Senin, 23 Desember 2013
Posted by Unknown on 06.13
with No comments so far
: V
V, kita sama-sama tahu, bahwa hidup tak mesti berjalan
pada jalurnya. Kadang-kadang, ia memilih untuk mengambil jalan pintas—jalan
lain yang bahkan tak kita kehendaki. Lalu kita akan menyesal, atau kecewa, pada
jalan-jalan yang tak pernah kita ketahui ke mana ujungnya. Sementara dada kita
yang terlanjur sesak atau telinga kita yang panas, cenderung selalu menolak
nasihat-nasihat paling bijak, sekalipun.
Barangkali saat-saat macam ini, V, di mana aku kembali
terjerembap pada lembah-kesedihan, aku selalu mengingat kata-katamu untuk terus
bertahan.
"Penderitaan
paling hebat hanya terjadi sebentar saja," katamu. Dan waktu itu, aku
mengangguk saja. Semacam tak mau lebih banyak lagi mendengar nasihatmu.
Nyatanya, kini aku benar-benar tahu, V. Dan kata-katamu waktu itu, selalu
relevan untuk kupraktikan kapan aku mulai merasakan kesakitan.
Barangkali rasa sakit milikmu kini masih ada dan tetap
terasa, V, seperti masih adanya sakit yang kumiliki. Tapi aku ingin kita
sama-sama merawatnya, sebaik mungkin, agar mereka lekas sembuh—bersamaan dengan
membaiknya hubungan kita, tentu saja.
Maka kenalilah kembali aku, V; mula-mula namaku, kemudian
suaraku, kenangan kita berdua, apa saja: foto kita berdua, tawa kita, sedih,
marah, pertengkaran, juga pertimintaan maafku padamu atau sebaliknya. Berikutnya
izinkan aku memasuki ruangan pribadimu—hatimu. Lagi. Dan mari mulai kita susun
lagi hari-hari agar lebih baik dari yang sudah-sudah.
Lalu genggam tanganku, V, dan tenanglah: semua akan baik-baik saja.
Probolinggo,
Selasa, 17 Desember 2013.
*Catatan dalam bus
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 06.09
with No comments so far
Selamat malam
hujan, remang
daun yang kedinginan
dan kota Jogja
juga semuanya
Selamat malam
tuan sopir berkumis lebat
sebab saat ini hujan cukup lebat
jadi tolong, laju bus diperlambat
agar kita semua selamat
kami percaya kau hebat
Selamat malam
handphone yang berbatrai lemah
baju yang basah
serta tubuh yang lelah
kami ucapkan
: kami pulang!
Jogja,
Kamis, 19 Desember 2013
*Catatan malam,
dalam bus yang kedinginan
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 06.04
with No comments so far
: Sopir
Tuan, apa kaukira jalanan ini
adalah track buatmu mahir berkendara?
apa kaupikir ini semua keren?
ini bukan Need for Speed
atau game balap pada PlayStation
: kami ketakutan tiap bus ini bergoyang
dengan cara yang tak wajar
seperti semalam kami tak kunjung tertidur
akibat kecepatan kendaraan ngawur
sementara pagi terlalu menakutkan
dari yang sebelumnya kami banyangkan
Maka, tengoklah ketakutan kami di belakang
kemudikan kendaraan dengan wajar
agar kami tak takut menatap jalan
dan, cepatlah sadar, Tuan!
Rabu,
18 Desember 2013
*Catatan pagi, dalam bus
--menuju Solo
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 05.56
with No comments so far
: Kepada V, yang indah
I/
V, bukankah aneh jika aku memaksamu untuk
tetap di sini, di sampingku—sementara badai-caci-maki tengah melanda kita di
depan mata? Kita harus melarikan diri, V, menyelamatkan apa-apa yang bisa
diselamatkan; membawa apa saja yang masih diperlukan. Dan aku, aku akan membawamu,
tentu saja.
Aku akan membawamu, V, menyelamatkanmu dari
badai itu, dari caci-maki orang-orang yang tak menginginkan kedekatan kita.
Jauh. Sejauh jarak-pandang kita.
Tapi, mungkinkah aku bisa menjinakkan badai
itu? Tanpamu, rasanya cukup sulit, V. Sebab aku bukan (si)apa-(si)apa.
II/
V, kadang-kadang, perkenalan yang terlalu
jauh, pertemuan yang terlalu dalam, hanya akan membuat kita pingsan dan lalu
lupa ingatan. Barangkali kita adalah satu di antara ribuan contoh yang ada di
muka bumi ini.
Jika waktu bisa kuakali agar ia berjalan ke
belakang, sesungguhnya aku mau mengatakan semua itu, V, padamu. Tapi aku tahu,
dan kau juga tahu, waktu memang tak bisa diulang. Dan semua sudah berjalan: Ia
bukan film picisan, yang dibalut dengan slow motion atau kisah
menyedihkan, yang bisa kita putar lagi,
dan lagi; semacam replay pada adegan yang kita inginkan untuk kemudian kita tonton—berulang-ulang.
Maka satu-satunya cara adalah, lepaskan saja,
V, satu per satu, foto-kenanganmu denganku di dinding hatimu—meski sulit, meski
sakit. Dan kau hanya perlu palu dan tenaga untuk melakukan itu.
III/
V, jadi, inikah ujung dari perkenalanku
denganmu dua tahun lalu—di mana aku harus minta ampun pada mimpi dan harapanku?
Jika memang benar, maka kuharap kita sama-sama
bisa menerima. Bukankah memang harus begitu? Berat, itu yang kita rasakan. Kau
mungkin kecewa atas semuanya? Atas keputusan ini? Atas apa saja yang ada
sekaligus terjadi? Ya. Di luar itu, aku juga berhak kecewa, V, sepertimu.
Semua, terutama dirimu, adalah alasan yang
membuat bebanku bertambah berat. Dan tak mudah buat merasakan sakit ini. Ada
perasaan tak terima. Butuh waktu. Seperti tak mudahnya mendapatkanmu, seperti
butuh banyaknya waktu buat mendapatkan cintamu—dulu.
Seperti manusia lain yang menjejakkan kaki di
dunia, V, aku bisa menangis, aku bisa marah, memukul apa-apa di sekitarku,
memaki siapa-siapa, menyerapahi semuanya. Tapi lantas buat apa semua itu, V,
jika kemurunganku tak bisa mengubah keadaan? Semua ini, semacam apa boleh buat,
V. Semacam kerikil yang membuat
kita terpeleset lalu jatuh pada saat lomba maraton, sementara garis finish sudah terbentang jelas di depan
mata kita.
Bahwa aku pernah bermimpi untuk hidup satu
atap denganmu, dan bahagia bersamamu, semua mesti gagal, V, dengan alasan yang
kita berdua sudah tahu.
IV/
Barangkali beberapa pekan atau bahkan beberapa
bulan ke depan, aku hanya ingin menangis, menangis, dan menangis. Biarkan
airmata jadi puisi. Dan aku juga mau
menyendiri, membuat bait-bait paling murung dan sakit, atau melakukan hal-hal, apa saja, yang lebih parah
untuk kurasakan sendiri:
Aku mau menunggumu di sini
saat pagi masih basah akibat embun
atau malam mengancam melalui kegelapan
Aku mau menunggumu saja
saat gerimis mulai memburamkan namamu
pada kaca jendela rumahku
Maka biarkan segalanya berjalan, V, apa
adanya. Seperti sepi yang akan terbelah oleh suara. Sejajar dengan kata pasrah dan putus asa.
Tegalsari,
Selasa, 10 Desember 2013
—03:36 pm
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 05.53
with No comments so far
Koper hitam melayang
pada kaca yang basah
akibat hujan semalaman
Matahari tak segera muncul
langit masih murung
malam lebih panjang dari biasanya
Ayam di belakang rumah terbatuk
suaranya mampet pada leher
disaksikannya dua cacing menggeliat
Di hadapan langit
pelempar koper mengemas sepasang hati yang patah
dipikirnya, hidup memang ambigu
bahkan seringkali paradoks
akibat hujan semalaman
Matahari tak segera muncul
langit masih murung
malam lebih panjang dari biasanya
Ayam di belakang rumah terbatuk
suaranya mampet pada leher
disaksikannya dua cacing menggeliat
Di hadapan langit
pelempar koper mengemas sepasang hati yang patah
dipikirnya, hidup memang ambigu
bahkan seringkali paradoks
Minggu, 15 Desember 2013
Posted by Unknown on 09.26
with No comments so far
Di gigir jalan tempat kau menimang anakmu
Tertcecer pecahan harapan yang kautimbun di dadamu
Beberapa tahun yang lalu
Sepuluh tahun sudah
Sejak kaupilih orang Pacitan itu
Hidupmu tak kunjung menepi dari sungai kemiskinan
Sementara kau kini sudah berumur
Anakmu telah berusia delapan tahun
Dan rencanamu menyekolahkannya
Terpaksa kembali harus diundur
Dan nasibmu yang cuma orang pinggiran
Membuat aspirasimu tak didengarkan
Pertanyaanmu diabaikan
Serta surat-suratmu dibakar
Andai ada malaikat turun menjelma jadi manusia
Barangkali nasibmu kini bisa membaik
Tapi, sayang sekali
Di gigir jalan tempat kau menimang anakmu itu
Kini menjadi tempat terakhir hembusan harapanmu
Sementara anakmu yang berusia delapan tahun itu
Menangis pilu seraya memanggil-panggil namamu
Tegalsari,
Ahad, 24 November 2013
—07:40 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.24
with No comments so far
Apakah Indonesia tengah mimpi buruk?
Ya
Indonesia tengah mimpi buruk
Dalam mimpinya, dia tengah dipimpin
Oleh para bandit berjas hitam dan berseragam
Rajanya keparat
Bertubuh tambun dan bermuka pucat
Tiap hari uang Indonesia terus berkurang
Hilang dibawa kabur bandit berjas hitam
Kadang digunakan membeli mobil
Gatget, rumah mewah, dan perempuan
Untuk jalan-jalan, liburan
Membeli kosmetik dan makanan
Sisanya jadi tinja
Dalam sejarahnya, dari tahun ke tahun
Indonesia terus bermimpi buruk dan tak kunjung bangun!
Tegalsari,
Sabtu, 9 November 2013
—08:09 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.22
with No comments so far
: Untuk teman-temanku
Yang tertindas waktu
Kenangan
ini, hilangkah dari ingatan kalian?
aku
masih menyimpannya baik-baik
Memang
waktu
kadang bisa sangat kejam
:
ia tak pernah mengerti
betapa
kita ini sama-sama merasakan kesakitan
Kita
sama-sama merengek dan berdoa
agar
semuanya bisa kembali terpelanting jauh ke masa lalu,
di
mana aku dan kamu
pernah
mengatakan dan menyatakan benci, marah, dan suka
Tapi
seberapapun tangis kita meleleh
dan
jerit kita pecah hingga pita suara kita putus
saat
itulah waktu akan bertindak kejam
:
ia akan tetap melanjutkan perjalanannya sendiri
tak
akan peduli bagaimana perasaan kita
seberapa
dahsyat luka nyeri yang ada dalam dada
Dan
aku sama sepertimu
:
Sama-sama tersakiti oleh waktu.
Blokagung,
Jumat, 8 November 2013
—11:48 pm
Jumat, 8 November 2013
—11:48 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.18
with No comments so far
Maaf, Mama
aku kembali gagal
menjadi orang dewasa
betapa tidak?
meski tubuhku terus berkembang
dan umurku terus berjalan-berkurang,
sebetulnya aku masih tetap anak kecil di
depanmu;
manusia yang terus keliru
dan akan meminta saran darimu
Jika aku adalah anakmu,
aku hanyalah anak yang merepotkanmu
: anak yang tak pernah jera
meminta menyisihkan kesibukanmu untuk kumintai
doa-doa
Tapi sayang,
aku memang manusia
keparat!
bagaimana tidak?
aku tak kunjung bisa
membahagiakanmu
melalui perilaku-perilaku
Maka maafkan aku, Mama
inilah janjiku
: aku tak akan
mengecewakanmu!
Jika aku masih keliru,
sejujurnya aku adalah anakmu
yang memang masih butuh
saran juga nasihatmu
Tapi maaf,
di hadapanmu, aku tetap
ingin jadi anak kecil saja.
ya
sebab jika persoalan demi
persoalan menghantam kepalaku,
sesungguhnya aku adalah anak
kecil
yang ingin menangis di
bahumu
aku adalah anak kecil
yang mendamba rambutku kau
acak-acak
Lalu saat tangisku jadi semakin
pilu
dan bajumu mulai basah
akibat airmataku
kau akan membisikkan padaku
kata-kata itu
: "Jangan menangis
ada ibu di sini
dan semua akan baik-baik
saja, Anakku."
Jember,
Jumat, 1 November 2013
Jumat, 1 November 2013
—Catatan dalam bus
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.17
with No comments so far
Jika kau tanya 'apa itu hidup'
pada seorang kakek tua bertopi
yang sering menginap di bawah jembatan,
ia akan menjawab sederhana
: Hidup adalah pergi pagi, pulang malam.
Jika kau tanya
kepada seorang yang agak agamis
yang sering muncul di televisi di pagi hari,
maka ia akan merapikan surbannya dan menjawab
: Ehm, hidup adalah menyembah Ilahi.
Dan jika kau lontarkan pertanyaan itu
pada koruptor yang mengaku pejabat negeri,
maka ia akan tegas menjawab
: Hidup itu indah.
Dalam hati koruptor yang barusan kau tanyai
muncul jawaban paling jujur
: Hidup itu indah,
karena kerjaku tiap hari cuma duduk di depan kursi,
diam di depan layar monitor
atau iseng bermain game
Dan jika kebetulan aku mengantuk
saat rapat berlangsung,
maka aku akan menonton BF
di tablet yang aku beli
hasil dariku mencuri uang pajak kemarin.
Kamis, 31 Oktober 2013
--Catatan dalam bus
Posted by Unknown on 09.16
with No comments so far
Selamat
malam. Izinkan kembali aku memasuki ruanganmu paling pribadi. Ruangan yang di
dalamnya selalu tertata rapi: ada satu meja sepaket dengan kursi, yang di
atasnya ada bunga yang setiap hari diganti. Juga,satu kursi panjang yang khusus
kamu sediakan buat tamu.
Tunggulah
sebentar. Soal kursi panjang yang kamu sediakan untuk tamu tadi, aku tahu ia
hanya kaukhususkan buat tamu yang istimewa saja—orang terdekatmu. Dan aku
pernah duduk dan meminum teh, di sana. Bersamamu.
Aku
beruntung bisa menjadi salah seorang yang dapat masuk ruangan pribadi milikmu.
Selama setahun berada di sana, rasanya aku tak pernah kekurangan apapun: kamu
selalu memberikan lebih kepadaku. Tentang kesehatanku,kamu terus berpesan agar
aku lebih peduli menjaganya. Maklumlah, aku memang agak cuek urusan kesehatan.
Dan kamu tahu itu.
Pengalamanku
ketika masih tinggal di ruangan pribadimu—yang hingga kini masih kuingat—adalah
ketika suatu hari aku pernah memaksa untuk pergi meninggalkan ruanganmu, untuk
mencari ketenangan atau sekadar merasakan udara lembap yang, kata orang-orang,
segar. Tapi kamu mencegah dan terus membujukku untuk tak pergi dari ruanganmu.
“Tenanglah
sebentar. Jangan terlalu banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya
buatmu. Tetaplah di sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.” Katamu membujukku.
Aku
terus bersikeras dan tetap ingin pergi meninggalkanmu di ruangan ini. Dan kamu,
meski kutahu terpaksa—lebih tepatnya sangat terpaksa,akhirnya mengizinkanku
untuk pergi. Senangku bukan kepalang saat kamu mengizinkanku. Sungguh.
Aku
yang membangkang nasihatmu, akhirnya menyesal ketika salah seorang menawarkan
‘persinggahan’. Mula-mula aku tak mau. Tapi lama-lama akhirnya aku terbujuk
untuk singgah ke tempatnya. Saat itu, entah bagaimana caranya, ia mampu
membuatku memercayai kata-katanya.
Satu,
dua, empat, sepuluh, duapuluh satu hari aku tinggal di sana, ia membuatku terus
tertawa dan bahagia. Sungguh. Sebuah perlakuan yang belum pernah kudapatkan
darimu sebelumnya. Hingga genap sebulan, aku baru tahu dan kemudian sadar bahwa
seorang tersebut ternyata memiliki tak hanya satu tempat ‘persinggahan’. Tapi
lebih!
Ah!
Tiba-tiba
aku ingat nasihatmu, agar aku tak pergi dari ruangan pribadimu: “Tenanglah sebentar. Jangan terlalu
banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya buatmu. Tetaplah di
sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.” Lamat-lamat suaramu
menyelinap ke telingaku. Pikirku, kenapa
semua baru terasa seberat ini?
Untuk
sebuah penyesalan,mengapa Tuhan menciptakannya untuk kita rasakan di akhir
cerita? Mengapa rasa-sakit-akibat-penyesalan selalu lebih menyakitkan? Dan,
mengapa kita tak diberitahu—minimal sketsa rahasia di masa depan—agar kita,
paling tidak, bisa lebih waspada? Dan,
aku jadi mengerti kalau memang kamu sungguh-sungguh memberikan semuanya.
Untukku. Sekali lagi, aku menyesal! Ah!
Maafkan
aku. Sungguh maafkan aku. Aku tak ingin lagi mengacak-acak ruangan pribadimu
yang telah rapi dengan kembalinya aku kemari. Maka izinkan aku untuk menengok
isinya kini. Kali ini aku tak akan memaksa untukmendapatkan persetujuanmu.
