Kemarin tanggal 15 Februari 2014 bertepatan
hari Sabtu, mahasiswa Staida dari program Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia (PBSI) mengadakan kegiatan Bedah Buku Antologi Puisi dan Diklat
Kepenulisan Cerpen yang dimentori oleh Mas Bandung Mawardi dan Mas Pri dari
Solo. Acara berlangsung baik dan lancar, serta menyenangkan.
Sesekali dalam penuturannya, Mas Bandung
menyematkan humor. Seperti biasanya, beliau memang kocak.
Aku sendiri baru sekali kemarin bertemu dengan
Mas Pri. Sementara Mas Bandung, bulan Januari lalu aku bertemu dengan beliau di
UNS, Solo, dalam kegiatan Studi Sastra. Dari pertemuan itu, aku mendadak
ngefans dengan beliau.
Kembali ke seminar kemarin.
Kebetulan dalam acara itu aku menjadi salah
satu panitia. Senang sekali rasanya ketika mengadakan seminar dengan mentor
seorang sastrawan terkenal seperti Mas Bandung. Di tengah acara, beliau keluar
ruangan—mungkin karena gerah. Dan kebetulan juga, saat itu aku tengah
duduk-duduk di depan ruangan.
Aku sempat basa-basi dengan beliau. Saat
kusodorkan buku dan pena untuk meminta tanda tangan, Mas Bandung mengelak dan
mengatakan, “Halah, ndak usah. Ketemu orangnya saja kan sudah
cukup. Masa kamu mau ketemu sama tanda tangannya juga? Hahaha.”
Akhirnya niat meminta tanda tangan itu aku
urungkan.
Usai acara kami membubarkan diri. Mas Bandung
dan Mas Pri pulang ke Bapak Nur, kepala jurusan PBSI, untuk istirahat.
Sementara, aku yang sedang rebahan di kantor Bem, ditelepon oleh Mas Qoyum,
ketua panitia seminar tersebut.
“Yu, posisi di mana?” katanya di seberang
telepon.
“Di kantor Bem, Mas.”
“Cepet ke sini, di rumah Pak Nur untuk
berkumpul sama Mas Bandung dan Mas Pri.”
Tanpa pikir panjang, aku segera mengiyakan
lantas berangkat ke rumah Pak Nur bersama temanku, Yusuf.
Sampai di sana, aku pun salaman dengan Mas
Bandung, Mas Pri, dan Pak Nur. Kami bertujuh mengobrol ini-itu sambil
tertawa-tawa.
“Kamu sudah menulis apa belum?” tanya Mas
Bandung ke Yusuf.
“Hehehe, belum, Mas.” Yusuf nyengir, “Tapi
ini, temen saya sudah, Mas!”
Sial. Yusuf menunjukku.
“Opo kowe ki! Kalau mau dikatakan
lelaki sungguhan itu harus bisa menulis! Yen ora, dudu lanang!”
Yusuf celingukan. Kami tertawa. Mas Bandung
lantas menoleh ke arahku dan bertanya, “Bener, kamu sudah menulis?”
Aku tertawa malu sembari mengangguk. Sementara
Yusuf langsung menyerocos seperti sales.
“Iya, Mas! Dia sering nulis di Blogger. Buat
pacarnya!”
Sialan! Mas Bandung tertawa sambil menatapku,
“Iya tho?”
“Eh, Yusup ki ngibul, Mas!” aku berkata
sambil menjitak kepalanya Yusuf. Dia sudah bikin malu. Sambil senyum-senyum,
aku menundukkan kepala. Sesekali menatap Mas Bandung yang masih menertawaiku.
“Ah. Jangan menangis, begitu!” Mas Bandung
meledek. Sontak. Semuanya tertawa—menertawakanku.
***
Empat teman yang lain datang, kemudian kami
makan bersama. Setelah kenyang, kami membentuk lingkaran untuk berdiskusi—berbagi
pengalaman.
“Ayo, yang mau berbagi pengalaman, silakan
langsung cerita. Atau yang mau menanyakan apa saja, silakan,” kata Pak Nur.
Munir, temanku, mengacungkan tangan.
“Mas, saya punya masalah dalam menulis. Kadang,
saya menulis itu tidak pernah selesai. Bukan kadang lagi, ding, tapi
sering.” Munir tertawa. Kami juga, “Kecuali jika saya sedang sedih atau galau,
Mas, baru bisa menulis sampai rampung.” Munir melanjutkan. Mantap.
“Wah, berarti kamu mesti dibuat sedih dulu,
Nir. Bukan begitu, teman-teman?”
Kami serentak mengiyakan dan menertawakan
Munir.
Diskusi di rumah Pak Nur diwarnai dengan tawa.
Mata Mas Bandung kemudian menatap Munir.
Mukanya berubah serius.
“Ehm,” Mas Bandung berdehem. Kami diam
menunggu respon dari beliau. “Seringkali dalam menulis itu masalahnya seperti
kamu: Malas. Kamu selama ini mungkin menganggap bahwa menulis atau membaca
adalah hobi. Padahal salah!”
Kami heran. Sejurus kemudian Mas Bandung
melanjutkan.
“Seperti kita makan atau minum. Setiap hari
kita makan, apa itu hobi? Setiap hari minum, apa itu disebut hobi? Tidak, kan?”
kami menyetujui.
“Semua anggapan bahwa menulis dan membaca adalah
hobi, itu harus diubah! Biasakan setiap hari kita membaca dan menulis. Entah
membaca novel, majalah, koran, atau apapun. Menulislah puisi, cerpen, atau
tulisan apa saja, setiap hari. Maka jika suatu hari kamu tak menulis atau
membaca, maka kamu akan menyesal. Kamu akan lemas, seperti kamu tidak makan.”
Kami diam. Dalam hati, aku takjub.
“Ada lagi?” tanya Mas Bandung.
Teman-teman yang lain ada yang bercerita
tentang kehidupan masa lalunya yang kelam, hingga pada akhirnya disadarkan oleh
buku-buku dan memulai hari-harinya dengan lembaran baru. Ada yang kesulitan
menulis sebab dia acap bingung dalam menuangkan kalimat awalnya. Dan
sebagainya, dan sebagainya.
“Habib, coba kamu. Apa masalahmu?” Pak Nur
menunjuk Habib untuk bercerita kepada kami. Sementara, Pak Nur menyodorkan buku
kosong kepada kami untuk bersedia menuliskan nama, nomer telepon. Bergiliran.
“Gini, Mas. Saya itu seneng
nulis, cuma gak suka baca. Itu gimana, Mas?”
“Waduh! Itu sama saja menggunakan ‘tapi’!”
kata Mas Bandung.
Sebelumnya, salah satu teman cewek bertanya
kepada Mas Bandung.
“Mas, sebenernya, saya itu pengin
nulis. Ketika saya galau, sedih, banyak masalah, saya pengin menuangkan
semua itu ke tulisan. Tapi gak bisa, Mas. Saya lebih suka menulis, tapi
menulis angka-angka—mengerjakan soal Matematika.” Teman cewek tadi bercerita.
Mas Bandung segera menanggapi.
“Ya. Itu bagus. Yang penting kamu terus
mengasah otakmu. Kamu menulis angka-angka, itu bagus. Masalahnya orang lain
bisa mencernanya apa nggak? Bisa memahaminya apa nggak? Menulis
itu bukan untuk kita sendiri. Menulis itu juga untuk orang banyak.”
Mas Bandung mengambil jeda sebentar, lalu
melanjutkan, “Seperti berdoa. Doa yang baik itu bukan doa untuk diri sendiri,
melainkan juga untuk orang banyak. Maka itulah yang kumaksud dari seminar tadi:
Menulis adalah berdoa.”
Dalam hati, aku sepakat. Sejak dulu sebetulnya
inilah modusku. Aku ingin menulis apapun, tetapi bukan sekadar menulis. Aku
ingin berdoa melalui tulisan-tulisanku, seperti kata Mas Bandung. Itu sebabnya,
setiap aku menulis, tak jarang aku menyematkan kata “semoga”, atau melalui
kiasan-kiasan lain—yang jika diteliti, sebetulnya aku tengah berdoa.
“Dan jangan kamu menggunakan kata ‘tapi’
ketika ingin jadi penulis!” kata Mas Bandung meneruskan, menjawab teman cewek
tadi, “Sebab kata ‘tapi’ lebih ganas daripada tumor!”
Aku dan teman-teman menggut-manggut.
Aku melihat HP untuk memastikan pukul berapa
sekarang. 03:15 PM. Rupanya diskusi kami cukup lama dan panjang. Tak terasa.
Semua teman-teman sudah bercerita-bertanya,
sesekali meminta saran kepada Mas Bandung. Tinggal aku yang belum. Ruangan
menjadi diam sejenak sebelum akhirnya Mas Bandung mengajukan pertanyaan kepada
kami, “Ayo, siapa lagi?”
“Ayo, Wahyu, silakan. Terakhir.” Pak Nur
menunjukku.
“Eh,” aku membetulkan posisi duduk, kemudian
memulai bercerita.
“Begini, Mas. Sejak saya kelas dua Aliyah,
saya dan teman-teman sering menggiatkan kegiatan tulis-menulis semacam buletin
atau mading—yang sering digunakan untuk mengritik sekolah. Seperti buletin
Graps yang sampean baca tadi, sebetulnya itu adalah lanjutan dari mimpi
saya dan teman-teman.”
Mas Bandung memerhatikanku.
“Persoalannya satu, Mas: Saya malu dengan
tulisan saya. Maksud saya, saya malu ketika tulisan saya dibaca orang lain. Nggak
jarang saya menyembunyikan identitas saya. Bahkan parahnya, sampai sekarang,
saya masih tak punya cukup keberanian untuk mempublikasikan identitas saya.”
Teman-teman yang lain menoleh ke arahku,
mendengarkan.
“Solusinya, gimana, Mas?” tanyaku
kepada Mas Bandung.
Beliau menatapku dengan punggung yang agak
dibungkukkan. Matanya menatap tepat ke arahku. Tajam.
“Jadi masalahmu malu, ya?” mata Mas Bandung
seperti menerawang ke masa lalunya.
“Kamu tahu? Dulu, sejak aku kecil hingga
remaja sepertimu, aku juga malu. Aku adalah anak yang pemalu.”
Ruangan jadi hening ketika Mas Bandung
berhenti berkata untuk beberapa saat. Kami masih menanti beliau untuk berkata.
“Aku berasal dari keluarga miskin. Seragamku
SD tak pernah ganti mulai hari Senin sampai Kamis. Jumat baru ganti sebab hari
itu wajib memakai batik. Buku-buku tulis milikku adalah bekas hasil dariku
mengumpulkan kertas-kertas sisa dari temanku. Dan aku malu!”
Aku memerhatikan dengan saksama.
“Tetapi aku berpikiran, buat apa malu? Ini
yang aku punya. Kenapa harus malu?”
Baiklah, soal “malu”, aku dan Mas Bandung sama-sama
memiliki. Bedanya, aku malu karena tulisanku, sementara beliau malu karena
kebutuhan ekonomi.
“Kemudian aku mulai jatuh cinta dengan membaca
dan menulis ketika aku kelas dua SMA. Aku mengetik tulisan pinjam komputernya
kakakku. Itupun harus di atas jam 10 malam, menunggu anak-anaknya tidur. Aku
menulis dan terus menulis. Kusematkan namaku dalam tulisan itu. Sebab aku tahu,
dalam setiap nama selalu mengandung biografi.”
Aku manggut-manggut.
“Kemudian tulisan-tulisanku dimuat dalam
koran-koran. Namaku terpampang di sana. Dan sekarang apa yang terjadi? Aku
berada di sini, bersama kalian. Itu lantaran tulisan, yang di dalam tulisanku
tertera namaku, biografiku. Maka jangan malu. Cantumkan saja namamu. Lama-lama
orang akan mengenalmu. Lama-lama orang akan mencarimu. Kamu akan diundang ke
berbagai daerah untuk mengisi acara-acara. Dan itu menyenangkan! Kita bisa
berbagi.”
Mas Bandung tersenyum. Aku dibuat takjub. Kami
manggut-manggut.
“Kelak, jangan kaget, ketika dengan tulisan
kamu akan dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah kamu
kenal. Dan jangan kaget pula ketika kamu diberikan rezeki, hadiah, atau apapun
yang tak bisa kamu tebak dan kamu ramal!”
Untuk sekian kali dalam hati, aku berterima
kasih pada Tuhan sebab telah mempertemukanku dengan Mas Bandung. Aku suka
dengan kalimat terakhirnya barusan!
“Jadi, apa kalian siap menulis?” tanya Mas
Bandung kepada kami.
“Siaaap!” kami menjawab serempak.
“Siap mengucapkan Bismillah?”
“Siaaap!”
“Untuk jadi penulis?”
“Siaaap!”
“Kalau begitu, sip! Top markotop!
Jos gandos!” Mas Bandung mengacungkan jempolnya.
Pukul 04:25 PM. Tak terasa. Akhirnya tiba
saatnya Mas Bandung dan Mas Pri bersiap untuk pulang. Pak Nur memanaskan mobil.
Kami bersalaman. Mas Bandung, dan Mas Pri masuk mobil—meninggalkan kami.
Sementara Pak Nur mengantar Mas Bndung dan Mas
Pri ke Genteng, aku, Yusuf dan Wahid masih duduk-duduk sejenak di ruang tamu
yang kami buat diskusi tadi. Tak lama, kami lantas berpamit untuk pulang.
Aku menghidupkan sepeda. Yusuf dan Wahid aku
bonceng. Kami pulang.
Di perjalanan, aku tersenyum puas. Batinku
masih berbicara sendiri. “Diskusi dengan Mas Bandung tadi sangat
menyenangkan. Tentang semua pesan-pesannya, mungkin hanya perlu satu kata:
Tindakan!”
“Wah. Seru ya, Yu!” dari belakang, Yusuf
menepuk pundakku. Dan aku mengacungkan jempol padanya. Tanda setuju!
Tegalsari,
Ahad, 16 Februari 2014
—02:01 PM