Alya, ke mana saja kau selama ini? Aku masih menantimu pada gelora
malam yang penuh kerinduan tak bertepi ini.
Tidak seperti kemarin lusa, Alya.
Semua berubah semenjak kepergianmu. Malam-malam
yang kulalui terasa begitu panjang tanpamu. Ia tak seramah seperti biasanya.
Di sini, di gugusan hati ini—masih tersemat segenggam janji. Kau tahu.
Tentu.
Aku rindu kenangan bersamamu, Alya. Aku kangen semua itu: Aku kangen
canda kita, aku kangen kekeraskepalaan kita, aku kangen perdebatan kita, dan semuanya.
Tentu saja aku juga kangen saat kita duduk berdua: Aku kangen kau
menjambak rambutku, aku kangen mencubit pipimu, aku kangen waktu kita bercerita
banyak hal seputar kejadian yang kau lalui di sekolahan atau seputar kejadian
yang kualami di sekolahan selama seharian.
Aku kangen semuanya.
Sekarang, aku tak lagi punya tempat untuk bercerita.
Setiap kali ada wanita yang ingin menggantikan posisimu, selalu saja ia
tidak pernah bisa seramah dirimu—tak seindah dirimu. Semuanya berbeda, Alya.
Mereka tak selucu dirimu, mereka tak secantik dirimu, mereka tentu saja, Alya,
tidak sebaik dirimu.
Tentangmu, aku mengingat baik.
Apalagi waktu itu kau pernah mengatakannya padaku. Katamu, “Aku sayang
padamu.” Aku tersenyum mendengarnya. Lalu, lanjutmu, “Kau juga sayang padaku, kan?”
Tentu saja, Alya. Kau tahu itu. Sejauh adaku, akan tetap namamu yang
kupersilakan menjadi penghuni hatiku. Semuanya.
Sekarang, bagaimana kabarmu?
Apakah kau tetap suka membaca tulisan yang aku berikan padamu—seperti
dulu?
Apakah setiap hari Sabtu dan Rabu kau masih selalu mengenakan baju
pemberianku?
Apakah kau tetap menyimpan rapi-rapi 3 buku tulis yang di dalamnya ada
tulisanku dan tulisanmu?
Dalam buku itu menyimpan hampir separuh perjalanan cinta kita. Tentu,
Alya, aku masih mengingat betul warna sampul tiga buku itu.
Ah ya, di sini hujan, Alya. Apakah di tempatmu berpijak juga hujan?
Dulu, kalau hujan tiba-tiba turun saat kita jalan berdua, kau selalu berkata,
“Aku suka.”
Apakah kau masih suka dengan kehadiran hujan?
Entahlah.
Yang jelas, di sini aku sendirian memandangi hujan setiap malam.
Dan tentangmu, aku masih berharap banyak kau kembali padaku. Tentu, aku
yakin. Seyakin doa-doa yang aku langitkan buatmu.
Tegalsari,
Rabu, 24 Oktober 2012
—11:21 pm

0 komentar:
Posting Komentar