Selasa, 14 Mei 2013

“Kita ini siapa?” tanyaku pada Alya saat kami makan malam bersama di sebuah kafe.

“Kita?” Alya balik bertanya padaku. Memastikan. Aku tersenyum sembari mengangguk mengiyakan.

“Kita—” perkataan Alya terpotong. Tepatnya memang sengaja dipotong. Untuk beberapa saat kami diam. Suasana kafe yang ramai berbalik terasa menegangkan. Kami bertatap canggung. Namun Alya masih enggan berkata.

Kunaikkan alis kiriku, mencoba menebak-nebak apa jawaban yang keluar dari mulut Alya. Sementara Alya sendiri tetap memandangku. Lurus.

“—kita adalah teman.” suara Alya masuk ke lorong telingaku, memecah keheningan di antara kami berdua. Sejurus kemudian Alya kembali meneguk sirop yang tepat berada di depannya. Sedangkan aku sendiri masih berdiam diri. Mendengar jawaban Alya, aku tidak mampu berkata sepatah pun. Seketika aku memiliki kesibukan sendiri yang harus aku rampungkan cepat-cepat; mengendalikan perasaanku yang tercecer berserakan. Bibirku bergetar. Aku menelan ludah dengan penuh gelisah.

“Baiklah,” akhirnya aku berhasil memaksakan mulutku berkata meski hanya sepatah saja.
Usai makan malam kami berpisah—pulang menuju rumah masing-masing.

*

Sejak peristiwa malam itu, kami jarang bertemu. Alya sulit aku hubungi; komunikasi kami semakin renggang.

Dulu, aku dan Alya sangat dekat bak koin yang tak mungkin bisa dipisahkan. Itu dulu—dulu sekali. Saat perasaan kami masih sebatas pertemanan biasa. Tapi sekarang, semua beranjak berubah seiring dengan rasaku terhadap Alya yang berubah; perasaan yang hampir mendekati “cinta”.

Ya, cinta. Mengapa harus menutup mata jika rasa itu sedang bekerja pada kita? Bukankah cinta selalu hadir tiba-tiba tanpa aba-aba? Memang. Dan sekarang, cinta itu sedang bekerja pada diriku.

Setiap aku bertemu dengan Alya untuk sekadar bercerita, aku merasakankebahagiaan tiada tara tersebab satu kata sederhana yang berhasil mencetak hikayat cerita manusia, ialah cinta. Aku tidak menepisnya dan terang saja aku benar-benar menikmati kehadirannya.

Pernah suatu ketika aku janjian bertemu dengan Alya di sebuah resto di Surabaya. Aku masih ingat betul tentang semua itu. Kami makan satu bangku, mengobrol biasa dan tentu, tawa lepas tercipta di dalamnya.

“Alya, ngomong-ngomong hobimu apa?” aku mulai bersuara.

“Aku hobi baca-baca, Den,” jawab Alya datar. Simpul tawa menyertainya. Aku tertawa kecil.

“Wah, keren dong!”

“Haha. Keren apanya coba? Kalau hobimu sendiri apa, Den?”

“Hm... kalau aku nulis-nulis.”

“Wooa.. itu lebih keren tau!” Alya melempar tawa sembari memukul lengan kananku. Pelan.

Kami tertawa...

“Oiya, Alya, kamu suka baca apa? Novel atau majalah atau apa?”

“Ya, itu termasuk. Pokok baca apa aja aku suka. Namanya juga hobi, Den.”

“Emm, begitu ya. Oke, abis ini ikut aku aku ya?”

“Ke mana?”

“Ke toko buku. Aku mau beli novel. Oke?”

“Oke deh.”

*

Kami tiba di toko buku jam 8 malam. Sambil mencari-cari buku, kami berbincang-bincang ringan.

“Memangnya mau cari buku apa kamu Den?”

“Nggak tahu juga. Pokok kalau ada yang cocok ya aku ambil.”

“Kalau ini gimana?” Alya menyodorkan novel “Dear You”.

“Wah, boleh juga ini,” aku bersemangat menerima buku yang ditawarkan Alya.

Setelah membayar di kasir kami beranjak pulang. Alya yang tadi berangkat ke resto naik taksi, kini ia sedang aku bonceng. Alya aku antar sampai depan rumahnya.

“Oke, makasih Deni,” Alya bersuara lembut.

Aku tersenyum, “Iya, sama-sama.”

Setelah obrolan singkat itu, aku langsung bergegas pulang. Sementara Alya membiarkanku berlalu.

Sampai di pertengahan jalan, hapeku bergetar. Seketika aku berhenti dan mengambil hape yang berada di saku celana. Satu pesan di terima. Nama Alya tercetak di layar.

“Hati-hati, Deni. Terimakasih. :)”

Aku enggan membalas dan hanya tersenyum.

Setiba di rumah, langsung saja aku merebahkan tubuh ke tempat tidur. Wajah Alya berkelebat di benakku. Dan entah mengapa bibirku otomatis terangkat menciptakan tawa.

*

Sejak malam itu, hari-hariku bersama Alya semakin akrab. Semua kami jalani dengan hidangan canda-tawa yang tidak ada habisnya. Setiap seusai kami bertemu, Alya selalu menyodorkan satu senyum manis kepadaku.

Seperti sebuah agenda harian. Sepulang aku dan Alya bertemu, aku selalu tersenyum dan bahkan tertawa sendiri ketika mengingat Alya. Dan, sekali lagi aku menikmatinya.

Aku masih mengenang kejadian di sebuah malam, tepatnya di taman kota Surabaya, Alya memberiku sebuah kado.

“Deni, nanti malam ada acara?”

“Sepertinya nggak ada. Ada apa Alya?”

“Bisa keluar apa nggak?”

“Nanti malam ya. Bisa!”

“Oke, nanti malam jam setengah tujuh aku tunggu di taman kota ya. Oke?”

“Oke. Tapi kamu aku jemput aja, Alya.”

“Nggak usah. Kamu langsung ke taman aja.”

“Lho, kenapa?”

“Udah, nggak usah. Pokok kamu langsung ke taman aja. Jam setengah tujuh lho. Jangan terlambat. Oke? Sampai bertemu nanti malam, Deni.”

Tut, tut, tut...

Aku mengambil napas pelan. Pikiranku mulai menebak-nebak kenapa tiba-tiba Alya mendadak memintaku menemuinya di taman kota?

*

Malam harinya tepat jam setengah tujuh aku sampai di taman kota. Aku melihat wanita berambut sebahu sedang duduk sendiri. Lekas-lekas aku menemui wanita tersebut.

“Alya...,” aku tersenyum memanggilnya.

Alya menoleh ke belakang. Kini, wajahnya tepat memandangku, “Hai, Deni.”

“Kamu sudah nunggu lama, Alya?” tanyaku.

“Nggak kok. Lima menitan mungkin.” Alya kembali tersenyum teduh padaku.

“Oke, kenapa kok tiba-tiba nyuruh aku datang ke sini?” aku langsung bertanya pada inti.

“Ini, buatmu.” Alya memberikan sebuah kado terbungkus kertas berwarna hijau muda.

“Ini buatku?” aku pura-pura tidak percaya.

“Iya. Dibuka sekarang juga nggak apa-apa.”

Aku tersenyum. Dengan hati-hati aku membuka kado pemberian Alya. Dan ada dua isi: Gantungan kunci bertuliskan namaku dan Alya, dan satu novel. Aku tertawa bahagia—tidak menyangka Alya bisa sebaik itu kepadaku.

“Terimakasih ya, Alya. Ah ya, kenapa kok tiba-tiba kamu ngasih kado beginian ke aku?” aku masih tertawa kecil.

“Anggap aja itu ucapan selamat dariku karena cerpenmu berhasil termuat di majalah Setia.”

“Yang benar? Cerpenku termuat di sana?” aku terkejut bahagia. Cerpenku ternyata dimuat majalah Setia. Beberapa waktu lalu aku memang mengirimkan sebuah cerpen ke redaksi majalah Setia. Aku tidak habis pikir cerpenku termuat dan Alya-lah yang memberitahuku.

Karena kegirangan, aku memeluk Alya.

*

Tiga bulan terlewatkan dengan ribuan helai kebahagiaan bersama Alya. Perasaanku pada Alya semakin menggebu-gebu. Alya selalu berhasil membuatku ceria.Terimakasih, Alya...

Hingga suatu malam kami kembali dipertemukan di sebuah kafe. Kali ini yang mengajak adalah aku. Tiga hari belakangan aku mempersiapkan diri untuk malam ini: Aku akan menyatakan perasaanku kepadanya.

“Alya, sebernarnya aku ingin bicara sesuatu kepadamu” dari sinilah pembicaraan kami bermula.

“Apa, Den?” sahut Alya pendek.

“Aku memiliki rasa lebih kepadamu,” suaraku sedikit serak. Jantungku berdegup cepat. Napasku tak teratur, “Aku ingin menjadikanmu kekasihku.”

Alya tampak tercengang. Namun lekas-lekas ia menampakkan raut muka biasa. Aku membiarkannya diam. Mungkin dia masih berpikir untuk melepaskan jawaban dari mulutnya.

Beberapa menit pun berlalu tanpa ada perbincangan di antara kami.

“Sebenarnya aku tahu kamu mencintaiku, Den. Tapi maaf, aku belum siap untuk hubungan yang kamu maksud.”

Tiba-tiba suasana mendadak hening...

“Jadi, kita ini (si)apa?” tukasku pada Alya.

“Kita adalah teman.” suara Alya menyelinap ke lorong telingaku, memecah harapanku. Mendengar jawaban Alya, aku tidak mampu berkata sepatah pun. Bibirku bergetar. Aku menelan ludah dengan penuh gelisah.

“Baiklah,” akhirnya aku bersuara meski sepatah saja.

Usai makan malam kami berpisah—pulang menuju rumah masing-masing. Lambaian tangan Alya masih terserlah di benakku. Itu yang terakhir.“Aku belum siap”. Aku masih mengingat kalimat yang diucapkan Alya.

Baiklah, Alya. Suatu saat aku akan kembali datang kepadamu dengan segenggam cinta terdalam untukmu. Kini, satu tekadku: Aku akan menunggumu di jauh hatimu...

Tegalsari,
Sabtu, 13 Oktober 2012
—02:04 pm

0 komentar:

Posting Komentar