Selasa, 14 Mei 2013


“Cinta kita pada waktunya akan menjadi benar-benar sejati.” Terangku padamu di salah satu kafe di kota Banyuwangi. Alunan lagu Ungu-Tercipta Untukku ikut memanjakan telinga kita pada malam itu.

Di luar gerimis sejak kita masuk di kafe ini. Hanya saja, ia tak sampai hujan.

Aku menatapmu. Ada roman kecemasan di balik mukamu. Dan benar, kau berkata padaku, akhirnya. “Tapi mengapa meski kau berulang mengatakan bahwa kau telah mencintaiku dengan penuh keyakinan, aku tetap belum bisa sepenuhnya yakin kepadamu?”

Aku tergelak. Sejenak aku berpikir. Namun belum usai aku berpikir, kau kembali melanjutkan perkataanmu, “Apakah kita tidak dapat bersama?”

Aku mengendus pelan, lalu dengan lembut aku meraih tangan kananmu. “Kau tidak perlu yakin,” ucapku seraya tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Keyakinan itu ibarat tanganmu dan tanganku ini. Kau tidak perlu ikut menggamit tanganku, dan cukup aku saja yang mengeratkannya.”

“Lalu?”

“Demikian cinta kita. Kau tidak perlu sepenuhnya yakin. Sekadar percaya kepadaku, itu cukup. Selebihnya biarkan aku yang menggenapkan keyakinanmu melalui caraku mencintaimu setiap harinya.

Dan apabila kita tidak sedang bersama karena tugas kerja atau yang lainnya, percayalah, bahwa aku akan tetap bersamamu. Paling tidak, kau masih berdua dengan cintaku.”

Sementara lagu Ungu masih akrab dengan kita. Tanganmu dan tanganku bersatu.

“Tentu. Aku akan melakukan seperti apa yang kau katakan.”Jelasmu. Aku tersenyum mendengarnya. “Cinta kita adalah kita yang menjaga,” balasku. Kau mengangguk. Kita tersenyum bersama.

Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Kuingin kau tahu
Kuselalu milikmu
Yang mencintaimu...
Sepanjang hidupku...

Tegalsari,
Jum’at, 30 November 2012
—04:07 pm

0 komentar:

Posting Komentar