Riko
menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Malam ini ia terseret arus kebingungan
yang melelahkan. Bulan-bintang pun tampak muram. Semua terasa terbenamkan.
Lamat-lamat
bayangan wajah Rista kembali melekat ke benaknya. Semua dahaga canda bersama
Rista minggu lalu kembali tergambar jelas dalam lamunannya. Tapi bukan malah
senang, ia tampak sedih. Berulang ia mencoba mengenyahkan bayangan itu, namun
hasilnya nihil.
Dua
jam yang lalu Riko menelepon pacarnya, Rista. Riko kaget seusai mendengar
cerita Rista.
“Aku
mau cerita sama kamu, Rik...,” ucap Rista, pelan.
“Iya,
cerita aja...,” jawab Riko singkat.
“Sebenernya...,”
ucapan Rista terhenti beberapa detik. Dari lubang kecil berbentuk persegi
panjang di hapenya, Riko mendengar suara Rista semakin menjauh.
“Sebenernya...,
ada apa Ris?” Riko mencoba mengimbangi Rista.
“Sebenernya
orang tuaku nggak setuju sama hubungan kita, Rik.”
“Bernarkah?
Kamu nggak bohong kan?” Riko sedikit berteriak. Ia terheran-heran dengan
perkataan Rista padanya berusan.
“Iya...,”
jawab Rista.
Deru
napas Riko terdengar. Mereka tidak lagi berucap apa-apa. Hanya sepi yang
bergumul. Detik bergeser. Riko menangkap isak suara Rista dari hapenya.
“Ada
apa Ris? Kamu nggak apa-apa kan?”
“Nggak
Rik...,” Suara Rista terdengar berat karena menahan sedu.
Dari
penjelasan Rista, Riko mulai berpikir sejenak. Ribuan perasaannya berantakan.
Ia tak lagi bisa menahan beratnya pilu yang dipikulnya. Sekitar tiga menit
berlalu tanpa perbincangan.
“Sebenernya
apa yang membuat hubungan kita tidak direstui orang tuamu, Ris?” pertanyaan
Riko memecah keheningan.
“Karena
kita beda strata, Rik....”
“Oh,
itu masalahnya.” Riko tertahan sejanak, “Aku tahu, aku menyadarinya Ris.”
Seusai
perbincangan itu, isak tangis Rista semakin jelas terdengar. Dan, tut tut tut.... Ternyata hapenya Riko
mati.
Untuk Rista yang setia—di
sana.
Rista,
Aku datang padamu bukan
untuk menanyakan bagaimana perasaanmu terhadapku, seperti yang biasa aku
tanyakan padamu, dulu—sebab kini aku telah tahu bagaimana caramu mencintaku
begitu menggebu.
Mengenai cinta kita yang
belum mendapat restu orang tua, aku bisa menerima. Aku tak mengapa. Kau juga
tak perlu bagaimana. Senja akan menjawabnya. Bahwa suatu nanti, orang tuamu
pasti akan memberi restu pada kita. Aku yakin itu, Ris! Dan memang itu yang aku
harapkan.
Karena aku masih ingin duduk
berdua bersamamu di sofa itu, atau sekadar bertemu muka meski diam saja.
Sesederhana itu.
Biarlah semuanya berjalan
tanpa sandiwara, tanpa kebohongan, dan tanpa kepura-puraan yang membosankan.
Aku yakin kita mampu bertahan. Kuatkan dirimu. Jangan berhenti di sini. Semua
hanyalah masalah waktu....
Dan waktu pulalah yang akan
menggulirkan hati orang tuamu....
Malam
semakin larut. Seusai menulis, Riko menutup bukunya dan beristirahat.
***
Sejak
kejadian itu, Rista bersama keluarganya memutuskan untuk pergi pindah rumah
sekaligus pindah sekolah. Semua yang dilakukan Rista semata adalah karena terpaksa.
Setiap
harinya, Rista harus melawan deru rindunya pada Riko yang kian melengking di
kedalaman hatinya. Acapkali Rista membuka laptop miliknya untuk melihat foto
kenangan berdua bersama Riko. Dan itu yang bisa ia lakukan setiap harinya.
Mereka
pun lulus sekolah....
Selama
setahun Rista di rumah barunya, ia tetap tidak bisa melupakan begitu saja
kenangan bersama Riko. Sejauh ini, Riko-lah yang menguatkan hatinya. Tidak
jarang air matanya menyungai kecil menuruni bukit pipinya. Hingga rona muka
Rista tak lagi berwarna.
Sama
halnya dengan si Riko. Setiap hari ia hanya menulis berlembar-lembar bait sajak
buat Rista yang sekarang entah di mana. Dan memang itu yang biasa ia lakukan
setiap harinya. Ia sampai tidak mampu melangkahkan cintanya ke wanita manapun.
Bagi Riko, sosok Rista begitu istimewa.
Menit
demi menit berjalan melupakan detik. Jam demi jam berjalan melupakan menit.
Hari bergulir begitu saja. Semua terasa melelahkan karena rindu ini tidak bermuara.
Itu yang mereka berdua rasakan.
Hingga
suatu hari menjelang senja, di gedung bertingkat tiga, ada wanita yang
mematahkan langkah Riko. Kakinya terhenti di tangga. Ia urungkan niatnya naik
ke lantai dua. Riko mencoba mengingat wanita yang duduk di kursi di bawah pohon
beringin itu, tepatnya di sebelah lapangan basket. Tiba-tiba saja wajah Rista
berkelebat di benak Riko. Dan ia berhasil menyimpulkan wajah itu. Wanita yang duduk di kursi itu adalah Rista!
Demikian hatinya berkata.
Tanpa
menunggu lama, Riko bertolakmenuruni tangga dan menuju ke Rista—wanita yang
selama ini benar-benar ia tunggu. Riko berlari. Matanya berbinar. Ia macam
melayang. Kali ini wanita yang duduk di kursi itu sudah di hadapannya.
Riko
berada tepat di belakang wanita itu. Ia melihat kerudung biru yang dikenakan
Rista. Jantungnya berdegup kencang. Kali ini rasa bahagia melilitnya.Riko
mencoba menenangkan deburan hatinya, dan memberanikan diri untuk memanggil nama
itu.
“Rista...,”
suara Riko bergetar. Nadanya tidak karuan sebab bercampur kebahagiaan.
Suara itu..., apa benar
suara itu adalah dia yang selama ini aku tunggu kehadirannya? Demikian hati Rista
bergumam dan lekas-lekas kepalanya menilik diikuti badannya berbalik ke
belakang.
Senyum
Rista terurai, ia macam diguyur gelombang cinta. Dengan segenap kerinduan yang
tertahan di hatinya, Rista berbalik membalas panggilan Riko terhadapnya,
“Riko....”
Seketika
Rista mendekat, dan Riko memeluk Rista. Erat. Rista tak kuasa menahan matanya
yang diselimuti air. Dan satu demi satu kristal bening jatuh dari matanya.
Beberapa detik menumpahkan kerinduan dalam dekapan, mereka beralih ke kursi
yang tadinya diduduki Rista.
“Gimana
kabarmu Ris?” suara Riko berguncang. Rista masih menangis karena haru.
“Aku
baik Rik, kamu baik-baik aja kan?”
“Aku
juga baik kok Ris....”
Senja
pun tiba, mereka berdua masih duduk di kursi itu. Daun-daun satu demi satu
gugur
tak
terhitung berapa. Mata mereka saling bertumbuk. Senja kian menua, nyaris hitam.
“Akhirnya senyum kita kembali bertemu,
Riko...,”hati Rista berkata.
***
Jubah
hitam tergelar di langit. Mereka berdua beranjak ke pantai untuk menebus
kerinduan yang selama ini mereka tahan. Riko lekas menghidupkan motornya, Rista
lantas mengekor naik, tangannya melingkar ke tubuh Riko.
Sudah lama aku menginginkan semua
ini terjadi. Dan malam ini, kita kembali bersua—seperti dulu..., Riko bergumam dalam hatinya
sembari memacu motornya pelan.
Diam-diam
Rista juga menikmati kebersamaannya dengan Riko, Malam yang membahagiakan....
“Rik,
aku seneng...,” ucap Rista.
“Aku
juga, Ris...,” timpal Riko. Bibirnya menyungging menciptakan senyum.
Pantai
sudah tergambar di depan mata, Riko memarkirmotornya di dekat masjid pinggir
pantai. Mereka berdua turun dan beranjak meninggalkan motornya yang sudah
terparkir untuk mencari tempat duduk.
“Ris,
aku masih mencintaimu...,” Riko memulai pengakuannya, “Dalam...,” Suaranya
gemetar. Rista lantas duduk di pinggir pantai.
Bulan
terlihat penuh rona. Bintang-bintang bertebar di segala. Desau angin berderu di
telinga mereka. Ombak pantai melahap pesisir. Lambat. Dari tempat mereka duduk
berdua, terlihat perahu nelayan terapung di jauh sana.
“Sebenernya
dua bulan sejak aku pindah rumah, aku berusaha menghubungimu, Rik,” Rista
berkilah, “Namun semua sia-sia. Setiap hari aku harus melawan ratusan perasaan
di hatiku yang kian melumpuhkanku. Aku hampir putus asa dengan semua usahaku
menemukan dirimu,” wajah Rista tertunduk. Matanya berair. Ia tersedu.
“Lalu?”
“Aku
hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa
Ris?” Riko menggeser posisi duduk, mendekat ke Rista yang duduk persis di
sebelah kanannya.
“Orang
tuaku telah merestui hubungan kita, Rik,” kepala Rista mendongak ke Riko. Mata
mereka beradu, “Mereka berdua telah menyadari bahwa usahanya untuk menjauhkan
kita hanya sia-sia. Mereka juga telah tahu kalau aku hanya mencintaimu melalui
sikapku setiap harinya.”
Riko
tersenyum, rona wajahnya terpancar. Pun pada Rista, senyumnya terurai hingga
matanya terlihat tinggal segaris.
“Benarkah
yang kamu katakan, Ris?” Rista mengangguk membenarkan, “Aku yakin itu Ris.
Bahkan aku telah menyatakannya ke dalam bukuku, sembilan bulan yang lalu.”
“Benarkah?”
Rista berbalik bertanya pada Riko. Riko mengangguk mengiyakan.
Sekali
lagi senyum mereka bertemu. Senyum yang meneduhkan. Tangan Riko menggamit
jemari Rista. Rista beringsut ke tubuh Riko dan kembali menitikkan air mata
karena tidak kuasa menahan haru.
Tegalsari,
Sabtu, 15 September 2012
—08:43 pm