Jumat, 07 Maret 2014

Setiap kita barangkali memiliki keputusan-keputusan pribadi. Keputusan yang kita pikir adalah segalanya—yang terbaik. Sudah sejak dulu berlaku, kita yang cenderung merasa benar seringkali mengabaikan pendapat-pendapat orang lain yang sebetulnya lebih benar.

Seperti sebuah ungkapan, manusia adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa lepas dari bantuan orang lain; sekecil apapun bantuan tersebut, kita butuh seseorang di sebelah untuk memapah jalan kita yang gontai. Kita butuh orang di belakang untuk mendorong—meyakinkan agar kita tidak ragu. Juga butuh bantuan orang lain di depan untuk memberitahukan jalan-jalan yang berlubang, agar kita lebih waspada.

Apa boleh buat? Kita memang membutuhkan orang-orang semacam itu, kan?

Dulu ketika masih Madrasah Aliyah, aku pernah berkecimpung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah atau biasa dikenal dengan Osis. Saat itu aku menjabat sebagai sekretaris umum. Kami beranggotakan 20 orang, terbagi dalam hierarki jabatan. Dan orang-orang yang menyandang jabatan tersebut otomatis wajib melaksanakan tugas-tugas yang sudah ditentukan: Seperti bendahara, bertugas memegang sekaligus mengatur siklus keluar-masuknya uang agar seimbang; Sekretaris, bertugas penuh dalam pembuatan surat-surat resmi ketika akan melakukan kegiatan apapun; Ketua, berperan penuh dalam organisasi yang dipimpinnya, termasuk bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi, suatu saat.

Tetapi jabatan-jabatan dan tugas-tugas tersebut hanya sekadar formalitas belaka. Dalam bahasa kasarnya, kita biasa menyebutnya ‘titip nama’ untuk dibubuhkan dalam kertas yang bersampul “Sruktur Anggota Osis”—di mana setiap orang yang dirasa cocok dan kebetulan terpilih, mereka akan dicantumkan dalam struktur tersebut. Dan syukurlah, karena sebagian besar anggotanya titip nama, maka kinerja Osis kami cukup berantakan.

Aku bersama ketua Osis waktu itu bekerja sendiri. Maksudku, kami mengerjakan tugas yang sebetulnya bukan tugas kami. Hal ini terjadi seperti saat Osis akan mengadakan donor darah, misalnya. Seminggu sebelum kegiatan biasanya Osis mengadakan rapat menyusul akan diadakannya donor darah. Agenda rapat ini biasanya bertujuan untuk menentukan panitia pelaksananya. Seperti menentukan ketua, wakil, sekretaris, bendahara, termasuk seksi-seksinya. Jadi setiap Osis mengadakan kegiatan, maka panitia kegiatan tersebut harus berganti. Hal ini memiliki tujuan agar semua anggota terampil dan kreatif. Diharapkan pula, dengan dibentuknya srtuktur kepanitiaan kegiatan yang bergilir, mereka-mereka yang belum bisa membuat surat perizinan atau semacamnya, misalnya, bisa berkonsultasi kepada sekretaris umum atau ke pembimbing Osis langsung untuk meminta panduan.

Pada kenyataannya, panitia yang terpilih tadi tak ada yang bekerja; hanya satu-dua yang benar-benar tanggap. Soal surat-menyurat dan poster akhirnya aku yang membuat. Lalu untuk pengoordinasian langsung ditangani ketua Osis. Sementara mana panitia yang lain? Jawabnya: entahlah.

Dalam situasi semacam itu, aku kembali menyelam dalam asal-mula pembentukan struktur Osis. Sejak awal, aku dan ketua memang tidak melakukan observasi secara matang. Dalam bentuk lain, kami berdua memilih anggota sesuai hati kami: jika dirasa cocok, maka kami masukkan ke dalam buku Struktur Anggota Osis, seperti yang kukatakan di atas tadi. Kemudian pada penyelaman itu aku menemukan titik kesimpulannya: Aku—bersama ketua Osis, saat itu—memilih anggota kurang bersosialisasi dengan pihak-pihak tertentu, misalnya wali kelas, guru-guru, termasuk siswa-siswa itu sendiri. Kami lupa dan tak mendengarkan mereka lebih dulu.

Aku jadi teringat suatu nasihat, begini: “Pemimpin yang baik adalah pendengar yang baik.”

Mungkin karena jabatanku saat itu berada di atas, setidaknya berada di barisan atas setelah ketua dan wakil, aku jadi seenaknya saja memilih siapa-siapa, memutuskan keputusan sendiri—tanpa mendegarkan orang lain... tanpa bersosialisasi dengan pihak lain. Hingga kemudian aku sendiri yang merasa kerepotan.

Aku tidak tahu jika kini di antara kita ada yang tengah mengalami situasi semacam yang kuceritakan di atas tadi. Yang jelas, setiap struktural selalu membutuhkan koordinasi terhadap sekitar dan kita perlu mendengarkan mereka. Terserah itu Osis, Bem, sekolah-sekolah, kelas, juga perkuliahan. Ah ya, termasuk ketika mengadakan suatu kegiatan pun kita mesti memerlukan koordinasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Sebab, itu tadi, kita tidak bisa lepas dari peran orang-orang atau pihak-pihak yang memapah kita, yang mendorong kita, dan yang memperingatkan untuk kita waspada.

Dan jika kebetulan watak kita yang merasa paling benar itu masih mengotot—tak mau mengalah, barangkali ada satu dugaan: Kita bukan pendegar yang baik!

Tegalsari,
Senin, 03 Maret 2014
—12:32 pm
*Gambar dari sini.
Barangkali seorang penulis sama seperti seorang penembak. Jika menembak menggunakan peluru, maka amunisi penulis adalah membaca. Suatu hari mereka sama-sama bisa melumpuhkan orang. Tinggal seberapa jauh mereka mempersiapkan amunisi-membacanya, dan seberapa lihai mereka menembak-melalui-tulisannya.

Tegalsari,
Sabtu, 01 Maret 2014
—12:23 am

*Gambar dari sini.
Kemarin tanggal 15 Februari 2014 bertepatan hari Sabtu, mahasiswa Staida dari program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) mengadakan kegiatan Bedah Buku Antologi Puisi dan Diklat Kepenulisan Cerpen yang dimentori oleh Mas Bandung Mawardi dan Mas Pri dari Solo. Acara berlangsung baik dan lancar, serta menyenangkan.

Sesekali dalam penuturannya, Mas Bandung menyematkan humor. Seperti biasanya, beliau memang kocak.

Aku sendiri baru sekali kemarin bertemu dengan Mas Pri. Sementara Mas Bandung, bulan Januari lalu aku bertemu dengan beliau di UNS, Solo, dalam kegiatan Studi Sastra. Dari pertemuan itu, aku mendadak ngefans dengan beliau.

Kembali ke seminar kemarin.

Kebetulan dalam acara itu aku menjadi salah satu panitia. Senang sekali rasanya ketika mengadakan seminar dengan mentor seorang sastrawan terkenal seperti Mas Bandung. Di tengah acara, beliau keluar ruangan—mungkin karena gerah. Dan kebetulan juga, saat itu aku tengah duduk-duduk di depan ruangan.

Aku sempat basa-basi dengan beliau. Saat kusodorkan buku dan pena untuk meminta tanda tangan, Mas Bandung mengelak dan mengatakan, “Halah, ndak usah. Ketemu orangnya saja kan sudah cukup. Masa kamu mau ketemu sama tanda tangannya juga? Hahaha.”

Akhirnya niat meminta tanda tangan itu aku urungkan.

Usai acara kami membubarkan diri. Mas Bandung dan Mas Pri pulang ke Bapak Nur, kepala jurusan PBSI, untuk istirahat. Sementara, aku yang sedang rebahan di kantor Bem, ditelepon oleh Mas Qoyum, ketua panitia seminar tersebut.

“Yu, posisi di mana?” katanya di seberang telepon.

“Di kantor Bem, Mas.”

“Cepet ke sini, di rumah Pak Nur untuk berkumpul sama Mas Bandung dan Mas Pri.”

Tanpa pikir panjang, aku segera mengiyakan lantas berangkat ke rumah Pak Nur bersama temanku, Yusuf.

Sampai di sana, aku pun salaman dengan Mas Bandung, Mas Pri, dan Pak Nur. Kami bertujuh mengobrol ini-itu sambil tertawa-tawa.

“Kamu sudah menulis apa belum?” tanya Mas Bandung ke Yusuf.

“Hehehe, belum, Mas.” Yusuf nyengir, “Tapi ini, temen saya sudah, Mas!”

Sial. Yusuf menunjukku.

Opo kowe ki! Kalau mau dikatakan lelaki sungguhan itu harus bisa menulis! Yen ora, dudu lanang!”

Yusuf celingukan. Kami tertawa. Mas Bandung lantas menoleh ke arahku dan bertanya, “Bener, kamu sudah menulis?”

Aku tertawa malu sembari mengangguk. Sementara Yusuf langsung menyerocos seperti sales.

“Iya, Mas! Dia sering nulis di Blogger. Buat pacarnya!”

Sialan! Mas Bandung tertawa sambil menatapku, “Iya tho?”

“Eh, Yusup ki ngibul, Mas!” aku berkata sambil menjitak kepalanya Yusuf. Dia sudah bikin malu. Sambil senyum-senyum, aku menundukkan kepala. Sesekali menatap Mas Bandung yang masih menertawaiku.

“Ah. Jangan menangis, begitu!” Mas Bandung meledek. Sontak. Semuanya tertawa—menertawakanku.

***

Empat teman yang lain datang, kemudian kami makan bersama. Setelah kenyang, kami membentuk lingkaran untuk berdiskusi—berbagi pengalaman.

“Ayo, yang mau berbagi pengalaman, silakan langsung cerita. Atau yang mau menanyakan apa saja, silakan,” kata Pak Nur.

Munir, temanku, mengacungkan tangan.

“Mas, saya punya masalah dalam menulis. Kadang, saya menulis itu tidak pernah selesai. Bukan kadang lagi, ding, tapi sering.” Munir tertawa. Kami juga, “Kecuali jika saya sedang sedih atau galau, Mas, baru bisa menulis sampai rampung.” Munir melanjutkan. Mantap.

“Wah, berarti kamu mesti dibuat sedih dulu, Nir. Bukan begitu, teman-teman?”

Kami serentak mengiyakan dan menertawakan Munir.

Diskusi di rumah Pak Nur diwarnai dengan tawa.

Mata Mas Bandung kemudian menatap Munir. Mukanya berubah serius.

“Ehm,” Mas Bandung berdehem. Kami diam menunggu respon dari beliau. “Seringkali dalam menulis itu masalahnya seperti kamu: Malas. Kamu selama ini mungkin menganggap bahwa menulis atau membaca adalah hobi. Padahal salah!”

Kami heran. Sejurus kemudian Mas Bandung melanjutkan.

“Seperti kita makan atau minum. Setiap hari kita makan, apa itu hobi? Setiap hari minum, apa itu disebut hobi? Tidak, kan?” kami menyetujui.

“Semua anggapan bahwa menulis dan membaca adalah hobi, itu harus diubah! Biasakan setiap hari kita membaca dan menulis. Entah membaca novel, majalah, koran, atau apapun. Menulislah puisi, cerpen, atau tulisan apa saja, setiap hari. Maka jika suatu hari kamu tak menulis atau membaca, maka kamu akan menyesal. Kamu akan lemas, seperti kamu tidak makan.”

Kami diam. Dalam hati, aku takjub.

“Ada lagi?” tanya Mas Bandung.

Teman-teman yang lain ada yang bercerita tentang kehidupan masa lalunya yang kelam, hingga pada akhirnya disadarkan oleh buku-buku dan memulai hari-harinya dengan lembaran baru. Ada yang kesulitan menulis sebab dia acap bingung dalam menuangkan kalimat awalnya. Dan sebagainya, dan sebagainya.

“Habib, coba kamu. Apa masalahmu?” Pak Nur menunjuk Habib untuk bercerita kepada kami. Sementara, Pak Nur menyodorkan buku kosong kepada kami untuk bersedia menuliskan nama, nomer telepon. Bergiliran.

Gini, Mas. Saya itu seneng nulis, cuma gak suka baca. Itu gimana, Mas?”

“Waduh! Itu sama saja menggunakan ‘tapi’!” kata Mas Bandung.

Sebelumnya, salah satu teman cewek bertanya kepada Mas Bandung.

“Mas, sebenernya, saya itu pengin nulis. Ketika saya galau, sedih, banyak masalah, saya pengin menuangkan semua itu ke tulisan. Tapi gak bisa, Mas. Saya lebih suka menulis, tapi menulis angka-angka—mengerjakan soal Matematika.” Teman cewek tadi bercerita.

Mas Bandung segera menanggapi.

“Ya. Itu bagus. Yang penting kamu terus mengasah otakmu. Kamu menulis angka-angka, itu bagus. Masalahnya orang lain bisa mencernanya apa nggak? Bisa memahaminya apa nggak? Menulis itu bukan untuk kita sendiri. Menulis itu juga untuk orang banyak.”

Mas Bandung mengambil jeda sebentar, lalu melanjutkan, “Seperti berdoa. Doa yang baik itu bukan doa untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang banyak. Maka itulah yang kumaksud dari seminar tadi: Menulis adalah berdoa.”

Dalam hati, aku sepakat. Sejak dulu sebetulnya inilah modusku. Aku ingin menulis apapun, tetapi bukan sekadar menulis. Aku ingin berdoa melalui tulisan-tulisanku, seperti kata Mas Bandung. Itu sebabnya, setiap aku menulis, tak jarang aku menyematkan kata “semoga”, atau melalui kiasan-kiasan lain—yang jika diteliti, sebetulnya aku tengah berdoa.

“Dan jangan kamu menggunakan kata ‘tapi’ ketika ingin jadi penulis!” kata Mas Bandung meneruskan, menjawab teman cewek tadi, “Sebab kata ‘tapi’ lebih ganas daripada tumor!”

Aku dan teman-teman menggut-manggut.

Aku melihat HP untuk memastikan pukul berapa sekarang. 03:15 PM. Rupanya diskusi kami cukup lama dan panjang. Tak terasa.

Semua teman-teman sudah bercerita-bertanya, sesekali meminta saran kepada Mas Bandung. Tinggal aku yang belum. Ruangan menjadi diam sejenak sebelum akhirnya Mas Bandung mengajukan pertanyaan kepada kami, “Ayo, siapa lagi?”

“Ayo, Wahyu, silakan. Terakhir.” Pak Nur menunjukku.

“Eh,” aku membetulkan posisi duduk, kemudian memulai bercerita.

“Begini, Mas. Sejak saya kelas dua Aliyah, saya dan teman-teman sering menggiatkan kegiatan tulis-menulis semacam buletin atau mading—yang sering digunakan untuk mengritik sekolah. Seperti buletin Graps yang sampean baca tadi, sebetulnya itu adalah lanjutan dari mimpi saya dan teman-teman.”

Mas Bandung memerhatikanku.

“Persoalannya satu, Mas: Saya malu dengan tulisan saya. Maksud saya, saya malu ketika tulisan saya dibaca orang lain. Nggak jarang saya menyembunyikan identitas saya. Bahkan parahnya, sampai sekarang, saya masih tak punya cukup keberanian untuk mempublikasikan identitas saya.”

Teman-teman yang lain menoleh ke arahku, mendengarkan.

“Solusinya, gimana, Mas?” tanyaku kepada Mas Bandung.

Beliau menatapku dengan punggung yang agak dibungkukkan. Matanya menatap tepat ke arahku. Tajam.

“Jadi masalahmu malu, ya?” mata Mas Bandung seperti menerawang ke masa lalunya.

