Sabtu, 11 Januari 2014

Pesantren. Aku merindukan suasana pesantren. Aku kangen keadaan pesantren: Ramai lalaran, semangat mencari ilmu, keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol bersama teman, hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.

Adakah tempat paling indah di dunia ini selain pesantren? Tempat paling baik sekaligus buruk... Tempatmu memutuskan untuk menjadi imam atau menjadi preman.

Dimana lagi sanggup kautemukan tempat berteman paling ruah, selain di pesantren?: Jawa, Bugis, Sunda, Madura, Osing, dan seterusnya, dapat kautemukan di sana.

Pesantren. Aku malu pada orang-orang yang bermukim di pesantren—yang setiap hari mendengar nasihat-nasihat para kiai. Setiap saat mengaji. Membaca al-quran. Membaca nadzam-nadzam. Menatap wajah kitab. Dan shalat berjamaah. Padahal, hati manusia akan keras bila tak mendengar nasihat selama 40 hari, bukan?

Ah, kapan aku kembali pada suasana seperti itu?

Uang kiriman Ibu telat. Dua hari aku tak makan nasi. Ujian diniah segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Tanggungan bulanan belum terlunasi. Sementara wali kelas terus-menerus menarikku hafalan-hafalan yang belum mencapai target. Aku bingung! Kepalaku pusing!

“Tenang, inna ma’al ‘usri yusrā,” kata mustahiqmu.

Hei, di mana lagi tempat paling bijaksana—selain di pesantren?

Saat-saat kelaparan karena jatah kiriman telat, temanmu akan menawarkan sedikit makanan buatmu. Penamu hilang? Kamu sakit? Masih ada teman, masih ada teman di dekatmu yang bersedia berbaik hati kepadamu: Meminjami pena, membelikan obat, dan merawatmu sampai sembuh.

“Tenang, masih ada kita,” kata mereka, temanmu.

Hafalanmu tak lancar? Di kepalamu banyak persoalan yang tak kunjung terselesaikan? Masih ada ketua kamar, ketua asrama, dan para ustadz, yang bisa jadi rujukanmu—dan mereka akan memberikan solusi-solusi terbaik buatmu.

Maka tak pernah lagi kutemui tempat paling indah selain pesantren: Tempat istijabah bagi pendoa, tempat sederhana yang mendidikmu berpikir ala Amerika dan tetap berjiwa Makkah, tempat paling aman yang melindungimu dari serangan globalisasi dan marabahaya lainnya yang menyerangmu pelan-pelan—atau tiba-tiba.

Ya. Aku merindukan pesantren....

Adzan subuh berkumandang. Suara garang anggota keamanan dan ketertiban. Wudu di kolam belakang asrama. Salat subuh yang masih mengantuk. Dimarahi ketua kamar karena tidur pagi. Dihukum sebab tak mengikuti kegiatan. Ah, menyebalkan!

Tapi, adakah tempat paling telaten selain pesantren? Tempat kediaman yang secara tak sengaja mengajarimu kebaikan-kebaikan—untuk tak gampang marah, mengeluh, dan tak menjadi pemalas; Meski hati tetap dongkol, kamu tetap menaatinya, bukan? Hingga pada akhirnya nanti kamu akan tahu sendiri: Bahwa salat malammu di pesantren, salat duhamu, hafalanmu, kitab kuningmu, sarung yang kaupakai, baju lengan panjang, dan apa saja yang kaukerjakan akan menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang langka—yang tak dilakukan oleh orang-orang yang tak pernah di pesantren.

Duhai Tuhan pemilik semesta
pemilik segala rencana
pemegang kebaikan sepenuhnya
dan penjaga segala rahasia
               
Allahumma-j’alnĭ syakūran
wa-j’alnĭ shabūran
wa-j’alnĭ fĭ ‘ainĭ shaghĭran
wa fĭ a’yuni-nnāsi kabĭran

Dari situlah, pesantren, kamu mengajarkan banyak hal kepadaku; Dan kini aku merindukanmu. Aku kangen suasanamu, aku kangen keadaanmu, dan semuanya...

Maka demi angin yang Kau tiupkan
demi air yang Kau alirkan
demi debu yang Kau tebarkan
bumi
langit
dan semua yang Kau gerakkan
               
Dekatkan kebaikan
jauhkan keburukan
mudahkanlah segala urusan
lapangkanlah semua jalan
               
Allahumma innĭ
a’ūdzubika min ‘ilmin lā yanfa’
wa ‘amalin lā yurfa’
wa du’āin lā yustajāb

Dan sekali lagi aku ingin kembali merasakan suasana itu: Ramai lalaran, semangat mencari ilmu, keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol bersama teman, hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.

Pesantren. Semoga dalam waktu dekat kita bisa segera bertemu! Amin.


Tegalsari,
Ahad, 28 Juli 2013
—09:15 pm
Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar