Aku tidak mampu berjalan sendiri tanpa kehadiranmu. Langkahku lunglai.
Kakiku terlalu gemetar tanpa tuntunanmu.
Cinta yang kau persembahkan buatku terlampau istimewa.
Aku sadar, tali cinta yang kau ikat dalam hatiku teramat kuat hingga
aku tidak kuasa barang sedikitpun untuk lepas dari jerat-jerat cintamu.
Barangkali kata ‘lemah’ adalah tepat untukku. Aku terlalu mencintaimu
sampai-sampai aku telah sepenuhnya lupa dengan kodrat dan takdir manusia: Kau
terlebih dulu meninggalkanku, di sini.
Tentang kepergianmu, aku selalu seperti tidak pernah percaya. Tuhan
mengambilmu terlalu cepat.
Ketika hati ini telah benar-benar yakin untukmu, saat cinta ini telah
aku berikan buatmu, saat satu per satu cinta dan kasih sayang yang kau persembahkan
untukku telah siap aku simpan dalam etalase hatiku, pada waktu itu juga kau malah
pergi dariku; Pergi dan tak kembali.
Pedih.
Semua begitu cepat berlalu. Lima tahun sejak kepergianmu, aku masih
belum sanggup menghapus rasa di hatiku. Aku tidak bisa membuang namamu begitu
saja. Kau terlalu indah. Hingga rasa nyeri saat kau pergi masih terasa begitu
sakit dalam hati.
Anak kita sudah besar. Kalau saja kau masih di sini, kau pasti bahagia
melihatnya. Kita akan bahagia.
Meski anak kita menyandang status yatim, aku yakin hatinya tidak akan
pernah yatim. Kelak ketika ia sudah besar, ia pasti mirip sekali denganmu:
Baik, penyayang dan sabar. Aku yakin Mas....
Dan mengenai cintaku padamu, ia masih utuh seperti dahulu: Masih kukuh
seperti saat kau masih ada. Aroma cintamu masih selalu menguar dalam sudut
hatiku. Begitu yang aku rasakan.
Aku akan tetap seperti ini. Bersama anak kita dan cintamu. Tidak ada
yang lainnya. Sebab yang aku tahu hanyalah tiga kata buatmu: Aku sayang
kamu, Mas Adam....
Tegalsari,
Sabtu, 24 November 2012
Sabtu, 24 November 2012

0 komentar:
Posting Komentar