Pesantren. Aku merindukan suasana
pesantren. Aku kangen keadaan pesantren: Ramai lalaran, semangat mencari ilmu,
keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol bersama teman,
hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.
Adakah tempat paling indah di dunia ini selain
pesantren? Tempat paling baik sekaligus buruk... Tempatmu memutuskan untuk menjadi
imam atau menjadi preman.
Dimana lagi sanggup kautemukan tempat
berteman paling ruah, selain di pesantren?: Jawa, Bugis, Sunda, Madura, Osing,
dan seterusnya, dapat kautemukan di sana.
Pesantren. Aku malu pada orang-orang yang
bermukim di pesantren—yang setiap hari mendengar nasihat-nasihat para kiai.
Setiap saat mengaji. Membaca al-quran. Membaca nadzam-nadzam. Menatap wajah kitab.
Dan shalat berjamaah. Padahal, hati
manusia akan keras bila tak mendengar nasihat selama 40 hari, bukan?
Ah, kapan aku kembali pada suasana seperti
itu?
Uang kiriman Ibu telat. Dua hari aku tak
makan nasi. Ujian diniah segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Tanggungan
bulanan belum terlunasi. Sementara wali kelas terus-menerus menarikku
hafalan-hafalan yang belum mencapai target. Aku bingung! Kepalaku pusing!
“Tenang,
inna ma’al ‘usri yusrā,”
kata mustahiqmu.
Hei, di mana lagi tempat paling bijaksana—selain
di pesantren?
Saat-saat kelaparan karena jatah kiriman
telat, temanmu akan menawarkan sedikit makanan buatmu. Penamu hilang? Kamu
sakit? Masih ada teman, masih ada teman di dekatmu yang bersedia berbaik hati
kepadamu: Meminjami pena, membelikan obat, dan merawatmu sampai sembuh.
“Tenang,
masih ada kita,” kata mereka, temanmu.
Hafalanmu tak lancar? Di kepalamu banyak
persoalan yang tak kunjung terselesaikan? Masih ada ketua kamar, ketua asrama,
dan para ustadz, yang bisa jadi rujukanmu—dan mereka akan memberikan
solusi-solusi terbaik buatmu.
Maka tak pernah lagi kutemui tempat paling
indah selain pesantren: Tempat istijabah
bagi pendoa, tempat sederhana yang mendidikmu berpikir ala Amerika dan tetap
berjiwa Makkah, tempat paling aman yang melindungimu dari serangan globalisasi
dan marabahaya lainnya yang menyerangmu pelan-pelan—atau tiba-tiba.
Ya. Aku merindukan pesantren....
Adzan subuh berkumandang. Suara garang anggota
keamanan dan ketertiban. Wudu di kolam belakang asrama. Salat subuh yang masih
mengantuk. Dimarahi ketua kamar karena tidur pagi. Dihukum sebab tak mengikuti
kegiatan. Ah, menyebalkan!
Tapi, adakah tempat paling telaten selain
pesantren? Tempat kediaman yang secara tak sengaja mengajarimu
kebaikan-kebaikan—untuk tak gampang marah, mengeluh, dan tak menjadi pemalas;
Meski hati tetap dongkol, kamu tetap menaatinya, bukan? Hingga pada akhirnya
nanti kamu akan tahu sendiri: Bahwa salat malammu di pesantren, salat duhamu,
hafalanmu, kitab kuningmu, sarung yang kaupakai, baju lengan panjang, dan apa saja
yang kaukerjakan akan menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang langka—yang tak
dilakukan oleh orang-orang yang tak pernah di pesantren.
Duhai Tuhan
pemilik semesta
pemilik segala
rencana
pemegang kebaikan
sepenuhnya
dan penjaga segala
rahasia
Allahumma-j’alnĭ syakūran
wa-j’alnĭ shabūran
wa-j’alnĭ fĭ ‘ainĭ shaghĭran
wa fĭ a’yuni-nnāsi kabĭran
Dari situlah, pesantren, kamu mengajarkan
banyak hal kepadaku; Dan kini aku merindukanmu. Aku kangen suasanamu, aku kangen
keadaanmu, dan semuanya...
Maka demi angin
yang Kau tiupkan
demi air yang Kau
alirkan
demi debu yang Kau
tebarkan
bumi
langit
dan semua yang Kau
gerakkan
Dekatkan kebaikan
jauhkan keburukan
mudahkanlah segala urusan
lapangkanlah semua jalan
Allahumma innĭ
a’ūdzubika min ‘ilmin lā yanfa’
wa ‘amalin lā yurfa’
wa du’āin lā yustajāb
Dan sekali lagi aku ingin kembali merasakan
suasana itu: Ramai lalaran, semangat
mencari ilmu, keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol
bersama teman, hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.
Pesantren. Semoga dalam waktu dekat kita
bisa segera bertemu! Amin.
Gambar diambil dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar