Jumat, 16 Mei 2014

Di sebuah rumah kecil.

Shinta, seorang anak perempuan berusia delapan memegang gagang telepon. Ragu-ragu ia menekan sejumlah angka, ingin menelepon ayahnya yang seminggu tak pulang—yang katanya ke luar kota, mencari uang.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Esok paginya.

Shinta bangun dengan mata yang lebam sisa tangis semalaman. Rumah kecil itu tetap sepi. Tak ada siapa-siapa, kecuali ia sendiri.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, maaf. Besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Esok paginya. Lagi.

Shinta kembali bangun dengan mata yang lebam, sisa tangis semalaman. Rumah kecil itu masih sepi. Tak ada siapa-siapa, kecuali ia sendiri.

Lalu dalam telepon sebuah percakapan kembali terulang.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, maafkan bapak. Besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Esok paginya.

Shinta bangun kesiangan. Seperti pagi sebelumnya, mata Shinta tetap lebam—juga akibat sisa dari tangis semalaman. Shinta tetap sendirian. Bapak tak pulang, bibirnya mendesis kecewa.

Sebuah percakapan kembali terjadi.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, maafkan bapak, ya. Besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Shinta memeluk bonekanya. Itu hadiah dari almarhum ibunya saat Shinta berulang tahun yang kedelapan.

Lima hari setelah perayaan ulang tahun Shinta, ibu Shinta meninggal. Tetangga Shinta sama-sama bertandang, berempati atas kejadian yang menimpa keluarga Shinta. Sebagian dari mereka memberikan uang, sebagian memberikan mi instan, sebagian lagi memberi beras, sisanya hanya menatap iba sambil berkata pelan pada Shinta, “Yang sabar, ya.” Lalu pergi. Lalu sepi.

Sementara bapak Shinta, tujuh hari usai sang istri meninggal dunia, ia bergegas meringkas beberapa baju dan celana untuk dimasukkan ke dalam koper hitamnya. Bapak mau ke mana, Shinta bertanya. Bapak pergi sebentar mencari uang ke luar kota, jawab bapak pada Shinta.

Shinta diam saja. Ia tak mengerti.

“Nanti kalau bapak belum pulang, Sayang telepon saja ke nomor ini.” Shinta menerima secarik kertas bertuliskan sejumlah angka dari bapaknya.

Lalu bapak Shinta pergi. Rumah sepi. Shinta sendiri.

***

Shinta masih memeluk erat beneka hadiah dari almarhum ibunya. Menangis. Dan jatuh tidur.

Shinta masih sering bangun pagi, kesiangan hanya beberapa kali. Matanya juga masih lebam. Setiap malam Shinta menangis sambil memeluk boneka miliknya. Pagi kesekian setelah berulang-ulang Shinta menelepon bapaknya dan bapaknya tetap tak kunjung pulang.

Shinta mengelap ingusnya dengan punggung tangan sekenanya. Rambutnya berantakan. Baju yang ia pakai sudah dua hari tak dicuci, malas. Gerimis mulai turun, membuat kaca jendela rumahnya berembun. Satu-dua tetes air jatuh dari atap rumahnya yang bocor.

Seorang anak perempuan berusia delapan, bernama Shinta Kumala memegang gagang telepon—untuk kesekian kalinya. Dalam dada yang ragu-ragu ia menekan sejumlah angka, ingin menelepon ayahnya yang dua minggu tak pulang—yang katanya ke luar kota, mencari uang.

“Bapak, Bapak kapan pulang?” Bibir Shinta manyun.

“Siapa, hah!?”

Suara tak bersahabat perempuan muda di seberang telepon menyentakkan dada Shinta. Shinta diam, tak bisa berkata apapun.

“Siapa? Mencari siapa?”

“Eh,” tertahan, “Ba... Bapak kapan pulang?” suara ketakutan Shinta melayang, melintasi kabel telepon, “Shinta di sini sendirian.”

“Bapak? Apa katamu?! Bapak?” suara dari seberang telepon meninggi, Shinta mengangguk, “Oh, kau anak dari suamiku? Dia belum bangun!”

Shinta terbiasa setiap hari mengatakan kalimat itu di telepon dengan bapaknya. Sampai hafal. Tetapi jawabannya tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, tak ada jawaban “Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.” yang diharapkannya.

Tak ada.

Dan Shinta masih tak mengerti dengan kepergian bapaknya yang tak kunjung pulang.

“Shinta sendirian. Bapak cepat pulang.”

Tut tut tut...

Tegalsari,
Kamis, 08 Mei 2014

—11:52 am
*Gambar dari sini.