Minggu, 16 Maret 2014

: Diriku

Jangan pernah ragu untuk berjalan di atas kakimu sendiri—meski barangkali kau kini tengah sendiri, enyahkanlah ketakutanmu! Barangkali benar jika rival paling tangguh dari ketakutan adalah perlawanan atas ketakutan itu sendiri.

Dan kau tak perlu cemas. Kau tak sendiri. Ada aku yang selalu menemani langkahmu, ke manapun kau memijak.

Ah. Sesekali, cobalah untuk tertawa dan menari di atas bumi yang sering menyakitimu ini. Berbahagialah. Kau tahu? Bahwa sebetulnya kebahagiaan itu tak perlu kau cari ke mana-mana. Ia ada pada dirimu sendiri.

Maka mari kita bernyanyi bersama, dengan lagu-lagu apa saja.

Tunjukkanlah pada dunia, bahwa kau punya keberanian. Dan kau bukan pengecut yang berteriak dan meringkuk ketika tiba-tiba ada yang menatapmu! Maka percayalah, aku tak akan pernah beranjak dari sini, untuk menemanimu: Abaikan saja ancaman-ketakutan-tentang-masa-depan.

Sebab sesungguhnya persoalannya bukanlah masa depan tetapi masa kini.

Masa depan adalah apa saja yang kita peroleh dari masa lalu. Sementara masa kini adalah masa lalu bagi masa depan kita—konsekuensi atas perbuatan kita sekarang.

Sampai kapanpun, aku akan tetap ada di sampingmu. Barangkali aku akan pergi, sesekali menikmati es krim atau rebahan sejenak di atas awan-awan yang lembut. Tetapi jangan cemas, aku segera kembali ke hadapanmu manakala kau lupa. Dan kau boleh memanggilku kapan saja. Maka kenalilah aku: Sesungguhnya aku adalah suara hatimu dan kau adalah yang memilikiku.

Dan bila kita tidak pernah bertemu, mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bisa bertemu. Tetapi kita ditakdirkan untuk bersama. Aku akan tiba saat kau memanggilku, itu pun sebatas suara belaka. Kita hanya bisa bercakap di suatu ruangan khusus, mungkin saat malam hari, atau saat kau mulai merasa kesepian.

Sementara setelah percakapan kita selesai, seperti biasa, aku akan pergi lagi dan hanya bisa mengawasimu dari kejauhan....

Dan mungkin aku akan tertawa bangga ketika kau melangkah di jalan yang tak keliru. Lalu, saat keyakinanmu mulai tumbuh-membesar di dadamu, dan kau mulai berani melawan ketakutanmu sendiri, maka pada saat itu barangkali kau akan melupakanku. Tetapi biarlah, aku tetap bangga, tentu saja.

Maka nyalakanlah cahaya matamu saat kau berjalan sendiri dalam kegelapan. Kuyakin, kau tak mungkin tersesat. Dan jika saat itu tiba, sementara aku sudah terlalu tua, yakinlah, aku telah siap jika sewaktu-waktu Dia menyuruh kita berdua untuk pulang ke RumahNya.

Stembel,
Selasa, 25 Februari 2014

—01:07 am
*Gambar dari sini.
Masa laluku, aku ingin belajar mencintaimu seperti dalam ingatanku:

Lelaki kecil yang mengejar perempuan berseragam putih-merah. Lelaki itu mengejarnya dan mendapatkannya. Si perempuan kalah dan menyerah. Tetapi setelah itu, mereka diam saja sembari tertawa-tawa: Mereka tak pernah tahu untuk apa mereka berkejaran. Yang mereka rasakan hanyalah kesenangan; Senang pada kebiasaan berkejaran itu. Dan pada akhirnya, masing-masing kemudian pergi. Si perempuan membeli es di kantin dan mengelap wajahnya yang basah dengan tisu. Sementara si lelaki, ia memilih mengagumi dan mencintai si perempuan tadi dari kejauhan.

Masa laluku, aku ingin belajar memaafkanmu seperti dalam ingatanku:

Dua anak kecil yang bertengkar saat bermain kelereng. Pada saat itu, mereka saling mengolok-olok. Tak mau kalah. Pantang menyapa. Dan pulang dengan dada yang memendam dendam. Esok pagi, ketika akan berangkat sekolah, seperti tak pernah terjadi apa-apa, mereka menuju sekolah dengan tawa dan perbincangan biasa—seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berdua memutuskan menjadi pemaaf dan melupakan semuanya.

Dan aku ingin belajar berterima kasih padamu, masa laluku, seperti dalam ingatanku:

Seorang remaja yang gagal mendapatkan cintanya, tetapi kemudian ia memaafkan dirinya sendiri dan sadar: Kebahagiaan ternyata bukan tentang cinta-siapa-atau-siapa-cinta-yang-kita-dapatkan, melainkan ihwal bagaimana kita berterima kasih pada hal-hal yang tengah terjadi—mensyukuri apa-apa yang diberikan oleh Hidup.

Maka, masa laluku, demi mereka semua yang berada dalam ingatanku, aku akan melangkah!

Tegalsari,
Sabtu, 22 Februari 2014

—09:27 am
*Gambar dari sini.
Canda, kemarilah sebentar, kuberitahu. Duduklah di sampingku. Ini mungkin tak terlalu penting, tetapi biarlah. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu. Kupikir, semua orang pernah mengalami apa yang akan kukatakan padamu ini. Kamu tentu pernah mengharapkan sesuatu, apapun, untuk kamu dapatkan, bukan? Hmmm, ya, tentu saja. Kamu pasti pernah—seperti aku.

Sekarang, kutanya: Bagaimana jika permintaan atau harapanmu tak tercapai?

Ah, ya, pasti kamu kecewa. Kamu pasti kecewa dengan semuanya, Canda. Eh, tapi, bukankah kecewa hanya akan membuat dadamu sesak? Bukankah kecewa adalah jalan untuk terus menjadi pendendam bagi masa lalumu, masa laluku—masa lalu kita sendiri?

Pikirkan baik-baik, Canda.

Barangkali kita pernah kecewa dan mengecewakan orang lain. Maka inilah yang ingin kukatakan padamu. Belakangan aku cukup resah dengan hal ini. Rupanya, selama ini, aku masih sering mengecewakan orang tuaku, Canda. Apa yang mereka harapkan dariku, barangkali belum bisa kuberikan.

Kemarin, sepulang sekolah, Ibuku bertanya padaku apa aku sudah membelikan kotak nasi? Ah, aku baru ingat. Sebelum berangkat sekolah kemarin, Ibuku menyuruh membelikan kotak nasi sebab ada pesanan cukup banyak untuk acara di musala belakang. Dan aku lupa! Padahal, ini mendadak. Acara akan digelar jam 1 siang. Sementara toko yang menjual kotak nasi hanya ada di samping sekolah kita, yang jaraknya dari rumahku 20 kilometer.

Aku mengecewakan Ibuku!

Kemudian sekitar sebulan yang lalu, kamu tahu, kan, aku diutus Bu Yuni, guru Kesenian kita, untuk lomba melukis. Sebetulnya ada 2 calon kandidat yang bakal diutus sekolah. Aku dan Ratih. Tapi Ratih waktu itu sakit. Jadi, aku yang maju.

Lomba berjalan lancar-lancar saja bagiku. Peserta yang mengikuti lomba ada sekitar 15 orang. Setelah selesai melukis, aku menatap hasil lukisanku dengan puas. Bu Yuni pun begitu. Sembari menunggu peserta lain menyelesaikan lukisannya masing-masing, aku berkeliling untuk melihat hasil dari musuhku. Ada yang melukis tanah yang basah, ada yang melukis gunung meletus, lautan, dan lain-lain. Sementara aku, aku melukis perempuan yang menatap senja.

Bu Yuni dan aku sama-sama yakin bahwa lukisanku bakal menang dan juara. Kami senyum-senyum karena yakin. Ya, yakin saja.

Hingga tiba pengumuman juara, aku dan Bu Yuni masih pede kalau lukisanku yang menang, dan sekolah kita jadi juara!

Dan kamu tahu apa yang terjadi? Aku kalah, Canda! Sekolah kita tak jadi juara. Dan Bu Yuni menggeleng-geleng tanda tak percaya. Aku kecewa. Bu Yuni kecewa. Aku tak tahu apakah guru-guru lain juga akan kecewa mendengar ini. Tapi saat pulang dari lokasi lomba, aku mendengar Bu Yuni menggumam pelan pada dirinya sendiri.

“Andai yang aku tunjuk maju lomba adalah Ratih, mungkin hasilnya akan berbeda.”

Bu Yuni tak tahu jika barusan aku mendengar apa yang beliau ucapkan. Aku menundukkan kepala. Menyesal telah membuat Bu Yuni kecewa.

Hari itu, aku menularkan kekecewaan pada orang lain, Canda. Dan itu membuat dadaku nyeri.

Sesampainya di rumah, aku disambut Ibuku dengan sukacita. Ibu menanyakan bagaimana hasil lomba tadi. Aku menceritakan proses lomba dari awal hingga akhir. Ya... hingga akhirnya aku kalah dan Bu Yuni kecewa... .

Aku meminta maaf pada Ibu dan berjanji akan belajar melukis dengan lebih baik lagi. Ini sebenarnya adalah modusku agar Ibu tak terlalu kecewa mendengar hasilku lomba.

Tapi, Canda, aku tak menduga, sebelumnya. Ibuku tak tampak kecewa. Beliau justru memberiku nasihat untuk menguatkan kembali semangatku. Menumbuhkan kembali harapanku. Dan karena nasihat Ibu, aku bisa menegakkan kepalaku kembali—dengan kelapangan menerima apa-apa yang telah sekaligus tengah terjadi.

“Mata,” Ibuku memulai nasihatnya, “Tentang kecewa, barangkali ia pernah—atau selalu—ada dalam hidup kita. Di suatu waktu, kita pernah mengecewakan orang lain: Menyobek hatinya hingga terluka. Dan di waktu yang lain, pernah juga orang lain (tanpa sengaja) mengecewakan kita.

Ibu menatapku dengan senyum penuh ketulusan.

“Lalu orang-orang yang telah kecewa itu—termasuk kita, akan cenderung tak terima, berontak, menyerapahi apa saja, menuntut hal-hal yang tak masuk akal agar keadaan berubah menjadi seperti yang diharapkan... . Tetapi sayang, apa-apa yang telah terjadi tak pernah bisa berubah—seperti yang kita kehendaki: Sungai tetap mengalirkan air ke laut. Dan apa saja yang akan terjadi, tak pernah bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita. Kabar paling baik buat kita hanyalah ‘berencana’, dan ‘menunggu’. Berencana untuk menjadi baik. Kemudian menunggu sampai waktu memberikan jawabannya—sembari berdoa, tentu saja.”

Aku membetulkan posisi dudukku. Dan Ibu melanjutkan kembali menasihatiku, “Dan Tuhan akan membagikan upah atas kerja payahmu.”

“Oooh.” Aku manggut-manggut.

Maka atas kejadian tersebut, tentang kita pernah mengecewakan orang lain, tentu saja sudah bisa ditebak: kita akan merasa bersalah, berusaha meminta maaf atas kesalahan tersebut. Dan bagaimanapun itu tak cukup, Mata. Barangkali kita butuh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu itu adalah: Perilaku yang mencerminkan penyesalan kita, melakukan tebusan, semacam tingkah laku atau usaha yang lebih baik. Dan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Maka tentang kita pernah dibuat kecewa, lupakan saja, Mata... maafkan saja. Sebab pemaafan akan melapangkan jalan kita selanjutnya, meloloskan napas kebahagiaan kita, dan membuat masa depan akan lebih mudah dari sebelumnya, tentu saja.”

Usai mendengar nasihat Ibu, aku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, Canda. Dalam hati, aku percaya, Tuhan pasti akan memberikan upah yang setimpal bagi mereka-mereka yang mau berusaha.

Tegalsari,
Kamis, 13 Februari 2014
—05:54 pm
*Gambar dari sini.
Lihatlah pada jendela
hujan dan badai tengah berpesta
pohon nangka depan rumah patah
: langit di desamu amat muram
sesekali ia terbatuk
hingga anakmu menjerit ketakutan
bahkan kopi hitam yang kauseduh
jadi menggigil demam

: Benarkah kau dan Dia sudah lama
tiada bertegur sapa?

Tegalsari,
15 Maret 2014

--terjebak hujan
*Gambar dari sini.
Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Tiba-tiba, malam ini aku teringat pertanyaan yang kuajukan buat diriku sendiri—mengulang kembali kebiasaan-kebiasaan lamaku waktu kecil. Aku bergelimpungan di atas tempat tidur, menekuri kehidupan yang kujalani akhir-akhir ini: Apakah aku telah menjadi manusia yang didambakan ibunya?

Dadaku sakit, semacam ditohok sesuatu yang berat, entah apa. Jantungku serasa berhenti sejenak. Oh!

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali diingatkan oleh pertanyaan itu. Pertanyaan yang bercokol dalam benakku saat aku masih sekolah dasar dan selalu tiba-hadir ketika menjelang tidur.

Apa yang sebenarnya aku harapkan dalam hidup ini? Hatiku sibuk menerka-nerka. Mataku mencari-cari sesuatu entah yang terselip di antara sudut-sudut kamarku. Pikiranku bertanya-tanya. Jiwaku melayang... .

Aku melihat jam digital yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurku. Jam menjunjukkan angka 23.00. Rupanya sudah larut. Tetapi aku belum mengantuk. Pikiranku masih sibuk sendiri, ingin menjawab pertanyaan tadi. Seolah ia menuntut sebuah jawaban malam ini juga. Ah.

Aku memang sering mengalami kejadian semacam ini. Tetapi itu dulu, saat aku masih sekolah dasar. Kira-kira umurku waktu itu delapan atau sembilan tahunan. Mungkin aku masih kelas empat atau malah kelas tiga. Aku agak lupa.

Malam menjelang tidur, saat itu, aku seolah sedang berdialog dengan diriku sendiri. Yang jelas aku tak sedang kesurupan jin manapun. Ini hanya pertanyaan sepele yang muncul secara tiba-tiba menjelang aku tidur. Dan pertanyaan itu kini kembali datang padaku, menyelinap diam-diam ke kamarku, setelah sekian tahun aku dan pertanyaan itu tak lagi pernah bertemu:

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Oh!

Sementara aku masih belum bisa menjawab, ingatanku terbang dan hinggap ke salah satu peristiwa saat aku berjalan di sebuah jalanan sepi, beberapa hari yang lalu.

***

Ada dua orang yang sedang bercakap-cakap dan bermain catur, di sebuah kedai warung yang sudah tutup.

Sekak!” salah satu dari mereka berteriak ketika mengetahui lawannya salah langkah.

Si lawan tampak panik tetapi buru-buru menyeruput segelas kopi hitam di sebelah kanan papan catur—menenangkan diri. Sejurus dia berpikir keras untuk keluar dari ancaman sang musuh tadi. Dahinya mengernyit. Alisnya hampir bertaut. Ia kemudian tersadar jika rupanya langkahnya dalam permainan tersebut sudah mati lantas menyerah. Kalah.

Sang lawan menyeringai. “Hahaha. Kamu ini! Hidup harus maju, bro. Kalau tadi sudah kalah, sekarang harusnya kamu bisa menang! Tapi kamu kalah lagi dan kalah lagi! Hahaha.”

Aku sudah berjalan cukup jauh dan membelakangi mereka. Sayup-sayup suara mereka berdua semakin pelan... dan tak terdengar. Aku tertarik pada perkataan pemain catur tadi: “Hidup ini harus maju!”

Hidup harus maju?

Aku mengangkat alisku sebelah. Apakah benar hidup ini harus maju? Aku mengulang pertanyaan itu beberapa kali. Sebentar, sebentar. Aku mendapati ada yang ganjil dengan perkataan si pemain catur tadi.

Ah, mungkin aku perlu mengistirahatkan tubuhku dulu, setelah sejak tadi aku berjalan beberapa kilometer, menyusuri jalanan sepi, di sebuah desa, pikirku.

Hingga tiba aku di rumah. Baju yang kupakai basah di bagian belakang, akibat keringat. Aku mengambil air putih di kulkas untuk kucampur dengan sirop. Lantas duduk di kursi panjang ruang tamu, sekali-dua meminum sirop segar yang kubuat barusan. Tegukan demi tegukan kunikmati dan kurasakan.

“Hidup ini harus maju!”

Ah. Aku teingat kembali dengan perkataan si pemain catur tadi. Baiklah, aku menyerah. Aku akan duduk-duduk sebentar untuk memikirkan apa sebenarnya esensi dari ‘hidup harus maju’ itu. Pertama mungkin aku harus mendefinisikan kata ‘hidup’ terlebih dahulu.

Hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: v 1 masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb); 2 bertempat tinggal (diam); 3 mengalami kehidupan dl keadaan atau dng cara tertentu; 4 beroleh (mendapat) rezeki dng jalan sesuatu; 5 berlangsung (ada) krn sesuatu; 6 tetap ada (tidak hilang); 7 masih berjalan (tt perusahaan, perkumpulan, dsb); 8 tetap menyala (tt lampu, radio, api); tetap bergerak terus; 9 masih tetap dipakai (tt bahasa, adat, sumur, dsb); 10 ramai (tidak sepi dsb); 11 seakan-akan bernyawa atau benar-benar tampak spt keadaan sesungguhnya (tt lukisan, gambar); 12 spt sungguh-sungguh terjadi atau dialami (tt cerita)... .

Ah, membingungkan. Pada pengertian pertama soal hidup, KBBI mengatakan bahwa hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja. Misalnya: “Kakeknya masih hidup, tetapi neneknya telah lama meninggal.”

Hmmm, mungkin penjelasan pertama ini bisa kuterima. Aku mengambil bahan ini saja untuk dibahas. Jadi, dari sini, mungkin pengertian hidup bisa lebih dipersempit dalam kalimat seperti ini: Hidup adalah ketika kita masih bisa melakukan apapun. Benarkah? Barangkali.

Tetapi tunggu sebentar. Tadi, kata si pemain catur, hidup itu harus maju. Hei, kenapa harus ‘maju’?

Aku memilih diam sejenak untuk meneguk sirop yang telah habis separuh.

Jadi, kenapa hidup harus ‘maju’?

Saat di sekolah, aku sering mendengar guru-guru bertutur seperti itu. Mereka seolah berperan bagai motivator.

“Eh, soal segampang ini saja kamu ndak bisa!? Bagaimana kamu bisa lulus, hah!? Bodoh! Untuk lulus UN itu kamu harus belajar dan hidup maju! Jika soal kayak gini ndak bisa, kamu gak bakal lulus!” ujar seorang guru pada salah satu murid yang tak bisa mengerjakan soal Kimia, di depan kelas. Murid itu malu dan tertunduk.

Entah kesurupan jin dari negara mana guru tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali guru yang ketika mendapati muridnya tidak bisa satu soal saja, mudah sekali mengatakan muridnya bodoh, tolol, dungu, dan seterusnya, dan seterusnya. Seolah guru adalah manusia paling pandai dan paling baik, di dunia ini. Sampai ada yang menyerapahi muridnya dengan kata-kata yang tak sepatutnya. Padahal, akibat perkataan kotor yang keluar dari lisan seseorang, siapapun, kelak akan menjadi kenyataan-kenyataan, kan?

Tetapi sudahlah. Itu urusan guru itu! Aku tak mau ikut campur. Biarlah ditanggung sendiri. Aku hanya ingin membahas satu soal saja dari perkataan guru tadi: kita harus hidup maju. Kenapa harus maju?

Baiklah, maksudku sebenarnya begini.

Kita mungkin sedang berada dalam labirin. Hidup manusia sejak dulu hanya seperti itu-itu saja. Dahulu ibu kita dilahirkan dari rahim ibunya. Kemudian ibu kita melahirkan kita, anaknya. Lantas, ibu dari ibu kita kemudian meninggal, dan kita melahirkan anak, dan kelak ibu kita meninggal... .

Tentunya sudah bisa ditebak, kan,  bahwa hidup manusia di dunia sebenarnya adalah sebuah daur atau siklus tetapyang tak bisa diubah: Dilahirkan untuk melahirkan, dan kemudian meninggal!

Lalu apakah manusia harus hidup (untuk) maju? Ketika kita menginginkan untuk hidup maju, bukankah yang terjadi adalah malah sebaliknya? Pada saat itu sebenarnya kita tengah hidup mundur—karena jelas, kita akan meninggal, bukan?

Kemudian apa bedanya usia-kecil-remaja-dewasa-dan-tua?

Selama ini kita sering mendengar seperti ini: “Usiamu sudah tua, namun perilakumu masih anak kecil!” atau, “Aku salut denganmu. Kamu masih kecil tetapi perilakumu menunjukkan sudah dewasa.”

Aku jadi ragu dengan pengklasifikasian umur dalam pelajaran Sosiologi yang diajarkan oleh guruku saat aku masih kelas dua SLTA, dulu. Aku menemukan banyak kejadian bahwa orang-orang yang sudah tua justru seringkali melakukan tindakan-tindakan yang mirip dengan anak kecil. Juga, tak jarang dari mereka yang kualitas pancaindranya menurun. Seperti menjadi semakin pelupa atau kurang bisa mendengar.

Jika kualitas organ tubuh orang tua semakin menurun dan tak berfungsi dengan baik, apakah sebenarnya kita ini sedang hidup menuju ke arah kemajuan? Jangan-jangan kita justru mengarah ke kemunduran?

Aku menghabiskan sirop yang kubuat hingga hanya tersisa es yang beku di gelas.

Malam itu, pernyataan si pemain catur bahwa hidup harus maju benar-benar menyita pikiranku. Aku sampai harus membuka-buka kamus, mengingat-ingat kakek-nenekku yang telah meninggal, mengingat ibuku, dan semuanya. Namun aku belum mengerti benar jawaban itu.

Entahlah.

Barangkali esok atau lusa aku akan berdiskusi dengan teman atau guruku, untuk menanyakan hal (tak penting) ini. Kurasa aku butuh istirahat sekarang.

***

Aku kembali mendarat di dalam kamar setelah aku melayang dalam ingatan pemain catur yang kulihat di sebuah kedai warung yang tutup, beberapa hari yang lalu. Aku menoleh ke arah jam digitalku. 01.12. Oh! Penerbanganku rupanya cukup lama.

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan masa kecilku. Waktu kecil dulu, bila pertanyaan itu menghampiriku, aku selalu menatap wajah Ibu dan membayangkan kami berada dalam suatu tempat yang sebetulnya tidak jauh. Tetapi kami tak bisa bersama sebab di hadapan kami ada jurang yang membentang. Aku dan Ibu barangkali masih bisa bertatapan muka, tetapi kami tak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu dalam bayanganku, wajah Ibu tampak sangat cemas sekali mendapati aku yang menangis meraung—mendamba segera pelukannya. Dalam kenyataan yang sebenarnya, aku benar-benar menangis di samping Ibu yang sudah terlelap. Lalu Ibu mendengar tangisku, dan buru-buru ia memelukku, erat-erat.

“Ada apa?” tanyanya, “Tenang, ibu ada di sini, dan jangan menangis.”

Tetapi aku tetap menangis. Menangisi anak dan Ibu dalam bayanganku: Saat kami tak bisa saling memeluk karena terpisah jurang.

Dan apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Adalah ketika kita mendamba pelukan Ibu atau tangannya yang mengacak-acak rambut kita, tetapi rupanya Ibu kita sudah tiada.

Maka, apa harapan bila aku kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku berharap Ibu masih membangunkanku untuk salat subuh.

Tegalsari,
Selasa, 04 Maret 2014

—06:57 pm
*Gambar dari sini.

Rabu, 12 Maret 2014

Suatu hari kita akan duduk berdua, atau bertiga, atau berempat di halaman belakang rumah, membuka-buka album kenangan dan menyelam di sana—

Lihatlah, perubahan itu betul-betul terjadi, roda kehidupan memang berputar. Dan ia akan terus berputar. Barangkali saat itu kita akan tertawa-tawa bersama. Menertawakan ajaibnya dunia, dan Mahaadilnya Dia.

Dan lihatlah, betapa hidup kita telah berubah:  Rumah kita kini tak kalah dengan tetangga-tetangga sebelah. Motor kita yang jadul itu, kini sedang istirahat menikmati sisa-sisa pengabdiannya di ‘museum pribadi’—digantikan oleh motor baru. Hanya beberapa kali saja kita memakainya, kadang saat sore, ketika kau hendak melihat-lihat tanaman cabai di kebun.

Sekarang kita memiliki kebun sendiri. Paman tak perlu lagi menyewa lahan milik orang lain, seperti dulu. Sementara, kuliahku sudah separuh berjalan. Tinggal 2 tahun lagi aku lulus: Semoga dengan predikat baik.

Suatu hari nanti, kita akan membuka-buka album kenangan dan menyelam di sana, dengan perasaan haru—tak percaya.

Kenangkanlah.

Apa kabar atap kita yang bocor tiap kali hujan turun, dulu? Ah, beberapa kali aku sempat tersenyum melihat perubahan rumah kita yang jauh lebih layak dari sebelumnya; setidaknya, tiap kali hujan turun, aku tak perlu lagi berlari-lari mencari bak mandi untuk menadah air hujan yang berhasil menerobos atap rumah yang rapuh.

Kini, atap kita sudah diganti dengan plafon. Dan itu kabar baik. Setidaknya hujan tak menembus atap rumah.

Kadang-kadang, aku juga masih mengingat betapa kita berdua menjadi peragu saat membicarakan persoalan ekonomi: Kau khawatir aku tak bisa menyelesaikan sekolah, dan aku hanya tersenyum kecut mendengar keluhanmu barusan. Sejujurnya aku juga khawatir. Dibanding aku, tentu kau jauh lebih khawatir.

Tetapi, buru-buru kau membalik 180 derajat persepsimu atas semua ini, dan berkata padaku—masih dengan muka ragu, “Ah. Bukankah ketika kita yakin bisa, Tuhan akan berbaik hati meluluskan semua ujian berat ini?”

Aku mendengus pelan.

Beberapa kenyataan memang tak semua mulus, kan? Seperti beberapa jalan tak semua lurus. Kadang ia sengaja dibuat berkelok, atau bahkan bercabang. Dan bersyukurlah kita. Dari situ kita bisa berhenti sejenak untuk istirahat, memulihkan tenaga yang terkuras.

Kita bisa duduk-duduk santai di tepiannya, bukan? Mungkin akan lebih nikmat sambil minum es jeruk, sekadar melunasi dahaga. Jika sudah, mari kita berjalan kembali. Kita hanya perlu mengikuti lajur tersebut sembari menikmati perjalanan tanpa perlu mengeluh.

Lagi-lagi aku selalu bergumam kalimat itu untuk menguatkan keyakinanku yang mulai goyang. Ah.

Lihatlah semuanya sekarang. Aku bisa lulus sekolah. Dan Tuhan benar-benar meluluskan ujian berat itu.

Dan saat itu, kita masih belum percaya, bahwa kenyataan hidup kita jauh lebih indah daripada kecemasan-kecemasan kita tentang masa depan, yang kita bayangkan sebelumnya.

“Hei, lihat ini!” kau menunjuk foto kedai warung bercat kuning. Tercenung agak lama. Lantas tertawa. Lagi-lagi tertawa yang lebih menyiratkan rasa tak percaya.

Warung kecil di pinggir jalan itu kini telah menjelma warung makan yang terkenal. Bahkan memiliki beberapa cabang. Tuhan benar-benar mengentaskan kita dari sungai ujian, katamu. Ini menggembirakan. Sungguh.

Dan kabar yang tak kalah menggembirakan, sebentar lagi Paman akan menikah dengan perempuan yang cantik dan baik, tentu saja. Setelah sekian puluh tahun menemani perjalanan kita, beliau menikah. Dua minggu lagi.

Akhirnya hari bahagia itu segera datang, menjemputnya!

Kini aku rela melihat Paman menikah, berbahagia dengan istrinya. Rela sepenuhnya. Sebab aku percaya perempuan yang menjadi tambatan hati Paman adalah perempuan yang mau menerima—kekurangan sekaligus kelebihan beliau. Dan itu sangat penting sekali!

Tentang ‘kepercayaan’ dan ‘menerima’, aku adalah orang yang mencatat nasihat itu.

Teringat dulu, saat aku kecil, Paman selalu berpesan singkat padaku setiap kami mengobrol di bangku depan rumah.

“Belajar menerima itu sulit. Menerima sakit, menerima sehat, menerima kaya, susah, sedih, dan semuanya. Terlampau sulit bahkan. Maka kenapa sampai sekarang aku selalu berpesan padamu agar menjadi manusia yang ikhlas menerima? Itu tadi: karena menerima itu sulit. Apalagi menerima kenyataan yang tak sesuai harapan kita. Dan hingga kini aku sedang belajar untuk itu.”

Beliau selalu mengulang-ulang kalimat itu kepadaku hingga aku lulus SLTA—bahkan hingga kini.

“Membangun kepercayaan itu tak segampang mendirikan tugu di perempatan, juga tak semudah memperbaiki jalan-jalan yang rusak—berlubang.”

Paman menasihatiku saat aku kedapatan merokok di belakangnya.

“Dalam proses perbaikan tugu atau jalan bisa saja mengalami kemandekan, karena uang yang dikucurkan ke bawah dikorupsi sehingga tersendat di tengah-tengah. Tetapi soal membangun kepercayaan, ia akan tetap mengalami kesulitan atau bahkan tak lekas rampung meski uang mengalir sederas air terjun, sekalipun. Dan itu terjadi manakala kita berkhianat—tak bisa dipercaya.”

Dulu aku tak mengerti dengan perkataan Paman. Tetapi sekarang, sekarang aku mengerti. Dan sangat mengerti. Dan aku ikhlas dengan pernikahanmu, Pamanku.

Suatu hari nanti, Bunda, kita akan duduk di halaman belakang rumah kita, membuka-buka album foto kenangan kita, dan tertawa-tawa. Menertawakan betapa ajaibnya dunia, dan betapa Mahaadilnya Dia—barangkali masih dengan perasaan tak percaya, barangkali tidak… .

Stembel,
Rabu, 12 Maret 2014

—11:05 pm
*Gambar diambil dari sini.

Jumat, 07 Maret 2014

Setiap kita barangkali memiliki keputusan-keputusan pribadi. Keputusan yang kita pikir adalah segalanya—yang terbaik. Sudah sejak dulu berlaku, kita yang cenderung merasa benar seringkali mengabaikan pendapat-pendapat orang lain yang sebetulnya lebih benar.

Seperti sebuah ungkapan, manusia adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa lepas dari bantuan orang lain; sekecil apapun bantuan tersebut, kita butuh seseorang di sebelah untuk memapah jalan kita yang gontai. Kita butuh orang di belakang untuk mendorong—meyakinkan agar kita tidak ragu. Juga butuh bantuan orang lain di depan untuk memberitahukan jalan-jalan yang berlubang, agar kita lebih waspada.

Apa boleh buat? Kita memang membutuhkan orang-orang semacam itu, kan?

Dulu ketika masih Madrasah Aliyah, aku pernah berkecimpung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah atau biasa dikenal dengan Osis. Saat itu aku menjabat sebagai sekretaris umum. Kami beranggotakan 20 orang, terbagi dalam hierarki jabatan. Dan orang-orang yang menyandang jabatan tersebut otomatis wajib melaksanakan tugas-tugas yang sudah ditentukan: Seperti bendahara, bertugas memegang sekaligus mengatur siklus keluar-masuknya uang agar seimbang; Sekretaris, bertugas penuh dalam pembuatan surat-surat resmi ketika akan melakukan kegiatan apapun; Ketua, berperan penuh dalam organisasi yang dipimpinnya, termasuk bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi, suatu saat.

Tetapi jabatan-jabatan dan tugas-tugas tersebut hanya sekadar formalitas belaka. Dalam bahasa kasarnya, kita biasa menyebutnya ‘titip nama’ untuk dibubuhkan dalam kertas yang bersampul “Sruktur Anggota Osis”—di mana setiap orang yang dirasa cocok dan kebetulan terpilih, mereka akan dicantumkan dalam struktur tersebut. Dan syukurlah, karena sebagian besar anggotanya titip nama, maka kinerja Osis kami cukup berantakan.

Aku bersama ketua Osis waktu itu bekerja sendiri. Maksudku, kami mengerjakan tugas yang sebetulnya bukan tugas kami. Hal ini terjadi seperti saat Osis akan mengadakan donor darah, misalnya. Seminggu sebelum kegiatan biasanya Osis mengadakan rapat menyusul akan diadakannya donor darah. Agenda rapat ini biasanya bertujuan untuk menentukan panitia pelaksananya. Seperti menentukan ketua, wakil, sekretaris, bendahara, termasuk seksi-seksinya. Jadi setiap Osis mengadakan kegiatan, maka panitia kegiatan tersebut harus berganti. Hal ini memiliki tujuan agar semua anggota terampil dan kreatif. Diharapkan pula, dengan dibentuknya srtuktur kepanitiaan kegiatan yang bergilir, mereka-mereka yang belum bisa membuat surat perizinan atau semacamnya, misalnya, bisa berkonsultasi kepada sekretaris umum atau ke pembimbing Osis langsung untuk meminta panduan.

Pada kenyataannya, panitia yang terpilih tadi tak ada yang bekerja; hanya satu-dua yang benar-benar tanggap. Soal surat-menyurat dan poster akhirnya aku yang membuat. Lalu untuk pengoordinasian langsung ditangani ketua Osis. Sementara mana panitia yang lain? Jawabnya: entahlah.

Dalam situasi semacam itu, aku kembali menyelam dalam asal-mula pembentukan struktur Osis. Sejak awal, aku dan ketua memang tidak melakukan observasi secara matang. Dalam bentuk lain, kami berdua memilih anggota sesuai hati kami: jika dirasa cocok, maka kami masukkan ke dalam buku Struktur Anggota Osis, seperti yang kukatakan di atas tadi. Kemudian pada penyelaman itu aku menemukan titik kesimpulannya: Aku—bersama ketua Osis, saat itu—memilih anggota kurang bersosialisasi dengan pihak-pihak tertentu, misalnya wali kelas, guru-guru, termasuk siswa-siswa itu sendiri. Kami lupa dan tak mendengarkan mereka lebih dulu.

Aku jadi teringat suatu nasihat, begini: “Pemimpin yang baik adalah pendengar yang baik.”

Mungkin karena jabatanku saat itu berada di atas, setidaknya berada di barisan atas setelah ketua dan wakil, aku jadi seenaknya saja memilih siapa-siapa, memutuskan keputusan sendiri—tanpa mendegarkan orang lain... tanpa bersosialisasi dengan pihak lain. Hingga kemudian aku sendiri yang merasa kerepotan.

Aku tidak tahu jika kini di antara kita ada yang tengah mengalami situasi semacam yang kuceritakan di atas tadi. Yang jelas, setiap struktural selalu membutuhkan koordinasi terhadap sekitar dan kita perlu mendengarkan mereka. Terserah itu Osis, Bem, sekolah-sekolah, kelas, juga perkuliahan. Ah ya, termasuk ketika mengadakan suatu kegiatan pun kita mesti memerlukan koordinasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Sebab, itu tadi, kita tidak bisa lepas dari peran orang-orang atau pihak-pihak yang memapah kita, yang mendorong kita, dan yang memperingatkan untuk kita waspada.

Dan jika kebetulan watak kita yang merasa paling benar itu masih mengotot—tak mau mengalah, barangkali ada satu dugaan: Kita bukan pendegar yang baik!

Tegalsari,
Senin, 03 Maret 2014
—12:32 pm
*Gambar dari sini.
Barangkali seorang penulis sama seperti seorang penembak. Jika menembak menggunakan peluru, maka amunisi penulis adalah membaca. Suatu hari mereka sama-sama bisa melumpuhkan orang. Tinggal seberapa jauh mereka mempersiapkan amunisi-membacanya, dan seberapa lihai mereka menembak-melalui-tulisannya.

Tegalsari,
Sabtu, 01 Maret 2014
—12:23 am

*Gambar dari sini.
Kemarin tanggal 15 Februari 2014 bertepatan hari Sabtu, mahasiswa Staida dari program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) mengadakan kegiatan Bedah Buku Antologi Puisi dan Diklat Kepenulisan Cerpen yang dimentori oleh Mas Bandung Mawardi dan Mas Pri dari Solo. Acara berlangsung baik dan lancar, serta menyenangkan.

Sesekali dalam penuturannya, Mas Bandung menyematkan humor. Seperti biasanya, beliau memang kocak.

Aku sendiri baru sekali kemarin bertemu dengan Mas Pri. Sementara Mas Bandung, bulan Januari lalu aku bertemu dengan beliau di UNS, Solo, dalam kegiatan Studi Sastra. Dari pertemuan itu, aku mendadak ngefans dengan beliau.

Kembali ke seminar kemarin.

Kebetulan dalam acara itu aku menjadi salah satu panitia. Senang sekali rasanya ketika mengadakan seminar dengan mentor seorang sastrawan terkenal seperti Mas Bandung. Di tengah acara, beliau keluar ruangan—mungkin karena gerah. Dan kebetulan juga, saat itu aku tengah duduk-duduk di depan ruangan.

Aku sempat basa-basi dengan beliau. Saat kusodorkan buku dan pena untuk meminta tanda tangan, Mas Bandung mengelak dan mengatakan, “Halah, ndak usah. Ketemu orangnya saja kan sudah cukup. Masa kamu mau ketemu sama tanda tangannya juga? Hahaha.”

Akhirnya niat meminta tanda tangan itu aku urungkan.

Usai acara kami membubarkan diri. Mas Bandung dan Mas Pri pulang ke Bapak Nur, kepala jurusan PBSI, untuk istirahat. Sementara, aku yang sedang rebahan di kantor Bem, ditelepon oleh Mas Qoyum, ketua panitia seminar tersebut.

“Yu, posisi di mana?” katanya di seberang telepon.

“Di kantor Bem, Mas.”

“Cepet ke sini, di rumah Pak Nur untuk berkumpul sama Mas Bandung dan Mas Pri.”

Tanpa pikir panjang, aku segera mengiyakan lantas berangkat ke rumah Pak Nur bersama temanku, Yusuf.

Sampai di sana, aku pun salaman dengan Mas Bandung, Mas Pri, dan Pak Nur. Kami bertujuh mengobrol ini-itu sambil tertawa-tawa.

“Kamu sudah menulis apa belum?” tanya Mas Bandung ke Yusuf.

“Hehehe, belum, Mas.” Yusuf nyengir, “Tapi ini, temen saya sudah, Mas!”

Sial. Yusuf menunjukku.

Opo kowe ki! Kalau mau dikatakan lelaki sungguhan itu harus bisa menulis! Yen ora, dudu lanang!”

Yusuf celingukan. Kami tertawa. Mas Bandung lantas menoleh ke arahku dan bertanya, “Bener, kamu sudah menulis?”

Aku tertawa malu sembari mengangguk. Sementara Yusuf langsung menyerocos seperti sales.

“Iya, Mas! Dia sering nulis di Blogger. Buat pacarnya!”

Sialan! Mas Bandung tertawa sambil menatapku, “Iya tho?”

“Eh, Yusup ki ngibul, Mas!” aku berkata sambil menjitak kepalanya Yusuf. Dia sudah bikin malu. Sambil senyum-senyum, aku menundukkan kepala. Sesekali menatap Mas Bandung yang masih menertawaiku.

“Ah. Jangan menangis, begitu!” Mas Bandung meledek. Sontak. Semuanya tertawa—menertawakanku.

***

Empat teman yang lain datang, kemudian kami makan bersama. Setelah kenyang, kami membentuk lingkaran untuk berdiskusi—berbagi pengalaman.

“Ayo, yang mau berbagi pengalaman, silakan langsung cerita. Atau yang mau menanyakan apa saja, silakan,” kata Pak Nur.

Munir, temanku, mengacungkan tangan.

“Mas, saya punya masalah dalam menulis. Kadang, saya menulis itu tidak pernah selesai. Bukan kadang lagi, ding, tapi sering.” Munir tertawa. Kami juga, “Kecuali jika saya sedang sedih atau galau, Mas, baru bisa menulis sampai rampung.” Munir melanjutkan. Mantap.

“Wah, berarti kamu mesti dibuat sedih dulu, Nir. Bukan begitu, teman-teman?”

Kami serentak mengiyakan dan menertawakan Munir.

Diskusi di rumah Pak Nur diwarnai dengan tawa.

Mata Mas Bandung kemudian menatap Munir. Mukanya berubah serius.

“Ehm,” Mas Bandung berdehem. Kami diam menunggu respon dari beliau. “Seringkali dalam menulis itu masalahnya seperti kamu: Malas. Kamu selama ini mungkin menganggap bahwa menulis atau membaca adalah hobi. Padahal salah!”

Kami heran. Sejurus kemudian Mas Bandung melanjutkan.

“Seperti kita makan atau minum. Setiap hari kita makan, apa itu hobi? Setiap hari minum, apa itu disebut hobi? Tidak, kan?” kami menyetujui.

“Semua anggapan bahwa menulis dan membaca adalah hobi, itu harus diubah! Biasakan setiap hari kita membaca dan menulis. Entah membaca novel, majalah, koran, atau apapun. Menulislah puisi, cerpen, atau tulisan apa saja, setiap hari. Maka jika suatu hari kamu tak menulis atau membaca, maka kamu akan menyesal. Kamu akan lemas, seperti kamu tidak makan.”

Kami diam. Dalam hati, aku takjub.

“Ada lagi?” tanya Mas Bandung.

Teman-teman yang lain ada yang bercerita tentang kehidupan masa lalunya yang kelam, hingga pada akhirnya disadarkan oleh buku-buku dan memulai hari-harinya dengan lembaran baru. Ada yang kesulitan menulis sebab dia acap bingung dalam menuangkan kalimat awalnya. Dan sebagainya, dan sebagainya.

“Habib, coba kamu. Apa masalahmu?” Pak Nur menunjuk Habib untuk bercerita kepada kami. Sementara, Pak Nur menyodorkan buku kosong kepada kami untuk bersedia menuliskan nama, nomer telepon. Bergiliran.

Gini, Mas. Saya itu seneng nulis, cuma gak suka baca. Itu gimana, Mas?”

“Waduh! Itu sama saja menggunakan ‘tapi’!” kata Mas Bandung.

Sebelumnya, salah satu teman cewek bertanya kepada Mas Bandung.

“Mas, sebenernya, saya itu pengin nulis. Ketika saya galau, sedih, banyak masalah, saya pengin menuangkan semua itu ke tulisan. Tapi gak bisa, Mas. Saya lebih suka menulis, tapi menulis angka-angka—mengerjakan soal Matematika.” Teman cewek tadi bercerita.

Mas Bandung segera menanggapi.

“Ya. Itu bagus. Yang penting kamu terus mengasah otakmu. Kamu menulis angka-angka, itu bagus. Masalahnya orang lain bisa mencernanya apa nggak? Bisa memahaminya apa nggak? Menulis itu bukan untuk kita sendiri. Menulis itu juga untuk orang banyak.”

Mas Bandung mengambil jeda sebentar, lalu melanjutkan, “Seperti berdoa. Doa yang baik itu bukan doa untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang banyak. Maka itulah yang kumaksud dari seminar tadi: Menulis adalah berdoa.”

Dalam hati, aku sepakat. Sejak dulu sebetulnya inilah modusku. Aku ingin menulis apapun, tetapi bukan sekadar menulis. Aku ingin berdoa melalui tulisan-tulisanku, seperti kata Mas Bandung. Itu sebabnya, setiap aku menulis, tak jarang aku menyematkan kata “semoga”, atau melalui kiasan-kiasan lain—yang jika diteliti, sebetulnya aku tengah berdoa.

“Dan jangan kamu menggunakan kata ‘tapi’ ketika ingin jadi penulis!” kata Mas Bandung meneruskan, menjawab teman cewek tadi, “Sebab kata ‘tapi’ lebih ganas daripada tumor!”

Aku dan teman-teman menggut-manggut.

Aku melihat HP untuk memastikan pukul berapa sekarang. 03:15 PM. Rupanya diskusi kami cukup lama dan panjang. Tak terasa.

Semua teman-teman sudah bercerita-bertanya, sesekali meminta saran kepada Mas Bandung. Tinggal aku yang belum. Ruangan menjadi diam sejenak sebelum akhirnya Mas Bandung mengajukan pertanyaan kepada kami, “Ayo, siapa lagi?”

“Ayo, Wahyu, silakan. Terakhir.” Pak Nur menunjukku.

“Eh,” aku membetulkan posisi duduk, kemudian memulai bercerita.

“Begini, Mas. Sejak saya kelas dua Aliyah, saya dan teman-teman sering menggiatkan kegiatan tulis-menulis semacam buletin atau mading—yang sering digunakan untuk mengritik sekolah. Seperti buletin Graps yang sampean baca tadi, sebetulnya itu adalah lanjutan dari mimpi saya dan teman-teman.”

Mas Bandung memerhatikanku.

“Persoalannya satu, Mas: Saya malu dengan tulisan saya. Maksud saya, saya malu ketika tulisan saya dibaca orang lain. Nggak jarang saya menyembunyikan identitas saya. Bahkan parahnya, sampai sekarang, saya masih tak punya cukup keberanian untuk mempublikasikan identitas saya.”

Teman-teman yang lain menoleh ke arahku, mendengarkan.

“Solusinya, gimana, Mas?” tanyaku kepada Mas Bandung.

Beliau menatapku dengan punggung yang agak dibungkukkan. Matanya menatap tepat ke arahku. Tajam.

“Jadi masalahmu malu, ya?” mata Mas Bandung seperti menerawang ke masa lalunya.

“Kamu tahu? Dulu, sejak aku kecil hingga remaja sepertimu, aku juga malu. Aku adalah anak yang pemalu.”

Ruangan jadi hening ketika Mas Bandung berhenti berkata untuk beberapa saat. Kami masih menanti beliau untuk berkata.

“Aku berasal dari keluarga miskin. Seragamku SD tak pernah ganti mulai hari Senin sampai Kamis. Jumat baru ganti sebab hari itu wajib memakai batik. Buku-buku tulis milikku adalah bekas hasil dariku mengumpulkan kertas-kertas sisa dari temanku. Dan aku malu!”

Aku memerhatikan dengan saksama.

“Tetapi aku berpikiran, buat apa malu? Ini yang aku punya. Kenapa harus malu?”

Baiklah, soal “malu”, aku dan Mas Bandung sama-sama memiliki. Bedanya, aku malu karena tulisanku, sementara beliau malu karena kebutuhan ekonomi.

“Kemudian aku mulai jatuh cinta dengan membaca dan menulis ketika aku kelas dua SMA. Aku mengetik tulisan pinjam komputernya kakakku. Itupun harus di atas jam 10 malam, menunggu anak-anaknya tidur. Aku menulis dan terus menulis. Kusematkan namaku dalam tulisan itu. Sebab aku tahu, dalam setiap nama selalu mengandung biografi.”

Aku manggut-manggut.

“Kemudian tulisan-tulisanku dimuat dalam koran-koran. Namaku terpampang di sana. Dan sekarang apa yang terjadi? Aku berada di sini, bersama kalian. Itu lantaran tulisan, yang di dalam tulisanku tertera namaku, biografiku. Maka jangan malu. Cantumkan saja namamu. Lama-lama orang akan mengenalmu. Lama-lama orang akan mencarimu. Kamu akan diundang ke berbagai daerah untuk mengisi acara-acara. Dan itu menyenangkan! Kita bisa berbagi.”

Mas Bandung tersenyum. Aku dibuat takjub. Kami manggut-manggut.

“Kelak, jangan kaget, ketika dengan tulisan kamu akan dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah kamu kenal. Dan jangan kaget pula ketika kamu diberikan rezeki, hadiah, atau apapun yang tak bisa kamu tebak dan kamu ramal!”

Untuk sekian kali dalam hati, aku berterima kasih pada Tuhan sebab telah mempertemukanku dengan Mas Bandung. Aku suka dengan kalimat terakhirnya barusan!

“Jadi, apa kalian siap menulis?” tanya Mas Bandung kepada kami.

“Siaaap!” kami menjawab serempak.

“Siap mengucapkan Bismillah?”

“Siaaap!”

“Untuk jadi penulis?”

“Siaaap!”

“Kalau begitu, sip! Top markotop! Jos gandos!” Mas Bandung mengacungkan jempolnya.

Pukul 04:25 PM. Tak terasa. Akhirnya tiba saatnya Mas Bandung dan Mas Pri bersiap untuk pulang. Pak Nur memanaskan mobil. Kami bersalaman. Mas Bandung, dan Mas Pri masuk mobil—meninggalkan kami.

Sementara Pak Nur mengantar Mas Bndung dan Mas Pri ke Genteng, aku, Yusuf dan Wahid masih duduk-duduk sejenak di ruang tamu yang kami buat diskusi tadi. Tak lama, kami lantas berpamit untuk pulang.

Aku menghidupkan sepeda. Yusuf dan Wahid aku bonceng. Kami pulang.

Di perjalanan, aku tersenyum puas. Batinku masih berbicara sendiri. “Diskusi dengan Mas Bandung tadi sangat menyenangkan. Tentang semua pesan-pesannya, mungkin hanya perlu satu kata: Tindakan!”

“Wah. Seru ya, Yu!” dari belakang, Yusuf menepuk pundakku. Dan aku mengacungkan jempol padanya. Tanda setuju!

Tegalsari,
Ahad, 16 Februari 2014

—02:01 PM

*Gambar dari sini.