Jangan salahkan saya jika saya menjadi pendiam dan tak mau
terbuka! Nanti, kalau saya memutuskan untuk menutup apa saja yang ada pada diri
saya, semoga Anda tak menyesal. Sejak lama, saya belajar untuk tetap
tersenyum—membuka perasaan, apa saja, kepada Anda. Tapi rupanya saya tak pernah
benar. Apa yang saya keluhkan, justru selalu Anda jatuhkan. Saya kini
merasa tertekan atas perlakuan Anda terhadap saya.
Di sini, saya seperti orang bodoh yang berusaha untuk pintar, tapi
selalu disalahkan. Saya bagaikan orang yang terjatuh dan berusaha untuk bangun,
tetapi tak diberi kesempatan untuk berdiri—meski berusaha, Anda tetap
menjatuhkan saya. Lagi, dan lagi.
Kalau kehadiran saya di sini rupanya menjadi persoalan yang besar
bagi Anda, saya bersedia pergi—melanjutkan kehidupan lain. Barangkali saja, di
tempat lain, saya bisa lebih diorangkan? Usaha saya lebih dihargai. Dan bukan
tidak mungkin jika ternyata saya bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat?
Saya tidakmenyalahkan semuanya—yang ada sekaligus terjadi. Tapi
saya rasa, semua rencana yang sudah saya pancangkan sejak jauh-jauh hari
tergagalkan di sini. Saya menjadi orang yang tak bernilai dari segi apapun.
Selama ini harapan saya Anda dukung dengan kata-kata yang
menjajikan, sehingga saya semangat dan merasa bisa merealisir harapan
saya—bahkan bisa dikatakan sudah ada di depan mata. Tapi saya salah besar,
ternyata. Saya tak pernah menyana semuanya menjadi serba terbalik seperti ini!
Keterbalikan itu saya terima sebagai kehancuran terhebat bagi
semua rencana-harapan-juga-cita-cita saya: Dukungan
Anda, rupanya hanya sebatas komposisi kata-kata—bukan hasil akhirnya.
Saat ini saya sudah mengetahui yang sebenarnya. Apa yang saya
rasakan? Tentu saja kecewa! Saya sangat kecewa, lebih tepatnya. Jika saya boleh
mengatakan semuanya, saya merasa sangat tertekan atas kejadian ini. Dada saya,
Anda harus tahu, sangat-sangat sulit dibuat bernapas. Saya tak pernah mengalami
kesesakkan dada seperti ini. Sehingga bergalon airmata yang tak saya kehendaki
tumpah di pipi.
Sampai disini, ketertekanan milik saya belum bisa terbebaskan.
Maka jika suatu hari, barangkali mulai saat ini, saya tak lagi bisa membuka
rahasia-hati untuk Anda, mudah-mudahan Anda menerima—dan tidak lantas
menyalahkan saya. Karena saya sudah memutuskan semuanya!
Jika Anda membaca tulisan ini, sebetulnya tak sebanding dengan
kehancuran dinding hati milik saya. Rasanya dari dulu, deretan kata (selalu)
tak bisa menjelaskan perasaan seluruhnya.
…Dan maaf, saya belum bisa menjadi yang terbaik buat Anda.
Tegalsari,
Ahad, 04 Agustus 2013
—04:45 pm
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar