Beberapa hari belakangan aku merasakan keganjilan antara kita. Kau
semakin acuh padaku. Barangkali dari dulu kau memang tidak pernah memikirkan
aku, tapi beberapa minggu belakangan kau makin memperlihatkan semua itu
kepadaku; kau tak peduli tentang bagaimana perasaanku kepadamu.
“Apa kau tidak merindukanku, Sayang?” tanyaku.
“Rindu.”
“Sungguh?” tanyaku meyakinkan.
Kau hanya mengangguk tanpa memandangku.
Aku tahu kau memang seperti itu. Akan tetapi aku juga ingin sekali
mendengarmu mengatakan rindu kepadaku seperti aku merindukanmu setiap hari.
Air mukaku mendadak layu. Mataku terselubung kaca bening.
“Ada apa?” tanyamu penuh perhatian saat mengetahui air mataku mengalir.
Aku diam saja karena tak kuasa menahan rasa yang terlanjur menjelma
menjadi air mata.
Kau memelukku pelan lalu berkata, “Dengar, Sayang, setiap hari aku
selalu merindukanmu seperti halnya kau merindukanku: Jauh hingga kedalaman
hatiku,” terangmu menyembuhkanku—meredakan hujan di mataku.
Hatiku terobati oleh ucapanmu; Kau berhasil menenangkanku. Dan sembari
tak melepaskan dekapanmu kau kembali bersuara, “Aku mencintaimu jauh melampaui
perasaanku terhadapmu, Sayang.”
Aku tersenyum bungah mendengar itu. Terimakasih
telah mencintaiku....
Tegalsari,
Senin, 15 Oktober 2012

0 komentar:
Posting Komentar