Kamis, 16 Mei 2013

Bapak Calon Kepala Desa yang baik,

Nanti apabila Bapak berhasil terpilih menjadi kandidat terkuat dan memiliki suara terbanyak kemudian menjadi pemenang pemilihan umum calon kepala desa di desa kami, kami harap Bapak tidak melupakan kami, sebagai pendukung setia Bapak.

Harapan kami sederhana: Nanti apabila Bapak dilantik bersama perangkat-perangkat Bapak yang lain, jangan sampai sedikitpun Bapak berpikir bahwa Bapak adalah orang nomor satu di desa kami. Sebab jika demikian, kami sama sekali tidak meridhoi Bapak sebagai Kepala Desa kami. Tetapi kami mengerti Bapak orang pintar dan berpendidikan. Kami berpesan kepada Bapak: Jangan sampai Bapak melupakan kami!

Kami percaya Bapak adalah orang baik dan bukan termasuk golongan orang-orang yang pura-pura baik sebagai pencitraan belaka seperti orang kebanyakan yang ingin mencalonkan dirinya sebagai pemimpin masyarakat. Jangan, Pak... jangan!

Dan apabila Bapak sudah duduk di kursi berlabel ‘Kepala Desa’, kami harap Bapak tidak melupakan visi-misi Bapak: “Bersama Kita Membangun Tegalrejo sebagai Desa Berekonomi, Budaya, Pendidikan dan Olah Raga yang Berwawasan Lingkungan”. Semoga Bapak tidak lupa itu, tentu saja. Sebab biasanya, pemimpin zaman sekarang selalu mementingkan urusannya sendiri—menggelembungkan uang rakyat untuk anak-istri.

Lalu jika Bapak berlaku adil terhadap kami, tentu saja kami akan selalu ada di belakang Bapak untuk melindungi Bapak dari marabahaya sekaligus mendukung kinerja Bapak: Apa saja yang terbaik untuk desa kami ke depan, kami mendukungnya.

Maka sekali lagi, jangan sampai Bapak mengotori kepercayaan kami. Jangan melupakan kami, atas nama anak yatim, yang terlalu jarang bisa menikmati jajanan-makanan enak yang cuma bi(a)sa kami lihat di televisi. Jangan melupakan kami, atas nama manusia lanjut usia, yang selalu dianggap sebagai pemalas dan pembuat repot negeri. Jangan lupakan kami, atas nama remaja, yang banyak membuang sebagian besar umurnya untuk keluar kota mencari kerja sebab tak ada yang bisa diandalkan di desa. Jangan melupakan kami, atas nama rakyat miskin, yang melulu tak pernah punya penghasilan cukup.

Dan jangan sampai sekali-kali Bapak melupakan kami, keluarga besar manusia yang hidup di desa yang Bapak pimpin. “Kullukum ro’in wa kullukum mas’ulun an ro’iyyatih...”. Sungguh, kelak kepemimpinan Bapak akan dipertanyakan di masa setelah dunia. Maka jangan sampai mengacak-acak kebanggaan kami sebagai keluarga besar manusia yang hidup di desa ini: Seluruh manusia yang hidup di bawah kepemimpinan Bapak sedang menunggu kabar gembira dari Bapak.

Atas nama seluruh rakyat yang berpijak di desa yang sekarang sedang Bapak pimpin, kami menyerahkan amanat kepada Bapak!

Tegalsari,
Kamis, 14 Maret 2013

10:08 pm
Aku selalu mencintai momen pertemuan sepasang remaja yang berhasil menemukan jawaban atas rahasia perasaannya: Kamu dan aku. Di manapun kakiku memijak, ingatan itu selalu mengguyur hatiku—menjatuhkan hujan kenangan dalam ingatanku. Kenanglah, Sayangku... saat-saat kita memutuskan untuk membuat skrip cinta milik kita sendiri. Di Februari.

Canda,
sampai kapan pun aku tetap mengingatnya
: langit mengeruh, matahari bersembunyi,
senja itu tak seperti biasanya

kamu jadi keluar?” tanyaku
sementara bibir cahaya senja pelan-pelan menyedikit
bayangan wajahmu menekan-tekan handphone
tergambar jelas di kepalaku
tak tahu,” jawabmu singkat

aku membayangkan kita bertemu
aku membayangkan senyummu
aku membayangkan obrolan apa untuk pertemuan kita
aku membayangkan pertemuan kita—nanti malam

ah, kapan lagi kalau tak saat ini? batinku
kenapa?”
tidak apa-apa,” jawabanmu menyamarkan rencana
sekaligus menumbuhkan ajakan sederhana,
ikut saja denganku,” kataku

kemana?”
ke mana saja. kita berdua.”
aku tak tahu pasti bagaimana ekspresimu waktu itu
tapi bayangan bahwa dirimu bahagia
bias aku simpulkan dari caramu menimpali pernyataanku
tentu saja....”

lalu azan maghrib mengajak kita mengingatNya pada tempat yang berbeda
gambaran mata langit menyipit mengabadikan semuanya

sampai kapan pun, Canda,
aku tetap mengingatnya
: dua remaja mengobrol di teras
selepas hujan di Februari yang deras,
lalu halaman waktu yang lebar
meleluasakan jalannya malam

kamu duduk, aku berdiri tepat di depanmu
suasana masih dengan lantunan katak
malam itu bulan tak terlalu tampak
hanya lampu-lampu kota—menambah terang dunia
aku suka kita di sini,” kataku
kamu tersenyum senang, aku melihatmu
sekali lagi dengan perasaan gemetaran dalam hati, aku menanyakannya
aku mencintaimu, dan ingin mengikatmu. bagaimana denganmu?” tanyaku hati-hati
tak ada yang lebih membahagiakan dari jawabanmu malam itu...
aku ikut perasaanmu,”
kau tersenyum, aku tersenyum
: sepasang remaja yang berbahagia setelah mengungkapkan perasaan cintanya—
dengan caranya

tak ada yang lebih mendamaikan, tentu saja
dari suaramu yang indah dan senyummu yang manis
: seperti februari yang gerimis

Demikianlah, Sayangku, tak ada yang lebih istimewa dari cerita kita: Dua remaja yang saling mengikat dengan keyakinan di bawah gugusan hujan. Kini, simpul itu tetap seperti dulu—yang kugunakan untuk mengikatmu. Di Februari.

Jika mencintai adalah tentang ‘usaha’, aku akan berusaha mencintaimu dengan caraku. Barangkali hingga tiba waktunya: Bersama keluarga, aku akan berkunjung ke rumahmu—untuk melamarmu. Tunggulah aku di depan pintu.

Blokagung,
Jum’at, 29 Maret 2013

10:26 pm
“Sayang, seminggu lagi kamu ulang tahun, kan? Kamu ingin minta apa?” tanyamu.

“Aku belum ingin apa-apa,” jawabku lalu tertawa kecil.

Aku mengencangkan tali sepatu. Kita siap berangkat sekolah. “Sudah siap?”

Kamu tersenyum, “Sudah.”

Di perjalanan kamu bertanya lagi. “Kamu beneran tidak ingin apa-apa?”

“Eh? Tidak,” aku menggeleng.

Jalanan masih sepi. Pukul enam kita berangkat. Suasana kota memang belum memperlihatkan wajahnya. Matahari masih enggan. Di perempatan, riuh pasar masih terdengar. Sejumlah orang terlibat tawar-menawar.

Sejujurnya, jika seribu orang bertanya kepadaku: Kamu ingin kado apa untuk ulang tahunmu? Sebentar lagi kamu ulang tahun. Minta kado apa? Dan seterusnya... maka aku ingin menjawab seperti yang barusan kukatakan padamu, Aku tak ingin apa-apa. Tentu saja. Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak terlalu berharap kepada orang lain yang telah atau belum kita kenal.

Kau tampak tidak suka mendengar jawabanku. Aku mengerti. Terang saja, aku kekasihmu dan kamu kekasihku. Tentu kita ingin memberikan kado apa saja yang terbaik untuk seseorang yang kita cintai. Bahkan tidak jarang segala sesuatunya selalu tampak berlebihan untuk ukuran manusia normal yang tidak sedang jatuh cinta.

“Ya sudah,” kamu melingkarkan tangan ke tubuhku.

Suara klakson kendaraan dibunyikan. Ah, rupanya kita sedang berada di depan mobil yang ingin belok. Suasana lampu merah memang seperti ini. Perempatan yang tidak pernah benar-benar kita mengeri. Mengapa mesti ada lampu merah-kuning-hijau di sini? Untuk apa kita menurut jika dipaksa berhenti dari kesibukan kita sendiri? Belum lagi, Polantas yang tidak pernah mau mengerti dengan keadaan kita yang mendesak. Apa perlunya helm? Apa perlunya lampu dihidupkan di siang hari?

Apa gunanya semua itu?

Untuk menjaga keselamatan dan menghindar dari risiko kecelakaan? Ah, ini nyawa kita sendiri, kan? Hidup dan mati sudah ditentukan.  Apa urusannya dengan mereka?

***

Sementara kehidupan kota baru saja dimulai. Orang-orang berpakaian rapi sedang mengemudi. Buruh-buruh pabrik melangkahkan kakinya di gigir jalan kota yang panjang. Kendaraan berhiliran. Jam setengah tujuh kehidupan kota sudah bersalin rupa menjadi objek perjalanan hidup sebagian besar manusia.

Tanganmu masih melingkar. Kini semakin erat. Entah perasaan apa yang membimbing tangan kiriku memegang tanganmu. Ada debar yang terasa... Ada ketenangan yang tercipta.

“Kamu tidak perlu memberikan apa-apa kepadaku,” aku berusaha menenangkan perasaanmu, “Kita bisa merayakan ulang tahunku bersama-sama, kan? Jalan-jalan keliling kota, misalnya.”

Semoga kau bisa menerima pernyataanku. Aku tidak ingin membuang-buang uang orang lain hanya untuk urusan pribadiku. Memang uang tidak akan sepenuhnya dibuang lantas hilang, ia ditukar benda dengan wujud lain. Tetapi apa bedanya? Menukar uang dengan sebuah benda untuk kemudian diberikan kepadaku hanya akan membuat kesenanganku sendiri, kan? Sementara orang lain hanya bisa merasa lega setelah melepaskan keinginannya untuk memberi sesuatu kepadaku. Lebih baik kita rayakan bersama saja.

“Eh, iya, aku setuju.”

Ah ya, itu lebih baik. “Waktu memang tidak pernah tua, Sayang. Tetapi ia selalu menjadi subjek yang bisa menyulutkan sumbu usia kita. Seringkali kita tidak sadar dengan usia kita yang semakin hari semakin mengurang. Orang-orang kebanyakan selalu tampak bangga dengan bertambahnya angka dalam usia mereka.” Kamu mendengarkanku berbicara, “Maka aku tidak ingin menghilangkan sepersekian detik umurku untuk mengharapkan sesuatu-benda-hadiah dari orang lain, termasuk kamu.”

Seperempat jam lagi jam tujuh. Kita sudah sampai sekolahan.

Di parkiran, kita memulai kehidupan kita seperti biasanya: menjadi anak remaja yang menularkan senyumnya terhadap kekasihnya. Kedipan matamu, jabat tanganmu, senyummu, dan suaramu menjadi pengganti uang sakuku di sekolahan. Tak ada yang lebih baik darinya.

Dan aku tidak akan pernah bosan berkata kepadamu: “Pulang sekolah aku tunggu di sini.”

Jadi, kado apa yang kamu inginkan dari seseorang untuk ulang tahunmu seminggu lagi? Tak ada. :-)

Tegalsari,
Kamis, 14 Maret 2013

11:25 pm
saat siang
matahari enggan
langit tertutup kabut
dahi langit berkerut

tumpukan debu
dicuri angin
terburu-buru

daun mangga
daun mangga
di depan rumah
gugur
kakek tidur mendengkur

dari balkon
wajah langit keruh
di mulut gang
plastik hitam melayang

uh, umpatku
kaki
kaki kecil
hujan jatuh
dunia bergemuruh
anak kecil bermain di depan rumah
pengendara sepeda berteduh

Blokagung,
Kamis, 7 Maret 2013

10:29 am
kau serupa sekolah kota
api berburu ilmu menyala
gedung-gedung tinggi
mencakar langit milik dunia

ya rabbi bilmushtofa
balligh maqoo sidaanaa
manusia berseragam rapi
berdiri

waghfirlanaa mamadho
ya waasi’al-karomi
kucing hitam
menyendiri

dua orang berbaju hitam
menjaga gerbang
tatapannya
garang

waktu menyempit
bunyi peluit menjerit
sembilan anak yang lain
terbirit

pintu pagar dikunci
satu-dua anak pergi
tujuh yang lain
menepi

dua ribu saja, kata orang itu
mereka menjawab
ya
tentusaja!

Blokagung,
Jumat, 15 Maret 2013
09:09 am

Selasa, 14 Mei 2013


Aku melihat kembali kalender tahun lalu di kamarku. Ada satu kebahagiaan yang menyelinap seketika ke sekujur tubuhku—mempercepat kemudi detak jantungku. Angka 4 dalam bulan Februari menjadi momen penting sekaligus membahagiakan: Ya. Dari sana perjalanan kita bermula—

***

Hari ini adalah hari ke-365... bulan ke-48... tahun pertama, sejak aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadamu dan kamu menerimaku: Ya, aku mengingatnya! Aku bahagia mengenalmu.

“Malam nanti ada festival band se-Banyuwangi di lapangan Maron, Genteng. Kamu tahu?” waktu itu kamu bertanya melalui SMS.
“Benarkah?” aku sedikit terkejut, “Kamu ntar ke sana?” sambungku, balik bertanya.

“Kalau jadi, aku ke sana. Masku jadi panitia dalam acara tersebut dan aku diajak.”

“Oh, ya sudah. Gampang,” sejujurnya aku tidak tahu mengapa harus membalas pesanmu dengan kalimat itu.

Tapi untunglah kamu menangkap maksudku, dan, “Kamu mau lihat?” tanyamu.

“Insya Allah,” aku senang mendengarnya tersebab, barangkali, inilah kesempatanku untuk bertemu denganmu.

Dalam benakku, aku sudah merencanakan segala sesuatu untuk merayakan pertemuanku denganmu: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.

Tentang perjumpaan kita nanti malam, aku sudah menyiapkan pakaian mana yang cocok kukenakan. Sementara semua rencanaku telah kusiapkan, di luar hujan.

 Ah, bagaimana ini? Mengapa harus turun hujan? Umpatku dalam hati. Perasaanku sedikit terguncang. Ada kekhawatiran yang entah bagaimana caranya mulai menjalar ke dalam diriku. Dan pertanyaan itu menyerbuku: Bagaimana jika hujan sore ini tak kunjung berhenti?

***

Sore itu aku masih duduk di teras rumah—menatapi hujan yang tak kunjung reda. Dalam hati, aku merapal doa dalam-dalam, “Tuhan, hentikan hujan hingga nanti malam.”

***

Ping!

Satu pesan diterima. Darimu.

“Ternyata festival band-nya bukan malam nanti, melainkan besok. Untuk nanti malam, Masku cuma persiapan.”

Aku bingung mau menjawab bagaimana. Sementara, jam sudah menunjukkan pukul 06:15 pm. Akhirnya kuputuskan untuk meneleponmu saja—

“Halo? Bagaimana? Malam ini kamu nggak bisa keluar?” tanpa basa-basi aku langsung menyodorkan pertanyaan.

“Nggak tahu juga. Kayaknya enggak deh, orang festivalnya nggak jadi sekarang kok. Lagipula sekarang juga hujan; nanti di Maron aku juga mau ngapain?”

Kita diam...

Maka aku berpikir, apakah malam ini kita tidak bisa bertemu?

Tiba-tiba aku ingat bahwa hari ini, Sabtu tanggal 4 Februari, adalah hari terakhir kamu di sini. Besok, pagi-pagi sekali kamu mesti pulang ke Gresik. Lalu, ah ya, aku teringat kembali rencanaku untuk merayakan pertemuanku denganmu: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.

“Ya sudah, ntar kamu sama aku saja,” gurauku, mencoba merayumu.

“Mau ketemu di mana memangnya?”

“Di mana saja. Asalkan kita ketemu!”

“Ya sudah. Gampang.”

“Oke, aku berangkat sekarang...”

Ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Maka, apakah malam ini kita tidak bisa bertemu? Rupanya bisa! :-)
***

... Sampai pada akhirnya kita berjumpa...

“Hai!” aku tersenyum.

Kamu hanya tersenyum lantas mempersilakan masuk, “Ayo, masuk!”

Dari awal, aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku sebab pertemuan kita malam ini. Aku menantikan semua ini terjadi: Menyapamu atau tersenyum kepadamu atau sekadar menanyakan keadaanmu lalu memulai percakapan yang tidak biasa.

Malam ini telah berhasil membuatku bahagia—barangkali kamu juga.

“Aku nggak menyangka kita bisa bertemu—berdua saja,” kita tertawa.

***

Malam itu kita duduk berdua. Hujan sudah mulai reda. Lamat-lamat suara katak terdengar berirama. Suara Mas Habib yang menyuruh kita masuk ke dalam rumah terdengar di telinga. Sementara, cerita kita baru saja bermula.

***

“Mungkin cukup dulu, ya? Aku mau pulang,” aku pamit.

“Iya,” kamu tersenyum. Ah, senyum seperti inilah yang selalu aku tunggui... aku nikmati.

Seperti tatakrama tuan rumah terhadap tamu mana pun; kamu mengantarku sampai teras depan.

“Bagaimana tentang kita?” sebelum meninggalkanmu, aku memulai percakapan kita yang tak biasa. “Sesuai obrolan di SMS tadi pagi: Maukah kamu jadi pacarku?”

Kamu diam saja.

“Nggak mau, ya?” candaku segera.

“Emangnya kamu yang dikasih pertanyaan?” matamu sedikit melototiku.

“Ha-ha-ha! Ya sudah, begini saja; kamu pilih A atau B? Kalau A berarti, kamu mau. Dan kalau yang B, berarti sebaliknya.”

Tapi kamu masih diam.

“Yang B-kah?”

“Hah? Enggak!” kamu terlihat lucu dengan ekspresimu semacam itu.

“Lantas?”

Untuk beberapa saat aku memutuskan diam sebab dari tadi kamu juga hanya diam.

Tetapi, ah, aku tidak bisa diam terlalu lama, ternyata. Hanya beberapa saat usai pertanyaan terakhirku, aku kembali menyodorkan pertanyaan kepadamu.

“Ayolah, kesimpulannya gimana? Yang A?”

Kamu mengangguk dan tersenyum.

Melihatmu tersenyum, aku juga ikut tersenyum untuk selanjutnya tertawa. Dan, kamu juga tertawa. Kita berbahagia malam itu.

Sementara, hujan masih menjatuhkan rinainya. Sudah pukul sepuluh lebih.

“Sudah larut malam, aku pulang, ya...” Sekali lagi aku pamit.

“Iya, ini dibawa! Kasihan kamu. Ntar kedinginan,” kamu menyodorkan syal warna biru untuk kubawa pulang.

“Makasih, ya...”

Kamu mengangguk, “Sama-sama.”

***

Demikianlah, Sayangku, sempurna sudah malam itu.Aku bahagia! Terimakasih untukmu yang telah sudi menemaniku.

Malam itu, akan tetap kuingat: Pertama kumemanggilmu ‘Pin’; menanyakan kapan kamu pulang; kedinginan; waktu kamu melepas jaket untuk kamu berikan padaku tapi aku menolak; suara Mas Habib; suara Mas Zaky; kepastian; dan semuanya tentangmu akan tetap teringat baik dalam memori otakku. Sementara hujan, ia selalu menjadi alasan lain untukku bisa mengenangmu.

... Lalu angka 4 dalam bulan Februari menjadi momen penting sekaligus membahagiakan: Ya. Sebab dari sana perjalanan kita bermula—

Hari ini adalah hari ke-365... bulan ke-48... tahun pertama, sejak aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepadamu dan kau menerimaku: Aku mengingatnya, Sayangku,aku bahagia mengenalmu. ;-)

Tegalsari,
Ahad, 03 Februari 2013
—10:28 pm

Matahari, aku menginginkan kau pergi siang ini.
Meninggalkan kami
yang tersumbat emosi.
Kadang-kadang aku justru terasa jengkel sekali
jika terus-menerus kau menyirami kami
dengan terikmu yang pasi.
Jadilah kini kami,
emosi itu datang berkali-kali dalam waktu sehari.
Matahari... ah, pergi sajalah kau dari sini!

Tegalsari,
Senin, 07 Januari 2013
10:22 am

Apakah kau pernah diam-diam menikmati senja yang tak lagi mirip seperti biasanya—mengumbar rona merah tua?
Laksana senja kini:  semburat kabut terbentuk berselimut redup.
Genang air sisa hujan masih belum juga surut.
Serinai-dua gerimis masih jatuh, pelan dan luruh.
Tak tahu karena apa.
Entah mungkin karena memang ada sisa di atas sana?
Ah, senja gelap tak seperti biasanya!

Tegalsari,
1 Januari 2013
05:42 pm

: Kepada Canda

Baik, bagaimana kabarmu, Canda? Aku tidak tahu di mana kau membaca surat yang kuberikan ini; apakah kau membaca di sekolah, di tepi sungai atau di tempat lesmu(?) Aku tidak tahu. Tapi yang kuharap kau membacanya sendirian dalam kamar. Hari ini aku mengirimkan kembali surat untukmu: Bacalah, Canda.

Begini, akhir-akhir ini aku sering merasa gugup menjalani (ke)hidup((an)ku. Aku bingung. Aku merasa bahwa hidupku ini benar-benar melelahkan... membingungkan untuk diteruskan. Juga, aku merasa kehidupan ini mestinya tidak perlu lagi dilanjutkan. Entahlah.

Aku limbung, Canda. Makanya, hari ini aku memutuskan menulis surat dan mengirimkannya kepadamu. Sekadar berbagi saja.

Tapi sengaja, surat yang kubuat saat ini sedikit berbeda dari biasanya. Bukan tentang cinta-kangenku padamu—bertanya kapan kita bisa bertemu, lebih dari itu, Canda. Ini tentang keadaanku sendiri yang beberapa hari membuat dadaku selalu terasa nyeri.

Sebelumnya aku minta maaf, lalu kusambung dengan ucapan terima kasih: (1) Maaf sebab kurasa kau sedikit terganggu mengenai keluh kesahku ini, (2) dan terima kasih sebab, kau mau membacanya.

Canda, apakah kau pernah berpikir tentang dunia ini? Maksudku, berpikir tentang mengapa di dunia ini diciptakan dengan begitu banyak problematika yang tak kunjung usai dan reda. Ini hanya tentang ‘mengapa’.

Saat ini aku sedang mengalami keadaan semacam itu. Aku bertanya-tanya. Mengapa di dunia ini dirancang seperti ini: Ada perbedaan dan pertikaian. Mengapa harus ada orang jahat? Mengapa harus ada benci? Mengapa harus ada kebohongan, kemunafikan, keburukan, dan semacamnya? Mengapa semua itu harus ada?

Apakah kau sempat berpikiran seperti yang kupikirkan itu, Canda?

Aku membayangkan, sepertinya dunia ini akan lebih damai jika tidak ada keburukan semacam itu, kan, Canda?

Ini terlepas dari ajaran agama kita, Canda. Di sekolahan kita, barangkali pernah diajarkan tentang masalah ini. Kata Bapak Rudiman, dalam pelajaran agamanya beliau bertutur, “Perbedaan adalah rahmat.” Kau tentunya masih ingat, kan?

Aku yakin kau masih ingat. Saat itu bel jam ke tiga berbunyi. Bapak Setyo masih memberi soal untuk pekerjaan rumah. Teman kita, Andi, Riko, dan Maman masih berdiri di depan karena tadi pagi saat pengumpulan PR, mereka belum selesai.

“Andi, mana PR-mu?” tanya Pak Setyo dengan mata melotot.

“Be.. belum selesai, Pak.” Jawab Andi gugup.

Teman sebangku Andi, Riko, juga ditanya. “Kamu, Riko, PR-mu mana?”

Riko yang setiap malam tidak pernah belajar dan sering keluyuran menjawab dengan muka padam. “Sa.. saya.. ju.. juga belum selesai, Pak.”

Pak Setyo yang terkenal galak langsung memberi hukuman kepada Andi dan Riko. Seperti biasanya, saat PR tidak dikumpulkan, terlebih dahulu Pak Setyo memberi wejangan-wejangan dengan intonasi yang tidak pelan. Kemudian setelah dirasa cukup, Pak Setyo langsung menyuruh mereka berdiri di depan kelas—satu kaki diangkat, telinga ditarik satu dengan tangan, lalu tak lupa juga, lidah mereka harus dijulurkan.

Setelahnya, Pak Setyo bertanya pada murid-murid dengan nada tinggi, apakah masih ada yang tidak mengumpulkan PR? Kalau tidak ada yang mengaku, Pak Setyo akan keliling ke bangku anak didiknya satu per satu—memeriksa anak yang tidak mengerjakan PR. Jika ketahuan, Pak Setyo akan menjemur anak tersebut ke halaman sekolah. Anak yang dijemur tadi harus menuliskan di papan kecil berukuran 1x1 meter begini, “SAYA PEMALAS. SAYA TIDAK MENGERJAKAN PR MATEMATIKA.”

Karena mengetahui hukumannya lebih berat, akhirnya Maman mengakui saja, ia tidak mengerjakan PR dengan alasan sakit perut semalaman. Seperti Andi dan Riko, Maman diberi wejangan-wejangan dengan nada yang tidak bisa dibilang pelan, lalu menyusul Andi dan Riko ke depan.

***

“Kurang lebihnya mohon maaf, anak-anak. Bapak akhiri pelajaran matematika pagi ini, wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh!” Usai memberi soal untuk dikerjakan di rumah, Pak Setyo menutup pelajaran.

***

Bapak Rudiman, guru agama yang santun dan sopan akhirnya masuk ke kelas dengan langkah pelan-pelan. Beliau tersenyum dan membuka pelajaran, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh! Baiklah anak-anak, materi pelajaran agama pagi ini tentang ‘Perbedaan Agama dan Cara Pensikapannya’. Buka halaman 47! Di sana diterangkan bahwa perbedaan di dunia ini sengaja diciptakan agar semua manusia bisa mengambil sisi positifnya....” Pak Rudiman memang terkesan santai dan murah senyum saat belajar di kelas.

Ah, tapi mengapa sampai ke sini, sih! Padahal niatnya tidak sampai sejauh ini.

Sudahlah. Kembali pada niatku: Terlepas dari ajaran agama kita. Jadi, aku masih bingung, mengapa dunia ini terlalu berisik dan selalu saja banyak orang terusik? Semalam, Dadang cerita banyak kepadaku, ia juga bingung. Di rumahnya banyak masalah sepele yang selalu dibesar-besarkan. Katanya, orang tuanya selalu berprasangka buruk terhadapnya. Ia sudah menjalankan tugasnya sebagai anak dengan baik—setidaknya menurutku juga baik—tapi ayahnya selalu memarahinya. Dia kesal.

Tapi jika kuceritakan Dadang di sini, terlalu panjang rasanya. Barangkali berita televisi saja, ya. Siang tadi, beberapa jam sepulang sekolah, aku menyalakan televisi. Aku menonton berita sendiri sambil tiduran di kursi. Di sana, topik beritanya tentang korupsi (ah, lagi-lagi korupsi!).

Barangkali tema sederhana, tapi, apakah kau sempat sebentar saja memikirkannya, Canda? Sekarang ini para penguasa-penguasa negeri ini banyak yang lupa diri. Gelar mereka hanya menjadi kedok. Padahal sejatinya mereka tak ubahnya seperti bandit dan pencuri! Itulah pemimpin saat ini. Uang negara mereka simpan sedikit-sedikit di saku celana belakang yang sengaja dibikin sempit. Lihatlah, biaya pembuatan toilet saja dianggar 2 milyar! Bayangkan, Canda, ketika mereka mendiskusikan anggaran sebanyak itu, apa yang sedang mereka pikirkan? Menurutku mereka semua sudah benar-benar melupakan amanat yang dititipkan dan bisa saja mereka memang tidak memikirkan kemajuan bangsa... kemakmuran rakyatnya.

Setidaknya itu yang aku lihat dalam televisi. Dan dunia seperti inilah yang tak kusuka, Canda. Aku bahkan ingin hidup sendiri bersamamu, keluarga besar kita, dan semua orang baik di dunia ini di suatu tempat. Di mana saja. Asalkan kita hidup di dunia kita: Dunia yang berkeluarga baik, bertangga baik, dan, tentu, aku sangat berharap kita dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Barangkali cukup suratku kali ini, Canda. Akhir pekan aku ingin bertemu denganmu. Semoga kau setuju. :-)

Salam dariku,

Mata


Tegalsari,
Ahad, 6 Januari 2013
05:03 pm