Selasa, 14 Mei 2013


Entahlah. Mengapa aku mengambil keputusan ini. Keputusan yang tentu sangat berisiko untukku ke depan.

Pikiranku beberapa hari ini memang sedang kacau. Semua berpenjuru pada satu orang; Vina.

Kacau perasaan ini dibuatnya. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menyelaraskan perasaanku ini dengan kebiasaan setiap hariku. Semua berujung begitu saja; Risau!

Kadang-kadang (dua hari belakangan) aku sempat berpikir bahwa memikirkan sesuatu terlalu berlebihan memang sama sekali tidak ada gunanya! Sebenarnya aku menyadari itu, tapi pikiranku dengan cara pensikapannya bertolak belakang.

Padahal aku berharap, di bulan Oktober ini aku bisa lebih akrab dengannya. Tapi entah mengapa kenyataan menepis semua harapan-harapanku. Membuang jauh-jauh keinginanku.

Mungkin karena—suatu ketika aku pernah menduga—di bulan Oktober ini dia mengujiku (lagi). Sebab bulan ini adalah ulang tahunku. Mungkin, dia sengaja melakukan hal ini untuk; Pertama, menguji seberapa jauh kesabaranku padanya. Kedua, mungkin dia ingin memberikan kado berharga buatku. Apa kadonya? Timbul pertanyaan lagi. Aku menduga kado tersebut adalah “Kado Mengeja Kahanan”.

Cukup. Mengenai semua itu aku sudah sadar. Aku memang tipikal orang yang berego tinggi. Aku sadar. Semua itu tak terlepas dari sebuah anugerah dariNya. Bahwa memang sudah jatahnya perempuan memiliki 9 darojah sementara laki-laki hanya kebagian 1 darojah. Itulah sebab mengapa (kebanyakan) para lelaki sering tidak mampu menguasai keinginan dan mengendalikan dirinya.

Kadang, ketika keinginanku tidak terpenuhi, aku selalu marah-marah tidak jelas. Dan ketika amarahku itu timbul, semua orang di sekitarku mau tidak mau harus rela terkena dampak. Otomatis.

Dan mungkin itulah sebabnya mengapa di bulan Oktober ini dia lebih memilih memberi pelajaran seperti itu kepadaku. Baik. Aku menerima.

Sebenarnya firasat mengenai semua itu sudah terlintas di benakku jauh-jauh hari sebelum Oktober tiba. Tapi entah, aku malah ingin diistimewakan di bulan Oktober ini. Alhasil, jauh dari keinginan. Semua terganti dengan satu kalimat penyesalan: Allah, maafkan hambamu yang selalu berkeinginan!

Dan akhirnya aku memutuskan satu komitmen; Aku mesti belajar menjadi Vina. Minimal setara dengannya!

Mengapa aku begitu? Jawabnya satu kata bertulis tebal dan berkapital: ENTAH!

Baik, dalam ucapan aku memang selalu seperti itu. Tidak pernah jelas! Tapi sebenarnya alasanku ingin menjadi Vina ialah bukan aku ingin menjadi wanita, bukan. Aku ingin menjadi lelaki yang mengerti akan perasaan wanita dan bisa menimpalinya.

Mengapa demikian?

Dalam hematku, Vina adalah wanita yang aku kagumi—dalam artian sikapnya. Jelas. Dia mampu mengemban perasaan yang tertanam di hatinya. Selalu saja ia tampak tegar. Bahkan ketika hatinya genting dan kacau sekalipun, ia masih tetap bisa menguasainya.Soal cinta? Tidak usah ditanyakan. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa cinta padanya. Semua berjalan begitu saja tanpa aba-aba.Maka dari itu aku ingin menjadi Vina.

Berkait dengan komitmenku, begini—

Suatu malam aku berpikir mengenai Vina tidak ada habisnya. Beberapa hari temannya mengirim sms ke aku yang pada intinya dia mengisyaratkanku bahwa si Vina sedang membawa hape. Sebenarnya, aku sendiri sudah merasakan hal itu. Vina sedang membawa hape.

Tapi yang aku herankan mengapa jika dia sedang membawa hape, dia tidak sms aku? Padahal, dulu, ia sempat berkata (dalam satu pesan) ketika aku berkata padanya, “Besok-besok kalau kamu bawa hape lagi jangan lupa ya sms aku!” Dia menjawab, “Iya. Aku tidak pernah absen sms kamu gitu kalau aku bawa hape.”

