Selamat
malam. Izinkan kembali aku memasuki ruanganmu paling pribadi. Ruangan yang di
dalamnya selalu tertata rapi: ada satu meja sepaket dengan kursi, yang di
atasnya ada bunga yang setiap hari diganti. Juga,satu kursi panjang yang khusus
kamu sediakan buat tamu.
Tunggulah
sebentar. Soal kursi panjang yang kamu sediakan untuk tamu tadi, aku tahu ia
hanya kaukhususkan buat tamu yang istimewa saja—orang terdekatmu. Dan aku
pernah duduk dan meminum teh, di sana. Bersamamu.
Aku
beruntung bisa menjadi salah seorang yang dapat masuk ruangan pribadi milikmu.
Selama setahun berada di sana, rasanya aku tak pernah kekurangan apapun: kamu
selalu memberikan lebih kepadaku. Tentang kesehatanku,kamu terus berpesan agar
aku lebih peduli menjaganya. Maklumlah, aku memang agak cuek urusan kesehatan.
Dan kamu tahu itu.
Pengalamanku
ketika masih tinggal di ruangan pribadimu—yang hingga kini masih kuingat—adalah
ketika suatu hari aku pernah memaksa untuk pergi meninggalkan ruanganmu, untuk
mencari ketenangan atau sekadar merasakan udara lembap yang, kata orang-orang,
segar. Tapi kamu mencegah dan terus membujukku untuk tak pergi dari ruanganmu.
“Tenanglah
sebentar. Jangan terlalu banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya
buatmu. Tetaplah di sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.” Katamu membujukku.
Aku
terus bersikeras dan tetap ingin pergi meninggalkanmu di ruangan ini. Dan kamu,
meski kutahu terpaksa—lebih tepatnya sangat terpaksa,akhirnya mengizinkanku
untuk pergi. Senangku bukan kepalang saat kamu mengizinkanku. Sungguh.
Aku
yang membangkang nasihatmu, akhirnya menyesal ketika salah seorang menawarkan
‘persinggahan’. Mula-mula aku tak mau. Tapi lama-lama akhirnya aku terbujuk
untuk singgah ke tempatnya. Saat itu, entah bagaimana caranya, ia mampu
membuatku memercayai kata-katanya.
Satu,
dua, empat, sepuluh, duapuluh satu hari aku tinggal di sana, ia membuatku terus
tertawa dan bahagia. Sungguh. Sebuah perlakuan yang belum pernah kudapatkan
darimu sebelumnya. Hingga genap sebulan, aku baru tahu dan kemudian sadar bahwa
seorang tersebut ternyata memiliki tak hanya satu tempat ‘persinggahan’. Tapi
lebih!
Ah!
Tiba-tiba
aku ingat nasihatmu, agar aku tak pergi dari ruangan pribadimu: “Tenanglah sebentar. Jangan terlalu
banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya buatmu. Tetaplah di
sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.” Lamat-lamat suaramu
menyelinap ke telingaku. Pikirku, kenapa
semua baru terasa seberat ini?
Untuk
sebuah penyesalan,mengapa Tuhan menciptakannya untuk kita rasakan di akhir
cerita? Mengapa rasa-sakit-akibat-penyesalan selalu lebih menyakitkan? Dan,
mengapa kita tak diberitahu—minimal sketsa rahasia di masa depan—agar kita,
paling tidak, bisa lebih waspada? Dan,
aku jadi mengerti kalau memang kamu sungguh-sungguh memberikan semuanya.
Untukku. Sekali lagi, aku menyesal! Ah!
Maafkan
aku. Sungguh maafkan aku. Aku tak ingin lagi mengacak-acak ruangan pribadimu
yang telah rapi dengan kembalinya aku kemari. Maka izinkan aku untuk menengok
isinya kini. Kali ini aku tak akan memaksa untukmendapatkan persetujuanmu.
Dan,
tak terbantahkan. Kamu adalah satu-satunya orang yang memberikanku semuanya,
tanpa meminta kembaliannya: Kamu
menerimaku kembali sebagai tamu istimewa. Sebagai
bentuk terima kasihku, aku akan mematuhi nasihatmu dan tak akan keluar dari
ruangan ini, kecuali denganmu: Aku
janji!
***
Nyatanya,
hingga kini, kamu tak pernah memiliki ruangan pribadi lain, kecuali yang kuhuni
ini. Aku bersyukur bisa tinggal di sini,bersamamu. Di ruanganmu yang paling
pribadi. Ya. Di hatimu.
Tegalsari,
Sabtu, 12 Oktober 2013
—11:24 pm