Selasa, 14 Mei 2013


anak-anak bingung harus mulai dari mana cerita ini
dari sini atau dari situ atau dari belakang atau dari depan
ah, anak-anak sudah tidak tahan
anak-anak memulai saja ceritanya

begini—

Bapak kok selalu begitu sih!
bagaimana bisa anak-anak menaruh hormat pada Bapak
sementara Bapak setiap pagi, setiap hari selalu saja seperti itu
: ke sana-kemari memasang muka penuh pesona
padahal bagi anak-anak, semua yang Bapak lakukan malah terlihat seperti penoda

terserah Bapak deh mau bagaimana
yang terpenting adalah Bapak harus tahu, jika Bapak senang, anak-anak pasti muram
kalau Bapak susah, Bapak juga harus tahu, anak-anak akan tertawa lepas tanpa lelah

tapi Bapak kan sudah menjadi Bapak
mestinya Bapak juga sudah tahu bagaimana seorang bapak bersikap selayaknya Bapak
bukan malah kembali menjadi kanak-kanak
lalu dengan genitnya tangan Bapak selalu seenaknya mencolek paha wanita siapa saja
yang lewat di depan mata
padahal ya, Pak, anak-anak selalu melihat Bapak seperti itu lho Pak
motto Bapak apa ya? anak-anak sedikit lupa!
oiya, baru ingat. itu: wanita lewat, siap embat setiap saat!

Bapak kok malah jadi seperti itu sih, Pak!
berjalan dengan paras sinis biar dilihat manis
padahal tingkah Bapak bikin anak-anak kebelet pipis!
atau berjalan dengan gaya komisaris
tak lupa sebelum keluar nyisir rambut biar kelihatan klimis
padahal ya, Bapak harus tahu, sikap Bapak malah merangsang anak-anak untuk berteriak: najis!

Bapak mestinya jadi bapak yang baik buat anak-anak
bukan malah bikin anak-anak selalu ingin muntab ketika melihat Bapak

baiklah, sampai di sini, Bapak bisa mengubah sikap Bapak apa tidak?
kalau ditanya itu mbok ya dijawab
jangan cuma diem mesam-mesem di depan komputer sambil lihat film
baiklah, karena Bapak tidak menjawab, anak-anak akan melanjutkan cerita mengenai Bapak

bukan begitu, Pak
tapi kan Bapak sudah menjadi bapak
jadi tolonglah, Pak, jadilah Bapak yang benar-benar bapak
bapak yang sikapnya patut dicontoh anak-anak
jangan jadi bapak yang sukanya genit sama anak-anak
jangan jadi bapak yang sikapnya malah seperti anak-anak
anggap saja Bapak adalah bapak-bapak dari anak-anak
lalu anak-anak adalah katakan saja anak-anak Bapak

tapi ya jangan pilih hati dong Pak!
kalau begini kan malah anak-anak yang seolah-olah menjadi bapak para Bapak-Bapak
kalau begini kan, tentu, Bapak malah seolah-olah menjadi anak-anak dari anak-anak
kami sebagai anak-anak malah jadi ngomelin Bapak-Bapak
tapi ya jangan marah begitu dong, Pak!
sebenarnya ceritanya tidak sampai sejauh ini Pak, tapi terlanjur sih Pak

dipikir-pikir saja Pak
tujuan kami kan memang menceritakan Bapak
boleh juga dibilang menjelekkan Bapak
tapi tenang saja Pak
anak-anak tidak tahu kok kalau Bapak-Bapak
sekarang ini
sedang menjadi anak-anak!


Tegalsari,
Selasa, 09 Oktober 2012
—09:19 pm

0 komentar:

Posting Komentar