“Kamu tahu? Dulu, sejak aku kecil hingga remaja sepertimu, aku juga malu. Aku adalah anak yang pemalu.”

Ruangan jadi hening ketika Mas Bandung berhenti berkata untuk beberapa saat. Kami masih menanti beliau untuk berkata.

“Aku berasal dari keluarga miskin. Seragamku SD tak pernah ganti mulai hari Senin sampai Kamis. Jumat baru ganti sebab hari itu wajib memakai batik. Buku-buku tulis milikku adalah bekas hasil dariku mengumpulkan kertas-kertas sisa dari temanku. Dan aku malu!”

Aku memerhatikan dengan saksama.

“Tetapi aku berpikiran, buat apa malu? Ini yang aku punya. Kenapa harus malu?”

Baiklah, soal “malu”, aku dan Mas Bandung sama-sama memiliki. Bedanya, aku malu karena tulisanku, sementara beliau malu karena kebutuhan ekonomi.

“Kemudian aku mulai jatuh cinta dengan membaca dan menulis ketika aku kelas dua SMA. Aku mengetik tulisan pinjam komputernya kakakku. Itupun harus di atas jam 10 malam, menunggu anak-anaknya tidur. Aku menulis dan terus menulis. Kusematkan namaku dalam tulisan itu. Sebab aku tahu, dalam setiap nama selalu mengandung biografi.”

Aku manggut-manggut.

“Kemudian tulisan-tulisanku dimuat dalam koran-koran. Namaku terpampang di sana. Dan sekarang apa yang terjadi? Aku berada di sini, bersama kalian. Itu lantaran tulisan, yang di dalam tulisanku tertera namaku, biografiku. Maka jangan malu. Cantumkan saja namamu. Lama-lama orang akan mengenalmu. Lama-lama orang akan mencarimu. Kamu akan diundang ke berbagai daerah untuk mengisi acara-acara. Dan itu menyenangkan! Kita bisa berbagi.”

Mas Bandung tersenyum. Aku dibuat takjub. Kami manggut-manggut.

“Kelak, jangan kaget, ketika dengan tulisan kamu akan dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah kamu kenal. Dan jangan kaget pula ketika kamu diberikan rezeki, hadiah, atau apapun yang tak bisa kamu tebak dan kamu ramal!”

Untuk sekian kali dalam hati, aku berterima kasih pada Tuhan sebab telah mempertemukanku dengan Mas Bandung. Aku suka dengan kalimat terakhirnya barusan!

“Jadi, apa kalian siap menulis?” tanya Mas Bandung kepada kami.

“Siaaap!” kami menjawab serempak.

“Siap mengucapkan Bismillah?”

“Siaaap!”

“Untuk jadi penulis?”

“Siaaap!”

“Kalau begitu, sip! Top markotop! Jos gandos!” Mas Bandung mengacungkan jempolnya.

Pukul 04:25 PM. Tak terasa. Akhirnya tiba saatnya Mas Bandung dan Mas Pri bersiap untuk pulang. Pak Nur memanaskan mobil. Kami bersalaman. Mas Bandung, dan Mas Pri masuk mobil—meninggalkan kami.

Sementara Pak Nur mengantar Mas Bndung dan Mas Pri ke Genteng, aku, Yusuf dan Wahid masih duduk-duduk sejenak di ruang tamu yang kami buat diskusi tadi. Tak lama, kami lantas berpamit untuk pulang.

Aku menghidupkan sepeda. Yusuf dan Wahid aku bonceng. Kami pulang.

Di perjalanan, aku tersenyum puas. Batinku masih berbicara sendiri. “Diskusi dengan Mas Bandung tadi sangat menyenangkan. Tentang semua pesan-pesannya, mungkin hanya perlu satu kata: Tindakan!”

“Wah. Seru ya, Yu!” dari belakang, Yusuf menepuk pundakku. Dan aku mengacungkan jempol padanya. Tanda setuju!

Tegalsari,
Ahad, 16 Februari 2014

—02:01 PM

*Gambar dari sini.