Canda, barangkali aku telah terpaut jauh ke palung hatimu. Selama ini,
aku telah mendapatkan semuanya. Kau cantik, kau pintar, kau sabar, juga selalu
terlihat ceria.Serta tentu, masih banyak lagi sifat-sifatmu yang mengagumkan.
Maafkan aku. Mungkin sejauh ini aku belum pernah membahagiakanmu, aku
tidak bisa selalu hadir bersamamu; menemanimu atau lebih memerhatikanmu. Tentu,
kita tahu satu hal yang membuat semua itu terbelenggu: Jarak dan waktu.
Tapi percayalah, betapapun jarak memaksa kita untuk tidak dekat, aku
akan selalu menantikan kedekatan kita suatu saat. Karena pasti, waktu akan mendekatkannya
seperti hari-hari lampau kita yang selalu akrab: Bergurau bersama, mengobrol
dengan kata-kata sederhana.
“Canda, maafkan aku,” suaraku parau.
“Memangnya ada apa? Kamu tidak salah.”
“Hari ini adalah ulang tahunmu, tapi aku tidak memberikan kado spesial
buatmu,” aku menunduk lemah. Menyesali bahwa aku hanya bisa menyusun kata-kata
biasa, “Maafkan aku.”
“Kamu tidak berhak berkata seperti itu. Kamu selalu memberiku kado
spesial.” Kau tersenyum.
“Aku? Sejauh ini aku belum pernah memberimu kado atau hadiah yang
berarti.” Aku berkilah. Tidak percaya dengan apa yang kau katakan barusan.
Kau tersenyum tipis. Matamu terlihat tinggal segaris. Senyum seperti
inilah yang selalu tak pernah absen memberiku inspirasi positif.
“Tidak sadarkah kamu bahwa hari-hariku selalu terasa indah. Hadirmu
menguatkan aku. Setiap waktu kamu selalu membuat fase-fasebaru di keseharianku.
Dan, ternyata namamulah yang dituliskan Tuhan dalam halaman-halaman longgar
hidupku. Satu lagi yang harus aku ucapkan padamu, semoga kamu selalu ingat
kata-kataku ini: Terimakasih telah mengizinkan aku untuk lebih mengenalmu,
biarlah Tuhan yang menulis cerita cinta kita,” jelasmu dengan senyum penuh
arti.
“Terimakasih...,” kataku sembari menggamit tubuhmu. Aku akan selalu menjadi penghuni hatimu...
Tegalsari,
Ahad, 14 Oktober 2012
—03:28 pm

0 komentar:
Posting Komentar