Entahlah. Mengapa aku mengambil
keputusan ini. Keputusan yang tentu sangat berisiko untukku ke depan.
Pikiranku beberapa hari ini memang
sedang kacau. Semua berpenjuru pada satu orang; Vina.
Kacau perasaan ini dibuatnya. Aku
tidak tahu lagi bagaimana cara menyelaraskan perasaanku ini dengan kebiasaan
setiap hariku. Semua berujung begitu saja; Risau!
Kadang-kadang (dua hari belakangan)
aku sempat berpikir bahwa memikirkan sesuatu terlalu berlebihan memang sama
sekali tidak ada gunanya! Sebenarnya aku menyadari itu, tapi pikiranku dengan
cara pensikapannya bertolak belakang.
Padahal aku berharap, di bulan Oktober
ini aku bisa lebih akrab dengannya. Tapi entah mengapa kenyataan menepis semua
harapan-harapanku. Membuang jauh-jauh keinginanku.
Mungkin karena—suatu ketika aku pernah
menduga—di bulan Oktober ini dia mengujiku (lagi). Sebab bulan ini adalah ulang
tahunku. Mungkin, dia sengaja melakukan hal ini untuk; Pertama, menguji
seberapa jauh kesabaranku padanya. Kedua, mungkin dia ingin memberikan kado
berharga buatku. Apa kadonya? Timbul
pertanyaan lagi. Aku menduga kado tersebut adalah “Kado Mengeja Kahanan”.
Cukup. Mengenai semua itu aku sudah
sadar. Aku memang tipikal orang yang berego tinggi. Aku sadar. Semua itu tak
terlepas dari sebuah anugerah dariNya. Bahwa memang sudah jatahnya perempuan
memiliki 9 darojah sementara laki-laki hanya kebagian 1 darojah. Itulah sebab
mengapa (kebanyakan) para lelaki sering tidak mampu menguasai keinginan dan
mengendalikan dirinya.
Kadang, ketika keinginanku tidak
terpenuhi, aku selalu marah-marah tidak jelas. Dan ketika amarahku itu timbul,
semua orang di sekitarku mau tidak mau harus rela terkena dampak. Otomatis.
Dan mungkin itulah sebabnya mengapa di
bulan Oktober ini dia lebih memilih memberi pelajaran seperti itu kepadaku.
Baik. Aku menerima.
Sebenarnya firasat mengenai semua itu
sudah terlintas di benakku jauh-jauh hari sebelum Oktober tiba. Tapi entah, aku
malah ingin diistimewakan di bulan Oktober ini. Alhasil, jauh dari keinginan.
Semua terganti dengan satu kalimat penyesalan: Allah, maafkan hambamu yang selalu berkeinginan!
Dan akhirnya aku memutuskan satu
komitmen; Aku mesti belajar menjadi Vina.
Minimal setara dengannya!
Mengapa aku begitu? Jawabnya satu kata
bertulis tebal dan berkapital: ENTAH!
Baik, dalam ucapan aku memang selalu
seperti itu. Tidak pernah jelas! Tapi sebenarnya alasanku ingin menjadi Vina
ialah bukan aku ingin menjadi wanita, bukan. Aku ingin menjadi lelaki yang
mengerti akan perasaan wanita dan bisa menimpalinya.
Mengapa demikian?
Dalam hematku, Vina adalah wanita yang
aku kagumi—dalam artian sikapnya. Jelas. Dia mampu mengemban perasaan yang
tertanam di hatinya. Selalu saja ia tampak tegar. Bahkan ketika hatinya genting
dan kacau sekalipun, ia masih tetap bisa menguasainya.Soal cinta? Tidak usah ditanyakan. Aku sendiri tidak tahu mengapa
aku bisa cinta padanya. Semua berjalan begitu saja tanpa aba-aba.Maka dari itu
aku ingin menjadi Vina.
Berkait dengan komitmenku, begini—
Suatu malam aku berpikir mengenai Vina
tidak ada habisnya. Beberapa hari temannya mengirim sms ke aku yang pada
intinya dia mengisyaratkanku bahwa si Vina sedang membawa hape. Sebenarnya, aku
sendiri sudah merasakan hal itu. Vina
sedang membawa hape.
Tapi yang aku herankan mengapa jika
dia sedang membawa hape, dia tidak sms aku? Padahal, dulu, ia sempat berkata
(dalam satu pesan) ketika aku berkata padanya, “Besok-besok kalau kamu bawa
hape lagi jangan lupa ya sms aku!” Dia menjawab, “Iya. Aku tidak pernah absen
sms kamu gitu kalau aku bawa hape.”
Paham kan? Itu maksud dari pertanyaanku. Jika pertanyaan seperti itu
menyerbu pada diriku, aku langsung bergetar. Entah mengapa bisa sampai seperti
itu.
Ketika kedua hal tersebut timbul, maka
otomatis satu dugaan akan kembali muncul: Mungkinkah
dia sudah ...? Dan tidak usah aku perpanjang, tebak saja sendiri. Saat
dugaan itu muncul aku selalu tidak bisa mengontrol ke mana arah pikiran ini
mesti berjalan. Seperti orang linglung, beberapa detik aku melamun.
Dan malam itu, tersimpullah satu
komitmen: Aku harus belajar mengerti
Vina!
Maksudku, ketika dia membawa hape, aku
harus rela untuk tidak disms. Aku harus rela untuk tidak mendengar suaranya.
Aku harus rela, dan aku harus rela! Bisa saja dia sedang ada urusan—karena
serius—yang sehingga menuntut untuk tidak dulu memberi kabar kepadaku.
Seketika aku mengirim pesan padanya
soal komitmenku itu. Setelah pesan terkirim, aku langsung tidur sebab kepalaku
tidak bisa diajak kompromi. Pusing banget.
Dalam tidurku, aku bermimpi. Aku kembali
bermimpi Vina.
Begini. Vina, dalam mimpiku, agak
berbeda. Komunikasiku dengannya tidak selancar seperti biasanya. Dan yang
anehnya, ketika aku menelpon dia, yang terdengar adalah suara laki-laki. Aku
kenal suara itu. Suara temanku sendiri. Mimpi ini mengagetkan aku. Jelas.
“Halo...?” aku bersuara.
“Halo, Wahyu...,”nadanya datar.
Namun setelah suara laki-laki itu
terdengar, aku tidak menjawab apapun. Suara itu terus saja memanggil namaku.
Dan... aku terbangun.
Mataku terbelalak. Aneh, aku tidak
mengantuk sedikitpun! Lantas pikiranku terfokus pada Vina (lagi). Buru-buru aku
mencari hape. Ternyata benar, satu pesan
diterima.
“Kamu
juga baik-baik di sana. Yang rajin. Selamat beristirahat.”
Singkat!
Dadaku terasa sesak. Perasaanku
terpelanting jauh entah ke mana. Dan lagi-lagi aku kembali gemetar. Ada
segudang pertanyaan yang bercokol di benakku—lebih mengarah pada protes keras.
Aku tidak terima. Mengapa dia hanya membalas dengan kalimat sependek itu? Apa
yang terjadi?
Aku mencoba bersikap dan berpikir
lebih jernih lagi. Mata aku pejamkan dan mulai mengatakan, “Allah, aku harus
mampu menghadapi semua ini. Aku harus bertahan. Aku harus berbaik sangka pada
Vina. Sebaik aku mencintainya.”
Beberapa menit berlalu aku gunakan
untuk meredamkan gelora kebatinan yang bercampur amarah. Jam menunjuk pada
pukul 12:52 am.
Mungkin
Vina belum tidur! Batinku. Aku cari kontak namanya,
lantas aku tekan tombol hijau. Apa yang terjadi? Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service
area. Cobalah beberapa saat lagi.
Akhirnya aku memutuskan, aku ingin
mengirim sms kepadanya saja.
Ada dua pilihan kalimat yang ingin aku
kirimkan kepadanya. Pertama, “Oktober yang melalahkan.” Yang kedua, “Ternyata
menjalani sebuah komitmen tidaklah mudah.”
Semua aku pikirkan baik-baik untuk
tidak terburu-buru memutuskan sms mana yang mesti aku kirimkan ke dia. Beberapa
waktu terlewat... secara hati-hati aku mulai menekan beberapa tombol di hapeku.
Aku memutuskan mengirim kalimat yang kedua. Alasan aku memilih kalimat yang
kedua adalah, mungkin besok ketika dia membacanya, dia memiliki solusi yang
tepat buatku. Dan tak lepas dari harapanku, “Semoga dia adalah yang terbaik.”
Mengenai Oktober, biarlah ia berjalan
dengan keadaanku sekarang ini. Aku harus menikmatinya—mau tidak mau.Dan alhamdulillah,
akhirnya semua perasaan sesak di dadaku sedikit redam usai melantunkan sebait
pengharapan yang terbaik untuknya. Sebab kebaikan untuknya adalah kebaikan juga
untukku.
Terimakasih buat Vina, apresiasi
tertinggi selalu terhidang untuknya. :)
Tegalsari,
Jum’at, 12 Oktober 2012
—02:27 am

0 komentar:
Posting Komentar