Senin, 13 Mei 2013

hai, Teman
lama kita tak berbincang
bagaimana dirimu di kabar
aku makin tampak kebingungan
bila kau melulu berparas muram

Teman,
lama kau tak bergumam
secakap-dua pun jarang
aku makin tampak tak tenang
bila kau melulu bersikap barbar

katakan padaku,
apa yang membikinmu tak nyaman
kapan kita kembali guyonan dengan diksi pas-pasan
keluarkan keluhmu yang selalu membikinmu geram

maka cukup, Teman
sampai di sini saja pertengkaran
kita buang segala penat yang membikin sedan
seperti minggu lalu yang kelam
: menghidupkan!

Tegalsari,
Sabtu, 8 September 2012
—04:52 pm
tiba-tiba langit tampak muram
kadang-kadang juga geram
katakan apa yang kau harapkan
dari langit yang kian petang

adakah sedikit selidik dari semu yang lamban mengusik?
adakah secuil getar yang dari sana tak ada lambar?

biar pilu kudekap di setiap segala kejap
biar ngilu kutuang di liang yang menjurang
sebab betapapun langit berombak legam
segala tak bisa cemerlang
cuma ngilu dan ngilu yang kian mengadu

tiba-tiba langit tampak muram
kadang-kadang juga geram
bersembunyi di balik ladang tak jua berbintang
mendelik di bukit senjang tak jua terulang
sebab kau sedang berpetualang

Tegalsari,
Sabtu, 8 September 2012
—05:28 pm
Riko menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Malam ini ia terseret arus kebingungan yang melelahkan. Bulan-bintang pun tampak muram. Semua terasa terbenamkan.

Lamat-lamat bayangan wajah Rista kembali melekat ke benaknya. Semua dahaga canda bersama Rista minggu lalu kembali tergambar jelas dalam lamunannya. Tapi bukan malah senang, ia tampak sedih. Berulang ia mencoba mengenyahkan bayangan itu, namun hasilnya nihil.

Dua jam yang lalu Riko menelepon pacarnya, Rista. Riko kaget seusai mendengar cerita Rista.

“Aku mau cerita sama kamu, Rik...,” ucap Rista, pelan.

“Iya, cerita aja...,” jawab Riko singkat.

“Sebenernya...,” ucapan Rista terhenti beberapa detik. Dari lubang kecil berbentuk persegi panjang di hapenya, Riko mendengar suara Rista semakin menjauh.

“Sebenernya..., ada apa Ris?” Riko mencoba mengimbangi Rista.

“Sebenernya orang tuaku nggak setuju sama hubungan kita, Rik.”

“Bernarkah? Kamu nggak bohong kan?” Riko sedikit berteriak. Ia terheran-heran dengan perkataan Rista padanya berusan.

“Iya...,” jawab Rista.

Deru napas Riko terdengar. Mereka tidak lagi berucap apa-apa. Hanya sepi yang bergumul. Detik bergeser. Riko menangkap isak suara Rista dari hapenya.

“Ada apa Ris? Kamu nggak apa-apa kan?”

“Nggak Rik...,” Suara Rista terdengar berat karena menahan sedu.

Dari penjelasan Rista, Riko mulai berpikir sejenak. Ribuan perasaannya berantakan. Ia tak lagi bisa menahan beratnya pilu yang dipikulnya. Sekitar tiga menit berlalu tanpa perbincangan.

“Sebenernya apa yang membuat hubungan kita tidak direstui orang tuamu, Ris?” pertanyaan Riko memecah keheningan.

“Karena kita beda strata, Rik....”

“Oh, itu masalahnya.” Riko tertahan sejanak, “Aku tahu, aku menyadarinya Ris.”

Seusai perbincangan itu, isak tangis Rista semakin jelas terdengar. Dan, tut tut tut.... Ternyata hapenya Riko mati.

Untuk Rista yang setia—di sana.

Rista,

Aku datang padamu bukan untuk menanyakan bagaimana perasaanmu terhadapku, seperti yang biasa aku tanyakan padamu, dulu—sebab kini aku telah tahu bagaimana caramu mencintaku begitu menggebu.

Mengenai cinta kita yang belum mendapat restu orang tua, aku bisa menerima. Aku tak mengapa. Kau juga tak perlu bagaimana. Senja akan menjawabnya. Bahwa suatu nanti, orang tuamu pasti akan memberi restu pada kita. Aku yakin itu, Ris! Dan memang itu yang aku harapkan.

Karena aku masih ingin duduk berdua bersamamu di sofa itu, atau sekadar bertemu muka meski diam saja. Sesederhana itu.

Biarlah semuanya berjalan tanpa sandiwara, tanpa kebohongan, dan tanpa kepura-puraan yang membosankan. Aku yakin kita mampu bertahan. Kuatkan dirimu. Jangan berhenti di sini. Semua hanyalah masalah waktu....

Dan waktu pulalah yang akan menggulirkan hati orang tuamu....

Malam semakin larut. Seusai menulis, Riko menutup bukunya dan beristirahat.

***

Sejak kejadian itu, Rista bersama keluarganya memutuskan untuk pergi pindah rumah sekaligus pindah sekolah. Semua yang dilakukan Rista semata adalah karena terpaksa.

Setiap harinya, Rista harus melawan deru rindunya pada Riko yang kian melengking di kedalaman hatinya. Acapkali Rista membuka laptop miliknya untuk melihat foto kenangan berdua bersama Riko. Dan itu yang bisa ia lakukan setiap harinya.

Mereka pun lulus sekolah....

Selama setahun Rista di rumah barunya, ia tetap tidak bisa melupakan begitu saja kenangan bersama Riko. Sejauh ini, Riko-lah yang menguatkan hatinya. Tidak jarang air matanya menyungai kecil menuruni bukit pipinya. Hingga rona muka Rista tak lagi berwarna.

Sama halnya dengan si Riko. Setiap hari ia hanya menulis berlembar-lembar bait sajak buat Rista yang sekarang entah di mana. Dan memang itu yang biasa ia lakukan setiap harinya. Ia sampai tidak mampu melangkahkan cintanya ke wanita manapun. Bagi Riko, sosok Rista begitu istimewa.

Menit demi menit berjalan melupakan detik. Jam demi jam berjalan melupakan menit. Hari bergulir begitu saja. Semua terasa melelahkan karena rindu ini tidak bermuara. Itu yang mereka berdua rasakan.

Hingga suatu hari menjelang senja, di gedung bertingkat tiga, ada wanita yang mematahkan langkah Riko. Kakinya terhenti di tangga. Ia urungkan niatnya naik ke lantai dua. Riko mencoba mengingat wanita yang duduk di kursi di bawah pohon beringin itu, tepatnya di sebelah lapangan basket. Tiba-tiba saja wajah Rista berkelebat di benak Riko. Dan ia berhasil menyimpulkan wajah itu. Wanita yang duduk di kursi itu adalah Rista! Demikian hatinya berkata.

Tanpa menunggu lama, Riko bertolakmenuruni tangga dan menuju ke Rista—wanita yang selama ini benar-benar ia tunggu. Riko berlari. Matanya berbinar. Ia macam melayang. Kali ini wanita yang duduk di kursi itu sudah di hadapannya.

Riko berada tepat di belakang wanita itu. Ia melihat kerudung biru yang dikenakan Rista. Jantungnya berdegup kencang. Kali ini rasa bahagia melilitnya.Riko mencoba menenangkan deburan hatinya, dan memberanikan diri untuk memanggil nama itu.

“Rista...,” suara Riko bergetar. Nadanya tidak karuan sebab bercampur kebahagiaan.

Suara itu..., apa benar suara itu adalah dia yang selama ini aku tunggu kehadirannya? Demikian hati Rista bergumam dan lekas-lekas kepalanya menilik diikuti badannya berbalik ke belakang.

Senyum Rista terurai, ia macam diguyur gelombang cinta. Dengan segenap kerinduan yang tertahan di hatinya, Rista berbalik membalas panggilan Riko terhadapnya, “Riko....”