Paham kan? Itu maksud dari pertanyaanku. Jika pertanyaan seperti itu menyerbu pada diriku, aku langsung bergetar. Entah mengapa bisa sampai seperti itu.

Ketika kedua hal tersebut timbul, maka otomatis satu dugaan akan kembali muncul: Mungkinkah dia sudah ...? Dan tidak usah aku perpanjang, tebak saja sendiri. Saat dugaan itu muncul aku selalu tidak bisa mengontrol ke mana arah pikiran ini mesti berjalan. Seperti orang linglung, beberapa detik aku melamun.

Dan malam itu, tersimpullah satu komitmen: Aku harus belajar mengerti Vina!

Maksudku, ketika dia membawa hape, aku harus rela untuk tidak disms. Aku harus rela untuk tidak mendengar suaranya. Aku harus rela, dan aku harus rela! Bisa saja dia sedang ada urusan—karena serius—yang sehingga menuntut untuk tidak dulu memberi kabar kepadaku.

Seketika aku mengirim pesan padanya soal komitmenku itu. Setelah pesan terkirim, aku langsung tidur sebab kepalaku tidak bisa diajak kompromi. Pusing banget.

Dalam tidurku, aku bermimpi. Aku kembali bermimpi Vina.

Begini. Vina, dalam mimpiku, agak berbeda. Komunikasiku dengannya tidak selancar seperti biasanya. Dan yang anehnya, ketika aku menelpon dia, yang terdengar adalah suara laki-laki. Aku kenal suara itu. Suara temanku sendiri. Mimpi ini mengagetkan aku. Jelas.

“Halo...?” aku bersuara.

“Halo, Wahyu...,”nadanya datar.

Namun setelah suara laki-laki itu terdengar, aku tidak menjawab apapun. Suara itu terus saja memanggil namaku. Dan... aku terbangun.

Mataku terbelalak. Aneh, aku tidak mengantuk sedikitpun! Lantas pikiranku terfokus pada Vina (lagi). Buru-buru aku mencari hape. Ternyata benar, satu pesan diterima.

“Kamu juga baik-baik di sana. Yang rajin. Selamat beristirahat.”

Singkat!

Dadaku terasa sesak. Perasaanku terpelanting jauh entah ke mana. Dan lagi-lagi aku kembali gemetar. Ada segudang pertanyaan yang bercokol di benakku—lebih mengarah pada protes keras. Aku tidak terima. Mengapa dia hanya membalas dengan kalimat sependek itu? Apa yang terjadi?

Aku mencoba bersikap dan berpikir lebih jernih lagi. Mata aku pejamkan dan mulai mengatakan, “Allah, aku harus mampu menghadapi semua ini. Aku harus bertahan. Aku harus berbaik sangka pada Vina. Sebaik aku mencintainya.”

Beberapa menit berlalu aku gunakan untuk meredamkan gelora kebatinan yang bercampur amarah. Jam menunjuk pada pukul 12:52 am.

Mungkin Vina belum tidur! Batinku. Aku cari kontak namanya, lantas aku tekan tombol hijau. Apa yang terjadi? Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi.

Akhirnya aku memutuskan, aku ingin mengirim sms kepadanya saja.

Ada dua pilihan kalimat yang ingin aku kirimkan kepadanya. Pertama, “Oktober yang melalahkan.” Yang kedua, “Ternyata menjalani sebuah komitmen tidaklah mudah.”

Semua aku pikirkan baik-baik untuk tidak terburu-buru memutuskan sms mana yang mesti aku kirimkan ke dia. Beberapa waktu terlewat... secara hati-hati aku mulai menekan beberapa tombol di hapeku. Aku memutuskan mengirim kalimat yang kedua. Alasan aku memilih kalimat yang kedua adalah, mungkin besok ketika dia membacanya, dia memiliki solusi yang tepat buatku. Dan tak lepas dari harapanku, “Semoga dia adalah yang terbaik.”

Mengenai Oktober, biarlah ia berjalan dengan keadaanku sekarang ini. Aku harus menikmatinya—mau tidak mau.Dan alhamdulillah, akhirnya semua perasaan sesak di dadaku sedikit redam usai melantunkan sebait pengharapan yang terbaik untuknya. Sebab kebaikan untuknya adalah kebaikan juga untukku.

Terimakasih buat Vina, apresiasi tertinggi selalu terhidang untuknya.  :)

Tegalsari,
Jum’at, 12 Oktober 2012
—02:27 am

0 komentar:

Posting Komentar