Sebelum terlelap, apa harapan bila kau
kembali bisa bertemu esok pagi?
Tiba-tiba, malam ini aku teringat pertanyaan yang
kuajukan buat diriku sendiri—mengulang kembali kebiasaan-kebiasaan lamaku waktu
kecil. Aku bergelimpungan di atas tempat tidur, menekuri kehidupan yang
kujalani akhir-akhir ini: Apakah aku telah menjadi manusia yang didambakan
ibunya?
Dadaku sakit, semacam ditohok sesuatu yang berat, entah
apa. Jantungku serasa berhenti sejenak. Oh!
Sebelum terlelap, apa harapan bila kau
kembali bisa bertemu esok pagi?
Aku kembali diingatkan oleh pertanyaan itu. Pertanyaan yang
bercokol dalam benakku saat aku masih sekolah dasar dan selalu tiba-hadir ketika menjelang
tidur.
Apa yang sebenarnya aku harapkan dalam hidup
ini? Hatiku sibuk menerka-nerka. Mataku mencari-cari sesuatu entah yang terselip di
antara sudut-sudut kamarku. Pikiranku bertanya-tanya. Jiwaku melayang... .
Aku melihat jam digital yang tergeletak di meja sebelah
tempat tidurku. Jam menjunjukkan angka 23.00. Rupanya sudah larut. Tetapi aku
belum mengantuk. Pikiranku masih sibuk sendiri, ingin menjawab pertanyaan tadi. Seolah ia menuntut sebuah jawaban malam ini juga. Ah.
Aku memang sering mengalami kejadian semacam
ini. Tetapi itu dulu, saat aku masih sekolah dasar. Kira-kira umurku waktu itu
delapan atau sembilan tahunan. Mungkin aku masih kelas empat atau malah kelas
tiga. Aku agak lupa.
Malam menjelang tidur, saat itu, aku seolah
sedang berdialog dengan diriku sendiri. Yang jelas aku tak sedang kesurupan jin
manapun. Ini hanya pertanyaan sepele yang muncul secara tiba-tiba menjelang aku
tidur. Dan pertanyaan itu kini kembali datang padaku, menyelinap diam-diam ke
kamarku, setelah sekian tahun aku dan pertanyaan itu tak lagi pernah bertemu:
Sebelum terlelap, apa harapan bila kau
kembali bisa bertemu esok pagi?
Oh!
Sementara aku masih belum bisa menjawab, ingatanku
terbang dan hinggap ke salah satu peristiwa saat aku berjalan di sebuah jalanan
sepi, beberapa hari yang lalu.
***
Ada dua orang yang sedang bercakap-cakap dan
bermain catur, di sebuah kedai warung yang sudah tutup.
“Sekak!”
salah satu dari mereka berteriak ketika mengetahui lawannya salah langkah.
Si lawan tampak panik tetapi buru-buru
menyeruput segelas kopi hitam di sebelah kanan papan catur—menenangkan diri. Sejurus
dia berpikir keras untuk keluar dari ancaman sang musuh tadi. Dahinya
mengernyit. Alisnya hampir bertaut. Ia kemudian tersadar jika rupanya
langkahnya dalam permainan tersebut sudah mati lantas menyerah. Kalah.
Sang lawan menyeringai. “Hahaha. Kamu ini! Hidup harus maju, bro. Kalau tadi sudah kalah,
sekarang harusnya kamu bisa menang! Tapi kamu kalah lagi dan kalah lagi!
Hahaha.”
Aku sudah berjalan cukup jauh dan membelakangi
mereka. Sayup-sayup suara mereka berdua semakin pelan... dan tak terdengar. Aku
tertarik pada perkataan pemain catur tadi: “Hidup ini harus maju!”
Hidup harus maju?
Aku mengangkat alisku sebelah. Apakah benar hidup ini
harus maju? Aku mengulang pertanyaan itu beberapa kali. Sebentar, sebentar. Aku
mendapati ada yang ganjil dengan perkataan si pemain catur tadi.
Ah, mungkin aku perlu mengistirahatkan
tubuhku dulu, setelah sejak tadi aku berjalan beberapa kilometer, menyusuri
jalanan sepi, di sebuah desa, pikirku.
Hingga tiba aku di rumah. Baju yang kupakai
basah di bagian belakang, akibat keringat. Aku mengambil air putih di kulkas
untuk kucampur dengan sirop. Lantas
duduk di kursi panjang ruang tamu, sekali-dua meminum
sirop segar yang kubuat barusan. Tegukan demi tegukan kunikmati dan kurasakan.
“Hidup ini harus maju!”
Ah. Aku teingat kembali dengan perkataan si
pemain catur tadi. Baiklah, aku menyerah. Aku akan duduk-duduk sebentar untuk
memikirkan apa sebenarnya esensi dari ‘hidup harus maju’ itu. Pertama mungkin
aku harus mendefinisikan kata ‘hidup’ terlebih dahulu.
Hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: v 1 masih terus ada,
bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan,
dsb); 2 bertempat tinggal (diam); 3 mengalami kehidupan dl
keadaan atau dng cara tertentu; 4 beroleh (mendapat) rezeki dng jalan
sesuatu; 5 berlangsung (ada) krn sesuatu; 6 tetap ada (tidak
hilang); 7 masih berjalan (tt perusahaan, perkumpulan, dsb); 8
tetap menyala (tt lampu, radio, api); tetap bergerak terus; 9 masih tetap
dipakai (tt bahasa, adat, sumur, dsb); 10 ramai (tidak sepi dsb); 11
seakan-akan bernyawa atau benar-benar tampak spt keadaan sesungguhnya (tt
lukisan, gambar); 12 spt sungguh-sungguh terjadi atau dialami (tt
cerita)... .
Ah, membingungkan. Pada pengertian pertama
soal hidup, KBBI mengatakan bahwa hidup adalah “masih
terus ada, bergerak, dan bekerja.” Misalnya:
“Kakeknya masih hidup,
tetapi neneknya telah lama meninggal.”
Hmmm, mungkin penjelasan pertama ini bisa kuterima.
Aku mengambil bahan ini saja
untuk dibahas. Jadi, dari sini, mungkin pengertian hidup bisa lebih dipersempit
dalam kalimat seperti ini: Hidup adalah ketika kita masih bisa melakukan
apapun. Benarkah? Barangkali.
Tetapi tunggu sebentar. Tadi, kata si pemain
catur, hidup itu harus maju. Hei, kenapa harus ‘maju’?
Aku memilih diam sejenak untuk meneguk sirop
yang telah habis separuh.
Jadi, kenapa hidup harus ‘maju’?
Saat di sekolah, aku sering mendengar
guru-guru bertutur seperti itu. Mereka seolah berperan bagai motivator.
“Eh, soal segampang ini saja kamu ndak
bisa!? Bagaimana kamu bisa lulus, hah!? Bodoh! Untuk lulus UN itu kamu harus belajar
dan hidup maju! Jika soal kayak gini ndak bisa, kamu gak bakal
lulus!” ujar seorang guru pada salah satu murid yang tak bisa mengerjakan
soal Kimia, di depan kelas. Murid itu malu dan tertunduk.
Entah kesurupan jin dari negara mana guru
tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak
sekali guru yang ketika mendapati muridnya tidak bisa satu soal saja, mudah
sekali mengatakan muridnya bodoh, tolol, dungu, dan seterusnya, dan seterusnya.
Seolah guru adalah manusia paling pandai dan paling baik, di dunia ini. Sampai
ada yang menyerapahi muridnya dengan kata-kata yang tak sepatutnya. Padahal,
akibat perkataan kotor yang keluar dari lisan seseorang, siapapun, kelak akan
menjadi kenyataan-kenyataan, kan?
Tetapi sudahlah. Itu urusan guru itu! Aku tak
mau ikut campur. Biarlah ditanggung sendiri. Aku hanya ingin membahas satu soal
saja dari perkataan guru tadi: kita harus hidup maju. Kenapa harus maju?
Baiklah, maksudku sebenarnya begini.
Kita mungkin sedang berada dalam labirin.
Hidup manusia sejak dulu hanya seperti itu-itu saja. Dahulu ibu kita dilahirkan dari rahim ibunya. Kemudian ibu kita
melahirkan kita, anaknya. Lantas, ibu dari ibu kita kemudian meninggal, dan
kita melahirkan anak, dan kelak ibu kita meninggal... .
Tentunya sudah bisa ditebak,
kan, bahwa hidup manusia di dunia
sebenarnya adalah sebuah daur atau siklus tetap—yang
tak bisa diubah: Dilahirkan untuk melahirkan, dan kemudian meninggal!
Lalu apakah manusia harus hidup (untuk) maju? Ketika kita menginginkan untuk hidup maju, bukankah yang terjadi adalah malah sebaliknya? Pada saat
itu sebenarnya kita tengah hidup mundur—karena jelas, kita akan meninggal, bukan?
Kemudian apa bedanya usia-kecil-remaja-dewasa-dan-tua?
Selama ini kita sering mendengar seperti ini:
“Usiamu sudah tua, namun perilakumu masih anak kecil!” atau, “Aku salut
denganmu. Kamu masih kecil tetapi perilakumu menunjukkan sudah dewasa.”
Aku jadi ragu dengan pengklasifikasian umur
dalam pelajaran Sosiologi yang diajarkan oleh guruku saat aku masih kelas dua
SLTA, dulu. Aku menemukan banyak kejadian bahwa orang-orang yang sudah tua
justru seringkali melakukan tindakan-tindakan yang mirip dengan anak kecil.
Juga, tak jarang dari mereka yang kualitas pancaindranya menurun. Seperti
menjadi semakin pelupa atau kurang bisa mendengar.
Jika kualitas organ tubuh orang tua semakin
menurun dan tak berfungsi dengan baik, apakah sebenarnya kita ini sedang hidup
menuju ke arah kemajuan? Jangan-jangan kita justru mengarah ke kemunduran?
Aku menghabiskan sirop yang kubuat hingga
hanya tersisa es yang beku di gelas.
Malam itu, pernyataan si pemain catur bahwa
hidup harus maju benar-benar menyita pikiranku. Aku sampai harus membuka-buka kamus, mengingat-ingat kakek-nenekku
yang telah meninggal, mengingat ibuku, dan semuanya. Namun aku belum mengerti benar jawaban
itu.
Entahlah.
Barangkali esok atau lusa aku akan
berdiskusi dengan teman atau guruku, untuk menanyakan hal (tak penting) ini. Kurasa
aku butuh istirahat sekarang.
***
Aku kembali mendarat di dalam kamar setelah
aku melayang dalam ingatan pemain catur yang kulihat di sebuah kedai warung
yang tutup, beberapa hari yang lalu. Aku menoleh ke arah jam digitalku. 01.12.
Oh! Penerbanganku rupanya cukup lama.
Sebelum terlelap, apa harapan bila kau
kembali bisa bertemu esok pagi?
Aku kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan
masa kecilku. Waktu kecil dulu, bila pertanyaan itu menghampiriku, aku selalu
menatap wajah Ibu dan membayangkan kami berada dalam suatu tempat yang
sebetulnya tidak jauh. Tetapi kami tak bisa bersama sebab di hadapan kami ada
jurang yang membentang. Aku dan Ibu barangkali masih bisa bertatapan muka, tetapi kami tak bisa
berbuat apa-apa.
Saat itu dalam bayanganku, wajah Ibu tampak
sangat cemas sekali mendapati aku yang menangis meraung—mendamba segera
pelukannya. Dalam kenyataan yang sebenarnya, aku benar-benar menangis di
samping Ibu yang sudah terlelap. Lalu Ibu mendengar tangisku, dan buru-buru ia
memelukku, erat-erat.
“Ada
apa?” tanyanya, “Tenang,
ibu ada di sini, dan jangan menangis.”
Tetapi aku tetap menangis. Menangisi anak dan
Ibu dalam bayanganku: Saat kami tak bisa saling memeluk karena terpisah
jurang.
Dan apa yang paling menyakitkan di dunia ini?
Adalah ketika kita mendamba pelukan Ibu atau tangannya yang mengacak-acak
rambut kita, tetapi rupanya Ibu kita sudah tiada.
Maka, apa harapan bila aku kembali bisa
bertemu esok pagi?
Aku berharap
Ibu masih membangunkanku untuk salat subuh.
Tegalsari,
Selasa, 04 Maret 2014
—06:57 pm