Selasa, 14 Mei 2013


: Kepada Canda

Baik, bagaimana kabarmu, Canda? Aku tidak tahu di mana kau membaca surat yang kuberikan ini; apakah kau membaca di sekolah, di tepi sungai atau di tempat lesmu(?) Aku tidak tahu. Tapi yang kuharap kau membacanya sendirian dalam kamar. Hari ini aku mengirimkan kembali surat untukmu: Bacalah, Canda.

Begini, akhir-akhir ini aku sering merasa gugup menjalani (ke)hidup((an)ku. Aku bingung. Aku merasa bahwa hidupku ini benar-benar melelahkan... membingungkan untuk diteruskan. Juga, aku merasa kehidupan ini mestinya tidak perlu lagi dilanjutkan. Entahlah.

Aku limbung, Canda. Makanya, hari ini aku memutuskan menulis surat dan mengirimkannya kepadamu. Sekadar berbagi saja.

Tapi sengaja, surat yang kubuat saat ini sedikit berbeda dari biasanya. Bukan tentang cinta-kangenku padamu—bertanya kapan kita bisa bertemu, lebih dari itu, Canda. Ini tentang keadaanku sendiri yang beberapa hari membuat dadaku selalu terasa nyeri.

Sebelumnya aku minta maaf, lalu kusambung dengan ucapan terima kasih: (1) Maaf sebab kurasa kau sedikit terganggu mengenai keluh kesahku ini, (2) dan terima kasih sebab, kau mau membacanya.

Canda, apakah kau pernah berpikir tentang dunia ini? Maksudku, berpikir tentang mengapa di dunia ini diciptakan dengan begitu banyak problematika yang tak kunjung usai dan reda. Ini hanya tentang ‘mengapa’.

Saat ini aku sedang mengalami keadaan semacam itu. Aku bertanya-tanya. Mengapa di dunia ini dirancang seperti ini: Ada perbedaan dan pertikaian. Mengapa harus ada orang jahat? Mengapa harus ada benci? Mengapa harus ada kebohongan, kemunafikan, keburukan, dan semacamnya? Mengapa semua itu harus ada?

Apakah kau sempat berpikiran seperti yang kupikirkan itu, Canda?

Aku membayangkan, sepertinya dunia ini akan lebih damai jika tidak ada keburukan semacam itu, kan, Canda?

Ini terlepas dari ajaran agama kita, Canda. Di sekolahan kita, barangkali pernah diajarkan tentang masalah ini. Kata Bapak Rudiman, dalam pelajaran agamanya beliau bertutur, “Perbedaan adalah rahmat.” Kau tentunya masih ingat, kan?

Aku yakin kau masih ingat. Saat itu bel jam ke tiga berbunyi. Bapak Setyo masih memberi soal untuk pekerjaan rumah. Teman kita, Andi, Riko, dan Maman masih berdiri di depan karena tadi pagi saat pengumpulan PR, mereka belum selesai.

“Andi, mana PR-mu?” tanya Pak Setyo dengan mata melotot.

“Be.. belum selesai, Pak.” Jawab Andi gugup.

Teman sebangku Andi, Riko, juga ditanya. “Kamu, Riko, PR-mu mana?”

Riko yang setiap malam tidak pernah belajar dan sering keluyuran menjawab dengan muka padam. “Sa.. saya.. ju.. juga belum selesai, Pak.”

Pak Setyo yang terkenal galak langsung memberi hukuman kepada Andi dan Riko. Seperti biasanya, saat PR tidak dikumpulkan, terlebih dahulu Pak Setyo memberi wejangan-wejangan dengan intonasi yang tidak pelan. Kemudian setelah dirasa cukup, Pak Setyo langsung menyuruh mereka berdiri di depan kelas—satu kaki diangkat, telinga ditarik satu dengan tangan, lalu tak lupa juga, lidah mereka harus dijulurkan.

Setelahnya, Pak Setyo bertanya pada murid-murid dengan nada tinggi, apakah masih ada yang tidak mengumpulkan PR? Kalau tidak ada yang mengaku, Pak Setyo akan keliling ke bangku anak didiknya satu per satu—memeriksa anak yang tidak mengerjakan PR. Jika ketahuan, Pak Setyo akan menjemur anak tersebut ke halaman sekolah. Anak yang dijemur tadi harus menuliskan di papan kecil berukuran 1x1 meter begini, “SAYA PEMALAS. SAYA TIDAK MENGERJAKAN PR MATEMATIKA.”

Karena mengetahui hukumannya lebih berat, akhirnya Maman mengakui saja, ia tidak mengerjakan PR dengan alasan sakit perut semalaman. Seperti Andi dan Riko, Maman diberi wejangan-wejangan dengan nada yang tidak bisa dibilang pelan, lalu menyusul Andi dan Riko ke depan.

***

“Kurang lebihnya mohon maaf, anak-anak. Bapak akhiri pelajaran matematika pagi ini, wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!” Usai memberi soal untuk dikerjakan di rumah, Pak Setyo menutup pelajaran.

***

Bapak Rudiman, guru agama yang santun dan sopan akhirnya masuk ke kelas dengan langkah pelan-pelan. Beliau tersenyum dan membuka pelajaran, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh! Baiklah anak-anak, materi pelajaran agama pagi ini tentang ‘Perbedaan Agama dan Cara Pensikapannya’. Buka halaman 47! Di sana diterangkan bahwa perbedaan di dunia ini sengaja diciptakan agar semua manusia bisa mengambil sisi positifnya....” Pak Rudiman memang terkesan santai dan murah senyum saat belajar di kelas.

Ah, tapi mengapa sampai ke sini, sih! Padahal niatnya tidak sampai sejauh ini.

Sudahlah. Kembali pada niatku: Terlepas dari ajaran agama kita. Jadi, aku masih bingung, mengapa dunia ini terlalu berisik dan selalu saja banyak orang terusik? Semalam, Dadang cerita banyak kepadaku, ia juga bingung. Di rumahnya banyak masalah sepele yang selalu dibesar-besarkan. Katanya, orang tuanya selalu berprasangka buruk terhadapnya. Ia sudah menjalankan tugasnya sebagai anak dengan baik—setidaknya menurutku juga baik—tapi ayahnya selalu memarahinya. Dia kesal.

Tapi jika kuceritakan Dadang di sini, terlalu panjang rasanya. Barangkali berita televisi saja, ya. Siang tadi, beberapa jam sepulang sekolah, aku menyalakan televisi. Aku menonton berita sendiri sambil tiduran di kursi. Di sana, topik beritanya tentang korupsi (ah, lagi-lagi korupsi!).

Barangkali tema sederhana, tapi, apakah kau sempat sebentar saja memikirkannya, Canda? Sekarang ini para penguasa-penguasa negeri ini banyak yang lupa diri. Gelar mereka hanya menjadi kedok. Padahal sejatinya mereka tak ubahnya seperti bandit dan pencuri! Itulah pemimpin saat ini. Uang negara mereka simpan sedikit-sedikit di saku celana belakang yang sengaja dibikin sempit. Lihatlah, biaya pembuatan toilet saja dianggar 2 milyar! Bayangkan, Canda, ketika mereka mendiskusikan anggaran sebanyak itu, apa yang sedang mereka pikirkan? Menurutku mereka semua sudah benar-benar melupakan amanat yang dititipkan dan bisa saja mereka memang tidak memikirkan kemajuan bangsa... kemakmuran rakyatnya.

Setidaknya itu yang aku lihat dalam televisi. Dan dunia seperti inilah yang tak kusuka, Canda. Aku bahkan ingin hidup sendiri bersamamu, keluarga besar kita, dan semua orang baik di dunia ini di suatu tempat. Di mana saja. Asalkan kita hidup di dunia kita: Dunia yang berkeluarga baik, bertangga baik, dan, tentu, aku sangat berharap kita dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Barangkali cukup suratku kali ini, Canda. Akhir pekan aku ingin bertemu denganmu. Semoga kau setuju. :-)

Salam dariku,

Mata


Tegalsari,
Ahad, 6 Januari 2013
05:03 pm

0 komentar:

Posting Komentar