Minggu, 15 Desember 2013

Jangan salahkan saya jika saya menjadi pendiam dan tak mau terbuka! Nanti, kalau saya memutuskan untuk menutup apa saja yang ada pada diri saya, semoga Anda tak menyesal. Sejak lama, saya belajar untuk tetap tersenyum—membuka perasaan, apa saja, kepada Anda. Tapi rupanya saya tak pernah benar. Apa yang saya keluhkan, justru selalu  Anda jatuhkan. Saya kini merasa tertekan atas perlakuan Anda terhadap saya.

Di sini, saya seperti orang bodoh yang berusaha untuk pintar, tapi selalu disalahkan. Saya bagaikan orang yang terjatuh dan berusaha untuk bangun, tetapi tak diberi kesempatan untuk berdiri—meski berusaha, Anda tetap menjatuhkan saya. Lagi, dan lagi.

Kalau kehadiran saya di sini rupanya menjadi persoalan yang besar bagi Anda, saya bersedia pergi—melanjutkan kehidupan lain. Barangkali saja, di tempat lain, saya bisa lebih diorangkan? Usaha saya lebih dihargai. Dan bukan tidak mungkin jika ternyata saya bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat?

Saya tidakmenyalahkan semuanya—yang ada sekaligus terjadi. Tapi saya rasa, semua rencana yang sudah saya pancangkan sejak jauh-jauh hari tergagalkan di sini. Saya menjadi orang yang tak bernilai dari segi apapun.

Selama ini harapan saya Anda dukung dengan kata-kata yang menjajikan, sehingga saya semangat dan merasa bisa merealisir harapan saya—bahkan bisa dikatakan sudah ada di depan mata. Tapi saya salah besar, ternyata. Saya tak pernah menyana semuanya menjadi serba terbalik seperti ini!

Keterbalikan itu saya terima sebagai kehancuran terhebat bagi semua rencana-harapan-juga-cita-cita saya: Dukungan Anda, rupanya hanya sebatas komposisi kata-kata—bukan hasil akhirnya.

Saat ini saya sudah mengetahui yang sebenarnya. Apa yang saya rasakan? Tentu saja kecewa! Saya sangat kecewa, lebih tepatnya. Jika saya boleh mengatakan semuanya, saya merasa sangat tertekan atas kejadian ini. Dada saya, Anda harus tahu, sangat-sangat sulit dibuat bernapas. Saya tak pernah mengalami kesesakkan dada seperti ini. Sehingga bergalon airmata yang tak saya kehendaki tumpah di pipi.

Sampai disini, ketertekanan milik saya belum bisa terbebaskan. Maka jika suatu hari, barangkali mulai saat ini, saya tak lagi bisa membuka rahasia-hati untuk Anda, mudah-mudahan Anda menerima—dan tidak lantas menyalahkan saya. Karena saya sudah memutuskan semuanya!

Jika Anda membaca tulisan ini, sebetulnya tak sebanding dengan kehancuran dinding hati milik saya. Rasanya dari dulu, deretan kata (selalu) tak bisa menjelaskan perasaan seluruhnya.

Dan maaf, saya belum bisa menjadi yang terbaik buat Anda.



Tegalsari,
Ahad, 04 Agustus 2013
—04:45 pm

*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar