Kamis, 16 Mei 2013

Bapak Calon Kepala Desa yang baik,

Nanti apabila Bapak berhasil terpilih menjadi kandidat terkuat dan memiliki suara terbanyak kemudian menjadi pemenang pemilihan umum calon kepala desa di desa kami, kami harap Bapak tidak melupakan kami, sebagai pendukung setia Bapak.

Harapan kami sederhana: Nanti apabila Bapak dilantik bersama perangkat-perangkat Bapak yang lain, jangan sampai sedikitpun Bapak berpikir bahwa Bapak adalah orang nomor satu di desa kami. Sebab jika demikian, kami sama sekali tidak meridhoi Bapak sebagai Kepala Desa kami. Tetapi kami mengerti Bapak orang pintar dan berpendidikan. Kami berpesan kepada Bapak: Jangan sampai Bapak melupakan kami!

Kami percaya Bapak adalah orang baik dan bukan termasuk golongan orang-orang yang pura-pura baik sebagai pencitraan belaka seperti orang kebanyakan yang ingin mencalonkan dirinya sebagai pemimpin masyarakat. Jangan, Pak... jangan!

Dan apabila Bapak sudah duduk di kursi berlabel ‘Kepala Desa’, kami harap Bapak tidak melupakan visi-misi Bapak: “Bersama Kita Membangun Tegalrejo sebagai Desa Berekonomi, Budaya, Pendidikan dan Olah Raga yang Berwawasan Lingkungan”. Semoga Bapak tidak lupa itu, tentu saja. Sebab biasanya, pemimpin zaman sekarang selalu mementingkan urusannya sendiri—menggelembungkan uang rakyat untuk anak-istri.

Lalu jika Bapak berlaku adil terhadap kami, tentu saja kami akan selalu ada di belakang Bapak untuk melindungi Bapak dari marabahaya sekaligus mendukung kinerja Bapak: Apa saja yang terbaik untuk desa kami ke depan, kami mendukungnya.

Maka sekali lagi, jangan sampai Bapak mengotori kepercayaan kami. Jangan melupakan kami, atas nama anak yatim, yang terlalu jarang bisa menikmati jajanan-makanan enak yang cuma bi(a)sa kami lihat di televisi. Jangan melupakan kami, atas nama manusia lanjut usia, yang selalu dianggap sebagai pemalas dan pembuat repot negeri. Jangan lupakan kami, atas nama remaja, yang banyak membuang sebagian besar umurnya untuk keluar kota mencari kerja sebab tak ada yang bisa diandalkan di desa. Jangan melupakan kami, atas nama rakyat miskin, yang melulu tak pernah punya penghasilan cukup.

Dan jangan sampai sekali-kali Bapak melupakan kami, keluarga besar manusia yang hidup di desa yang Bapak pimpin. “Kullukum ro’in wa kullukum mas’ulun an ro’iyyatih...”. Sungguh, kelak kepemimpinan Bapak akan dipertanyakan di masa setelah dunia. Maka jangan sampai mengacak-acak kebanggaan kami sebagai keluarga besar manusia yang hidup di desa ini: Seluruh manusia yang hidup di bawah kepemimpinan Bapak sedang menunggu kabar gembira dari Bapak.

Atas nama seluruh rakyat yang berpijak di desa yang sekarang sedang Bapak pimpin, kami menyerahkan amanat kepada Bapak!

Tegalsari,
Kamis, 14 Maret 2013

10:08 pm
Aku selalu mencintai momen pertemuan sepasang remaja yang berhasil menemukan jawaban atas rahasia perasaannya: Kamu dan aku. Di manapun kakiku memijak, ingatan itu selalu mengguyur hatiku—menjatuhkan hujan kenangan dalam ingatanku. Kenanglah, Sayangku... saat-saat kita memutuskan untuk membuat skrip cinta milik kita sendiri. Di Februari.

Canda,
sampai kapan pun aku tetap mengingatnya
: langit mengeruh, matahari bersembunyi,
senja itu tak seperti biasanya

kamu jadi keluar?” tanyaku
sementara bibir cahaya senja pelan-pelan menyedikit
bayangan wajahmu menekan-tekan handphone
tergambar jelas di kepalaku
tak tahu,” jawabmu singkat

aku membayangkan kita bertemu
aku membayangkan senyummu
aku membayangkan obrolan apa untuk pertemuan kita
aku membayangkan pertemuan kita—nanti malam

ah, kapan lagi kalau tak saat ini? batinku
kenapa?”
tidak apa-apa,” jawabanmu menyamarkan rencana
sekaligus menumbuhkan ajakan sederhana,
ikut saja denganku,” kataku

kemana?”
ke mana saja. kita berdua.”
aku tak tahu pasti bagaimana ekspresimu waktu itu
tapi bayangan bahwa dirimu bahagia
bias aku simpulkan dari caramu menimpali pernyataanku
tentu saja....”

lalu azan maghrib mengajak kita mengingatNya pada tempat yang berbeda
gambaran mata langit menyipit mengabadikan semuanya

sampai kapan pun, Canda,
aku tetap mengingatnya
: dua remaja mengobrol di teras
selepas hujan di Februari yang deras,
lalu halaman waktu yang lebar
meleluasakan jalannya malam

kamu duduk, aku berdiri tepat di depanmu
suasana masih dengan lantunan katak
malam itu bulan tak terlalu tampak
hanya lampu-lampu kota—menambah terang dunia
aku suka kita di sini,” kataku
kamu tersenyum senang, aku melihatmu
sekali lagi dengan perasaan gemetaran dalam hati, aku menanyakannya
aku mencintaimu, dan ingin mengikatmu. bagaimana denganmu?” tanyaku hati-hati
tak ada yang lebih membahagiakan dari jawabanmu malam itu...
aku ikut perasaanmu,”
kau tersenyum, aku tersenyum
: sepasang remaja yang berbahagia setelah mengungkapkan perasaan cintanya—
dengan caranya

tak ada yang lebih mendamaikan, tentu saja
dari suaramu yang indah dan senyummu yang manis
: seperti februari yang gerimis

Demikianlah, Sayangku, tak ada yang lebih istimewa dari cerita kita: Dua remaja yang saling mengikat dengan keyakinan di bawah gugusan hujan. Kini, simpul itu tetap seperti dulu—yang kugunakan untuk mengikatmu. Di Februari.

Jika mencintai adalah tentang ‘usaha’, aku akan berusaha mencintaimu dengan caraku. Barangkali hingga tiba waktunya: Bersama keluarga, aku akan berkunjung ke rumahmu—untuk melamarmu. Tunggulah aku di depan pintu.

Blokagung,
Jum’at, 29 Maret 2013

10:26 pm
“Sayang, seminggu lagi kamu ulang tahun, kan? Kamu ingin minta apa?” tanyamu.

“Aku belum ingin apa-apa,” jawabku lalu tertawa kecil.

Aku mengencangkan tali sepatu. Kita siap berangkat sekolah. “Sudah siap?”

Kamu tersenyum, “Sudah.”

Di perjalanan kamu bertanya lagi. “Kamu beneran tidak ingin apa-apa?”

“Eh? Tidak,” aku menggeleng.

Jalanan masih sepi. Pukul enam kita berangkat. Suasana kota memang belum memperlihatkan wajahnya. Matahari masih enggan. Di perempatan, riuh pasar masih terdengar. Sejumlah orang terlibat tawar-menawar.

Sejujurnya, jika seribu orang bertanya kepadaku: Kamu ingin kado apa untuk ulang tahunmu? Sebentar lagi kamu ulang tahun. Minta kado apa? Dan seterusnya... maka aku ingin menjawab seperti yang barusan kukatakan padamu, Aku tak ingin apa-apa. Tentu saja. Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak terlalu berharap kepada orang lain yang telah atau belum kita kenal.

Kau tampak tidak suka mendengar jawabanku. Aku mengerti. Terang saja, aku kekasihmu dan kamu kekasihku. Tentu kita ingin memberikan kado apa saja yang terbaik untuk seseorang yang kita cintai. Bahkan tidak jarang segala sesuatunya selalu tampak berlebihan untuk ukuran manusia normal yang tidak sedang jatuh cinta.

“Ya sudah,” kamu melingkarkan tangan ke tubuhku.

Suara klakson kendaraan dibunyikan. Ah, rupanya kita sedang berada di depan mobil yang ingin belok. Suasana lampu merah memang seperti ini. Perempatan yang tidak pernah benar-benar kita mengeri. Mengapa mesti ada lampu merah-kuning-hijau di sini? Untuk apa kita menurut jika dipaksa berhenti dari kesibukan kita sendiri? Belum lagi, Polantas yang tidak pernah mau mengerti dengan keadaan kita yang mendesak. Apa perlunya helm? Apa perlunya lampu dihidupkan di siang hari?

Apa gunanya semua itu?

Untuk menjaga keselamatan dan menghindar dari risiko kecelakaan? Ah, ini nyawa kita sendiri, kan? Hidup dan mati sudah ditentukan.  Apa urusannya dengan mereka?

***

Sementara kehidupan kota baru saja dimulai. Orang-orang berpakaian rapi sedang mengemudi. Buruh-buruh pabrik melangkahkan kakinya di gigir jalan kota yang panjang. Kendaraan berhiliran. Jam setengah tujuh kehidupan kota sudah bersalin rupa menjadi objek perjalanan hidup sebagian besar manusia.

Tanganmu masih melingkar. Kini semakin erat. Entah perasaan apa yang membimbing tangan kiriku memegang tanganmu. Ada debar yang terasa... Ada ketenangan yang tercipta.

“Kamu tidak perlu memberikan apa-apa kepadaku,” aku berusaha menenangkan perasaanmu, “Kita bisa merayakan ulang tahunku bersama-sama, kan? Jalan-jalan keliling kota, misalnya.”

Semoga kau bisa menerima pernyataanku. Aku tidak ingin membuang-buang uang orang lain hanya untuk urusan pribadiku. Memang uang tidak akan sepenuhnya dibuang lantas hilang, ia ditukar benda dengan wujud lain. Tetapi apa bedanya? Menukar uang dengan sebuah benda untuk kemudian diberikan kepadaku hanya akan membuat kesenanganku sendiri, kan? Sementara orang lain hanya bisa merasa lega setelah melepaskan keinginannya untuk memberi sesuatu kepadaku. Lebih baik kita rayakan bersama saja.

“Eh, iya, aku setuju.”

Ah ya, itu lebih baik. “Waktu memang tidak pernah tua, Sayang. Tetapi ia selalu menjadi subjek yang bisa menyulutkan sumbu usia kita. Seringkali kita tidak sadar dengan usia kita yang semakin hari semakin mengurang. Orang-orang kebanyakan selalu tampak bangga dengan bertambahnya angka dalam usia mereka.” Kamu mendengarkanku berbicara, “Maka aku tidak ingin menghilangkan sepersekian detik umurku untuk mengharapkan sesuatu-benda-hadiah dari orang lain, termasuk kamu.”

Seperempat jam lagi jam tujuh. Kita sudah sampai sekolahan.

Di parkiran, kita memulai kehidupan kita seperti biasanya: menjadi anak remaja yang menularkan senyumnya terhadap kekasihnya. Kedipan matamu, jabat tanganmu, senyummu, dan suaramu menjadi pengganti uang sakuku di sekolahan. Tak ada yang lebih baik darinya.

Dan aku tidak akan pernah bosan berkata kepadamu: “Pulang sekolah aku tunggu di sini.”

Jadi, kado apa yang kamu inginkan dari seseorang untuk ulang tahunmu seminggu lagi? Tak ada. :-)

Tegalsari,
Kamis, 14 Maret 2013

11:25 pm
saat siang
matahari enggan
langit tertutup kabut
dahi langit berkerut

tumpukan debu
dicuri angin
terburu-buru

daun mangga
daun mangga
di depan rumah
gugur
kakek tidur mendengkur

dari balkon
wajah langit keruh
di mulut gang
plastik hitam melayang

uh, umpatku
kaki
kaki kecil
hujan jatuh
dunia bergemuruh
anak kecil bermain di depan rumah
pengendara sepeda berteduh

Blokagung,
Kamis, 7 Maret 2013

10:29 am
kau serupa sekolah kota
api berburu ilmu menyala
gedung-gedung tinggi
mencakar langit milik dunia

ya rabbi bilmushtofa
balligh maqoo sidaanaa
manusia berseragam rapi
berdiri

waghfirlanaa mamadho
ya waasi’al-karomi
kucing hitam
menyendiri

dua orang berbaju hitam
menjaga gerbang
tatapannya
garang

waktu menyempit
bunyi peluit menjerit
sembilan anak yang lain
terbirit

pintu pagar dikunci
satu-dua anak pergi
tujuh yang lain
menepi

dua ribu saja, kata orang itu
mereka menjawab
ya
tentusaja!

Blokagung,
Jumat, 15 Maret 2013
09:09 am