras rumah—menatapi hujan yang tak kunjung reda. Dalam hati, aku merapal doa dalam-dalam, “Tuhan, hentikan hujan hingga nanti malam.”

***

Ping!

Satu pesan diterima. Darimu.

“Ternyata festival band-nya bukan malam nanti, melainkan besok. Untuk nanti malam, Masku cuma persiapan.”

Aku bingung mau menjawab bagaimana. Sementara, jam sudah menunjukkan pukul 06:15 pm. Akhirnya kuputuskan untuk meneleponmu saja—

“Halo? Bagaimana? Malam ini kamu nggak bisa keluar?” tanpa basa-basi aku langsung menyodorkan pertanyaan.

“Nggak tahu juga. Kayaknya enggak deh, orang festivalnya nggak jadi sekarang kok. Lagipula sekarang juga hujan; nanti di Maron aku juga mau ngapain?”

Kita diam...

Maka aku berpikir, apakah malam ini kita tidak bisa bertemu?

Tiba-tiba aku ingat bahwa hari ini, Sabtu tanggal 4 Februari, adalah hari terakhir kamu di sini. Besok, pagi-pagi sekali kamu mesti pulang ke Gresik. Lalu, ah ya, aku teringat kembali rencanaku untuk merayakan pertemuanku denganmu: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.

“Ya sudah, ntar kamu sama aku saja,” gurauku, mencoba merayumu.

“Mau ketemu di mana memangnya?”

“Di mana saja. Asalkan kita ketemu!”

“Ya sudah. Gampang.”

“Oke, aku berangkat sekarang...”

Ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Maka, apakah malam ini kita tidak bisa bertemu? Rupanya bisa! :-)
***

... Sampai pada akhirnya kita berjumpa...

“Hai!” aku tersenyum.

Kamu hanya tersenyum lantas mempersilakan masuk, “Ayo, masuk!”

Dari awal, aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku sebab pertemuan kita malam ini. Aku menantikan semua ini terjadi: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.

Malam ini telah berhasil membuatku bahagia—barangkali kamu juga.

“Aku nggak menyangka kita bisa bertemu—berdua saja,” kita tertawa.

***

Malam itu kita duduk berdua. Hujan sudah mulai reda. Lamat-lamat suara katak terdengar berirama. Suara Mas Habib yang menyuruh kita masuk ke dalam rumah terdengar di telinga. Sementara, cerita kita baru saja bermula.

***

“Mungkin cukup dulu, ya? Aku mau pulang,” aku pamit.

“Iya,” kamu tersenyum. Ah, senyum seperti inilah yang selalu aku tunggui... aku nikmati.

Seperti tatakrama tuan rumah terhadap tamu mana pun; kamu mengantarku sampai teras depan.

“Bagaimana tentang kita?” sebelum meninggalkanmu, aku memulai percakapan kita yang tak biasa. “Sesuai obrolan di SMS tadi pagi: Maukah kamu jadi pacarku?”

Kamu diam saja.

“Nggak mau, ya?” candaku segera.

“Emangnya kamu yang dikasih pertanyaan?” matamu sedikit melototiku.

“Ha-ha-ha! Ya sudah, begini saja; kamu pilih A atau B? Kalau A berarti, kamu mau. Dan kalau yang B, berarti sebaliknya.”

Tapi kamu masih diam.

“Yang B-kah?”

“Hah? Enggak!” kamu terlihat lucu dengan ekspresimu semacam itu.

“Lantas?”

Untuk beberapa saat aku memutuskan diam sebab dari tadi kamu juga hanya diam.

Tetapi, ah, aku tidak bisa diam terlalu lama, ternyata. Hanya beberapa saat usai pertanyaan terakhirku, aku kembali menyodorkan pertanyaan kepadamu.

“Ayolah, kesimpulannya gimana? Yang A?”

Kamu mengangguk dan tersenyum.

Melihatmu tersenyum, aku juga ikut tersenyum untuk selanjutnya tertawa. Dan, kamu juga tertawa. Kita berbahagia malam itu.

Sementara, hujan masih menjatuhkan rinainya. Sudah pukul sepuluh lebih.

“Sudah larut malam, aku pulang, ya...” Sekali lagi aku pamit.

“Iya, ini dibawa! Kasihan kamu. Ntar kedinginan,” kamu menyodorkan syal warna biru untuk kubawa pulang.

“Makasih, ya...”

Kamu mengangguk, “Sama-sama.”

***

Demikianlah, Sayangku, sempurna sudah malam itu.Aku bahagia! Terimakasih untukmu yang telah sudi menemaniku.

Malam itu, akan tetap kuingat: Pertama kumemanggilmu ‘Pin’; menanyakan kapan kamu pulang; kedinginan; waktu kamu melepas jaket untuk kamu berikan padaku tapi aku menolak; suara Mas Habib; suara Mas Zaky; kepastian; dan semuanya tentangmu akan tetap teringat baik dalam memori otakku. Sementara hujan, ia selalu menjadi alasan lain untukku bisa mengenangmu.

... Lalu angka 4 dalam bulan Februari menjadi momen penting sekaligus membahagiakan: Ya. Sebab dari sana perjalanan kita bermula—

Hari ini adalah hari ke-365... bulan ke-48... tahun pertama, sejak aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadamu dan kau menerimaku: Aku mengingatnya, Sayangku,aku bahagia mengenalmu. ;-)

Tegalsari,
Ahad, 03 Februari 2013
—10:28 pm

Matahari, aku menginginkan kau pergi siang ini.
Meninggalkan kami
yang tersumbat emosi.
Kadang-kadang aku justru terasa jengkel sekali
jika terus-menerus kau menyirami kami
dengan terikmu yang pasi.
Jadilah kini kami,
emosi itu datang berkali-kali dalam waktu sehari.
Matahari... ah, pergi sajalah kau dari sini!

Tegalsari,
Senin, 07 Januari 2013
10:22 am

Apakah kau pernah diam-diam menikmati senja yang tak lagi mirip seperti biasanya—mengumbar rona merah tua?
Laksana senja kini:  semburat kabut terbentuk berselimut redup.
Genang air sisa hujan masih belum juga surut.
Serinai-dua gerimis masih jatuh, pelan dan luruh.
Tak tahu karena apa.
Entah mungkin karena memang ada sisa di atas sana?
Ah, senja gelap tak seperti biasanya!

Tegalsari,
1 Januari 2013
05:42 pm

: Kepada Canda

Baik, bagaimana kabarmu, Canda? Aku tidak tahu di mana kau membaca surat yang kuberikan ini; apakah kau membaca di sekolah, di tepi sungai atau di tempat lesmu(?) Aku tidak tahu. Tapi yang kuharap kau membacanya sendirian dalam kamar. Hari ini aku mengirimkan kembali surat untukmu: Bacalah, Canda.

Begini, akhir-akhir ini aku sering merasa gugup menjalani (ke)hidup((an)ku. Aku bingung. Aku merasa bahwa hidupku ini benar-benar melelahkan... membingungkan untuk diteruskan. Juga, aku merasa kehidupan ini mestinya tidak perlu lagi dilanjutkan. Entahlah.

Aku limbung, Canda. Makanya, hari ini aku memutuskan menulis surat dan mengirimkannya kepadamu. Sekadar berbagi saja.

Tapi sengaja, surat yang kubuat saat ini sedikit berbeda dari biasanya. Bukan tentang cinta-kangenku padamu—bertanya kapan kita bisa bertemu, lebih dari itu, Canda. Ini tentang keadaanku sendiri yang beberapa hari membuat dadaku selalu terasa nyeri.

Sebelumnya aku minta maaf, lalu kusambung dengan ucapan terima kasih: (1) Maaf sebab kurasa kau sedikit terganggu mengenai keluh kesahku ini, (2) dan terima kasih sebab, kau mau membacanya.

Canda, apakah kau pernah berpikir tentang dunia ini? Maksudku, berpikir tentang mengapa di dunia ini diciptakan dengan begitu banyak problematika yang tak kunjung usai dan reda. Ini hanya tentang ‘mengapa’.

Saat ini aku sedang mengalami keadaan semacam itu. Aku bertanya-tanya. Mengapa di dunia ini dirancang seperti ini: Ada perbedaan dan pertikaian. Mengapa harus ada orang jahat? Mengapa harus ada benci? Mengapa harus ada kebohongan, kemunafikan, keburukan, dan semacamnya? Mengapa semua itu harus ada?

Apakah kau sempat berpikiran seperti yang kupikirkan itu, Canda?

Aku membayangkan, sepertinya dunia ini akan lebih damai jika tidak ada keburukan semacam itu, kan, Canda?

Ini terlepas dari ajaran agama kita, Canda. Di sekolahan kita, barangkali pernah diajarkan tentang masalah ini. Kata Bapak Rudiman, dalam pelajaran agamanya beliau bertutur, “Perbedaan adalah rahmat.” Kau tentunya masih ingat, kan?

Aku yakin kau masih ingat. Saat itu bel jam ke tiga berbunyi. Bapak Setyo masih memberi soal untuk pekerjaan rumah. Teman kita, Andi, Riko, dan Maman masih berdiri di depan karena tadi pagi saat pengumpulan PR, mereka belum selesai.

“Andi, mana PR-mu?” tanya Pak Setyo dengan mata melotot.

“Be.. belum selesai, Pak.” Jawab Andi gugup.

Teman sebangku Andi, Riko, juga ditanya. “Kamu, Riko, PR-mu mana?”

Riko yang setiap malam tidak pernah belajar dan sering keluyuran menjawab dengan muka padam. “Sa.. saya.. ju.. juga belum selesai, Pak.”

Pak Setyo yang terkenal galak langsung memberi hukuman kepada Andi dan Riko. Seperti biasanya, saat PR tidak dikumpulkan, terlebih dahulu Pak Setyo memberi wejangan-wejangan dengan intonasi yang tidak pelan. Kemudian setelah dirasa cukup, Pak Setyo langsung menyuruh mereka berdiri di depan kelas—satu kaki diangkat, telinga ditarik satu dengan tangan, lalu tak lupa juga, lidah mereka harus dijulurkan.

Setelahnya, Pak Setyo bertanya pada murid-murid dengan nada tinggi, apakah masih ada yang tidak mengumpulkan PR? Kalau tidak ada yang mengaku, Pak Setyo akan keliling ke bangku anak didiknya satu per satu—memeriksa anak yang tidak mengerjakan PR. Jika ketahuan, Pak Setyo akan menjemur anak tersebut ke halaman sekolah. Anak yang dijemur tadi harus menuliskan di papan kecil berukuran 1x1 meter begini, “SAYA PEMALAS. SAYA TIDAK MENGERJAKAN PR MATEMATIKA.”

Karena mengetahui hukumannya lebih berat, akhirnya Maman mengakui saja, ia tidak mengerjakan PR dengan alasan sakit perut semalaman. Seperti Andi dan Riko, Maman diberi wejangan-wejangan dengan nada yang tidak bisa dibilang pelan, lalu menyusul Andi dan Riko ke depan.

***

“Kurang lebihnya mohon maaf, anak-anak. Bapak akhiri pelajaran matematika pagi ini, wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!” Usai memberi soal untuk dikerjakan di rumah, Pak Setyo menutup pelajaran.

***

Bapak Rudiman, guru agama yang santun dan sopan akhirnya masuk ke kelas dengan langkah pelan-pelan. Beliau tersenyum dan membuka pelajaran, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh! Baiklah anak-anak, materi pelajaran agama pagi ini tentang ‘Perbedaan Agama dan Cara Pensikapannya’. Buka halaman 47! Di sana diterangkan bahwa perbedaan di dunia ini sengaja diciptakan agar semua manusia bisa mengambil sisi positifnya....” Pak Rudiman memang terkesan santai dan murah senyum saat belajar di kelas.

Ah, tapi mengapa sampai ke sini, sih! Padahal niatnya tidak sampai sejauh ini.

Sudahlah. Kembali pada niatku: Terlepas dari ajaran agama kita. Jadi, aku masih bingung, mengapa dunia ini terlalu berisik dan selalu saja banyak orang terusik? Semalam, Dadang cerita banyak kepadaku, ia juga bingung. Di rumahnya banyak masalah sepele yang selalu dibesar-besarkan. Katanya, orang tuanya selalu berprasangka buruk terhadapnya. Ia sudah menjalankan tugasnya sebagai anak dengan baik—setidaknya menurutku juga baik—tapi ayahnya selalu memarahinya. Dia kesal.

Tapi jika kuceritakan Dadang di sini, terlalu panjang rasanya. Barangkali berita televisi saja, ya. Siang tadi, beberapa jam sepulang sekolah, aku menyalakan televisi. Aku menonton berita sendiri sambil tiduran di kursi. Di sana, topik beritanya tentang korupsi (ah, lagi-lagi korupsi!).

Barangkali tema sederhana, tapi, apakah kau sempat sebentar saja memikirkannya, Canda? Sekarang ini para penguasa-penguasa negeri ini banyak yang lupa diri. Gelar mereka hanya menjadi kedok. Padahal sejatinya mereka tak ubahnya seperti bandit dan pencuri! Itulah pemimpin saat ini. Uang negara mereka simpan sedikit-sedikit di saku celana belakang yang sengaja dibikin sempit. Lihatlah, biaya pembuatan toilet saja dianggar 2 milyar! Bayangkan, Canda, ketika mereka mendiskusikan anggaran sebanyak itu, apa yang sedang mereka pikirkan? Menurutku mereka semua sudah benar-benar melupakan amanat yang dititipkan dan bisa saja mereka memang tidak memikirkan kemajuan bangsa... kemakmuran rakyatnya.

Setidaknya itu yang aku lihat dalam televisi. Dan dunia seperti inilah yang tak kusuka, Canda. Aku bahkan ingin hidup sendiri bersamamu, keluarga besar kita, dan semua orang baik di dunia ini di suatu tempat. Di mana saja. Asalkan kita hidup di dunia kita: Dunia yang berkeluarga baik, bertangga baik, dan, tentu, aku sangat berharap kita dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Barangkali cukup suratku kali ini, Canda. Akhir pekan aku ingin bertemu denganmu. Semoga kau setuju. :-)

Salam dariku,

Mata


Tegalsari,
Ahad, 6 Januari 2013
05:03 pm

Pohon mangga di depan rumahku
tumbuhnya tidak ramai-ramai
Daunnya sendiri-sendiri
Bunganya jarang-jarang 
Buahnya banyak yang hilang
Mungkin ditelan bulan
Pohon mangga di depan rumah tetanggaku
tumbuhnya ramai-ramai
Daunnya  suka berduaan
Bunganya kerap-kerap
Buahnya banyak yang matang
Mungkin bulan enggan makan

Tegalsari,
Jum’at, 4 Januari 2013
06:48 pm

Kupendam diri di ranah ini.
Mencuri rezeki menyulut rugi.
Tapi, seringkali kuratapi saat masih pagi-pagi sekali
: Aku sendiri.
Kupendam sunyi di sebalik mimpi.
Merogoh saku hati temukan puisi.
Tapi, kurasa energi makin merepih lagi.
Dari telinga ini aku membaca bunyi.
Mendekap suara menari dengan jari-jari.
Tapi, kau tahu lagi.
Ini hanya soal tapi. Lagi-lagi!

Tegalsari,
Senin, 07 Januari 2013
10:33 am

Kusua siang kuterka malam
Kusangka pergi ternyata menghampiri
Kututup hati mencuri-curi
Aku tak mau lagi bila mesti mengecup tetapi
Aku hanya ingin menjadi
Hanya menjadi
Lalu benar-benar menjadi
Tidak lagi tapi-tapi

Tegalsari,
Senin, 07 Januari 2013
10:37 am

~Sajak Enggar Tata dan Wahyu Hidayat

berlembarlembar kubaca hati 
tak pernah kutemui hati selenah hatimu

berpuluh-puluh kuraba diri
tak pernah kutemui diri selembut dirimu

entah harus dengan kata yang bagaimana lagi aku mengungkapnya
jika dengan bersujudpun kau masih bergeming, tak percaya

bahkan waktu telah berputar ribuan jam
dan jarak telah bergerak ratusan mil untuk meyakinkan hatimu
tapi apa yang sebenarnya kau rasa ihwal diriku ini?
ah, kurasa waktu memang begitu pongah di hadapanku!

ya, kusaksikan dirimu memang sedang tak ingin dipaksa
aku menyerah tapi bukan kalah
sekali kuputuskan meju selangkah untuk mencintaimu
pantang bagiku mundur barang sejangkah

meski dari sorot matamu
banyak kutemukan siluet semu
yang tak kutahu apa namanya itu
di sini, aku, masih menggamit segenggam janji
bahwa suatu nanti
engkau pasti mencintai dan tak ingin melepas diri ini

lihat saja, kau pasti terima
tanpa lagi mengeja
karena cinta bukan kata-kata

tunggu saja
kau pasti terlena
kau pasti terkesima
kau pasti, ah, tak usah kucetus lagi suara-suara
biarlah saja nanti kau yang menilainya!

Jum’at, 07 Desember 2012
—08:42 pm

Tuhan, pada siang ini
aku menitip sebungkus doa sederhana
pada malaikatmu yang ikut turun
menjatuhkan rinai hujan ini
: Bisikkanlah pada hati itu
agar ia senantiasa kuat
menjadi lampu-lampu pada gulita itu.
Lalu sampaikanlah juga salamku pada lampu itu
: Aku akan menjaganya kapan saja dan di mana saja.

Tegalsari,
Ahad, 30 Desember 2012
01:23 pm


pagi ini aku ingin duduk di teras saja sebentar
menghabiskan kopi buatanmu
sambil membaca koran
atau membiarkan tubuhku diam
di kursi belakang rumah:
memandangmu menjemur pakaian
atau memperhatikan caramu berjalan.
Seperti hari-hari biasanya;
aku ingin mencintaimu sekali saja—
lalu berbahagia di atap waktu bersamamu:
hari ini dan seterusnya.

Tegalsari,
Jum’at, 9 November 2012
—12:04 pm

Di sebelah selatan rumahmu,
anak-anak menemukan dua-tiga batang rokok.
Mereka yang pernah melihat ayahnya sendiri merokok,
sesegera menirukan bagaimana cara ayahnya merokok.

Anak-anak yang lain
buru-buru pulang ke rumah masing-masing
untuk menipu orang tuanya—
minta uang buat beli rokok.

Blokagung,
Sabtu, 24 November 2012
—07:59 am

Sebelum awan-awan itu kembali berembuk dan memutuskan untuk meludahkan hujan, aku ingin mengatakan padamu; aku merindukanmu.

Aku ingin melihatmu tersenyum atau tertawa di sini, duduk satu tikar berdua saja bersamaku di lantai waktu. Hingga ia mampu melapangkan semua keadaan yang kuemban saat ini.

Tegalsari,
Jum’at, 23 November 2012
—04:15 pm

di rumah beratap ilalang itu
kau duduk termenung dan tertunduk lesu
lalu orang itu menghampirimu
dan berkata, “bersabarlah untuk sementara waktu!”
usai orang itu berlalu, kau tersedu

Tegalsari,
Senin, 26 November 2012
—07:39 pm

: Kepada Ve.

Aku akan memberhentikan kecepatan keinginan yang sejak tiga hari belakangan berjalan.

Lalu melangkahkan kaki berkemudikan diri.

Sejenak, aku ingin berhenti di sini.

Sebab teringat lambaian tangan dan ayunan helai rambutmu yang menganak menutupi dahi bersihmu.

Aku akan menantimu sampai terdengar deru derap langkahmu.

Lalu mendengar suaramu; Sayang, apa kabarmu?

Tegalsari,
Jum’at, 30 November 2012
—10:56 pm

aku hadir pada sebidang tanah jiwa
aku masih pada segenggam dosa
: pura-pura atau pun berdusta

masih aku di genang air sendawa
masih pada tebing pagi dan senja
: terluka atau pun tertawa

tetap aku pada rumung noda
tetap pula di bejana romansa
: senda atau pun canda

pada waktu-waktu tertentu
yang tak mungkin kutahu dan apa lagi kamu
pada hakikatnya
semua pura-pura, dusta, luka, tawa
senda dan atau pun canda
akan kita kunyah sama-sama
: dalam dekat atau pun lama

Tegalsari,
Jum’at, 16 Nopember 2012
—03:35 pm

Hujan malam ini telah pergi
Menyisakan rasa kengen dalam hati
Mungkin semua ini akan berganti
Seperti hari-hari yang selalu berotasi

Telah aku semat rindu dalam kalbu
Pada pagi kebaikanmu

Telah aku redakan semua cemburu
Yang tiap waktu menghujaniku

Telah pula aku enyah segala macam
Siluet yang tiap saat bersautan

Biarlah ingkar rasaku menjamur abadi
Di ruang-ruang kail yang bikin lupa diri

Tegalsari,
Jum’at, 16 November 2012
—06:05 pm

Aku sempat terkesima. Mataku tak berkejap. Tubuhku nyaris tak bergerak barang sedikit. Bahkan aku lupa, apakah aku bernapas atau tidak. Itu terjadi waktu pertama kita bertemu.

“Namaku Restu,” demikian ucapmu. Kau menyodorkan suaramu saat aku masih belum percaya akan pertemuan kita.

Aku ingat betul kalimat pertama yang kau ucapkan padaku. Lalu kubalas, “Ya, namaku Indah.” Kau lantas tersenyum.

Melihatmu tersenyum, aku juga tersenyum—jantungku berdetak tidak teratur.

Aneh. Apakah aku mencintaimu? Padahal kita tidak pernah berjumpa, tapi aku merasa beda.

***

Hampir genap sebulan perkenalan kita. Aku tak pernah bertemu lagi denganmu. Tapi suaramu masih mendengking di telingaku, meski tak sepenuhnya.

Restu, ke manakah kau berpijak, saat ini? Waktu itu kita tak sempat bertukar alamat e-mail atau nomor telepon.

Pikirku, perasaanmu padamu hanya sebentar dan akan lenyap bersamaan nanti ketika bus yang kau tunggu telah membawamu. Aku salah, rupanya.

Hingga kini, perasaanku padamu masih terus bergerak dalam hatiku—seperti pertama kita berjumpa di halte bus, waktu itu.

Tegalsari,
Ahad, 25 November 2012
—06:21 am


Seperti matahari yang menerangi bumi, aku juga ingin menunjukkan esensiku kepadamu.

Terlalu berlebihan barangkali.

Tapi memang begitu.

Setiap harinya kau selalu memberi keindahan yang lebih kepadaku. Hingga ketika aku berada di mana saja dan bersama siapa saja, aku selalu ingin mengingatmu secara lebih—jauh sebelum aku mengingat nama-nama lain selainmu.

Yah, seperti kelebihanmu yang kau bagi padaku setiap waktu.

Blokagung,
Sabtu, 24 November 2012
—07:37 am

Hujan kembali jatuh.

Aku ingin bersamamu, sebenarnya; Duduk berdua satu meja di teras rumahku. Di sana kita bisa minum teh bersama tanpa ada siapa-siapa yang mengusik ketenangan kita.

Sambil bercerita mengenai ketampanan hujan-hujan yang pernah kau jumpai, kita bisa juga bergurau atau bertukar keluh-kesah—mengembannya bersama.

Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, apakah di sana, di tempatmu berpijak juga hujan? Ah, tak usah kau jawab. Aku sudah tahu jawabanmu tak akan sampai padaku.

Tidak apa-apa. Yang terpenting, kau telah tahu bahwa pagi ini aku sedang ingin bersamamu. Selalu.

Blokagung,
Sabtu, 24 November 2012
—07:53 am

Aku tidak mampu berjalan sendiri tanpa kehadiranmu. Langkahku lunglai. Kakiku terlalu gemetar tanpa  tuntunanmu.

Cinta yang kau persembahkan buatku terlampau istimewa.

Aku sadar, tali cinta yang kau ikat dalam hatiku teramat kuat hingga aku tidak kuasa barang sedikitpun untuk lepas dari jerat-jerat cintamu.

Barangkali kata ‘lemah’ adalah tepat untukku. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku telah sepenuhnya lupa dengan kodrat dan takdir manusia: Kau terlebih dulu meninggalkanku, di sini.

Tentang kepergianmu, aku selalu seperti tidak pernah percaya. Tuhan mengambilmu terlalu cepat.

Ketika hati ini telah benar-benar yakin untukmu, saat cinta ini telah aku berikan buatmu, saat satu per satu cinta dan kasih sayang yang kau persembahkan untukku telah siap aku simpan dalam etalase hatiku, pada waktu itu juga kau malah pergi dariku; Pergi dan tak kembali.

Pedih.

Semua begitu cepat berlalu. Lima tahun sejak kepergianmu, aku masih belum sanggup menghapus rasa di hatiku. Aku tidak bisa membuang namamu begitu saja. Kau terlalu indah. Hingga rasa nyeri saat kau pergi masih terasa begitu sakit dalam hati.

Anak kita sudah besar. Kalau saja kau masih di sini, kau pasti bahagia melihatnya. Kita akan bahagia.

Meski anak kita menyandang status yatim, aku yakin hatinya tidak akan pernah yatim. Kelak ketika ia sudah besar, ia pasti mirip sekali denganmu: Baik, penyayang dan sabar. Aku yakin Mas....

Dan mengenai cintaku padamu, ia masih utuh seperti dahulu: Masih kukuh seperti saat kau masih ada. Aroma cintamu masih selalu menguar dalam sudut hatiku. Begitu yang aku rasakan.

Aku akan tetap seperti ini. Bersama anak kita dan cintamu. Tidak ada yang lainnya. Sebab yang aku tahu hanyalah tiga kata buatmu: Aku sayang kamu, Mas Adam....

Tegalsari,
Sabtu, 24 November 2012
—10:18 pm

“Cinta kita pada waktunya akan menjadi benar-benar sejati.” Terangku padamu di salah satu kafe di kota Banyuwangi. Alunan lagu Ungu-Tercipta Untukku ikut memanjakan telinga kita pada malam itu.

Di luar gerimis sejak kita masuk di kafe ini. Hanya saja, ia tak sampai hujan.

Aku menatapmu. Ada roman kecemasan di balik mukamu. Dan benar, kau berkata padaku, akhirnya. “Tapi mengapa meski kau berulang mengatakan bahwa kau telah mencintaiku dengan penuh keyakinan, aku tetap belum bisa sepenuhnya yakin kepadamu?”

Aku tergelak. Sejenak aku berpikir. Namun belum usai aku berpikir, kau kembali melanjutkan perkataanmu, “Apakah kita tidak dapat bersama?”

Aku mengendus pelan, lalu dengan lembut aku meraih tangan kananmu. “Kau tidak perlu yakin,” ucapku seraya tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Keyakinan itu ibarat tanganmu dan tanganku ini. Kau tidak perlu ikut menggamit tanganku, dan cukup aku saja yang mengeratkannya.”

“Lalu?”

“Demikian cinta kita. Kau tidak perlu sepenuhnya yakin. Sekadar percaya kepadaku, itu cukup. Selebihnya biarkan aku yang menggenapkan keyakinanmu melalui caraku mencintaimu setiap harinya.

Dan apabila kita tidak sedang bersama karena tugas kerja atau yang lainnya, percayalah, bahwa aku akan tetap bersamamu. Paling tidak, kau masih berdua dengan cintaku.”

Sementara lagu Ungu masih akrab dengan kita. Tanganmu dan tanganku bersatu.

“Tentu. Aku akan melakukan seperti apa yang kau katakan.”Jelasmu. Aku tersenyum mendengarnya. “Cinta kita adalah kita yang menjaga,” balasku. Kau mengangguk. Kita tersenyum bersama.

Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Kuingin kau tahu
Kuselalu milikmu
Yang mencintaimu...
Sepanjang hidupku...

Tegalsari,
Jum’at, 30 November 2012
—04:07 pm

anak-anak bingung harus mulai dari mana cerita ini
dari sini atau dari situ atau dari belakang atau dari depan
ah, anak-anak sudah tidak tahan
anak-anak memulai saja ceritanya

begini—

Bapak kok selalu begitu sih!
bagaimana bisa anak-anak menaruh hormat pada Bapak
sementara Bapak setiap pagi, setiap hari selalu saja seperti itu
: ke sana-kemari memasang muka penuh pesona
padahal bagi anak-anak, semua yang Bapak lakukan malah terlihat seperti penoda

terserah Bapak deh mau bagaimana
yang terpenting adalah Bapak harus tahu, jika Bapak senang, anak-anak pasti muram
kalau Bapak susah, Bapak juga harus tahu, anak-anak akan tertawa lepas tanpa lelah

tapi Bapak kan sudah menjadi Bapak
mestinya Bapak juga sudah tahu bagaimana seorang bapak bersikap selayaknya Bapak
bukan malah kembali menjadi kanak-kanak
lalu dengan genitnya tangan Bapak selalu seenaknya mencolek paha wanita siapa saja
yang lewat di depan mata
padahal ya, Pak, anak-anak selalu melihat Bapak seperti itu lho Pak
motto Bapak apa ya? anak-anak sedikit lupa!
oiya, baru ingat. itu: wanita lewat, siap embat setiap saat!

Bapak kok malah jadi seperti itu sih, Pak!
berjalan dengan paras sinis biar dilihat manis
padahal tingkah Bapak bikin anak-anak kebelet pipis!
atau berjalan dengan gaya komisaris
tak lupa sebelum keluar nyisir rambut biar kelihatan klimis
padahal ya, Bapak harus tahu, sikap Bapak malah merangsang anak-anak untuk berteriak: najis!

Bapak mestinya jadi bapak yang baik buat anak-anak
bukan malah bikin anak-anak selalu ingin muntab ketika melihat Bapak

baiklah, sampai di sini, Bapak bisa mengubah sikap Bapak apa tidak?
kalau ditanya itu mbok ya dijawab
jangan cuma diem mesam-mesem di depan komputer sambil lihat film
baiklah, karena Bapak tidak menjawab, anak-anak akan melanjutkan cerita mengenai Bapak

bukan begitu, Pak
tapi kan Bapak sudah menjadi bapak
jadi tolonglah, Pak, jadilah Bapak yang benar-benar bapak
bapak yang sikapnya patut dicontoh anak-anak
jangan jadi bapak yang sukanya genit sama anak-anak
jangan jadi bapak yang sikapnya malah seperti anak-anak
anggap saja Bapak adalah bapak-bapak dari anak-anak
lalu anak-anak adalah katakan saja anak-anak Bapak

tapi ya jangan pilih hati dong Pak!
kalau begini kan malah anak-anak yang seolah-olah menjadi bapak para Bapak-Bapak
kalau begini kan, tentu, Bapak malah seolah-olah menjadi anak-anak dari anak-anak
kami sebagai anak-anak malah jadi ngomelin Bapak-Bapak
tapi ya jangan marah begitu dong, Pak!
sebenarnya ceritanya tidak sampai sejauh ini Pak, tapi terlanjur sih Pak

dipikir-pikir saja Pak
tujuan kami kan memang menceritakan Bapak
boleh juga dibilang menjelekkan Bapak
tapi tenang saja Pak
anak-anak tidak tahu kok kalau Bapak-Bapak
sekarang ini
sedang menjadi anak-anak!


Tegalsari,
Selasa, 09 Oktober 2012
—09:19 pm

mari kita tutup
dengan sekecup lembut
yang tak luput

Tegalsari,
Sabtu, 06 Oktober 2012
—01:31 am

aku, berkaca
pada cermin senja
lalu, kembali aku baca
diriku masih terlupa
lalu teringat, bahwa
dunia
adalah fatamorgana!

Tegalsari,
Selasa, 23 Oktober 2012
—12:39 pm

tujuh belas tahun yang lalu
untuk kali pertama kau menatap dunia
sejak saat itu juga
kau dimanja, ditimang oleh sang bunda

dua belas tahun yang lalu
kau mulai menduduki bangku
bersama teman kecilmu
diajarkan ba-bi-bu

enam tahun yang lalu
kau harus pergi meninggalkan 2 orang di rumahmu
bukan ayah dan ibumu
melainkan paman dan ibumu

tiga tahun yang lalu
kau beranjak pada fase-fase baru
disamping mencari ilmu
kau dituntut pula untuk menemukan jati dirimu

sekarang(?)
apakah aku masih mengingat tangismu
tujuh belas tahun yang lalu?
apakah kau ingat bahagia orang sekelilingmu
saat melihat wajah sucimu?
apakah kau masih ingat di sampingmu
ada ibumu yang menahan sakit dan tersedu?
apakah kau masih ingat semua itu
saat pertama kali kau mengenakan nama baru?
apakah kau masih ingat semua itu
saat pertama kali kau ditimang dan diberi susu ibumu
sambil dinyanyikan lagu “tidurlah anakku”?
apakah kau masih ingat semua itu?
yah, tujuh belas tahun yang lalu
kau dilahirkan ibumu, di sampingnya ada ayahmu
di sebelahnya lagi ada paman-bibimu
dan keluarga yang berada di rumah, sedang menunggumu

sekarang(?)
apakah kau masih ingat di enam tahun usiamu
saat kau duduk dengan lugu di bangku sd itu?
apakah kau masih ingat buku tulismu
yang bersampul biru dan abu-abu?
apakah kau masih ingat semua guru
yang dengan gigih mengajarmu huruf-huruf a-b-c itu?
apakah kau masih ingat di bangku sd itu
kau pernah tersungkur lalu berdarah di kepalamu?
apakah kau masih ingat semua itu?
yah, dua belas tahun yang lalu
kau telah belajar dengan teman sebayamu
dan dibesarkan bapak-ibu guru

sekarang(?)
apakah kau masih ingat di tahun dua ribu tujuh
kau ditemani ayahmu, pergi ke gedung bertingkat tiga itu
dengan misi: daftar menjadi santri baru?
apakah kau masih ingat waktu kau menangis mengingat ibumu
atau saat ibumu menangis mengingatmu?
apakah kau masih ingat waktu terisak tanpa malu
kepada ketua kamarmu, lalu berkata, “aku rindu ibu”?
apakah kau masih ingat waktu kau dibenci 3 teman sekamarmu
lalu dengan wajah sayu kau memohon pada mereka, “maafkan aku”?
yah, enam tahun yang lalu
kau mulai memijakkan kaki di pesantren itu

sekarang(?)
apakah kau masih ingat waktu kali pertama kau
mengenakan seragam putih abu-abu?
apakah kau masih ingat di lima belas tahun usiamu
kau mulai terpandang di sekolah itu?
apakah kau masih ingat waktu kau
mengenal wanita yang suka dengan warna biru itu?
apakah kau masih ingat saat saudara-saudaramu
mengucapkan “selamat” saat mengetahui prestasimu?
apakah kau masih ingat saat mengetahui di kelasmu
kau tak cuma dibenci oleh orang satu?
apakah kau masih ingat pada kenakalanmu
yang tak pernah kenal malu itu?
apakah kau masih ingat semua itu?
yah, tiga tahun yang lalu
kau telah belajar dengan mengenakan seragam putih abu-abu

sekarang(!)
berterimakasihlah pada yang melahirkanmu: ibumu!
berterimakasihlah pada paman-bibimu yang turut menunggu proses kelahiranmu!
berterimakasihlah pada guru-gurumu!
berterimakasihlah pada saudara-saudaramu!
berterimakasihlah pada ketua kamar dan yang mengurusmu!
berterimakasihlah pada wanita itu!
berterimakasihlah pada kenanganmu
: ibu-ayahmu, gurumu, paman-bibimu, saudara-saudaramu, teman-temanmu, dan siapa pun yang rela dan turut mengajarkanmu!

kini, tujuh belas tahun berlalu
28 oktober 1995 adalah titik awal di mana kau menggoreskan tinta riwayat hidupmu
masih banyak titik-koma dan tanda baca lainnya
yang mesti kau hias dalam kehidupanmu
jangan berhenti pada satu titik
masih ada waktu buat menyusun alenia baru

bertepat pada 28 oktober ini
entakkan semangatmu
taklukkan keterbatasanmu
dan di tujuh belas ini
: selamat ulang tahun, Wahyu
semoga lekas kau menjadi dirimu


Tegalsari,
Selasa, 23 Oktober 2012
—02:55 pm

pagi
siang
sore
malam
begitu seterusnya

Tegalsari,
Ahad, 07 Oktober 2012
—04:41 pm

sebab aku mencintaimu
daun-daun itu gugur, layu
semilir angin memilin
setiap helai indahmu

lalu
itu, temaram cahaya
kembali menyapa
dengan larik-larik tuanya
bergerumul tak menjalur

sebab aku merindukanmu
desau angin tak lagi mendengking
pun bising kendaraan itu
tak mau lagi menderu

tersebab satu:
cinta itu, kamu!

Blokagung,
Selasa, 23 Oktober 2012
—9:16 am