Di sebuah rumah
kecil.
Shinta, seorang
anak perempuan berusia delapan memegang gagang telepon. Ragu-ragu ia menekan
sejumlah angka, ingin menelepon ayahnya yang seminggu tak pulang—yang katanya
ke luar kota, mencari uang.
“Bapak, Bapak
kapan pulang?”
“Iya, Sayang,
besok pagi bapak pulang.”
“Shinta di sini
sendirian. Bapak cepat pulang.”
“Iya, Sayang,
besok pagi bapak pulang.”
Tut tut tut...
Esok paginya.
Shinta bangun
dengan mata yang lebam sisa tangis semalaman. Rumah kecil itu tetap sepi. Tak
ada siapa-siapa, kecuali ia sendiri.
“Bapak, Bapak
kapan pulang?”
“Iya, Sayang,
maaf. Besok pagi bapak pulang.”
“Shinta di sini
sendirian. Bapak cepat pulang.”
“Iya, Sayang,
besok pagi bapak pulang.”
Tut tut tut...
Esok paginya.
Lagi.
Shinta kembali
bangun dengan mata yang lebam, sisa tangis semalaman. Rumah kecil itu masih
sepi. Tak ada siapa-siapa, kecuali ia sendiri.
Lalu dalam
telepon sebuah percakapan kembali terulang.
“Bapak, Bapak
kapan pulang?”
“Iya, Sayang,
maafkan bapak. Besok pagi bapak pulang.”
“Shinta di sini
sendirian. Bapak cepat pulang.”
“Iya, Sayang,
besok pagi bapak pulang.”
Tut tut tut...
Esok paginya.
Shinta bangun
kesiangan. Seperti pagi sebelumnya, mata Shinta tetap lebam—juga akibat sisa
dari tangis semalaman. Shinta tetap sendirian. Bapak tak pulang, bibirnya
mendesis kecewa.
Sebuah
percakapan kembali terjadi.
“Bapak, Bapak
kapan pulang?”
“Iya, Sayang,
maafkan bapak, ya. Besok pagi bapak pulang.”
“Shinta di sini
sendirian. Bapak cepat pulang.”
“Iya, Sayang, besok
pagi bapak pulang.”
Tut tut tut...
Shinta memeluk
bonekanya. Itu hadiah dari almarhum ibunya saat Shinta berulang tahun yang kedelapan.
Lima hari
setelah perayaan ulang tahun Shinta, ibu Shinta meninggal. Tetangga Shinta
sama-sama bertandang, berempati atas kejadian yang menimpa keluarga Shinta.
Sebagian dari mereka memberikan uang, sebagian memberikan mi instan, sebagian
lagi memberi beras, sisanya hanya menatap iba sambil berkata pelan pada Shinta,
“Yang sabar, ya.” Lalu pergi. Lalu sepi.
Sementara bapak Shinta,
tujuh hari usai sang istri meninggal dunia, ia bergegas meringkas beberapa baju
dan celana untuk dimasukkan ke dalam koper hitamnya. Bapak mau ke mana, Shinta
bertanya. Bapak pergi sebentar mencari uang ke luar kota, jawab bapak pada
Shinta.
Shinta diam
saja. Ia tak mengerti.
“Nanti kalau
bapak belum pulang, Sayang telepon saja ke nomor ini.” Shinta menerima secarik
kertas bertuliskan sejumlah angka dari bapaknya.
Lalu bapak Shinta
pergi. Rumah sepi. Shinta sendiri.
***
Shinta masih
memeluk erat beneka hadiah dari almarhum ibunya. Menangis. Dan jatuh tidur.
Shinta masih
sering bangun pagi, kesiangan hanya beberapa kali. Matanya juga masih lebam.
Setiap malam Shinta menangis sambil memeluk boneka miliknya. Pagi kesekian setelah
berulang-ulang Shinta menelepon bapaknya dan bapaknya tetap tak kunjung pulang.
Shinta mengelap
ingusnya dengan punggung tangan sekenanya. Rambutnya berantakan. Baju yang ia
pakai sudah dua hari tak dicuci, malas. Gerimis mulai turun, membuat kaca jendela
rumahnya berembun. Satu-dua tetes air jatuh dari atap rumahnya yang bocor.
Seorang anak
perempuan berusia delapan, bernama Shinta Kumala memegang gagang telepon—untuk
kesekian kalinya. Dalam dada yang ragu-ragu ia menekan sejumlah angka, ingin
menelepon ayahnya yang dua minggu tak pulang—yang katanya ke luar kota, mencari
uang.
“Bapak, Bapak
kapan pulang?” Bibir Shinta manyun.
“Siapa, hah!?”
Suara tak
bersahabat perempuan muda di seberang telepon menyentakkan dada Shinta. Shinta
diam, tak bisa berkata apapun.
“Siapa? Mencari
siapa?”
“Eh,” tertahan,
“Ba... Bapak kapan pulang?” suara ketakutan Shinta melayang, melintasi kabel
telepon, “Shinta di sini sendirian.”
“Bapak? Apa
katamu?! Bapak?” suara dari seberang telepon meninggi, Shinta mengangguk, “Oh,
kau anak dari suamiku? Dia belum bangun!”
Shinta terbiasa setiap
hari mengatakan kalimat itu di telepon dengan bapaknya. Sampai hafal. Tetapi jawabannya
tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, tak ada jawaban “Iya, Sayang, besok pagi
bapak pulang.” yang diharapkannya.
Tak ada.
Dan Shinta masih
tak mengerti dengan kepergian bapaknya yang tak kunjung pulang.
“Shinta
sendirian. Bapak cepat pulang.”
Tut tut tut...
Tegalsari,
Kamis,
08 Mei 2014
—11:52
am
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar