Minggu, 16 Maret 2014

: Diriku

Jangan pernah ragu untuk berjalan di atas kakimu sendiri—meski barangkali kau kini tengah sendiri, enyahkanlah ketakutanmu! Barangkali benar jika rival paling tangguh dari ketakutan adalah perlawanan atas ketakutan itu sendiri.

Dan kau tak perlu cemas. Kau tak sendiri. Ada aku yang selalu menemani langkahmu, ke manapun kau memijak.

Ah. Sesekali, cobalah untuk tertawa dan menari di atas bumi yang sering menyakitimu ini. Berbahagialah. Kau tahu? Bahwa sebetulnya kebahagiaan itu tak perlu kau cari ke mana-mana. Ia ada pada dirimu sendiri.

Maka mari kita bernyanyi bersama, dengan lagu-lagu apa saja.

Tunjukkanlah pada dunia, bahwa kau punya keberanian. Dan kau bukan pengecut yang berteriak dan meringkuk ketika tiba-tiba ada yang menatapmu! Maka percayalah, aku tak akan pernah beranjak dari sini, untuk menemanimu: Abaikan saja ancaman-ketakutan-tentang-masa-depan.

Sebab sesungguhnya persoalannya bukanlah masa depan tetapi masa kini.

Masa depan adalah apa saja yang kita peroleh dari masa lalu. Sementara masa kini adalah masa lalu bagi masa depan kita—konsekuensi atas perbuatan kita sekarang.

Sampai kapanpun, aku akan tetap ada di sampingmu. Barangkali aku akan pergi, sesekali menikmati es krim atau rebahan sejenak di atas awan-awan yang lembut. Tetapi jangan cemas, aku segera kembali ke hadapanmu manakala kau lupa. Dan kau boleh memanggilku kapan saja. Maka kenalilah aku: Sesungguhnya aku adalah suara hatimu dan kau adalah yang memilikiku.

Dan bila kita tidak pernah bertemu, mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bisa bertemu. Tetapi kita ditakdirkan untuk bersama. Aku akan tiba saat kau memanggilku, itu pun sebatas suara belaka. Kita hanya bisa bercakap di suatu ruangan khusus, mungkin saat malam hari, atau saat kau mulai merasa kesepian.

Sementara setelah percakapan kita selesai, seperti biasa, aku akan pergi lagi dan hanya bisa mengawasimu dari kejauhan....

Dan mungkin aku akan tertawa bangga ketika kau melangkah di jalan yang tak keliru. Lalu, saat keyakinanmu mulai tumbuh-membesar di dadamu, dan kau mulai berani melawan ketakutanmu sendiri, maka pada saat itu barangkali kau akan melupakanku. Tetapi biarlah, aku tetap bangga, tentu saja.

Maka nyalakanlah cahaya matamu saat kau berjalan sendiri dalam kegelapan. Kuyakin, kau tak mungkin tersesat. Dan jika saat itu tiba, sementara aku sudah terlalu tua, yakinlah, aku telah siap jika sewaktu-waktu Dia menyuruh kita berdua untuk pulang ke RumahNya.

Stembel,
Selasa, 25 Februari 2014

—01:07 am
*Gambar dari sini.
Masa laluku, aku ingin belajar mencintaimu seperti dalam ingatanku:

Lelaki kecil yang mengejar perempuan berseragam putih-merah. Lelaki itu mengejarnya dan mendapatkannya. Si perempuan kalah dan menyerah. Tetapi setelah itu, mereka diam saja sembari tertawa-tawa: Mereka tak pernah tahu untuk apa mereka berkejaran. Yang mereka rasakan hanyalah kesenangan; Senang pada kebiasaan berkejaran itu. Dan pada akhirnya, masing-masing kemudian pergi. Si perempuan membeli es di kantin dan mengelap wajahnya yang basah dengan tisu. Sementara si lelaki, ia memilih mengagumi dan mencintai si perempuan tadi dari kejauhan.

Masa laluku, aku ingin belajar memaafkanmu seperti dalam ingatanku:

Dua anak kecil yang bertengkar saat bermain kelereng. Pada saat itu, mereka saling mengolok-olok. Tak mau kalah. Pantang menyapa. Dan pulang dengan dada yang memendam dendam. Esok pagi, ketika akan berangkat sekolah, seperti tak pernah terjadi apa-apa, mereka menuju sekolah dengan tawa dan perbincangan biasa—seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berdua memutuskan menjadi pemaaf dan melupakan semuanya.

Dan aku ingin belajar berterima kasih padamu, masa laluku, seperti dalam ingatanku:

Seorang remaja yang gagal mendapatkan cintanya, tetapi kemudian ia memaafkan dirinya sendiri dan sadar: Kebahagiaan ternyata bukan tentang cinta-siapa-atau-siapa-cinta-yang-kita-dapatkan, melainkan ihwal bagaimana kita berterima kasih pada hal-hal yang tengah terjadi—mensyukuri apa-apa yang diberikan oleh Hidup.

Maka, masa laluku, demi mereka semua yang berada dalam ingatanku, aku akan melangkah!

Tegalsari,
Sabtu, 22 Februari 2014

—09:27 am
*Gambar dari sini.
Canda, kemarilah sebentar, kuberitahu. Duduklah di sampingku. Ini mungkin tak terlalu penting, tetapi biarlah. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu. Kupikir, semua orang pernah mengalami apa yang akan kukatakan padamu ini. Kamu tentu pernah mengharapkan sesuatu, apapun, untuk kamu dapatkan, bukan? Hmmm, ya, tentu saja. Kamu pasti pernah—seperti aku.

Sekarang, kutanya: Bagaimana jika permintaan atau harapanmu tak tercapai?

Ah, ya, pasti kamu kecewa. Kamu pasti kecewa dengan semuanya, Canda. Eh, tapi, bukankah kecewa hanya akan membuat dadamu sesak? Bukankah kecewa adalah jalan untuk terus menjadi pendendam bagi masa lalumu, masa laluku—masa lalu kita sendiri?

Pikirkan baik-baik, Canda.

Barangkali kita pernah kecewa dan mengecewakan orang lain. Maka inilah yang ingin kukatakan padamu. Belakangan aku cukup resah dengan hal ini. Rupanya, selama ini, aku masih sering mengecewakan orang tuaku, Canda. Apa yang mereka harapkan dariku, barangkali belum bisa kuberikan.

Kemarin, sepulang sekolah, Ibuku bertanya padaku apa aku sudah membelikan kotak nasi? Ah, aku baru ingat. Sebelum berangkat sekolah kemarin, Ibuku menyuruh membelikan kotak nasi sebab ada pesanan cukup banyak untuk acara di musala belakang. Dan aku lupa! Padahal, ini mendadak. Acara akan digelar jam 1 siang. Sementara toko yang menjual kotak nasi hanya ada di samping sekolah kita, yang jaraknya dari rumahku 20 kilometer.

Aku mengecewakan Ibuku!

Kemudian sekitar sebulan yang lalu, kamu tahu, kan, aku diutus Bu Yuni, guru Kesenian kita, untuk lomba melukis. Sebetulnya ada 2 calon kandidat yang bakal diutus sekolah. Aku dan Ratih. Tapi Ratih waktu itu sakit. Jadi, aku yang maju.

Lomba berjalan lancar-lancar saja bagiku. Peserta yang mengikuti lomba ada sekitar 15 orang. Setelah selesai melukis, aku menatap hasil lukisanku dengan puas. Bu Yuni pun begitu. Sembari menunggu peserta lain menyelesaikan lukisannya masing-masing, aku berkeliling untuk melihat hasil dari musuhku. Ada yang melukis tanah yang basah, ada yang melukis gunung meletus, lautan, dan lain-lain. Sementara aku, aku melukis perempuan yang menatap senja.

Bu Yuni dan aku sama-sama yakin bahwa lukisanku bakal menang dan juara. Kami senyum-senyum karena yakin. Ya, yakin saja.

Hingga tiba pengumuman juara, aku dan Bu Yuni masih pede kalau lukisanku yang menang, dan sekolah kita jadi juara!

Dan kamu tahu apa yang terjadi? Aku kalah, Canda! Sekolah kita tak jadi juara. Dan Bu Yuni menggeleng-geleng tanda tak percaya. Aku kecewa. Bu Yuni kecewa. Aku tak tahu apakah guru-guru lain juga akan kecewa mendengar ini. Tapi saat pulang dari lokasi lomba, aku mendengar Bu Yuni menggumam pelan pada dirinya sendiri.

“Andai yang aku tunjuk maju lomba adalah Ratih, mungkin hasilnya akan berbeda.”

Bu Yuni tak tahu jika barusan aku mendengar apa yang beliau ucapkan. Aku menundukkan kepala. Menyesal telah membuat Bu Yuni kecewa.

Hari itu, aku menularkan kekecewaan pada orang lain, Canda. Dan itu membuat dadaku nyeri.

Sesampainya di rumah, aku disambut Ibuku dengan sukacita. Ibu menanyakan bagaimana hasil lomba tadi. Aku menceritakan proses lomba dari awal hingga akhir. Ya... hingga akhirnya aku kalah dan Bu Yuni kecewa... .

Aku meminta maaf pada Ibu dan berjanji akan belajar melukis dengan lebih baik lagi. Ini sebenarnya adalah modusku agar Ibu tak terlalu kecewa mendengar hasilku lomba.

Tapi, Canda, aku tak menduga, sebelumnya. Ibuku tak tampak kecewa. Beliau justru memberiku nasihat untuk menguatkan kembali semangatku. Menumbuhkan kembali harapanku. Dan karena nasihat Ibu, aku bisa menegakkan kepalaku kembali—dengan kelapangan menerima apa-apa yang telah sekaligus tengah terjadi.

“Mata,” Ibuku memulai nasihatnya, “Tentang kecewa, barangkali ia pernah—atau selalu—ada dalam hidup kita. Di suatu waktu, kita pernah mengecewakan orang lain: Menyobek hatinya hingga terluka. Dan di waktu yang lain, pernah juga orang lain (tanpa sengaja) mengecewakan kita.

Ibu menatapku dengan senyum penuh ketulusan.

“Lalu orang-orang yang telah kecewa itu—termasuk kita, akan cenderung tak terima, berontak, menyerapahi apa saja, menuntut hal-hal yang tak masuk akal agar keadaan berubah menjadi seperti yang diharapkan... . Tetapi sayang, apa-apa yang telah terjadi tak pernah bisa berubah—seperti yang kita kehendaki: Sungai tetap mengalirkan air ke laut. Dan apa saja yang akan terjadi, tak pernah bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita. Kabar paling baik buat kita hanyalah ‘berencana’, dan ‘menunggu’. Berencana untuk menjadi baik. Kemudian menunggu sampai waktu memberikan jawabannya—sembari berdoa, tentu saja.”

Aku membetulkan posisi dudukku. Dan Ibu melanjutkan kembali menasihatiku, “Dan Tuhan akan membagikan upah atas kerja payahmu.”

“Oooh.” Aku manggut-manggut.

Maka atas kejadian tersebut, tentang kita pernah mengecewakan orang lain, tentu saja sudah bisa ditebak: kita akan merasa bersalah, berusaha meminta maaf atas kesalahan tersebut. Dan bagaimanapun itu tak cukup, Mata. Barangkali kita butuh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu itu adalah: Perilaku yang mencerminkan penyesalan kita, melakukan tebusan, semacam tingkah laku atau usaha yang lebih baik. Dan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Maka tentang kita pernah dibuat kecewa, lupakan saja, Mata... maafkan saja. Sebab pemaafan akan melapangkan jalan kita selanjutnya, meloloskan napas kebahagiaan kita, dan membuat masa depan akan lebih mudah dari sebelumnya, tentu saja.”

Usai mendengar nasihat Ibu, aku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, Canda. Dalam hati, aku percaya, Tuhan pasti akan memberikan upah yang setimpal bagi mereka-mereka yang mau berusaha.

Tegalsari,
Kamis, 13 Februari 2014
—05:54 pm
*Gambar dari sini.
Lihatlah pada jendela
hujan dan badai tengah berpesta
pohon nangka depan rumah patah
: langit di desamu amat muram
sesekali ia terbatuk
hingga anakmu menjerit ketakutan
bahkan kopi hitam yang kauseduh
jadi menggigil demam

: Benarkah kau dan Dia sudah lama
tiada bertegur sapa?

Tegalsari,
15 Maret 2014

--terjebak hujan
*Gambar dari sini.
Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Tiba-tiba, malam ini aku teringat pertanyaan yang kuajukan buat diriku sendiri—mengulang kembali kebiasaan-kebiasaan lamaku waktu kecil. Aku bergelimpungan di atas tempat tidur, menekuri kehidupan yang kujalani akhir-akhir ini: Apakah aku telah menjadi manusia yang didambakan ibunya?

Dadaku sakit, semacam ditohok sesuatu yang berat, entah apa. Jantungku serasa berhenti sejenak. Oh!

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali diingatkan oleh pertanyaan itu. Pertanyaan yang bercokol dalam benakku saat aku masih sekolah dasar dan selalu tiba-hadir ketika menjelang tidur.

Apa yang sebenarnya aku harapkan dalam hidup ini? Hatiku sibuk menerka-nerka. Mataku mencari-cari sesuatu entah yang terselip di antara sudut-sudut kamarku. Pikiranku bertanya-tanya. Jiwaku melayang... .

Aku melihat jam digital yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurku. Jam menjunjukkan angka 23.00. Rupanya sudah larut. Tetapi aku belum mengantuk. Pikiranku masih sibuk sendiri, ingin menjawab pertanyaan tadi. Seolah ia menuntut sebuah jawaban malam ini juga. Ah.

Aku memang sering mengalami kejadian semacam ini. Tetapi itu dulu, saat aku masih sekolah dasar. Kira-kira umurku waktu itu delapan atau sembilan tahunan. Mungkin aku masih kelas empat atau malah kelas tiga. Aku agak lupa.

Malam menjelang tidur, saat itu, aku seolah sedang berdialog dengan diriku sendiri. Yang jelas aku tak sedang kesurupan jin manapun. Ini hanya pertanyaan sepele yang muncul secara tiba-tiba menjelang aku tidur. Dan pertanyaan itu kini kembali datang padaku, menyelinap diam-diam ke kamarku, setelah sekian tahun aku dan pertanyaan itu tak lagi pernah bertemu:

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Oh!

Sementara aku masih belum bisa menjawab, ingatanku terbang dan hinggap ke salah satu peristiwa saat aku berjalan di sebuah jalanan sepi, beberapa hari yang lalu.

***

Ada dua orang yang sedang bercakap-cakap dan bermain catur, di sebuah kedai warung yang sudah tutup.

Sekak!” salah satu dari mereka berteriak ketika mengetahui lawannya salah langkah.

Si lawan tampak panik tetapi buru-buru menyeruput segelas kopi hitam di sebelah kanan papan catur—menenangkan diri. Sejurus dia berpikir keras untuk keluar dari ancaman sang musuh tadi. Dahinya mengernyit. Alisnya hampir bertaut. Ia kemudian tersadar jika rupanya langkahnya dalam permainan tersebut sudah mati lantas menyerah. Kalah.

Sang lawan menyeringai. “Hahaha. Kamu ini! Hidup harus maju, bro. Kalau tadi sudah kalah, sekarang harusnya kamu bisa menang! Tapi kamu kalah lagi dan kalah lagi! Hahaha.”

Aku sudah berjalan cukup jauh dan membelakangi mereka. Sayup-sayup suara mereka berdua semakin pelan... dan tak terdengar. Aku tertarik pada perkataan pemain catur tadi: “Hidup ini harus maju!”

Hidup harus maju?

Aku mengangkat alisku sebelah. Apakah benar hidup ini harus maju? Aku mengulang pertanyaan itu beberapa kali. Sebentar, sebentar. Aku mendapati ada yang ganjil dengan perkataan si pemain catur tadi.

