“Cinta kita pada waktunya
akan menjadi benar-benar sejati.” Terangku padamu di salah satu kafe di kota
Banyuwangi. Alunan lagu Ungu-Tercipta Untukku ikut memanjakan telinga kita pada
malam itu.
Di luar gerimis sejak kita masuk di kafe ini. Hanya saja, ia tak sampai
hujan.
Aku menatapmu. Ada roman kecemasan di balik mukamu. Dan benar, kau
berkata padaku, akhirnya. “Tapi mengapa
meski kau berulang mengatakan bahwa kau telah mencintaiku dengan penuh
keyakinan, aku tetap belum bisa sepenuhnya yakin kepadamu?”
Aku tergelak. Sejenak aku berpikir. Namun belum usai aku berpikir, kau
kembali melanjutkan perkataanmu, “Apakah
kita tidak dapat bersama?”
Aku mengendus pelan, lalu dengan lembut aku meraih tangan kananmu. “Kau tidak perlu yakin,” ucapku seraya
tersenyum.
“Apa maksudmu?”
“Keyakinan itu ibarat
tanganmu dan tanganku ini. Kau tidak perlu ikut menggamit tanganku, dan cukup
aku saja yang mengeratkannya.”
“Lalu?”
“Demikian cinta kita. Kau
tidak perlu sepenuhnya yakin. Sekadar percaya kepadaku, itu cukup. Selebihnya
biarkan aku yang menggenapkan keyakinanmu melalui caraku mencintaimu setiap
harinya.
Dan apabila kita tidak
sedang bersama karena tugas kerja atau yang lainnya, percayalah, bahwa aku akan
tetap bersamamu. Paling tidak, kau masih berdua dengan cintaku.”
Sementara lagu Ungu masih akrab dengan kita. Tanganmu dan tanganku
bersatu.
“Tentu. Aku akan melakukan
seperti apa yang kau katakan.”Jelasmu. Aku tersenyum mendengarnya. “Cinta kita adalah kita yang menjaga,”
balasku. Kau mengangguk. Kita tersenyum bersama.
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Kuingin kau tahu
Kuselalu milikmu
Yang mencintaimu...
Sepanjang hidupku...
Tegalsari,
Jum’at, 30 November 2012
Jum’at, 30 November 2012

0 komentar:
Posting Komentar