: Diriku
Jangan pernah ragu untuk berjalan di atas
kakimu sendiri—meski barangkali kau kini tengah sendiri, enyahkanlah ketakutanmu! Barangkali benar
jika rival paling tangguh dari ketakutan
adalah perlawanan atas ketakutan itu sendiri.
Dan kau tak perlu cemas. Kau
tak sendiri. Ada aku yang selalu menemani langkahmu, ke manapun kau memijak.
Ah. Sesekali, cobalah untuk tertawa dan menari di atas bumi yang sering menyakitimu ini. Berbahagialah.
Kau tahu? Bahwa sebetulnya kebahagiaan itu tak perlu kau cari ke mana-mana. Ia ada pada dirimu sendiri.
Maka mari kita bernyanyi
bersama, dengan lagu-lagu apa
saja.
Tunjukkanlah pada dunia, bahwa kau punya keberanian.
Dan kau bukan pengecut yang
berteriak dan meringkuk ketika tiba-tiba ada yang menatapmu! Maka percayalah, aku tak akan pernah
beranjak dari sini, untuk menemanimu: Abaikan saja ancaman-ketakutan-tentang-masa-depan.
Sebab sesungguhnya persoalannya bukanlah
masa depan tetapi masa kini.
Masa depan adalah apa saja
yang kita peroleh dari masa lalu. Sementara masa kini adalah masa lalu bagi
masa depan kita—konsekuensi atas perbuatan kita sekarang.
Sampai kapanpun, aku akan
tetap ada di sampingmu. Barangkali aku akan pergi, sesekali menikmati es krim atau rebahan sejenak di atas awan-awan yang lembut. Tetapi jangan cemas,
aku segera
kembali ke hadapanmu manakala
kau lupa. Dan kau boleh memanggilku kapan saja. Maka kenalilah aku: Sesungguhnya aku adalah suara hatimu dan kau adalah yang memilikiku.
Dan bila kita tidak pernah bertemu, mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bisa bertemu. Tetapi kita ditakdirkan untuk bersama.
Aku akan tiba saat kau memanggilku, itu pun sebatas suara belaka. Kita hanya
bisa bercakap di suatu ruangan khusus, mungkin saat malam hari, atau saat kau
mulai merasa kesepian.
Sementara setelah percakapan kita selesai, seperti
biasa, aku akan pergi lagi dan hanya
bisa mengawasimu dari kejauhan....
Dan mungkin aku akan tertawa bangga ketika kau melangkah di jalan yang tak keliru.
Lalu, saat keyakinanmu mulai tumbuh-membesar di dadamu, dan kau mulai berani
melawan ketakutanmu sendiri, maka pada saat itu barangkali kau akan
melupakanku. Tetapi biarlah,
aku tetap bangga,
tentu saja.
Maka nyalakanlah cahaya matamu saat kau
berjalan sendiri dalam kegelapan. Kuyakin, kau tak mungkin tersesat. Dan jika
saat itu tiba, sementara aku sudah terlalu tua, yakinlah, aku telah siap jika sewaktu-waktu Dia menyuruh kita berdua
untuk pulang ke RumahNya.
Stembel,
Selasa, 25 Februari 2014
—01:07 am
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar