“Apa itu kenangan?”
Suara di balik punggungmu menanyakan sesuatu
yang sejak tadi tengah kaupikirkan. Dadamu kini sedang hanyut bersama sejuta
ingatan dalam sungai masa lalu(mu).
Apa itu kenangan?
Kau mengangkat sebelah alismu, mengulang sendiri pertanyaan yang diajukan oleh
suara dari belakang punggungmu barusan.
“Barangkali kenangan adalah pohon mangga di
halaman sebuah rumah.” Kau menjawab sekenanya tanpa menengok ke asal suara yang
bertanya padamu.
“Yang benar saja? Kau yakin? Kenapa begitu?”
Suara itu bertanya lagi.
“Entahlah. Aku tak terlalu yakin. Tetapi aku
bisa menjawab pertanyaanmu yang terakhir.” Kau tetap berpaling dari suara itu,
“Bisa jadi ia adalah dedaunan dari pohon mangga yang tiap sore jatuh diterpa
angin. Kita bisa memungut-mengingatnya kapan saja kita mau.”
“Lalu?”
“Lalu sudah.”
Suara itu terkekeh.
“Kenapa?”
“Tak ada.”
“Apa yang lucu?”
“Tak ada.”
“Aku bukan pengandai yang baik.” Kau
mendengus.
Suara itu kembali terkekeh.
“Kenapa?”
“Tak ada.”
“Apa yang lucu?”
“Tak ada.”
Dadamu mulai sesak—sebal.
“Percuma.” Kata suara itu.
“Apanya yang percuma?” Kau melotot—masih
enggan menghadap ke asal suara.
“Apa yang kau ambil dari kenangan?” Suara itu
berbalik bertanya.
Kau makin sebal. Jemarimu diam-diam menyusun
dirinya sendiri menjadi seperti sebuah batu alami yang keras. Lenganmu yang
berotot mulai ikut keras. Napasmu tersengal. Mukamu memerah. Dan lebih memerah
lagi.
“Percuma.” Kata suara itu. Lagi.
“Apanya yang percuma, hah!?” Kali ini kau
mengangkat oktaf bunyi suaramu, mukamu merah padam. Napasmu semakin tersengal.
Dadamu kian menyesakkan. Tetapi wajahmu masih enggan berbalik ke arah suara.
Suara itu, lagi-lagi, terkekeh.
“Apa yang kau ambil dari kenangan?”
Apa yang kuambil dari kenangan? Kau semakin tak mengerti dengan pertanyaan itu. Kau mulai berpikir
keras: Apa yang kuambil dari kenangan?
Tanpa sadar, kepalan tanganmu mulai
merenggang. Napasmu perlahan kembali normal. Ternyata tanpa kausadari, dengan
berpikir kau menjadi seseorang yang lebih tenang.
Apa yang kuambil dari kenangan?
“Entahlah. Tak ada. Eh. Aku tak tahu.”
Jawabanmu berlepotan.
“Cobalah berpikir lagi.”
Jeda sesaat.
“Aku tak tahu.”
“Cobalah lagi.”
Jeda kembali.
“Aku tak tahu.”
“Lagi.”
“Aku tak tahu.” Kau geram.
Suara itu terkekeh.
“Percuma.”
“Aku memang tak tahu!” kau melotot.
Suara itu terkekeh. Lagi.
Kau semakin sebal. Kali ini kau tak ingin
menanggapi. Suara itu kembali terkekeh—kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Dan kembali terkekeh.
“Percuma!” suara itu terdengar lebih serius.
Kau menelan ludah. Bosan dengan kata percuma
yang ia ucapkan berulang-ulang.
“Baiklah. Aku tak tahu. Memangnya apa yang
bisa kita ambil dari kenangan? Adakah?”
Suara itu tertawa kecil. “Nah, akhirnya kau
bertanya.”
Kau mengernyitkan dahi.
“Ada yang kau lupa. Ada hal yang bisa kita
ambil dari kenangan—masa lalu.”
“Apa?”
“Adalah pelajaran, selain juga perasaan ingin
mengulanginya tentunya. Kau terlalu mudah marah. Itu sebabnya tadi kau menjawab
tak tahu saat kutanya adakah sisa kenangan yang bisa kauambil(?). Kau juga
terlalu mudah menyerah. Makanya tadi aku terus mendesakmu untuk mencoba
berpikir—mengingat hal-hal baik yang bisa kauambil. Tetapi kau kalah dengan
emosimu, lalu menyerah tanpa hasil!”
Suara itu kini semakin mantap menghujanimu
kata-kata yang tak pernah kau duga-duga sebelumnya.
“Kau tahu, apa yang membuat kita tak bisa
melahirkan ide cemerlang nan berbobot? Emosi. Bahkan seorang hakim tak boleh memutuskan
perkara saat ia emosi.”
Kau tak bisa mencegah suara itu yang terus
berbicara. Justru kau kini diam-diam membenarkannya.
“Kau bisa saja mengatakan kenangan adalah
dedaunan yang gugur akibat diterpa angin senja, atau mengibaratkan dengan
apapun. Tetapi kau juga harus ingat: selama tak ada yang kauambil dari sisa
kenanganmu, bisa jadi kau hanya manusia yang tak pernah beruntung. Dan celaka
bila kau justru tak bisa lebih baik dari kenanganmu—masa lalumu. Itu sebabnya
sejak tadi kukatakan padamu percuma, dan percuma!
“Dan lihatlah ke hadapanku. Aku adalah masa
depanmu. Sejak tadi kita berdialog, kau hanya berpaling dariku. Kau terlalu
sibuk memungut daun-kenangan yang jatuh dari pohon manggamu, untuk bersedih dan
menangis, hingga saat berdialog denganku pun, kau tak lantas menatapku—sekadar
menghargaiku. Apa kau lupa dengan masa depan? Apa kau tak percaya denganku,
masa depanmu—takdirmu?”
Lalu kepalamu pelan-pelan menengok ke
belakang, ke asal suara itu, diikuti badanmu. Dadamu tertahan, napasmu tertahan.
“Kau bisa saja tak percaya dengan takdir.
Tetapi kau tak bisa menolak apapun saja yang kini tengah terjadi!”
Apa yang kulakukan selama ini? Batinmu. Kau tertunduk. Tersedu.
“Berjanjilah kepadaku untuk menjadi lebih
baik. Menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Berjanjilah.”
Sementara kau masih menangis-menyesal, suara
itu tak lagi terdengar. Lalu tanganmu menyeka air mata yang mengalir di pipimu.
Kau lantas menegakkan kembali kepalamu yang tadi layu. Matamu penuh dengan
harapan. Dan kau telah berjanji untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.
Tentu aku akan menjadi lebih baik lagi, katamu dalam hati.
Tegalsari,
Kamis, 17 April 2014
—12:01 pm*Gambar dari sini.


