Senin, 23 Desember 2013
Posted by Unknown on 06.13
with No comments so far
: V
V, kita sama-sama tahu, bahwa hidup tak mesti berjalan
pada jalurnya. Kadang-kadang, ia memilih untuk mengambil jalan pintas—jalan
lain yang bahkan tak kita kehendaki. Lalu kita akan menyesal, atau kecewa, pada
jalan-jalan yang tak pernah kita ketahui ke mana ujungnya. Sementara dada kita
yang terlanjur sesak atau telinga kita yang panas, cenderung selalu menolak
nasihat-nasihat paling bijak, sekalipun.
Barangkali saat-saat macam ini, V, di mana aku kembali
terjerembap pada lembah-kesedihan, aku selalu mengingat kata-katamu untuk terus
bertahan.
"Penderitaan
paling hebat hanya terjadi sebentar saja," katamu. Dan waktu itu, aku
mengangguk saja. Semacam tak mau lebih banyak lagi mendengar nasihatmu.
Nyatanya, kini aku benar-benar tahu, V. Dan kata-katamu waktu itu, selalu
relevan untuk kupraktikan kapan aku mulai merasakan kesakitan.
Barangkali rasa sakit milikmu kini masih ada dan tetap
terasa, V, seperti masih adanya sakit yang kumiliki. Tapi aku ingin kita
sama-sama merawatnya, sebaik mungkin, agar mereka lekas sembuh—bersamaan dengan
membaiknya hubungan kita, tentu saja.
Maka kenalilah kembali aku, V; mula-mula namaku, kemudian
suaraku, kenangan kita berdua, apa saja: foto kita berdua, tawa kita, sedih,
marah, pertengkaran, juga pertimintaan maafku padamu atau sebaliknya. Berikutnya
izinkan aku memasuki ruangan pribadimu—hatimu. Lagi. Dan mari mulai kita susun
lagi hari-hari agar lebih baik dari yang sudah-sudah.
Lalu genggam tanganku, V, dan tenanglah: semua akan baik-baik saja.
Probolinggo,
Selasa, 17 Desember 2013.
*Catatan dalam bus
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 06.09
with No comments so far
Selamat malam
hujan, remang
daun yang kedinginan
dan kota Jogja
juga semuanya
Selamat malam
tuan sopir berkumis lebat
sebab saat ini hujan cukup lebat
jadi tolong, laju bus diperlambat
agar kita semua selamat
kami percaya kau hebat
Selamat malam
handphone yang berbatrai lemah
baju yang basah
serta tubuh yang lelah
kami ucapkan
: kami pulang!
Jogja,
Kamis, 19 Desember 2013
*Catatan malam,
dalam bus yang kedinginan
*Gambar dari sini.
Posted by Unknown on 06.04
with No comments so far
: Sopir
Tuan, apa kaukira jalanan ini
adalah track buatmu mahir berkendara?
apa kaupikir ini semua keren?
ini bukan Need for Speed
atau game balap pada PlayStation
: kami ketakutan tiap bus ini bergoyang
dengan cara yang tak wajar
seperti semalam kami tak kunjung tertidur
akibat kecepatan kendaraan ngawur
sementara pagi terlalu menakutkan
dari yang sebelumnya kami banyangkan
Maka, tengoklah ketakutan kami di belakang
kemudikan kendaraan dengan wajar
agar kami tak takut menatap jalan
dan, cepatlah sadar, Tuan!
Rabu,
18 Desember 2013
*Catatan pagi, dalam bus
--menuju Solo
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 05.56
with No comments so far
: Kepada V, yang indah
I/
V, bukankah aneh jika aku memaksamu untuk
tetap di sini, di sampingku—sementara badai-caci-maki tengah melanda kita di
depan mata? Kita harus melarikan diri, V, menyelamatkan apa-apa yang bisa
diselamatkan; membawa apa saja yang masih diperlukan. Dan aku, aku akan membawamu,
tentu saja.
Aku akan membawamu, V, menyelamatkanmu dari
badai itu, dari caci-maki orang-orang yang tak menginginkan kedekatan kita.
Jauh. Sejauh jarak-pandang kita.
Tapi, mungkinkah aku bisa menjinakkan badai
itu? Tanpamu, rasanya cukup sulit, V. Sebab aku bukan (si)apa-(si)apa.
II/
V, kadang-kadang, perkenalan yang terlalu
jauh, pertemuan yang terlalu dalam, hanya akan membuat kita pingsan dan lalu
lupa ingatan. Barangkali kita adalah satu di antara ribuan contoh yang ada di
muka bumi ini.
Jika waktu bisa kuakali agar ia berjalan ke
belakang, sesungguhnya aku mau mengatakan semua itu, V, padamu. Tapi aku tahu,
dan kau juga tahu, waktu memang tak bisa diulang. Dan semua sudah berjalan: Ia
bukan film picisan, yang dibalut dengan slow motion atau kisah
menyedihkan, yang bisa kita putar lagi,
dan lagi; semacam replay pada adegan yang kita inginkan untuk kemudian kita tonton—berulang-ulang.
Maka satu-satunya cara adalah, lepaskan saja,
V, satu per satu, foto-kenanganmu denganku di dinding hatimu—meski sulit, meski
sakit. Dan kau hanya perlu palu dan tenaga untuk melakukan itu.
III/
V, jadi, inikah ujung dari perkenalanku
denganmu dua tahun lalu—di mana aku harus minta ampun pada mimpi dan harapanku?
Jika memang benar, maka kuharap kita sama-sama
bisa menerima. Bukankah memang harus begitu? Berat, itu yang kita rasakan. Kau
mungkin kecewa atas semuanya? Atas keputusan ini? Atas apa saja yang ada
sekaligus terjadi? Ya. Di luar itu, aku juga berhak kecewa, V, sepertimu.
Semua, terutama dirimu, adalah alasan yang
membuat bebanku bertambah berat. Dan tak mudah buat merasakan sakit ini. Ada
perasaan tak terima. Butuh waktu. Seperti tak mudahnya mendapatkanmu, seperti
butuh banyaknya waktu buat mendapatkan cintamu—dulu.
Seperti manusia lain yang menjejakkan kaki di
dunia, V, aku bisa menangis, aku bisa marah, memukul apa-apa di sekitarku,
memaki siapa-siapa, menyerapahi semuanya. Tapi lantas buat apa semua itu, V,
jika kemurunganku tak bisa mengubah keadaan? Semua ini, semacam apa boleh buat,
V. Semacam kerikil yang membuat
kita terpeleset lalu jatuh pada saat lomba maraton, sementara garis finish sudah terbentang jelas di depan
mata kita.
Bahwa aku pernah bermimpi untuk hidup satu
atap denganmu, dan bahagia bersamamu, semua mesti gagal, V, dengan alasan yang
kita berdua sudah tahu.
IV/
Barangkali beberapa pekan atau bahkan beberapa
bulan ke depan, aku hanya ingin menangis, menangis, dan menangis. Biarkan
airmata jadi puisi. Dan aku juga mau
menyendiri, membuat bait-bait paling murung dan sakit, atau melakukan hal-hal, apa saja, yang lebih parah
untuk kurasakan sendiri:
Aku mau menunggumu di sini
saat pagi masih basah akibat embun
atau malam mengancam melalui kegelapan
Aku mau menunggumu saja
saat gerimis mulai memburamkan namamu
pada kaca jendela rumahku
Maka biarkan segalanya berjalan, V, apa
adanya. Seperti sepi yang akan terbelah oleh suara. Sejajar dengan kata pasrah dan putus asa.
Tegalsari,
Selasa, 10 Desember 2013
—03:36 pm
*Gambar diambil dari sini.
Posted by Unknown on 05.53
with No comments so far
Koper hitam melayang
pada kaca yang basah
akibat hujan semalaman
Matahari tak segera muncul
langit masih murung
malam lebih panjang dari biasanya
Ayam di belakang rumah terbatuk
suaranya mampet pada leher
disaksikannya dua cacing menggeliat
Di hadapan langit
pelempar koper mengemas sepasang hati yang patah
dipikirnya, hidup memang ambigu
bahkan seringkali paradoks
akibat hujan semalaman
Matahari tak segera muncul
langit masih murung
malam lebih panjang dari biasanya
Ayam di belakang rumah terbatuk
suaranya mampet pada leher
disaksikannya dua cacing menggeliat
Di hadapan langit
pelempar koper mengemas sepasang hati yang patah
dipikirnya, hidup memang ambigu
bahkan seringkali paradoks
Langganan:
Postingan (Atom)