Dan,
tak terbantahkan. Kamu adalah satu-satunya orang yang memberikanku semuanya,
tanpa meminta kembaliannya: Kamu
menerimaku kembali sebagai tamu istimewa. Sebagai
bentuk terima kasihku, aku akan mematuhi nasihatmu dan tak akan keluar dari
ruangan ini, kecuali denganmu: Aku
janji!
***
Nyatanya,
hingga kini, kamu tak pernah memiliki ruangan pribadi lain, kecuali yang kuhuni
ini. Aku bersyukur bisa tinggal di sini,bersamamu. Di ruanganmu yang paling
pribadi. Ya. Di hatimu.
Tegalsari,
Sabtu, 12 Oktober 2013
—11:24 pm
Sabtu, 12 Oktober 2013
—11:24 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.13
with No comments so far
: Untuk
sahabat-sahabatku dan siapa saja, yang kehilangan cahayanya
Dari mana
sesungguhnya cinta itu bermula? Barangkali dari rangkaian peristiwa yang aku
jalani berhari-hari. Denganmu. Dari sebuah percakapan ringan yang kau ciptakan.
Dan aku seolah merelakan diriku terseret percakapan-percakapan kita yang kau
alirkan.
Dari mana sebetulnya
rindu itu bekerja? Mungkin dari pertemuan singkat denganmu yang tak lagi kita
ulangi berminggu-minggu: Sebuah aktivitas yang sejujurnya menimbulkan sesak yang
luar biasa di dadaku.
Lalu untuk siapa
mereka berdua—rindu dan cinta—itu diciptakan? Entahlah. Mereka ada, atau tanpa
sengaja ada, barangkali sebab telah kubiarkan segala pintu terbuka. Dan kamu
adalah tamu istimewa yang kupersilakan masuk melalui pintu mana saja.
Di sana, kamu boleh
melakukan kegiatan apapun: duduk-duduk santai, atau jalan-jalan dan mengamati
segala hal hingga ke bagian paling dalam dan paling rawan di hidupku. Ya: Di hatiku, kamu satu-satunya orang
yang bebas keluar-masuk dengan waktu yang tak ada batasannya.
Dari sini,
barangkali pertanyaan untuk siapa rindu dan cinta itu diciptakan bisa kujawab
sendiri: Bahwa mereka berdua sebenarnya diciptakan hanya untuk kamu saja. Inilah istimewanya kamu di hatiku; kurasa memang selama berminggu-minggu
tak bertemu, aku terus merindukanmu.
Dan sejak saati ini,
sejak aku mulai menyadari bahwa cinta pernah bermula dan rindu tengah bekerja,
sebenarnya aku tengah mendamba sebuah pertemuan istimewa: Denganmu.
Maka datanglah; aku
akan menyambutmu dengan rindu yang kurangkai berminggu-minggu. Kita rayakan
makan malam kita yang sempat tertunda beberapa pekan. Segeralah hadir ke
hidupku; kupersilakan kamu masuk melalui pintu mana saja. Aku telah
mempersiapkan ruangan khusus untuk kita berdua—yang kuhiasi dengan rindu dan
cinta.
Ah!
Kurasa semuanya
tetap berujung pada kata sia-sia. Ya. Kenyataannya memang begitu. Dan
kehilangan adalah rasa ketiga setelah rindu dan cinta.
…Ibu, aku mohon, bangunlah kembali... ke
dunia.
Tegalsari,
Rabu, 9 Oktober 2013
01:29 pm
Rabu, 9 Oktober 2013
01:29 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.09
with No comments so far
Inikah kota
sandiwara?
dimana uang dan
wanita dipuja di atas segalanya
kolektifitas tak
menyokong sosialis masyarakatnya
orang-orang sibuk
bekerja
sementara kehidupan
hedonis menjadi ciri khasnya
Sebagia besar para
remaja telah mumpuni memeraninya
: melakukan seks
bebas, minum minuman keras,
dan pemakai aktif
pil ekstasi dan narkotika
soal semacam
itu,kamilah ahlinya, kata mereka
Anehnya, para orang
tua cenderung cuek
dan lebih
mementingkan pekerjaannya
di kota sandiwara,
cinta tak pernah benar-benar ada
di sana, tak
ditentukan pemeran antagonis
protagonis, atau
figurannya
semua sama: pemeran
utama!
Jember,
Kamis, 3 September
2013
—09:45 pm
*Gambar dari sini
Posted by Unknown on 09.07
with No comments so far
Posted by Unknown on 09.05
with No comments so far
Bagaimana jika aku adalah manusia yang luar biasa? Barangkali aku
akan kebal dari rasa sakit akibat kesalahan yang kamu buat, atau yang
orang lain perbuat. Tetapi buat apa jadi manusia luar biasa? Apa bangganya? Apa
hebatnya?
Jika aku manusia luar biasa yang kebal dari rasa sakit
akibat perbuatan orang terhadapku, barangkali aku akan menolak kosakata “maaf”—
Itu hanya aku yang berandai-andai. Bayangkan jika seluruh
manusia ingin menjadi manusia yang luar biasa? Bisa jadi kita, aku, kamu, dan
milyardan manusia yang hidup di dunia tak akan mengenal perbendaharaan kata
“maaf”, tentu saja.
Maka apa jadinya? Aku tak akan mendengar kata “maaf” yang
kamu ucapkan dengan roman muka tulus, darimu. Dan aku tak mungkin mendengar
mulutmu berkata “terima kasih” setelah aku memaafkanmu.
***
Hari ini kamu, lagi-lagi, membuat kesalahan padaku. Tapi
aku bersyukur. Itu artinya, kita sama-sama diberi anugerah oleh Tuhan untuk
tetap saling mengenal: Aku akan kembali melihat dan mendengar kamu mengucapkan
maaf padaku, lantas aku akan memaafkanmu. Dan kamu, tentu saja, akan berterima
kasih kepadaku—dengan rona merah terbit di mukamu.
Maka jangan menyesal atas kejadian hari ini yang barangkali
terlalu sakit untuk dirasakan... tak bisa dinikmati.
Aku beruntung kita bisa saling mengenal, untuk kemudian
saling membuat salah, lalu saling memaafkan; Dan, ah ya, selanjutnya kita baru
sadar jika aku dan kamu baru saja berkenalan dengan “kedekatan”.
Tegalsari,
Sabtu, 7 September 2013
—07:21 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 09.03
with No comments so far
Di beringin Malioboro
aku terjebak pada remang Jogja yang malam.
Jogja,
Rabu, 19 Juni 2013
—09:56 pm
Posted by Unknown on 09.02
with No comments so far
Aduhai,
wanita yang duduk di bangku sudut
aku
suka caramu mengantuk lalu cemberut
Di
antara banyak penumpang Trans Jogja
cuma
kamu yang terlihat memesona
Aduhai,
wanita yang duduk di bangku sudut Trans Jogja
aku
hampir pada peringkat tergoda.
Jogja,
Kamis,
20 Juni 2013
—06:33 pm
Posted by Unknown on 09.02
with No comments so far
Stasiun
Jember
adalah
stasiun terakhir
kereta
hanya menyisakan kau dan aku
Betapa
tenang, di sini—
tanpa
riuh obrolan orang-orang
yang
tak pernah kita kenal
Di
kaca, kita bisa seenaknya menghitung
dederet
desa dan kota—
sementara
punggung malam tersenyum pada kita
Lalu
lelaplah kau dan aku—
terkurung
dalam berjuta mil khayalan
sebentar
sebelum perpisahan
Maka
dari sana
kita
tak
lagi pernah berjumpa.
Jember,
Jumat,
21 Juni 2013
—06:13
pm
Posted by Unknown on 09.02
with No comments so far
Belum
tahu pasti tentang kepastian
aku
harus mengakui duluan:
Bahwa
mimpiku untuk menjadi bagian darimu
harus
tergagalkan.
Jogja,
Rabu,
19 Juni 2013
—03:19
pm
Posted by Unknown on 09.01
with No comments so far
Mereka
yang terjaga
dan
lelap di jalanan Jogja
banyak
mengabaikan
panggilan-panggilan
serak
para
muazin kota
Hilir
mudik
tamu-tamu
domestik
dan
mancanegara
mengerutkan
dahi mereka
Belum
lagi, terik tengah hari
yang
memeras galonan peluh
Ah,
Jogja,
kota impianku
masih
banyak yang ingin kuceritakan
untuk
menggambarkanmu
Tapi
diksiku berserakan di jalananmu.
Jogja,
Kamis,
20 Juni 2013
—05:45
pm
Posted by Unknown on 07.41
with No comments so far
Jangan salahkan saya jika saya menjadi pendiam dan tak mau
terbuka! Nanti, kalau saya memutuskan untuk menutup apa saja yang ada pada diri
saya, semoga Anda tak menyesal. Sejak lama, saya belajar untuk tetap
tersenyum—membuka perasaan, apa saja, kepada Anda. Tapi rupanya saya tak pernah
benar. Apa yang saya keluhkan, justru selalu Anda jatuhkan. Saya kini
merasa tertekan atas perlakuan Anda terhadap saya.
Di sini, saya seperti orang bodoh yang berusaha untuk pintar, tapi
selalu disalahkan. Saya bagaikan orang yang terjatuh dan berusaha untuk bangun,
tetapi tak diberi kesempatan untuk berdiri—meski berusaha, Anda tetap
menjatuhkan saya. Lagi, dan lagi.
Kalau kehadiran saya di sini rupanya menjadi persoalan yang besar
bagi Anda, saya bersedia pergi—melanjutkan kehidupan lain. Barangkali saja, di
tempat lain, saya bisa lebih diorangkan? Usaha saya lebih dihargai. Dan bukan
tidak mungkin jika ternyata saya bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat?
Saya tidakmenyalahkan semuanya—yang ada sekaligus terjadi. Tapi
saya rasa, semua rencana yang sudah saya pancangkan sejak jauh-jauh hari
tergagalkan di sini. Saya menjadi orang yang tak bernilai dari segi apapun.
Selama ini harapan saya Anda dukung dengan kata-kata yang
menjajikan, sehingga saya semangat dan merasa bisa merealisir harapan
saya—bahkan bisa dikatakan sudah ada di depan mata. Tapi saya salah besar,
ternyata. Saya tak pernah menyana semuanya menjadi serba terbalik seperti ini!
Keterbalikan itu saya terima sebagai kehancuran terhebat bagi
semua rencana-harapan-juga-cita-cita saya: Dukungan
Anda, rupanya hanya sebatas komposisi kata-kata—bukan hasil akhirnya.
Saat ini saya sudah mengetahui yang sebenarnya. Apa yang saya
rasakan? Tentu saja kecewa! Saya sangat kecewa, lebih tepatnya. Jika saya boleh
mengatakan semuanya, saya merasa sangat tertekan atas kejadian ini. Dada saya,
Anda harus tahu, sangat-sangat sulit dibuat bernapas. Saya tak pernah mengalami
kesesakkan dada seperti ini. Sehingga bergalon airmata yang tak saya kehendaki
tumpah di pipi.
Sampai disini, ketertekanan milik saya belum bisa terbebaskan.
Maka jika suatu hari, barangkali mulai saat ini, saya tak lagi bisa membuka
rahasia-hati untuk Anda, mudah-mudahan Anda menerima—dan tidak lantas
menyalahkan saya. Karena saya sudah memutuskan semuanya!
Jika Anda membaca tulisan ini, sebetulnya tak sebanding dengan
kehancuran dinding hati milik saya. Rasanya dari dulu, deretan kata (selalu)
tak bisa menjelaskan perasaan seluruhnya.
…Dan maaf, saya belum bisa menjadi yang terbaik buat Anda.
Tegalsari,
Ahad, 04 Agustus 2013
—04:45 pm
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 07.39
with No comments so far
Posted by Unknown on 07.30
with No comments so far
Angin
muram yang berembus dari timur
menebas
apa saja yang dilaluinya
bebaris
semut di dahan melarikan diri
Daun
pisang yang tak tahu apa-apa, terkoyak
debu di
pinggir jalan, khawatir
malam
itu pembunuhan kembali terjadi
Tapi,
kau yang
menjadi saksi
malah
duduk-duduk tenang sambil minum kopi
Sidoarjo,
Sabtu,
06 Juli 2013
08:05 pm
*Gambar dari sini.
Sabtu, 07 Desember 2013
Posted by Unknown on 06.18
with No comments so far
Andai kutitipkan sesak-rinduku pada debu untukmu
pernahkah ia benar-benar datang menemuimu—
dan menyampaikan rinduku padamu?
Bahwa kerinduan adalah simpul, barangkali benar
: tali yang mengikat leherku kuat-kuat
yang tak bisa terbuka kecuali oleh pertemuan
dan percakapan-percakapan adalah pelengkapnya
Tapi kerinduan padamu bukanlah simpul
ia bagai puisi yang tak putus
sungai tiada muaranya
labirin tanpa ada ujungnya
ya
dan aku sering mengunjungi mereka
mencicipi rindu yang kubikin sendiri
lagi, dan lagi
hingga ada pertemuan kita di ujung senja
Posted by Unknown on 06.15
with No comments so far
Mama, aku
kembali berdiri di sebelah jendela--termangu memandangi denah rumah kita: empat
buah kursi dan satu meja saling bertatapan, tak mau tahu kepadaku. Aku masih
bingung dengan kejadian yang menimpa kita--
Kemarin
sore, dua orang utusan bank datang ke rumah. Mereka berdua menagih
hutang-hutang saudara kita kepadamu.
