: Kepada W
1/
W, aku melihat
kobaran api-kemarahan yang menyala-nyala dalam hatimu—membakar dirimu dan
melenyapkan kesabaranmu hingga menjadi abu. Aku melihat gumpalan dendam yang
terus membesar dan membenturkan dirinya sendiri pada dinding ketabahanmu. Aku melihat
pedang menyayat dadamu hingga tampak sekali segaris senyummu yang palsu.
Ke manakah dingin
es yang menyejukkan tubuhmu yang selalu dapat kulihat setiap kali kita bertemu?
Di manakah tangan keramahan yang terus menumbuhkan rasa damai yang dulu membelaimu—hingga
terbitlah senyum manis dari bibirmu?
2/
W, katamu, dalam
hidup, kadang kita harus menutup telinga, kadang harus membukanya. Ada saat di
mana telinga kita harus digunakan untuk mendengar kritik dan saran dari banyak
orang di sekeliling kita, pula ada saat di mana kita mesti mengabaikan
percakapan-percakapan orang di belakang mengenai kita—sebab ada dua alasan
dalam mencermati percakapan-percakapan mereka: (1)Bisa jadi mereka menginginkan
hal-hal positif terus terbangun dari dalam diri kita, (2)sebaliknya, ada
beberapa orang yang memang tak cukup senang dengan apa yang kita lakukan,
lantas mereka mencibir dan menjatuhkan kita—tanpa tanggungjawab, tentu saja.
3/
W, bersabarlah
sekuat-kuatnya, dari segala macam serangan yang mengatasnamakan dirinya
keburukan. Dari seratus juta muka yang menatapmu dengan cara yang tak biasa.
Dari sejuta suara yang tak pernah bertanggungjawab, yang mencoba mematahkan
langkah, yang mencoba mematikan iktikad kebaikanmu.
Teruslah
berjalan, W, menelusuri setapak Jalan Benderang. Ikutilah Cahaya itu. Ia akan
menuntunmu menuju ke Keabadian. Maka kau akan menemukan dirimu yang tegar di
sana. Dirimu yang tersenyum syahdu, di sana.
Sementara, tentang kecewa
dan masa depan, kau pernah berpesan padaku—untuk bekal selama aku mengembara. “Kecewa
adalah hujan lebat melanda ketika justru kaumendamba terik. Atau gempa dan
ledakan gunung yang memuntahkan partikel-partikel harapan. Mereka akan datang
menyapamu manakala kaubiarkan harapan ihwal masa depan yang tidak benar-benar
menjajikan menyala terlalu lama di hatimu.”
Aku suka dengan nasihatmu
waktu itu, W, seperti kembali melahirkan nuraniku untuk terus waspada terhadap
apapun saja: tentang hal-hal yang takpernah bisa kita duga-duga. Ya, kita tak
bisa meneropong jauh ke depan, seperti katamu.
4/
W, kaupernah
mendapati aku tengah terduduk lemas di pinggir hatiku sendiri. Kau tahu: kala
itu aku digerus oleh gemerlap dunia—hiruk pikuk ledakan suara yang membuat
dadaku makin sesak saja. Tapi seolah dapat mengetahui persoalanku, kau mulai
mendekatiku, menepuk pundakku, lantas mengatakan sesuatu: “Jangan sampai
tergelincir dari bebatu di pinggir sungai-keduniawian. Aku tahu kita
membutuhkannya tetapi jangan sekali-kali, hanya karenanya, kita melakukan
hal-hal yang bahkan berlebihan. Cukup letakkan ia pada genggamanmu, hilangkan
dari dalam dadamu. Sebab jika kaumenempatkannya pada dadamu yang rapuh, aku tak
terlalu yakin kau akan mampu menimangnya—siapapun orangnya, bukan cuma kau.”
Demikianlah, W,
kata-katamu, selalu berhasil menguatkan kembali jejak-jejak langkah-kakiku,
melapangkan kembali dadaku, mengumpulkan, lagi, semangat-kebaikan milikku.
5/
W, kini ke manapun kaki
kita memijak, aku mau kita sama-sama saling menolong—saling mengingatkan:
Menolong dari marabahaya apapun saja, keburukan yang barangkali dapat
menggelapkan batin sehingga kita tak bisa menempuh Jalan Pulang. Sebab manusia
hanya dilahirkan dengan keterbatasan untuk sekadar menyusun rencana-rencana,
lalu berusaha, lalu sudah. Sisanya, hanya Dia, Sang Mahamenentukan, yang
memutuskan hasil akhirnya, kan? Ya, aku selalu belajar dari kata-kata
yang kauucapkan, W.
6/
W, belakangan aku
merasakan gemuruh yang bergejolak dalam dadamu—memorak-porandakan apa saja yang
berada di sana. Bertahanlah, W, bawalah segala macam amarah pada pejam matamu,
lalu nyalakan Cahaya itu dalam gelapmu. Ingatlah bait-bait itu:
aku berserah
pada kekuatan Mahadahsyat
pada Pemegang Kesempurnaan
pada penunjuk Jalan Pulang
aku kembalikan
dendam pada Penyabar
salah pada Pembenar
benci pada Penyayang
maka tunjukkanlah
Lurus
Lapang
pada jalan yang kutempuh
pada langkah yang kuambil
pada debar yang kuputuskan
pada kekuatan Mahadahsyat
pada Pemegang Kesempurnaan
pada penunjuk Jalan Pulang
aku kembalikan
dendam pada Penyabar
salah pada Pembenar
benci pada Penyayang
maka tunjukkanlah
Lurus
Lapang
pada jalan yang kutempuh
pada langkah yang kuambil
pada debar yang kuputuskan
Maka akan kaulihat api
yang membakar hatimu perlahan memadamkan dirinya sendiri. Gemuruh akan
pelan-pelan meredakan dirinya kembali. Lalu pecahlah balok es dalam
kepalamu—menjelma kesejukan yang menuruni bukit hatimu, yang tak pernah
kaurasakan di belahan bumi manapun.
Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014
—08:52 am
Kamis, 09 Januari 2014
—08:52 am
*Gambar diambil dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar