~Sajak Enggar Tata
dan Wahyu Hidayat
berlembarlembar
kubaca hati
tak pernah kutemui hati selenah hatimu
tak pernah kutemui hati selenah hatimu
berpuluh-puluh kuraba diri
tak pernah kutemui diri selembut dirimu
tak pernah kutemui diri selembut dirimu
entah harus
dengan kata yang bagaimana lagi aku mengungkapnya
jika dengan bersujudpun kau masih bergeming, tak percaya
jika dengan bersujudpun kau masih bergeming, tak percaya
bahkan waktu
telah berputar ribuan jam
dan jarak telah
bergerak ratusan mil untuk meyakinkan hatimu
tapi apa yang sebenarnya kau rasa ihwal diriku ini?
ah, kurasa waktu memang begitu pongah di hadapanku!
tapi apa yang sebenarnya kau rasa ihwal diriku ini?
ah, kurasa waktu memang begitu pongah di hadapanku!
ya, kusaksikan
dirimu memang sedang tak ingin dipaksa
aku menyerah tapi bukan kalah
sekali kuputuskan meju selangkah untuk mencintaimu
pantang bagiku mundur barang sejangkah
aku menyerah tapi bukan kalah
sekali kuputuskan meju selangkah untuk mencintaimu
pantang bagiku mundur barang sejangkah
meski dari sorot matamu
banyak kutemukan siluet semu
yang tak kutahu apa namanya itu
di sini, aku, masih menggamit segenggam janji
bahwa suatu nanti
engkau pasti mencintai dan tak ingin melepas diri ini
banyak kutemukan siluet semu
yang tak kutahu apa namanya itu
di sini, aku, masih menggamit segenggam janji
bahwa suatu nanti
engkau pasti mencintai dan tak ingin melepas diri ini
lihat saja, kau pasti terima
tanpa lagi mengeja
karena cinta bukan kata-kata
tanpa lagi mengeja
karena cinta bukan kata-kata
tunggu saja
kau pasti terlena
kau pasti terkesima
kau pasti, ah, tak usah kucetus lagi suara-suara
biarlah saja nanti kau yang menilainya!
kau pasti terlena
kau pasti terkesima
kau pasti, ah, tak usah kucetus lagi suara-suara
biarlah saja nanti kau yang menilainya!
Jum’at, 07 Desember 2012

0 komentar:
Posting Komentar