Jumat, 07 Februari 2014

Aku kembali menemukan angin di matamu—memorak-porandakan tatapanmu yang dulu lugu. Kupikir, tempo lalu aku ingin mengajakmu berdansa dan menari dalam pesta yang kubikin sendiri.

Akan kubawakan lagu cinta yang kuciptakan dari kagumku. Kupetikkan gitar yang terbuat dari senar-rambutmu. Sementara, matamu yang lugu merenggut separuh jiwaku. Maka aku akan menyanyikan lagu itu:

Kau yang berdetak di jantungku/
merampas sebagian besar debarnya/
dari matamu yang lugu/
aku tergugu dibuatmu//

Dan kau adalah nadiku/
yang berdenyut denganku/
dan kakimu yang jenjang/
buatku tak berdaya mengikutimu//

Tergugu aku dibuatmu//
tergugu aku dibuatmu//

Duhai! Kupikir itu indah—jika kau dan aku menari dan berdansa dalam pesta kita berdua: kurasa itu segalanya. Tetapi angin di matamu kini memilih menari sendiri, berdansa bersama badai, berpesta dalam benci.

Kini aku terpelanting jauh. Pesta malamku yang semula ingin kurayakan bersamamu rubuh akibat angin di matamu itu. Dan aku sendirian dan jadi ketakutan, di sini… . Terpelanting aku di sapu angin di matamu yang dulu lugu.

Tegalsari,
Sabtu, 8 Februari 2014

—05:35 am
*Gambar dari sini.
Kita sering mendamba kedatangan hujan. Merapal doa bersama biar Tuhan menurunkannya. Lalu kita bisa bermain di halaman rumah atau lapangan saat hujan tengah tiba: dua anak kecil yang saling berkejaran, tertawa, dan memekik suara ke hadapan langit.

“Hooooyy!” suaramu terdengar keras. Kemudian kita sama-sama tertawa.

Tetapi, aku tak mengharap hujan sekarang!

Aku justru ingin merapal doa agar Tuhan mau meredakan hujan. Hujan tahun ini datang ramai sekali. Aku jadi ketakutan sekarang. Hujan menelan hampir seluruh kecamatan. Pepohonan banyak yang tumbang. Dan kau, kau kini tengah terbaring di kamar yang berlantai putih, bertirai putih, dan berkasur putih—akibat kedinginan.

Besok siang kita ada janji untuk berjumpa, bukan?

Cepatlah sadar. Aku ada di sampingmu kini. Aku kangen, ingin melihat senyummu yang jujur itu. Jangan sandiwara lagi. Bagaimana dengan janji kita besok jika kau seperti ini? Dan kumohon padamu: Lekaslah sembuh!

Tegalsari,
Kamis, 06 Februari 2014

—08:59 am
*Gambar dari sini.
Dalam hidup, ada sebagian hal yang bisa kita jalani bersama, sementara bagian yang lain, mesti kita jalani sendiri(-sendiri). Tak semua hal yang telah-sedang-dan-akan kita kerjakan harus diikat dalam satu kata ‘kebersamaan’.

Barangkali aku akan menolongmu saat hujan lebat serta badai tengah melanda desa kita. Sementara, kau terjebak di dalam rumahmu. Kita, kau dan aku, akan sama-sama saling merespon; rasa cemas satu sama lain akan menjelma tumbuh dalam dada kita berdua.

Lalu, mata kita akan saling mencari atau mengamati wajah-wajah yang sama kita kenali. Dan bila mataku tak kunjung berhasil menemukanmu, aku akan memanggil-panggil namamu—sekeras mungkin.

Ya. Aku akan memanggil namamu. Dengan keras!

Sementara suaraku yang memekik tak berbalas, aku akan mencoba cara lain: dengan berusaha menanyakan pada orang-orang sekitar, apakah mereka melihatmu? Mungkin saja ada yang tak sengaja sekelebat melihatmu terjebak di tengah badai-hujan, tetapi mereka tak sempat menolongmu sebab di ujung, seorang balita menjerit ketakutan—dan mereka, orang-orang, menolong balita itu lebih dulu?

Pada saat itu, barangkali aku akan berusaha menolongmu—meloloskanmu dari ancaman badai yang menakutkan itu... .

Tetapi, itu tadi, kadang hidup tak melulu tentang kebersamaan. Mungkin, suatu ketika, kita akan saling berpisah, menjalani hidup sendiri-sendiri. Dan jika saat itu terjadi, wajah kita kemudian akan berpaling: Aku, tak terkecuali.

Sebelum mereka datang, dan sebelum mereka menjemput kita di sudut gang, mari kita saling mengucapkan kalimat itu: Maafkan atas apa saja yang telah terjadi, atas apa saja yang tengah terjadi, juga atas kejadian yang akan datang—yang akan terjadi.

Persahabatan kita barangkali tak sempurna, seperti tak sempurnanya aku di matamu. Seperti juga rembulan di atas sana, setiap kita memiliki sisi gelap.

Blokagung,
Rabu, 5 Februari 2014

saat diniah, menunggu wali kelas
Hujan februari
menelan sebongkah cinta
meneguk sejumlah peristiwa
mengendus aroma luka
mengunyah multirasa

Padamu hujan februari berada
mengomando rasa yang ada di dada
saat kesiur angin membelai keningmu
memeluk erat tubuhmu yang rapuh
menyisir rambutmu yang pemalu

Di jauh tempatku tinggal
mengagumi napasmu yang sengal
mengharap baik kabarmu yang samar
mengasih apapun yang tiada kuhafal

Kau adalah hujan
yang kudamba datang
kau adalah februari
yang kuingini setengah mati

Seperti pertama berjumpa
kau tiada yang menyama

Tegalsari,
Senin, 3 Februari 2014

—10:41 pm
*Gambar dari sini.
Jika kupikir remaja
ia mustahil ada ujungnya

Jika kuingat detik berguguran
kurasa remaja adalah ketiadaan

Sebentar lagi
tak ada di sini

Aku
kamu

Tak ada di sini
sebentar lagi

Tegalsari,
Sabtu, 1 Februari 2014

—03:05 am
*Gambar dari sini.
Kusebut cinta
Jika kau tak ada

Kusebut rindu
Jika tak bertemu

Kusebut benci
Jika kau ada di sini
Tegalsari,
Kamis, 17 Oktober 2013

—05:03 am
*Gambar dari sini.