Ah, mungkin aku perlu mengistirahatkan tubuhku dulu, setelah sejak tadi aku berjalan beberapa kilometer, menyusuri jalanan sepi, di sebuah desa, pikirku.

Hingga tiba aku di rumah. Baju yang kupakai basah di bagian belakang, akibat keringat. Aku mengambil air putih di kulkas untuk kucampur dengan sirop. Lantas duduk di kursi panjang ruang tamu, sekali-dua meminum sirop segar yang kubuat barusan. Tegukan demi tegukan kunikmati dan kurasakan.

“Hidup ini harus maju!”

Ah. Aku teingat kembali dengan perkataan si pemain catur tadi. Baiklah, aku menyerah. Aku akan duduk-duduk sebentar untuk memikirkan apa sebenarnya esensi dari ‘hidup harus maju’ itu. Pertama mungkin aku harus mendefinisikan kata ‘hidup’ terlebih dahulu.

Hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: v 1 masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb); 2 bertempat tinggal (diam); 3 mengalami kehidupan dl keadaan atau dng cara tertentu; 4 beroleh (mendapat) rezeki dng jalan sesuatu; 5 berlangsung (ada) krn sesuatu; 6 tetap ada (tidak hilang); 7 masih berjalan (tt perusahaan, perkumpulan, dsb); 8 tetap menyala (tt lampu, radio, api); tetap bergerak terus; 9 masih tetap dipakai (tt bahasa, adat, sumur, dsb); 10 ramai (tidak sepi dsb); 11 seakan-akan bernyawa atau benar-benar tampak spt keadaan sesungguhnya (tt lukisan, gambar); 12 spt sungguh-sungguh terjadi atau dialami (tt cerita)... .

Ah, membingungkan. Pada pengertian pertama soal hidup, KBBI mengatakan bahwa hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja. Misalnya: “Kakeknya masih hidup, tetapi neneknya telah lama meninggal.”

Hmmm, mungkin penjelasan pertama ini bisa kuterima. Aku mengambil bahan ini saja untuk dibahas. Jadi, dari sini, mungkin pengertian hidup bisa lebih dipersempit dalam kalimat seperti ini: Hidup adalah ketika kita masih bisa melakukan apapun. Benarkah? Barangkali.

Tetapi tunggu sebentar. Tadi, kata si pemain catur, hidup itu harus maju. Hei, kenapa harus ‘maju’?

Aku memilih diam sejenak untuk meneguk sirop yang telah habis separuh.

Jadi, kenapa hidup harus ‘maju’?

Saat di sekolah, aku sering mendengar guru-guru bertutur seperti itu. Mereka seolah berperan bagai motivator.

“Eh, soal segampang ini saja kamu ndak bisa!? Bagaimana kamu bisa lulus, hah!? Bodoh! Untuk lulus UN itu kamu harus belajar dan hidup maju! Jika soal kayak gini ndak bisa, kamu gak bakal lulus!” ujar seorang guru pada salah satu murid yang tak bisa mengerjakan soal Kimia, di depan kelas. Murid itu malu dan tertunduk.

Entah kesurupan jin dari negara mana guru tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali guru yang ketika mendapati muridnya tidak bisa satu soal saja, mudah sekali mengatakan muridnya bodoh, tolol, dungu, dan seterusnya, dan seterusnya. Seolah guru adalah manusia paling pandai dan paling baik, di dunia ini. Sampai ada yang menyerapahi muridnya dengan kata-kata yang tak sepatutnya. Padahal, akibat perkataan kotor yang keluar dari lisan seseorang, siapapun, kelak akan menjadi kenyataan-kenyataan, kan?

Tetapi sudahlah. Itu urusan guru itu! Aku tak mau ikut campur. Biarlah ditanggung sendiri. Aku hanya ingin membahas satu soal saja dari perkataan guru tadi: kita harus hidup maju. Kenapa harus maju?

Baiklah, maksudku sebenarnya begini.

