:
Kepada Canda
Baik,
bagaimana kabarmu, Canda? Aku tidak tahu di mana kau membaca surat yang
kuberikan ini; apakah kau membaca di sekolah, di tepi sungai atau di tempat
lesmu(?) Aku tidak tahu. Tapi yang kuharap kau membacanya sendirian dalam
kamar. Hari ini aku mengirimkan kembali surat untukmu: Bacalah, Canda.
Begini,
akhir-akhir ini aku sering merasa gugup menjalani (ke)hidup((an)ku. Aku
bingung. Aku merasa bahwa hidupku ini benar-benar melelahkan... membingungkan
untuk diteruskan. Juga, aku merasa kehidupan ini mestinya tidak perlu lagi
dilanjutkan. Entahlah.
Aku
limbung, Canda. Makanya, hari ini aku memutuskan menulis surat dan
mengirimkannya kepadamu. Sekadar berbagi saja.
Tapi
sengaja, surat yang kubuat saat ini sedikit berbeda dari biasanya. Bukan
tentang cinta-kangenku padamu—bertanya kapan kita bisa bertemu, lebih dari itu,
Canda. Ini tentang keadaanku sendiri yang beberapa hari membuat dadaku selalu
terasa nyeri.
Sebelumnya
aku minta maaf, lalu kusambung dengan ucapan terima kasih: (1) Maaf sebab
kurasa kau sedikit terganggu mengenai keluh kesahku ini, (2) dan terima kasih
sebab, kau mau membacanya.
Canda,
apakah kau pernah berpikir tentang dunia ini? Maksudku, berpikir tentang
mengapa di dunia ini diciptakan dengan begitu banyak problematika yang tak
kunjung usai dan reda. Ini hanya tentang ‘mengapa’.
Saat
ini aku sedang mengalami keadaan semacam itu. Aku bertanya-tanya. Mengapa di
dunia ini dirancang seperti ini: Ada perbedaan dan pertikaian. Mengapa harus
ada orang jahat? Mengapa harus ada benci? Mengapa harus ada kebohongan,
kemunafikan, keburukan, dan semacamnya? Mengapa semua itu harus ada?
Apakah
kau sempat berpikiran seperti yang kupikirkan itu, Canda?
Aku
membayangkan, sepertinya dunia ini akan lebih damai jika tidak ada keburukan
semacam itu, kan, Canda?
Ini
terlepas dari ajaran agama kita, Canda. Di sekolahan kita, barangkali pernah
diajarkan tentang masalah ini. Kata Bapak Rudiman, dalam pelajaran agamanya
beliau bertutur, “Perbedaan adalah rahmat.” Kau tentunya masih ingat, kan?
Aku
yakin kau masih ingat. Saat itu bel jam ke tiga berbunyi. Bapak Setyo masih
memberi soal untuk pekerjaan rumah. Teman kita, Andi, Riko, dan Maman masih
berdiri di depan karena tadi pagi saat pengumpulan PR, mereka belum selesai.
“Andi,
mana PR-mu?” tanya Pak Setyo dengan mata melotot.
“Be..
belum selesai, Pak.” Jawab Andi gugup.
Teman
sebangku Andi, Riko, juga ditanya. “Kamu, Riko, PR-mu mana?”
Riko
yang setiap malam tidak pernah belajar dan sering keluyuran menjawab dengan
muka padam. “Sa.. saya.. ju.. juga belum selesai, Pak.”
Pak
Setyo yang terkenal galak langsung memberi hukuman kepada Andi dan Riko.
Seperti biasanya, saat PR tidak dikumpulkan, terlebih dahulu Pak Setyo memberi
wejangan-wejangan dengan intonasi yang tidak pelan. Kemudian setelah dirasa
cukup, Pak Setyo langsung menyuruh mereka berdiri di depan kelas—satu kaki
diangkat, telinga ditarik satu dengan tangan, lalu tak lupa juga, lidah mereka
harus dijulurkan.
Setelahnya,
Pak Setyo bertanya pada murid-murid dengan nada tinggi, apakah masih ada yang
tidak mengumpulkan PR? Kalau tidak ada yang mengaku, Pak Setyo akan keliling ke
bangku anak didiknya satu per satu—memeriksa anak yang tidak mengerjakan PR.
Jika ketahuan, Pak Setyo akan menjemur anak tersebut ke halaman sekolah. Anak
yang dijemur tadi harus menuliskan di papan kecil berukuran 1x1 meter begini,
“SAYA PEMALAS. SAYA TIDAK MENGERJAKAN PR MATEMATIKA.”
Karena
mengetahui hukumannya lebih berat, akhirnya Maman mengakui saja, ia tidak
mengerjakan PR dengan alasan sakit perut semalaman. Seperti Andi dan Riko, Maman
diberi wejangan-wejangan dengan nada yang tidak bisa dibilang pelan, lalu
menyusul Andi dan Riko ke depan.
***
“Kurang
lebihnya mohon maaf, anak-anak. Bapak akhiri pelajaran matematika pagi ini, wassalamu
‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!” Usai memberi soal untuk dikerjakan
di rumah, Pak Setyo menutup pelajaran.
***
Bapak
Rudiman, guru agama yang santun dan sopan akhirnya masuk ke kelas dengan
langkah pelan-pelan. Beliau tersenyum dan membuka pelajaran, “Assalamu
‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh! Baiklah anak-anak, materi
pelajaran agama pagi ini tentang ‘Perbedaan Agama dan Cara Pensikapannya’. Buka
halaman 47! Di sana diterangkan bahwa perbedaan di dunia ini sengaja diciptakan
agar semua manusia bisa mengambil sisi positifnya....” Pak Rudiman memang
terkesan santai dan murah senyum saat belajar di kelas.
Ah,
tapi mengapa sampai ke sini, sih! Padahal niatnya tidak sampai
sejauh ini.
Sudahlah.
Kembali pada niatku: Terlepas dari ajaran agama kita. Jadi, aku masih bingung,
mengapa dunia ini terlalu berisik dan selalu saja banyak orang terusik?
Semalam, Dadang cerita banyak kepadaku, ia juga bingung. Di rumahnya banyak
masalah sepele yang selalu dibesar-besarkan. Katanya, orang tuanya selalu
berprasangka buruk terhadapnya. Ia sudah menjalankan tugasnya sebagai anak
dengan baik—setidaknya menurutku juga baik—tapi ayahnya selalu memarahinya. Dia
kesal.
Tapi
jika kuceritakan Dadang di sini, terlalu panjang rasanya. Barangkali berita
televisi saja, ya. Siang tadi, beberapa jam sepulang sekolah, aku menyalakan
televisi. Aku menonton berita sendiri sambil tiduran di kursi. Di sana, topik
beritanya tentang korupsi (ah, lagi-lagi korupsi!).
Barangkali
tema sederhana, tapi, apakah kau sempat sebentar saja memikirkannya, Canda?
Sekarang ini para penguasa-penguasa negeri ini banyak yang lupa diri. Gelar
mereka hanya menjadi kedok. Padahal sejatinya mereka tak ubahnya seperti bandit
dan pencuri! Itulah pemimpin saat ini. Uang negara mereka simpan
sedikit-sedikit di saku celana belakang yang sengaja dibikin sempit. Lihatlah,
biaya pembuatan toilet saja dianggar 2 milyar! Bayangkan, Canda, ketika mereka
mendiskusikan anggaran sebanyak itu, apa yang sedang mereka pikirkan? Menurutku
mereka semua sudah benar-benar melupakan amanat yang dititipkan dan bisa saja
mereka memang tidak memikirkan kemajuan bangsa... kemakmuran rakyatnya.
Setidaknya
itu yang aku lihat dalam televisi. Dan dunia seperti inilah yang tak kusuka,
Canda. Aku bahkan ingin hidup sendiri bersamamu, keluarga besar kita, dan semua
orang baik di dunia ini di suatu tempat. Di mana saja. Asalkan kita hidup di
dunia kita: Dunia yang berkeluarga baik, bertangga baik, dan, tentu, aku sangat
berharap kita dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar pemimpin.
Barangkali
cukup suratku kali ini, Canda. Akhir pekan aku ingin bertemu denganmu. Semoga
kau setuju. :-)
Salam
dariku,
Mata
Tegalsari,
Ahad, 6 Januari 2013
05:03 pm
Ahad, 6 Januari 2013
05:03 pm

0 komentar:
Posting Komentar