Minggu, 01 Juni 2014

Seseorang berambut biru bergerak
maju-mundur di bulat cermin retinamu
berpuluh-puluh langkah ia maju
berpuluh-puluh langkah kemudian ia mundur
lalu, kedua alis tipismu yang coklat tertambat
mencipta dua-tiga serupa dinding retak di tengahnya
sesekali satu dari alismu terangkat
dan kembali turun sejumlah ia bergerak

Dan kau masih menyusun balok-balok di kepalamu
agar menjadi bangunan yang berbentuk
atau minimal konsep sederhana yang bisa diterima—asumtif
dari seseorang yang bergerak maju-mundur di matamu

Sementara, kau tak kunjung paham
dan lekas bosan dengan tingkah yang ia lakukan
aku masih tak mengerti dengan semua ini, katamu
lalu seseorang itu membuat gerakan berbeda
mulailah ia bergerak
ke kiri lalu ke kanan
ke kiri lagi dan ke kanan lagi
dan ke atas ke bawah
dan menggulung-gulung
berayun-ayun
: ritmis

Sambil merekam geraknya dengan matamu
bibirmu mulai menyimpul mati
lalu kau pergi
dengan membawa bebalok kayu ‘tak mau tahu’

Padahal ia adalah aku

Tegalsari,
Sabtu, 31 Mei 2014
—01:34
*Dimuat di koran Radar Banyuwangi edisi Minggu, 1 Juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar