: Aku tidak pernah menyesal
mengenalmu
Canda, jika kamu membaca tulisan ini, belajarlah kembali untuk
mengingatku di setiap harimu. Aku tahu di sela kesibukanmu menyamudera ilmu,
tak selayaknya aku mengusik ketenangan dan keseriusanmu.
Tapi, maafkan aku, aku hanya ingin bercerita.
Kamu masih ingat? Dulu,awal kita bertemu—di kantor—aku selalu berharap,
waktu berhenti dan berpihak kepadaku, melunasi sesak kerinduanku terhadapmu
yang tiap hari menyembul sakit di dadaku.
“Ini obat buat mbakku, mohon
kamu kasih ke dia,” pintaku padamu, entah beberapa bulan yang lalu.
“Iya,” jawabmu pendek,
seraya menaruh mata padaku.
Betapa waktu itu merupakan sejarah yang tak akan pernah aku lupakan dalam
ingatanku. Bagiku, pertemuan kita waktu itu adalah sejarah besar dalam hidup,
dan tercatat dalam kenangan yang tersulit dilupakan.
Ah ya, aku juga masih ingat. Kamu—waktu itu—juga menaruh senyum padaku.
Sayangnya waktu tak seperti harapanku. Ia terus berlalu dan berlari;
meninggalkan jejak langkahmu yang tercetak samar di lantai depan kantor
sekolahan kita. Dan aku hanya bisa melihatmu membelakangiku, sembari merekam
setiap lekukan tubuhmu berjalan berlalu—meninggalkan sebaris harapan di labirin
penantianku.
Aku mencintaimu, Canda...
Demikian yang bisa aku ucapkan. Berharap kamu terhenti dari langkahmu
dan membalikkan wajah kepadaku, lalu membalas,“Aku juga mencintaimu” sembari menyunggingkan senyum teduhmu.Kepadaku.
Namun hingga tubuhmu mulai tak terlihat dan tertutupi gedung-gedung
tempat mencari ilmu, harapankutak pernah terjadi.
***
Canda, aku masih menyimpan rapi-rapi setiap helai kenanganku bersamamu—hingga
kini. Seringkali aku memutar ingatanku secara perlahan sambil menikmati setiap
deburan kenangan kita di ujung persemaian lamunanku: Hingga rintik-rintik mengenai dan tentangmu menjelma hujan rindu yang
teramat dalam di laut dadaku.
Dulu—akuberharap, Canda, kamu mau menerima seikat cinta sederhanaku
yang aku susun secara hati-hati untukmu. Tapi aku masih belum sepenuhnya
memiliki keberanian untuk menjulurkannya ke hatimu:Aku belum berani.
Pernah aku mencoba perlahan menelaah setiap aliran cinta yang menyungai
kecil dengan arus rata-rata di hatiku. Berharap menemukan kesalahan atau
kejanggalan mengenai perasaanku yang terlanjur bermuara kepadamu.
Namun begitu, semua percuma dan gagal seketika! Aku tak bisa melacak
perasaanku yang keliru. Rasaku ini—cintaku ini—memang benar-benar terbuat
darimu. Terbentuk dari matamu, atau alismu yang melengkung tipis, atau hidungmu.
Dan saat itu juga aku merasakan gelora yang mendalam memukul dindingdi setiap
sudut hatiku.
Atau apabila aku mengingat pipimu yang membukit kembar di sisi kiri dan
kanan, atau bibirmu yang tak sama ukuran ketebalannya, aku selalu termanggut
dan senyum sendiri yang tak berkesudahan. Dan baru bisa terhenti bila aku
teringat bahwa kamu masih bukan milikku.
Tidak apa-apa, semua ada waktunya. Aku yakin, suatu nanti cintaku yang
berangsur-angsur bertambah ini, akan tersampaikan padamu. Demikian batinku.
Kamu memang masih bukan milikku.
Akhirnya aku tersadar. Yang pantas aku lakukan hanyalah diam—membiarkan
semua rasa ini terus mengalir dengan ribuan tanda tanya menggenanginya.
Waktu terus saja berlalu, Canda, tanpa mempedulikan perasaan yang
mencekik dan melukai ini.Sementara, aku mencoba perlahan-lahan melabuhkan
segenap rasaku ini ke dermaga hatimu.
Aku tak mampu menyangganya
sendiri! Kamu harus mengerti dan ikut membantuku memikul beban rasa ini. Kamu
harus tahu itu.
“Aku mencintaimu. Maukah
kamu kalau kita menjadi sepasang kekasih?” tuturku padamu
terbata-bata.
“Buat apa mengenal cinta?”
Jawabanmu sungguh tepat untuk membungkamku. Aku tidak bisa berkilah dan
melanjutkan obrolan kita.
Setelah itu aku kembali berkerja memikirkan segala macam cara untuk
mendapatkan cintamu. Ah, lagi-lagi aku selalu gagal menemukan celah di hatimu
untukku menyelinap ke dalamnya.
***
Berhari-hari aku selalu menyisihkan waktu buat mengingatmu. Sementara,
kamu selalu tak pernah mau mengingatku(?).
Hingga suatu hari aku melihatmu. Aku bergetar. Aku benar-benar
bergetar. Ah, tidak. Kali ini aku benar-benar terluka!
“Bagaimana, Sayang, cukup
puas dengan kehadiranku?” aku tidak tahu siapa yang mengobrol denganmu itu.
Yang pasti aku terluka!
Dan semakin terluka ketika kamu menjawab dengan senyum lebar, “Iya, Sayang, aku puas. You’re everything.”
***
Semenjak kejadian itu, aku selalu belajar melupakanmu. Ikatan-ikatan
cinta buatmu yang sejak lama aku susun dengan teliti harus aku lepasmeski aku
tahu, itu terlampau sulit.
Setiap hari aku terus berusaha tegar mengahadapi semua ini. Sakit.
Kenyataannya, usahaku mengenyahkanmu sia-sia belaka. Luka ini adalah
potongan-potongan cinta. Dan setiap potongan demi potongan segera aku
kumpulkan. Selanjutnya, akan aku biarkan ia terkumpul jadi satu di kotak
hatiku. Biarkan semua itu menjadi sebuah kenangan yang semakin sulit
terlupakan. Aku akan menikmati kepedihan ini.
***
Bulan pun bergulir, Canda. Aku masih menunggumu dengan segenggam
harapan yang tersisa. Sayup-sayup suaramu masih mendengking di telingaku sini.
...hingga waktu mempertemukan kita...
“Aku mencintaimu. Maukah
kamu kalau kita menjadi sepasang kekasih?” Dan sama seperti waktu itu.
Aku mengucapkannya.
Rintik-rintik hujan di sekeliling kita malam itu begitu nyata.
Menandakan pula bila aku menaruh harapan besar untukmu menjawab:“IYA!”
Tak terhitung beberapa detik telah melangkah. Waktuku buat menunggu
jawaban darimu semakin lama.
Ah, mungkinkah kamu akan menjawab seperti dulu dengan nada tegas dan
langsung bergegas meninggalkan aku sendiri di teras? Aku sama sekali tak
menginginkan itu kembali terjadi. Aku tak mau jawaban itu keluar dari mulutmu.
“Apakah A atau B—iya atau
tidak?” aku kembali bertanya.
“A?” tanyaku lagi.
Kamu mengangguk mengisyaratkan persetujuan. Dan sesederhana itu kita
menjadi sepasang kekasih.
Demikian, Canda, cinta kita bermula...
Kini, aku telah memiliki satu hal sederhana yang selalu bias
membuat bahagia—ketika hujan tiba dan malam menyapa aku akan selalu bahagia, sebab dari situlah aku bisa mengingat hari di mana
kita mengikrarkan satu janji.Seperti biasa, satu hal yang mesti kamu
tahu: Aku tidak pernah menyesal
mengenalmu.

0 komentar:
Posting Komentar