Seketika Rista mendekat, dan Riko memeluk Rista. Erat. Rista tak kuasa menahan matanya yang diselimuti air. Dan satu demi satu kristal bening jatuh dari matanya. Beberapa detik menumpahkan kerinduan dalam dekapan, mereka beralih ke kursi yang tadinya diduduki Rista.

“Gimana kabarmu Ris?” suara Riko berguncang. Rista masih menangis karena haru.

“Aku baik Rik, kamu baik-baik aja kan?”

“Aku juga baik kok Ris....”

Senja pun tiba, mereka berdua masih duduk di kursi itu. Daun-daun satu demi satu gugur
tak terhitung berapa. Mata mereka saling bertumbuk. Senja kian menua, nyaris hitam.

Akhirnya senyum kita kembali bertemu, Riko...,”hati Rista berkata.

***
Jubah hitam tergelar di langit. Mereka berdua beranjak ke pantai untuk menebus kerinduan yang selama ini mereka tahan. Riko lekas menghidupkan motornya, Rista lantas mengekor naik, tangannya melingkar ke tubuh Riko.

Sudah lama aku menginginkan semua ini terjadi. Dan malam ini, kita kembali bersua—seperti dulu..., Riko bergumam dalam hatinya sembari memacu motornya pelan.

Diam-diam Rista juga menikmati kebersamaannya dengan Riko, Malam yang membahagiakan....

“Rik, aku seneng...,” ucap Rista.

“Aku juga, Ris...,” timpal Riko. Bibirnya menyungging menciptakan senyum.

Pantai sudah tergambar di depan mata, Riko memarkirmotornya di dekat masjid pinggir pantai. Mereka berdua turun dan beranjak meninggalkan motornya yang sudah terparkir untuk mencari tempat duduk.

“Ris, aku masih mencintaimu...,” Riko memulai pengakuannya, “Dalam...,” Suaranya gemetar. Rista lantas duduk di pinggir pantai.

Bulan terlihat penuh rona. Bintang-bintang bertebar di segala. Desau angin berderu di telinga mereka. Ombak pantai melahap pesisir. Lambat. Dari tempat mereka duduk berdua, terlihat perahu nelayan terapung di jauh sana.

“Sebenernya dua bulan sejak aku pindah rumah, aku berusaha menghubungimu, Rik,” Rista berkilah, “Namun semua sia-sia. Setiap hari aku harus melawan ratusan perasaan di hatiku yang kian melumpuhkanku. Aku hampir putus asa dengan semua usahaku menemukan dirimu,” wajah Rista tertunduk. Matanya berair. Ia tersedu.

“Lalu?”

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa Ris?” Riko menggeser posisi duduk, mendekat ke Rista yang duduk persis di sebelah kanannya.

“Orang tuaku telah merestui hubungan kita, Rik,” kepala Rista mendongak ke Riko. Mata mereka beradu, “Mereka berdua telah menyadari bahwa usahanya untuk menjauhkan kita hanya sia-sia. Mereka juga telah tahu kalau aku hanya mencintaimu melalui sikapku setiap harinya.”

Riko tersenyum, rona wajahnya terpancar. Pun pada Rista, senyumnya terurai hingga matanya terlihat tinggal segaris.

“Benarkah yang kamu katakan, Ris?” Rista mengangguk membenarkan, “Aku yakin itu Ris. Bahkan aku telah menyatakannya ke dalam bukuku, sembilan bulan yang lalu.”

“Benarkah?” Rista berbalik bertanya pada Riko. Riko mengangguk mengiyakan.

Sekali lagi senyum mereka bertemu. Senyum yang meneduhkan. Tangan Riko menggamit jemari Rista. Rista beringsut ke tubuh Riko dan kembali menitikkan air mata karena tidak kuasa menahan haru.

Tegalsari,
Sabtu, 15 September 2012
—08:43 pm
maaf,
bila kata sudah tak lagi berguna
lewat senja aku titipkan semua dukaku
agar kau mengerti betapa aku adalah pendosa

maaf,
bila mulutku terikat terlunta
lewat malam aku selipkan salahku
pada tiap doa-doa yang terlantun dari dada

maaf,
bila mengenaiku mengarsir luka
lewat apa saja aku tuangkan secercah pengharapan
supaya kau, di sana, tak bagaimana

Tegalsari,
Ahad, 23 September 2012
—21:24 pm
Melengking jauh berpeluh teduh
Karena desau risau kian mengaduh
Jauh ke titik paling jauh
Menganga dijejal riuh
Dari hari ke seberang hati
Mulai pagi sampai bertemu pagi
Sejak semu menilik baru
Sedari jemu ke hampir pilu
Yang kutemu melulu cuma siluetmu
Karena begitu hanyut aku bergelayut
Hingga encok dan pegal linu mencekik lutut
Oh
Betapa ngilu membayang dirimu
Sungguh karena rindu yang semakin menderu
Kau selalu hadir di tiap detik detil mimpiku

Tegalsari,
Sabtu, 08 September 2012
—12:37 pm
padahal malam belum sepenuhnya larut
tapi mengapa dingin bikin kaku mulut
padahal bulan masih bersinar walau tak seutuhnya berbinar
tapi mengapa badan terasa sungguh gemetar

padahal malam belum sepenuhnya larut
namun entah mengapa hatiku begitu terasa kalut
padahal hati telah dapatkan debar meski dengan sedikit gemetar
mungkinkah dingin atau satu kecupan tadi yang membuatku bergetar

aku tak tahu
sebab sejak sekilo-dua seusai aku dan engkau bermega-mesra di segaris jendela,
aku merasa ada beberapa apa yang tertinggal di sela kaca
sampai pada tengah perempatan sana, gemetarku kian mengeja

entah tak tahu menahu soal cumbu
barangkali bekas rindu yang bergelantungan memberat mata
sebab sekilo-dua tetap tak lupa tetap bergayut manjasama sekali tak bersela

sepertinya malam ini aku macam tak punya bulu
semua terasa layaknya paku
: kaku

padahal malam belum sepenuhnya larut
tapi mengapa dingin bikin kaku mulut
entah jua bagai mulanya
tetap tak kutemui apa yang tertinggal di segaris jendela
entah tentang gerangan seperti apa jawabanya?
itukah sebias bianglala cinta atau hanya semu diatas nafsu belaka sembari menepi
mendayung perahu rasaku berlabuh di suci hati
tentang makna apa yang kurasa
itukah yang dikatakan kebanyakan kaum muda sebagai; cinta
aku sangsi
tetap tak mengerti!

Blokagung, 20 Agustus 2012
Enggar Tata dan Wahyu Hidayat

lembut
merambat lambat lamat-lamat
kusaksikan tubuhmu semakin menghilang dalam pekat

detak debar semakin kencang
meluruh riuh bikin seluruh tubuh macam tak utuh
malam ini kita kembali sua, Sayang

acapkali aku merintih
mendesah saling tindih 
sebab deru belenggu salju
ketika lewat tengah malam sepulang kita sua membasuh rindu

dan mendesah
kerna debar kian bertebar
malam ini aku benar-benar tak tahu malu
sebab rona wajahmu tampak layu
sedetik-dua seusai aku menghirup aroma napasmu

entah sebab pesona rindu
atau hanya sekadar cumbu
sebab kibas sayap burung hantu yang menukik
jangkrik yang mengerik menimbulkan berisik dan begitu mengusik
sama sekali tak membuat kita terusik

malam ini adalah malam yang ke sekian aku menemumu
di kamar, di atas ranjang tempat tidurmu
oh, Sayang
aku tak sepenuhnya tahu bagaimana perasaanmu
kerna aku tak melulu bisa melerai cakrawala hatimu
yang aku tahu, malam ini aku sedang duduk denganmu
di dekat jendela kaca berwarna hijau pupus itu
ah, bikin malam kian cepat berlalu

malam ini adalah malam yang entah keberapa kalinya kita bersua;
rahasia di balik segaris jendela kaca

Blokagung, 22 Agustus 2012
Enggar Tata dan Wahyu Hidayat
berkelana
tiba-tiba surut nafsu
sebab hati tak lagi menyatu
dalam rindu bahkan sama sekali tak lagi mengikat satu

berkembara
seperti tiba-tiba menyeka rasa
kerna jauh dari jiwa sana

berlari
di ujung kali, di seberang hatimu
hampir mati
kerna entah bermula dari mana
hati itu tak lagi bermuara
tak kutemui dermaga di sana
kupaksa tanya lewat hatimu
kau kaku bagai paku
entah berapa kali tanyaku
yang ternyata malah menyayat hatimu

tampak layaknya percuma
dengan harus air mata mata air mana
bila segala melulu kita paksa
ah, mungkinkah kita bisa
jika dengan hanya sekadar cinta saja

memang tampaknya percuma
jika hanya berdebat dan terus bergulat 
mungkin hanya dalam mata air air matamu saja kutemui cinta
bila segala melulu dipaksa
tak lagi kali ujung kali itu bermuara
tak lagi nampak dermaga bahagia 
tak lagi ada desah kasih sayang tercipta
menyusup mengusap segala luka lara
tak lagi ada canda menyeka air mata
semua... tak bermuara!
sirna!

Blokagung, 24 agustus 2012
Enggar Tata dan Wahyu Hidayat
karena malam tak selalu berbintang
maka aku tak mau maido prengat-prengut dengan sungut yang tak menyenangkan
karena malam tak selalu berbintang
maka aku adalah penggenggam kerinduan milikmu,Sayang

karena malam tak melulu senantiasa berbulan
maka terangilah ia dengan sedikit senyuman
karena malam tak melulu senatiasa berbulan
maka cemerlangilah ia dengan sedikit kerlinganmu, Sayang

saat hati terpaut sumringah lebaran
aku masih saja tak sempat mengingat selain senyum yang berasa madu bercampur tebu milikmu itu
walau aku tak senantiasa bisa sesanding denganmu
setidaknya senyum dan desah manjamu tiap malam, mampu mewakili hadirmumencumbuku
hingga aku mampu melupakan sejenak bayang wajah ayah-ibu yang menderu rindu menghantui lebaranku
karena satu kecupan saja darimu, mampu menghapus duka yang tak ternilai jumlahnya

kini, dua jam selepas tengah malam
kembali rindu padamu merengkuh, merangkulku
entah sebab apa, kerna sekecup-kecapmu padaku
masih jangget dan bahkan tak bisa aku lepas bekasnya
oh, Sayang
esok hari atau kapan lagi, kembali akan kita lewati malam seperti ini
kerna malam memang selalu tak bersela pada kita

sempat tak berucap cuap
sebab bibir tak mampu mengucap
mencecap mengutuki malam yang tak berbintang bulan
karena sekecup mesra yang kau taruh pada bibirku malam tadi

barangkali malam memang selalu tak bersela pada kita
menghaturkan seluruh kemesraanya pada kita
lewat sekecup manja tak lupa
atau barangkali memang kita harus segera bersua
menuai kembali rindu yang mencekik setiap waktu
sebab kecup manja yang tak akan pernah kita lewati dimalam-malam yang lain
bersama kecup-kecup yang tak lain pula dengan bahagia yang sungguh sangat sederhana

aku masih belum mengerti bagaimana bekas kecup pipimu masih membekas pada tiap gerak pikirku
aku masih juga belum mengerti mengapa pada malam hari, aku selalu kangen dibikinmu
apakah pada pipimu ada sebungkus rindu yang tersangkut pada bibir bawah-atasku?
aku masih belum tahu
bahwa tiap malam kembali bertemu pada rembulan atau bintang
aku merasakan yang entah apa namanya tiba-tiba menjelma pada tiap segala kejap
mengelus-alus alis mataku
mengendap-dekap tubuhku
menggaris kelu hingga bikin rindu pada tiap desauku
memantikku, juga tak jarang menamparku sampai bikin sendu
dan bahkan pula ia diam-diam menyetubuhi hatiku sampai entah beberapa detik detil matamu
menyisakan jejak pada tiap lubang poriku
menyuguhkan detak-debar rasa kangenku padamu
: ada apa dengan pipimu?

Blokagung, 18 Agustus 2012
Wahyu Hidayat dan Enggar Tata