Selasa, 14 Mei 2013


Aku tidak mampu berjalan sendiri tanpa kehadiranmu. Langkahku lunglai. Kakiku terlalu gemetar tanpa  tuntunanmu.

Cinta yang kau persembahkan buatku terlampau istimewa.

Aku sadar, tali cinta yang kau ikat dalam hatiku teramat kuat hingga aku tidak kuasa barang sedikitpun untuk lepas dari jerat-jerat cintamu.

Barangkali kata ‘lemah’ adalah tepat untukku. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku telah sepenuhnya lupa dengan kodrat dan takdir manusia: Kau terlebih dulu meninggalkanku, di sini.

Tentang kepergianmu, aku selalu seperti tidak pernah percaya. Tuhan mengambilmu terlalu cepat.

Ketika hati ini telah benar-benar yakin untukmu, saat cinta ini telah aku berikan buatmu, saat satu per satu cinta dan kasih sayang yang kau persembahkan untukku telah siap aku simpan dalam etalase hatiku, pada waktu itu juga kau malah pergi dariku; Pergi dan tak kembali.

Pedih.

Semua begitu cepat berlalu. Lima tahun sejak kepergianmu, aku masih belum sanggup menghapus rasa di hatiku. Aku tidak bisa membuang namamu begitu saja. Kau terlalu indah. Hingga rasa nyeri saat kau pergi masih terasa begitu sakit dalam hati.

Anak kita sudah besar. Kalau saja kau masih di sini, kau pasti bahagia melihatnya. Kita akan bahagia.

Meski anak kita menyandang status yatim, aku yakin hatinya tidak akan pernah yatim. Kelak ketika ia sudah besar, ia pasti mirip sekali denganmu: Baik, penyayang dan sabar. Aku yakin Mas....

Dan mengenai cintaku padamu, ia masih utuh seperti dahulu: Masih kukuh seperti saat kau masih ada. Aroma cintamu masih selalu menguar dalam sudut hatiku. Begitu yang aku rasakan.

Aku akan tetap seperti ini. Bersama anak kita dan cintamu. Tidak ada yang lainnya. Sebab yang aku tahu hanyalah tiga kata buatmu: Aku sayang kamu, Mas Adam....

Tegalsari,
Sabtu, 24 November 2012
—10:18 pm

0 komentar:

Posting Komentar