Kita mungkin sedang berada dalam labirin. Hidup manusia sejak dulu hanya seperti itu-itu saja. Dahulu ibu kita dilahirkan dari rahim ibunya. Kemudian ibu kita melahirkan kita, anaknya. Lantas, ibu dari ibu kita kemudian meninggal, dan kita melahirkan anak, dan kelak ibu kita meninggal... .

Tentunya sudah bisa ditebak, kan,  bahwa hidup manusia di dunia sebenarnya adalah sebuah daur atau siklus tetapyang tak bisa diubah: Dilahirkan untuk melahirkan, dan kemudian meninggal!

Lalu apakah manusia harus hidup (untuk) maju? Ketika kita menginginkan untuk hidup maju, bukankah yang terjadi adalah malah sebaliknya? Pada saat itu sebenarnya kita tengah hidup mundur—karena jelas, kita akan meninggal, bukan?

Kemudian apa bedanya usia-kecil-remaja-dewasa-dan-tua?

Selama ini kita sering mendengar seperti ini: “Usiamu sudah tua, namun perilakumu masih anak kecil!” atau, “Aku salut denganmu. Kamu masih kecil tetapi perilakumu menunjukkan sudah dewasa.”

Aku jadi ragu dengan pengklasifikasian umur dalam pelajaran Sosiologi yang diajarkan oleh guruku saat aku masih kelas dua SLTA, dulu. Aku menemukan banyak kejadian bahwa orang-orang yang sudah tua justru seringkali melakukan tindakan-tindakan yang mirip dengan anak kecil. Juga, tak jarang dari mereka yang kualitas pancaindranya menurun. Seperti menjadi semakin pelupa atau kurang bisa mendengar.

Jika kualitas organ tubuh orang tua semakin menurun dan tak berfungsi dengan baik, apakah sebenarnya kita ini sedang hidup menuju ke arah kemajuan? Jangan-jangan kita justru mengarah ke kemunduran?

Aku menghabiskan sirop yang kubuat hingga hanya tersisa es yang beku di gelas.

Malam itu, pernyataan si pemain catur bahwa hidup harus maju benar-benar menyita pikiranku. Aku sampai harus membuka-buka kamus, mengingat-ingat kakek-nenekku yang telah meninggal, mengingat ibuku, dan semuanya. Namun aku belum mengerti benar jawaban itu.

Entahlah.

Barangkali esok atau lusa aku akan berdiskusi dengan teman atau guruku, untuk menanyakan hal (tak penting) ini. Kurasa aku butuh istirahat sekarang.

***

Aku kembali mendarat di dalam kamar setelah aku melayang dalam ingatan pemain catur yang kulihat di sebuah kedai warung yang tutup, beberapa hari yang lalu. Aku menoleh ke arah jam digitalku. 01.12. Oh! Penerbanganku rupanya cukup lama.

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan masa kecilku. Waktu kecil dulu, bila pertanyaan itu menghampiriku, aku selalu menatap wajah Ibu dan membayangkan kami berada dalam suatu tempat yang sebetulnya tidak jauh. Tetapi kami tak bisa bersama sebab di hadapan kami ada jurang yang membentang. Aku dan Ibu barangkali masih bisa bertatapan muka, tetapi kami tak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu dalam bayanganku, wajah Ibu tampak sangat cemas sekali mendapati aku yang menangis meraung—mendamba segera pelukannya. Dalam kenyataan yang sebenarnya, aku benar-benar menangis di samping Ibu yang sudah terlelap. Lalu Ibu mendengar tangisku, dan buru-buru ia memelukku, erat-erat.

“Ada apa?” tanyanya, “Tenang, ibu ada di sini, dan jangan menangis.”

Tetapi aku tetap menangis. Menangisi anak dan Ibu dalam bayanganku: Saat kami tak bisa saling memeluk karena terpisah jurang.

Dan apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Adalah ketika kita mendamba pelukan Ibu atau tangannya yang mengacak-acak rambut kita, tetapi rupanya Ibu kita sudah tiada.

Maka, apa harapan bila aku kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku berharap Ibu masih membangunkanku untuk salat subuh.

Tegalsari,
Selasa, 04 Maret 2014

—06:57 pm
*Gambar dari sini.