Senin, 23 Desember 2013

Ibu
adalah pahlawanku
juga pahlawanmu
Blokagung,

22 Desember 2013

*Gambar diambil dari sini.
: V

V, kita sama-sama tahu, bahwa hidup tak mesti berjalan pada jalurnya. Kadang-kadang, ia memilih untuk mengambil jalan pintas—jalan lain yang bahkan tak kita kehendaki. Lalu kita akan menyesal, atau kecewa, pada jalan-jalan yang tak pernah kita ketahui ke mana ujungnya. Sementara dada kita yang terlanjur sesak atau telinga kita yang panas, cenderung selalu menolak nasihat-nasihat paling bijak, sekalipun.

Barangkali saat-saat macam ini, V, di mana aku kembali terjerembap pada lembah-kesedihan, aku selalu mengingat kata-katamu untuk terus bertahan.

"Penderitaan paling hebat hanya terjadi sebentar saja," katamu. Dan waktu itu, aku mengangguk saja. Semacam tak mau lebih banyak lagi mendengar nasihatmu. Nyatanya, kini aku benar-benar tahu, V. Dan kata-katamu waktu itu, selalu relevan untuk kupraktikan kapan aku mulai merasakan kesakitan.

Barangkali rasa sakit milikmu kini masih ada dan tetap terasa, V, seperti masih adanya sakit yang kumiliki. Tapi aku ingin kita sama-sama merawatnya, sebaik mungkin, agar mereka lekas sembuh—bersamaan dengan membaiknya hubungan kita, tentu saja.

Maka kenalilah kembali aku, V; mula-mula namaku, kemudian suaraku, kenangan kita berdua, apa saja: foto kita berdua, tawa kita, sedih, marah, pertengkaran, juga pertimintaan maafku padamu atau sebaliknya. Berikutnya izinkan aku memasuki ruangan pribadimu—hatimu. Lagi. Dan mari mulai kita susun lagi hari-hari agar lebih baik dari yang sudah-sudah.

Lalu genggam tanganku, V, dan tenanglah: semua akan baik-baik saja.
Probolinggo,
Selasa, 17 Desember 2013.

*Catatan dalam bus

*Gambar dari sini.
Selamat malam
hujan, remang
daun yang kedinginan
dan kota Jogja
juga semuanya

Selamat malam
tuan sopir berkumis lebat
sebab saat ini hujan cukup lebat
jadi tolong, laju bus diperlambat
agar kita semua selamat
kami percaya kau hebat

Selamat malam
handphone yang berbatrai lemah
baju yang basah
serta tubuh yang lelah
kami ucapkan
: kami pulang!

Jogja,
Kamis, 19 Desember 2013
*Catatan malam,

dalam bus yang kedinginan

*Gambar dari sini.
: Sopir

Tuan, apa kaukira jalanan ini
adalah track buatmu mahir berkendara?
apa kaupikir ini semua keren?
ini bukan Need for Speed
atau game balap pada PlayStation
: kami ketakutan tiap bus ini bergoyang
dengan cara yang tak wajar
seperti semalam kami tak kunjung tertidur
akibat kecepatan kendaraan ngawur
sementara pagi terlalu menakutkan
dari yang sebelumnya kami banyangkan

Maka, tengoklah ketakutan kami di belakang
kemudikan kendaraan dengan wajar
agar kami tak takut menatap jalan
dan, cepatlah sadar, Tuan!

Rabu,
18 Desember 2013
*Catatan pagi, dalam bus

--menuju Solo

*Gambar diambil dari sini.
: Kepada V, yang indah

I/

V, bukankah aneh jika aku memaksamu untuk tetap di sini, di sampingku—sementara badai-caci-maki tengah melanda kita di depan mata? Kita harus melarikan diri, V, menyelamatkan apa-apa yang bisa diselamatkan; membawa apa saja yang masih diperlukan. Dan aku, aku akan membawamu, tentu saja.

Aku akan membawamu, V, menyelamatkanmu dari badai itu, dari caci-maki orang-orang yang tak menginginkan kedekatan kita. Jauh. Sejauh jarak-pandang kita.

Tapi, mungkinkah aku bisa menjinakkan badai itu? Tanpamu, rasanya cukup sulit, V. Sebab aku bukan (si)apa-(si)apa.

II/

V, kadang-kadang, perkenalan yang terlalu jauh, pertemuan yang terlalu dalam, hanya akan membuat kita pingsan dan lalu lupa ingatan. Barangkali kita adalah satu di antara ribuan contoh yang ada di muka bumi ini.

Jika waktu bisa kuakali agar ia berjalan ke belakang, sesungguhnya aku mau mengatakan semua itu, V, padamu. Tapi aku tahu, dan kau juga tahu, waktu memang tak bisa diulang. Dan semua sudah berjalan: Ia bukan film picisan, yang dibalut dengan slow motion atau kisah menyedihkan, yang bisa kita putar lagi, dan lagi; semacam replay pada adegan yang kita inginkan untuk kemudian kita tonton—berulang-ulang.

Maka satu-satunya cara adalah, lepaskan saja, V, satu per satu, foto-kenanganmu denganku di dinding hatimu—meski sulit, meski sakit. Dan kau hanya perlu palu dan tenaga untuk melakukan itu.

III/

V, jadi, inikah ujung dari perkenalanku denganmu dua tahun lalu—di mana aku harus minta ampun pada mimpi dan harapanku?

Jika memang benar, maka kuharap kita sama-sama bisa menerima. Bukankah memang harus begitu? Berat, itu yang kita rasakan. Kau mungkin kecewa atas semuanya? Atas keputusan ini? Atas apa saja yang ada sekaligus terjadi? Ya. Di luar itu, aku juga berhak kecewa, V, sepertimu.

Semua, terutama dirimu, adalah alasan yang membuat bebanku bertambah berat. Dan tak mudah buat merasakan sakit ini. Ada perasaan tak terima. Butuh waktu. Seperti tak mudahnya mendapatkanmu, seperti butuh banyaknya waktu buat mendapatkan cintamu—dulu.

Seperti manusia lain yang menjejakkan kaki di dunia, V, aku bisa menangis, aku bisa marah, memukul apa-apa di sekitarku, memaki siapa-siapa, menyerapahi semuanya. Tapi lantas buat apa semua itu, V, jika kemurunganku tak bisa mengubah keadaan? Semua ini, semacam apa boleh buat, V. Semacam kerikil yang membuat kita terpeleset lalu jatuh pada saat lomba maraton, sementara garis finish sudah terbentang jelas di depan mata kita.

Bahwa aku pernah bermimpi untuk hidup satu atap denganmu, dan bahagia bersamamu, semua mesti gagal, V, dengan alasan yang kita berdua sudah tahu.

IV/

Barangkali beberapa pekan atau bahkan beberapa bulan ke depan, aku hanya ingin menangis, menangis, dan menangis. Biarkan airmata jadi puisi. Dan aku juga mau menyendiri, membuat bait-bait paling murung dan sakit, atau melakukan hal-hal, apa saja, yang lebih parah untuk kurasakan sendiri:

            Aku mau menunggumu di sini
saat pagi masih basah akibat embun
atau malam mengancam melalui kegelapan
               
Aku mau menunggumu saja
saat gerimis mulai memburamkan namamu
pada kaca jendela rumahku

Maka biarkan segalanya berjalan, V, apa adanya. Seperti sepi yang akan terbelah oleh suara. Sejajar dengan kata pasrah dan putus asa.

Tegalsari,
Selasa, 10 Desember 2013

—03:36 pm

*Gambar diambil dari sini.
Koper hitam melayang
pada kaca yang basah
akibat hujan semalaman

Matahari tak segera muncul
langit masih murung
malam lebih panjang dari biasanya

Ayam di belakang rumah terbatuk
suaranya mampet pada leher
disaksikannya dua cacing menggeliat

Di hadapan langit
pelempar koper mengemas sepasang hati yang patah
dipikirnya, hidup memang ambigu
bahkan seringkali paradoks


Tegalsari,
Jumat, 13 Desember 2013


*Gambar diambil dari sini.