Sabtu, 11 Januari 2014
Posted by Unknown on 04.26
with No comments so far
: Kepada W
1/
W, aku melihat
kobaran api-kemarahan yang menyala-nyala dalam hatimu—membakar dirimu dan
melenyapkan kesabaranmu hingga menjadi abu. Aku melihat gumpalan dendam yang
terus membesar dan membenturkan dirinya sendiri pada dinding ketabahanmu. Aku melihat
pedang menyayat dadamu hingga tampak sekali segaris senyummu yang palsu.
Ke manakah dingin
es yang menyejukkan tubuhmu yang selalu dapat kulihat setiap kali kita bertemu?
Di manakah tangan keramahan yang terus menumbuhkan rasa damai yang dulu membelaimu—hingga
terbitlah senyum manis dari bibirmu?
2/
W, katamu, dalam
hidup, kadang kita harus menutup telinga, kadang harus membukanya. Ada saat di
mana telinga kita harus digunakan untuk mendengar kritik dan saran dari banyak
orang di sekeliling kita, pula ada saat di mana kita mesti mengabaikan
percakapan-percakapan orang di belakang mengenai kita—sebab ada dua alasan
dalam mencermati percakapan-percakapan mereka: (1)Bisa jadi mereka menginginkan
hal-hal positif terus terbangun dari dalam diri kita, (2)sebaliknya, ada
beberapa orang yang memang tak cukup senang dengan apa yang kita lakukan,
lantas mereka mencibir dan menjatuhkan kita—tanpa tanggungjawab, tentu saja.
3/
W, bersabarlah
sekuat-kuatnya, dari segala macam serangan yang mengatasnamakan dirinya
keburukan. Dari seratus juta muka yang menatapmu dengan cara yang tak biasa.
Dari sejuta suara yang tak pernah bertanggungjawab, yang mencoba mematahkan
langkah, yang mencoba mematikan iktikad kebaikanmu.
Teruslah
berjalan, W, menelusuri setapak Jalan Benderang. Ikutilah Cahaya itu. Ia akan
menuntunmu menuju ke Keabadian. Maka kau akan menemukan dirimu yang tegar di
sana. Dirimu yang tersenyum syahdu, di sana.
Sementara, tentang kecewa
dan masa depan, kau pernah berpesan padaku—untuk bekal selama aku mengembara. “Kecewa
adalah hujan lebat melanda ketika justru kaumendamba terik. Atau gempa dan
ledakan gunung yang memuntahkan partikel-partikel harapan. Mereka akan datang
menyapamu manakala kaubiarkan harapan ihwal masa depan yang tidak benar-benar
menjajikan menyala terlalu lama di hatimu.”
Aku suka dengan nasihatmu
waktu itu, W, seperti kembali melahirkan nuraniku untuk terus waspada terhadap
apapun saja: tentang hal-hal yang takpernah bisa kita duga-duga. Ya, kita tak
bisa meneropong jauh ke depan, seperti katamu.
4/
W, kaupernah
mendapati aku tengah terduduk lemas di pinggir hatiku sendiri. Kau tahu: kala
itu aku digerus oleh gemerlap dunia—hiruk pikuk ledakan suara yang membuat
dadaku makin sesak saja. Tapi seolah dapat mengetahui persoalanku, kau mulai
mendekatiku, menepuk pundakku, lantas mengatakan sesuatu: “Jangan sampai
tergelincir dari bebatu di pinggir sungai-keduniawian. Aku tahu kita
membutuhkannya tetapi jangan sekali-kali, hanya karenanya, kita melakukan
hal-hal yang bahkan berlebihan. Cukup letakkan ia pada genggamanmu, hilangkan
dari dalam dadamu. Sebab jika kaumenempatkannya pada dadamu yang rapuh, aku tak
terlalu yakin kau akan mampu menimangnya—siapapun orangnya, bukan cuma kau.”
Demikianlah, W,
kata-katamu, selalu berhasil menguatkan kembali jejak-jejak langkah-kakiku,
melapangkan kembali dadaku, mengumpulkan, lagi, semangat-kebaikan milikku.
5/
W, kini ke manapun kaki
kita memijak, aku mau kita sama-sama saling menolong—saling mengingatkan:
Menolong dari marabahaya apapun saja, keburukan yang barangkali dapat
menggelapkan batin sehingga kita tak bisa menempuh Jalan Pulang. Sebab manusia
hanya dilahirkan dengan keterbatasan untuk sekadar menyusun rencana-rencana,
lalu berusaha, lalu sudah. Sisanya, hanya Dia, Sang Mahamenentukan, yang
memutuskan hasil akhirnya, kan? Ya, aku selalu belajar dari kata-kata
yang kauucapkan, W.
6/
W, belakangan aku
merasakan gemuruh yang bergejolak dalam dadamu—memorak-porandakan apa saja yang
berada di sana. Bertahanlah, W, bawalah segala macam amarah pada pejam matamu,
lalu nyalakan Cahaya itu dalam gelapmu. Ingatlah bait-bait itu:
aku berserah
pada kekuatan Mahadahsyat
pada Pemegang Kesempurnaan
pada penunjuk Jalan Pulang
aku kembalikan
dendam pada Penyabar
salah pada Pembenar
benci pada Penyayang
maka tunjukkanlah
Lurus
Lapang
pada jalan yang kutempuh
pada langkah yang kuambil
pada debar yang kuputuskan
pada kekuatan Mahadahsyat
pada Pemegang Kesempurnaan
pada penunjuk Jalan Pulang
aku kembalikan
dendam pada Penyabar
salah pada Pembenar
benci pada Penyayang
maka tunjukkanlah
Lurus
Lapang
pada jalan yang kutempuh
pada langkah yang kuambil
pada debar yang kuputuskan
Maka akan kaulihat api
yang membakar hatimu perlahan memadamkan dirinya sendiri. Gemuruh akan
pelan-pelan meredakan dirinya kembali. Lalu pecahlah balok es dalam
kepalamu—menjelma kesejukan yang menuruni bukit hatimu, yang tak pernah
kaurasakan di belahan bumi manapun.
Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014
—08:52 am
Kamis, 09 Januari 2014
—08:52 am
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 04.21
with No comments so far
Aku adalah
rumah yang bocor
tiap kali
hujan menyerbu
dan meneror
dari langit yang sendu
Tiada atap
bagi diriku
angin murung
terus merutuk
pada langkahku
yang rapuh
Ingin
kugadaikan
sejuta kepemilikan
pada Tuan
Rumah yang ramah
tempat berpulang
gelisah
Sementara
surat-surat penting
perabotan yang
berjejal
akan lekas
kubakar
dan lalu
segera kusapu
Demi
kembalinya ketakutan
demi kaburnya
remeh-temeh
supaya
dikasihi aku oleh Tuanku
supaya
disayangi aku oleh Padukaku
Tegalsari,
Kamis, 09
Januari 2014
—04:11 pm
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 04.20
with No comments so far
“Tak perlu kaubawa lari pikiranmu.
Percuma! Yang ada, ia akan semakin manja dan ingin singgah ke mana-mana:
Menjadi sangkaan buruk sekaligus busuk.”
Aku melengang mendengar suara itu. Suara yang entah siapa yang mengucap, dari
mana asalnya, dan apakah ia ditujukan padaku? Aku tak benar-benar tahu. Tapi
perasaan dari dalam diriku mengatakan seperti itu.
Hei, siapa gerangan sang pemilik suara!? Aku mulai mengajukan pertanyaan pada
keadaan sekitarku. Namun begitulah,
tak ada jawaban. Aku mulai curiga dan menerka-terka ihwal apa maksud dari suara yang tak
jelas siapa pemiliknya: inikah solusi itu?
Akhir-akhir ini, keadaan hatiku memang agak berbeda dari biasanya: Aku
sering emosi, dan ini sangat menyiksa diriku sendiri! Sungguh sebuah hal yang sangat
tak kusuka. Bah!
“Biarkan pikiranmu itu di sini, mengembang di sini; lantas menjadi
optimistis yang kekar nan tinggi.”
Suara itu
kembali terdengar oleh telingaku. Apa maksud dari semua ini? Belum usai rasa
penasaranku, aku kembali dipaksa untuk mendengarkan nasihat yang, ah, sama
sekali tak kuinginkan! Hei, apa maksud dari semua ini? Tanya-batinku,
lagi.
Seolah
sedang berdialog denganku, suara misterius itu menjawab kata hatiku.
“Sebab Hidup berjalan sesuai yang
kaupikirkan, maka yakinlah pada hidup yang kaujalani!”
Suara itu, ah, intonasinya makin besar—seperti menggeretak!
Hening merambat di ruangan 4x4 meter persegi, kamar tidurku. Dalam gelap,
ingatanku mulai berguguran. Sementara, aku mencoba memungutinya, satu per satu.
Sebulan yang lalu, aku mengalami depresi akibat Rany—perempuanku—memutuskan
hubungan kami berdua yang sudah empat tahun berjalan. Ya, sejak sebulan yang
lalu, kami sudah tak ada ikatan lagi. Aku sungguh kecewa dengan keputusan ini,
tentu saja. Bagaimana tidak? Di awal, kami sudah berkomitmen untuk menjalin
hubungan dengan serius. Bahkan kedua orangtua kami sudah sama-sama setuju.
Terlebih, kami sudah bertunangan!
Alasan Rany memutuskanku sangat tidak masuk akal, menurutku. Saat kutanya
kenapa, dia menjawab: Kita memang tidak jodoh. Sejurus kemudian, ia pergi naik
taksi, entah ke mana? Tak sempat kutanya lebih dalam tentang ini-itu, aku sudah
ditinggal pergi lebih dulu!
Berkali aku mencoba menghubungi Rany, baik via SMS, BBM, juga telepon. Tapi
sayang, sama sekali tidak ada jawaban dari Rany! Sempat aku bertandang ke
rumahnya. Hasilnya? Sial! Dia sudah pindah rumah, entah ke mana?
Saat itu, aku benar-benar terpuruk! Ingin rasanya menjatuhkan diriku dari
lantai 5 kampusku! Tapi aku tahu, itu tak akan mengurangi masalahku. Akhirnya
kuputuskan untuk mengunci diriku dalam kamar.
Seminggu usai kejadian itu, aku mendengar bahwa Ayahku yang bekerja di luar
negeri meninggal dunia setelah terpeleset jatuh dari gedung lantai 33! Bahkan,
saat jenazah Ayah akan dipulangkan, pesawat yang membawa jenazah Ayah mengalami kecalakaan. Dikabarkan
bahwa pesawat tersebut jatuh di laut Jawa, dan hingga kini, bangkai pesawat,
pilot serta para penumpang, termasuk jenazah Ayah tak diketemukan.
Belum pulih luka di dadaku akibat kematian Ayah, dompetku—yang berisikan
KTP, ATM, serta uang 2 juta yang semula ingin kubuat melunasi pembayaran
kampus—dicopet orang yang tak punya nurani! Kali ini hatiku benar-benar pecah
berkeping-keping!
Akibatnya, aku mengalami depresi berkepanjangan. Aku mulai khawatir tentang
semuanya: Apa aku sanggup melanjutkan kuliahku? Apakah aku mampu berjalan di
atas penderitaan yang sangat berat ini? Dapatkah aku melanjutkan hidup ini? Aku
sangsi. Aku ragu. Aku tak yakin.
***
Tanpa sadar, di tengah aku
memunguti ingatan-kesedihanku yang berguguran, airmataku melinang di kedua
pipiku hingga basahlah wajahku.
Di sini, dalam ruangan 4x4 meter persegi, aku menekuri kehidupanku yang
gelap dan tiada arah. Sejujurnya aku masih ragu: akankah cahaya segera terbit
dalam kehidupan milikku?
“ Kau takut? Jangan takut, kamu tak sendiri,” Tiba-tiba, setelah sekian jam aku berada di
sini sembari mengusap airmataku yang tak kunjung henti, suara misterius itu
kembali menasihatiku—dengan bijaknya.
“Jika masih ragu, tanyakan pada-Nya. Bahkan jauh sebelum pertanyaanmu itu
muncul, Dia telah lebih dulu mencipta jawabannya: Ana 'inda dzanni abdi bi, Aku
seperti yang disangkakan hambaKu kepadaKu.”
Aku terdiam dari isak. Kupejamkan mataku yang sebam. Kuberesi
kemurunganku—rasa ragu yang ada di dadaku. Pelan-pelan lalu kupunguti dan kukemasi
kata-kata tentang harapan-cinta-masa-depan untuk kemudian kumasukkan dalam
ransel hitam.
Dalam hening malam ini, aku kemudian menggumam doa paling sederhana yang
sejak kecil terus kugunakan khusus untuk situasi semacam ini: Situasi yang
manjatuhkan—yang memaksaku harus larut dalam sungai kesedihan. Maka kuputuskan
mengepalkan tangan, kutegakkan lagi kepalaku, kuseka airmataku. Dan doa itu,
terus menyala dalam hatiku: “Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik
saja.”
Dan aku percaya dengan Tuhanku!
Tegalsari,
Rabu, 08 Januari 2014
—05:25 pm
—05:25 pm
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 04.17
with No comments so far
Namamu terkelupas
dari hati yang didera panas
bunga-bunga terhuyung
dalam perjalanan jatuh
kemarau meraung nian panjang
Aku mendengus lepas dan lelah
detak nada cinta seolah pasrah
satu per satu
wajahmu bagai sendu yang gontai
Sadar aku perlahan
intonasi rindu mulai renta kemudian
kubiarkan ia berjalan-jalan sendirian
lalu terlindas bus kota di terminal
Tegalsari,
Jumat, 10 Januari 2014
—10:50 am
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 04.14
with No comments so far
Selamat tinggal
malam dengan percakapan
sampai jumpa
pagi dengan senyuman
atau sore
bersama perdebatan
Aku akan pergi
barangkali tak terlalu lama
hingga malam menjadi milik kita
pagi segera menerbitkan senyummu
siang yang menentramkanmu
dan sore menjadi kebahagiaanku
: denganmu
Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014
—04:17 pm
Kamis, 09 Januari 2014
—04:17 pm
Posted by Unknown on 04.13
with No comments so far
Pesantren. Aku merindukan suasana
pesantren. Aku kangen keadaan pesantren: Ramai lalaran, semangat mencari ilmu,
keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol bersama teman,
hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.
Adakah tempat paling indah di dunia ini selain
pesantren? Tempat paling baik sekaligus buruk... Tempatmu memutuskan untuk menjadi
imam atau menjadi preman.
Dimana lagi sanggup kautemukan tempat
berteman paling ruah, selain di pesantren?: Jawa, Bugis, Sunda, Madura, Osing,
dan seterusnya, dapat kautemukan di sana.
Pesantren. Aku malu pada orang-orang yang
bermukim di pesantren—yang setiap hari mendengar nasihat-nasihat para kiai.
Setiap saat mengaji. Membaca al-quran. Membaca nadzam-nadzam. Menatap wajah kitab.
Dan shalat berjamaah. Padahal, hati
manusia akan keras bila tak mendengar nasihat selama 40 hari, bukan?
Ah, kapan aku kembali pada suasana seperti
itu?
Uang kiriman Ibu telat. Dua hari aku tak
makan nasi. Ujian diniah segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Tanggungan
bulanan belum terlunasi. Sementara wali kelas terus-menerus menarikku
hafalan-hafalan yang belum mencapai target. Aku bingung! Kepalaku pusing!
“Tenang,
inna ma’al ‘usri yusrā,”
kata mustahiqmu.
Hei, di mana lagi tempat paling bijaksana—selain
di pesantren?
Saat-saat kelaparan karena jatah kiriman
telat, temanmu akan menawarkan sedikit makanan buatmu. Penamu hilang? Kamu
sakit? Masih ada teman, masih ada teman di dekatmu yang bersedia berbaik hati
kepadamu: Meminjami pena, membelikan obat, dan merawatmu sampai sembuh.
“Tenang,
masih ada kita,” kata mereka, temanmu.
Hafalanmu tak lancar? Di kepalamu banyak
persoalan yang tak kunjung terselesaikan? Masih ada ketua kamar, ketua asrama,
dan para ustadz, yang bisa jadi rujukanmu—dan mereka akan memberikan
solusi-solusi terbaik buatmu.
Maka tak pernah lagi kutemui tempat paling
indah selain pesantren: Tempat istijabah
bagi pendoa, tempat sederhana yang mendidikmu berpikir ala Amerika dan tetap
berjiwa Makkah, tempat paling aman yang melindungimu dari serangan globalisasi
dan marabahaya lainnya yang menyerangmu pelan-pelan—atau tiba-tiba.
Ya. Aku merindukan pesantren....
Adzan subuh berkumandang. Suara garang anggota
keamanan dan ketertiban. Wudu di kolam belakang asrama. Salat subuh yang masih
mengantuk. Dimarahi ketua kamar karena tidur pagi. Dihukum sebab tak mengikuti
kegiatan. Ah, menyebalkan!
Tapi, adakah tempat paling telaten selain
pesantren? Tempat kediaman yang secara tak sengaja mengajarimu
kebaikan-kebaikan—untuk tak gampang marah, mengeluh, dan tak menjadi pemalas;
Meski hati tetap dongkol, kamu tetap menaatinya, bukan? Hingga pada akhirnya
nanti kamu akan tahu sendiri: Bahwa salat malammu di pesantren, salat duhamu,
hafalanmu, kitab kuningmu, sarung yang kaupakai, baju lengan panjang, dan apa saja
yang kaukerjakan akan menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang langka—yang tak
dilakukan oleh orang-orang yang tak pernah di pesantren.
Duhai Tuhan
pemilik semesta
pemilik segala
rencana
pemegang kebaikan
sepenuhnya
dan penjaga segala
rahasia
Allahumma-j’alnĭ syakūran
wa-j’alnĭ shabūran
wa-j’alnĭ fĭ ‘ainĭ shaghĭran
wa fĭ a’yuni-nnāsi kabĭran
Dari situlah, pesantren, kamu mengajarkan
banyak hal kepadaku; Dan kini aku merindukanmu. Aku kangen suasanamu, aku kangen
keadaanmu, dan semuanya...
Maka demi angin
yang Kau tiupkan
demi air yang Kau
alirkan
demi debu yang Kau
tebarkan
bumi
langit
dan semua yang Kau
gerakkan
Dekatkan kebaikan
jauhkan keburukan
mudahkanlah segala urusan
lapangkanlah semua jalan
Allahumma innĭ
a’ūdzubika min ‘ilmin lā yanfa’
wa ‘amalin lā yurfa’
wa du’āin lā yustajāb
Dan sekali lagi aku ingin kembali merasakan
suasana itu: Ramai lalaran, semangat
mencari ilmu, keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol
bersama teman, hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.
Pesantren. Semoga dalam waktu dekat kita
bisa segera bertemu! Amin.
Gambar diambil dari sini.
Langganan:
Postingan (Atom)