"Ibu, jangka waktu pembayaran
hutang Ibu kurang sebulan lagi. Mohon segera dilunasi! Kami permisi." aku mendengarkan salah seorang utusan
bank menutup pembicaraan dan bergegas pulang.
Aku
melihatmu menangis di kursi ruang tamu ini. Sementara dua tamu tadi
meninggalkan satu surat berisikan total tagihan yang harus segera dibayar. Rp
80.000.000,-. Demikian tulisan yang tertera di sana.
Rp 80.000.000,-
Hah! Gila!
Mama harus melunasi hutang sebanyak itu? Sementara uang tabunganmu hanya cukup
untuk makan empat hari ke depan. Dapat darimana uang sebanyak itu? Kita seperti
orang yang tak makan buah nangka, tapi terkena getahnya! Apa-apaan semua ini!?
Aku semakin
tak mengerti dengan kejadian ini--
Saudara
kita, yang meminjam uang sebanyak itu di bank, melarikan diri entah ke mana?
Padahal jaminan atas peminjaman uang adalah rumah kita. Setiap hari Mama
berusaha menghubunginya, tapi percuma: Tak pernah diangkat.
Bahkan,
suatu ketika, kamu pernah mencoba mengirim SMS--untuk memberitahukan bahwa
surat tagihan yang ketiga dari bank sudah diantar ke rumah. Dan, di luar
dugaan. Mama malah ditanya: "Ini
siapa, ya?"
***
Mama,
sebulan yang lalu aku diberi nasihat guruku: "Ketika seorang hamba menanggung banyak dosa, sementara amalnya tak
cukup untuk melunasi dosa-dosanya, maka hamba tersebut akan dicoba--diberi
ujian untuk melebur dosanya."
Ha? Apa
kita banyak dosa, Mama? Apa kita banyak
berbuat salah--sehingga Tuhan memberi ujian seperti ini kepada kita?
Ternyata
tidak sepenuhnya. Guruku memberikan kelanjutan nasihatnya: "Dan dosa itu tak sepenuhnya dari kita; bisa
dari anak atau saudara kita. Lalu penebusannya bisa melalui raga kita yang
sakit, harta-benda kita yang berkurang, atau keluarga kita yang tertimpa
bencana."
Kini aku
masih berdiri di sini, Ma, menatap lekat-lekat ruang tamu ini. Jika suatu hari kita harus angkat kaki dari
sini, siapkah kita, Mama?
Pertanyaan
itu sebenarnya untukku sendiri. Jika suatu hari aku harus angkat kaki dari
rumah ini, siapkah aku? Aku masih ragu. Bagaimana bisa aku berpisah dengan
teman-temanku? Biasanya setiap sore, aku pergi ke Pondok untuk menemui
teman-teman: meminta bantuan mereka, meminjam buku, menanyakan suatu hal, atau sekadar
berbincang-bincang.
Mama,
siapkah aku--jika harus angkat kaki dari rumah ini? Aku masih ragu, Ma. Jika
ada dari temanku, guruku, atau siapa saja yang mengenaliku, mendatangi rumah
ini, lalu mereka tahu bahwa ternyata aku tak lagi berada di sini, bagaimana
mereka? Maksudku, bagaimana respon mereka--terhadap nasib yang menimpa kita?
Apakah
mereka biasa saja? Apakah mereka bersimpati? Atau merasa kasihan kepada kita?
Ah, aku tak
mau dikasihani. Aku tak mau melihat orang-orang yang mengenaliku kasihan kepadaku.
Dan sebelum itu semua terjadi, apakah aku dan kamu siap jika harus angkat kaki
dari rumah ini?
Aku tak
berani menjawab. Aku masih ragu, Mama, aku masih ragu.
Bagaimana
kalau Canda mendengar soal ini--dan dia tahu kalau kita mesti pindah dari sini?
Otomatis aku bakal kangen dia. Aku bakal lebih lama lagi tidak bertemu
dengannya. Aku belum siap, Mama!
Lalu,
warung Mama bagaimana?
***
Ma, kupikir
kita masih bisa berada di sini lebih lama lagi, dan mengatasi semua ini secara
baik-baik. Tapi matamu kini tak tegak lagi. Sementara aku tak bisa apa-apa.
Para tetangga juga sudah tahu yang sebenarnya.
Ah, Mama
jangan bersedih lagi. Lekas usap airmatamu yang mengalir di pipi: Semua pasti
ada jalannya, Ma.
Semoga kita tetap tinggal di sini!
Langganan:
Postingan (Atom)



















.jpg)
