Sabtu, 11 Januari 2014

: Kepada W

1/

W, aku melihat kobaran api-kemarahan yang menyala-nyala dalam hatimu—membakar dirimu dan melenyapkan kesabaranmu hingga menjadi abu. Aku melihat gumpalan dendam yang terus membesar dan membenturkan dirinya sendiri pada dinding ketabahanmu. Aku melihat pedang menyayat dadamu hingga tampak sekali segaris senyummu yang palsu.

Ke manakah dingin es yang menyejukkan tubuhmu yang selalu dapat kulihat setiap kali kita bertemu? Di manakah tangan keramahan yang terus menumbuhkan rasa damai yang dulu membelaimu—hingga terbitlah senyum manis dari bibirmu?

2/

W, katamu, dalam hidup, kadang kita harus menutup telinga, kadang harus membukanya. Ada saat di mana telinga kita harus digunakan untuk mendengar kritik dan saran dari banyak orang di sekeliling kita, pula ada saat di mana kita mesti mengabaikan percakapan-percakapan orang di belakang mengenai kita—sebab ada dua alasan dalam mencermati percakapan-percakapan mereka: (1)Bisa jadi mereka menginginkan hal-hal positif terus terbangun dari dalam diri kita, (2)sebaliknya, ada beberapa orang yang memang tak cukup senang dengan apa yang kita lakukan, lantas mereka mencibir dan menjatuhkan kita—tanpa tanggungjawab, tentu saja.

3/

W, bersabarlah sekuat-kuatnya, dari segala macam serangan yang mengatasnamakan dirinya keburukan. Dari seratus juta muka yang menatapmu dengan cara yang tak biasa. Dari sejuta suara yang tak pernah bertanggungjawab, yang mencoba mematahkan langkah, yang mencoba mematikan iktikad kebaikanmu.

Teruslah berjalan, W, menelusuri setapak Jalan Benderang. Ikutilah Cahaya itu. Ia akan menuntunmu menuju ke Keabadian. Maka kau akan menemukan dirimu yang tegar di sana. Dirimu yang tersenyum syahdu, di sana.

Sementara, tentang kecewa dan masa depan, kau pernah berpesan padaku—untuk bekal selama aku mengembara. “Kecewa adalah hujan lebat melanda ketika justru kaumendamba terik. Atau gempa dan ledakan gunung yang memuntahkan partikel-partikel harapan. Mereka akan datang menyapamu manakala kaubiarkan harapan ihwal masa depan yang tidak benar-benar menjajikan menyala terlalu lama di hatimu.”

Aku suka dengan nasihatmu waktu itu, W, seperti kembali melahirkan nuraniku untuk terus waspada terhadap apapun saja: tentang hal-hal yang takpernah bisa kita duga-duga. Ya, kita tak bisa meneropong jauh ke depan, seperti katamu.

4/

W, kaupernah mendapati aku tengah terduduk lemas di pinggir hatiku sendiri. Kau tahu: kala itu aku digerus oleh gemerlap dunia—hiruk pikuk ledakan suara yang membuat dadaku makin sesak saja. Tapi seolah dapat mengetahui persoalanku, kau mulai mendekatiku, menepuk pundakku, lantas mengatakan sesuatu: “Jangan sampai tergelincir dari bebatu di pinggir sungai-keduniawian. Aku tahu kita membutuhkannya tetapi jangan sekali-kali, hanya karenanya, kita melakukan hal-hal yang bahkan berlebihan. Cukup letakkan ia pada genggamanmu, hilangkan dari dalam dadamu. Sebab jika kaumenempatkannya pada dadamu yang rapuh, aku tak terlalu yakin kau akan mampu menimangnya—siapapun orangnya, bukan cuma kau.”

Demikianlah, W, kata-katamu, selalu berhasil menguatkan kembali jejak-jejak langkah-kakiku, melapangkan kembali dadaku, mengumpulkan, lagi, semangat-kebaikan milikku.

5/

W, kini ke manapun kaki kita memijak, aku mau kita sama-sama saling menolong—saling mengingatkan: Menolong dari marabahaya apapun saja, keburukan yang barangkali dapat menggelapkan batin sehingga kita tak bisa menempuh Jalan Pulang. Sebab manusia hanya dilahirkan dengan keterbatasan untuk sekadar menyusun rencana-rencana, lalu berusaha, lalu sudah. Sisanya, hanya Dia, Sang Mahamenentukan, yang memutuskan hasil akhirnya, kan? Ya, aku selalu belajar dari kata-kata yang kauucapkan, W.

6/

W, belakangan aku merasakan gemuruh yang bergejolak dalam dadamu—memorak-porandakan apa saja yang berada di sana. Bertahanlah, W, bawalah segala macam amarah pada pejam matamu, lalu nyalakan Cahaya itu dalam gelapmu. Ingatlah bait-bait itu:

aku berserah
pada kekuatan Mahadahsyat
pada Pemegang Kesempurnaan
pada penunjuk Jalan Pulang

aku kembalikan
dendam pada Penyabar
salah pada Pembenar
benci pada Penyayang

maka tunjukkanlah
Lurus
Lapang
pada jalan yang kutempuh
pada langkah yang kuambil
pada debar yang kuputuskan

Maka akan kaulihat api yang membakar hatimu perlahan memadamkan dirinya sendiri. Gemuruh akan pelan-pelan meredakan dirinya kembali. Lalu pecahlah balok es dalam kepalamu—menjelma kesejukan yang menuruni bukit hatimu, yang tak pernah kaurasakan di belahan bumi manapun.


Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014
—08:52 am
*Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar