Selasa, 14 Mei 2013


: Aku tidak pernah menyesal mengenalmu

Canda, jika kamu membaca tulisan ini, belajarlah kembali untuk mengingatku di setiap harimu. Aku tahu di sela kesibukanmu menyamudera ilmu, tak selayaknya aku mengusik ketenangan dan keseriusanmu.

Tapi, maafkan aku, aku hanya ingin bercerita.

Kamu masih ingat? Dulu,awal kita bertemu—di kantor—aku selalu berharap, waktu berhenti dan berpihak kepadaku, melunasi sesak kerinduanku terhadapmu yang tiap hari menyembul sakit di dadaku.

“Ini obat buat mbakku, mohon kamu kasih ke dia,” pintaku padamu, entah beberapa bulan yang lalu.

“Iya,” jawabmu pendek, seraya menaruh mata padaku.

Betapa waktu itu merupakan sejarah yang tak akan pernah aku lupakan dalam ingatanku. Bagiku, pertemuan kita waktu itu adalah sejarah besar dalam hidup, dan tercatat dalam kenangan yang tersulit dilupakan.

Ah ya, aku juga masih ingat. Kamu—waktu itu—juga menaruh senyum padaku.

Sayangnya waktu tak seperti harapanku. Ia terus berlalu dan berlari; meninggalkan jejak langkahmu yang tercetak samar di lantai depan kantor sekolahan kita. Dan aku hanya bisa melihatmu membelakangiku, sembari merekam setiap lekukan tubuhmu berjalan berlalu—meninggalkan sebaris harapan di labirin penantianku.

Aku mencintaimu, Canda...

Demikian yang bisa aku ucapkan. Berharap kamu terhenti dari langkahmu dan membalikkan wajah kepadaku, lalu membalas,“Aku juga mencintaimu” sembari menyunggingkan senyum teduhmu.Kepadaku.

Namun hingga tubuhmu mulai tak terlihat dan tertutupi gedung-gedung tempat mencari ilmu, harapankutak pernah terjadi.

***

Canda, aku masih menyimpan rapi-rapi setiap helai kenanganku bersamamu—hingga kini. Seringkali aku memutar ingatanku secara perlahan sambil menikmati setiap deburan kenangan kita di ujung persemaian lamunanku: Hingga rintik-rintik mengenai dan tentangmu menjelma hujan rindu yang teramat dalam di laut dadaku.

Dulu—akuberharap, Canda, kamu mau menerima seikat cinta sederhanaku yang aku susun secara hati-hati untukmu. Tapi aku masih belum sepenuhnya memiliki keberanian untuk menjulurkannya ke hatimu:Aku belum berani.

Pernah aku mencoba perlahan menelaah setiap aliran cinta yang menyungai kecil dengan arus rata-rata di hatiku. Berharap menemukan kesalahan atau kejanggalan mengenai perasaanku yang terlanjur bermuara kepadamu.

Namun begitu, semua percuma dan gagal seketika! Aku tak bisa melacak perasaanku yang keliru. Rasaku ini—cintaku ini—memang benar-benar terbuat darimu. Terbentuk dari matamu, atau alismu yang melengkung tipis, atau hidungmu. Dan saat itu juga aku merasakan gelora yang mendalam memukul dindingdi setiap sudut hatiku.

Atau apabila aku mengingat pipimu yang membukit kembar di sisi kiri dan kanan, atau bibirmu yang tak sama ukuran ketebalannya, aku selalu termanggut dan senyum sendiri yang tak berkesudahan. Dan baru bisa terhenti bila aku teringat bahwa kamu masih bukan milikku.

Tidak apa-apa, semua ada waktunya. Aku yakin, suatu nanti cintaku yang berangsur-angsur bertambah ini, akan tersampaikan padamu. Demikian batinku.

Kamu memang masih bukan milikku.

Akhirnya aku tersadar. Yang pantas aku lakukan hanyalah diam—membiarkan semua rasa ini terus mengalir dengan ribuan tanda tanya menggenanginya.

Waktu terus saja berlalu, Canda, tanpa mempedulikan perasaan yang mencekik dan melukai ini.Sementara, aku mencoba perlahan-lahan melabuhkan segenap rasaku ini ke dermaga hatimu.

Aku tak mampu menyangganya sendiri! Kamu harus mengerti dan ikut membantuku memikul beban rasa ini. Kamu harus tahu itu.

“Aku mencintaimu. Maukah kamu kalau kita menjadi sepasang kekasih?” tuturku padamu terbata-bata.

“Buat apa mengenal cinta?”

Jawabanmu sungguh tepat untuk membungkamku. Aku tidak bisa berkilah dan melanjutkan obrolan kita.

Setelah itu aku kembali berkerja memikirkan segala macam cara untuk mendapatkan cintamu. Ah, lagi-lagi aku selalu gagal menemukan celah di hatimu untukku menyelinap ke dalamnya.

***

Berhari-hari aku selalu menyisihkan waktu buat mengingatmu. Sementara, kamu selalu tak pernah mau mengingatku(?).

Hingga suatu hari aku melihatmu. Aku bergetar. Aku benar-benar bergetar. Ah, tidak. Kali ini aku benar-benar terluka!

“Bagaimana, Sayang, cukup puas dengan kehadiranku?” aku tidak tahu siapa yang mengobrol denganmu itu. Yang pasti aku terluka!

Dan semakin terluka ketika kamu menjawab dengan senyum lebar, “Iya, Sayang, aku puas. You’re everything.”

***

Semenjak kejadian itu, aku selalu belajar melupakanmu. Ikatan-ikatan cinta buatmu yang sejak lama aku susun dengan teliti harus aku lepasmeski aku tahu, itu terlampau sulit.

Setiap hari aku terus berusaha tegar mengahadapi semua ini. Sakit.

Kenyataannya, usahaku mengenyahkanmu sia-sia belaka. Luka ini adalah potongan-potongan cinta. Dan setiap potongan demi potongan segera aku kumpulkan. Selanjutnya, akan aku biarkan ia terkumpul jadi satu di kotak hatiku. Biarkan semua itu menjadi sebuah kenangan yang semakin sulit terlupakan. Aku akan menikmati kepedihan ini.

***

Bulan pun bergulir, Canda. Aku masih menunggumu dengan segenggam harapan yang tersisa. Sayup-sayup suaramu masih mendengking di telingaku sini.

...hingga waktu mempertemukan kita...

“Aku mencintaimu. Maukah kamu kalau kita menjadi sepasang kekasih?” Dan sama seperti waktu itu. Aku mengucapkannya.

Rintik-rintik hujan di sekeliling kita malam itu begitu nyata. Menandakan pula bila aku menaruh harapan besar untukmu menjawab:“IYA!”

Tak terhitung beberapa detik telah melangkah. Waktuku buat menunggu jawaban darimu semakin lama.

Ah, mungkinkah kamu akan menjawab seperti dulu dengan nada tegas dan langsung bergegas meninggalkan aku sendiri di teras? Aku sama sekali tak menginginkan itu kembali terjadi. Aku tak mau jawaban itu keluar dari mulutmu.

“Apakah A atau B—iya atau tidak?” aku kembali bertanya.

“A?” tanyaku lagi.

Kamu mengangguk mengisyaratkan persetujuan. Dan sesederhana itu kita menjadi sepasang kekasih.

Demikian, Canda, cinta kita bermula...

Kini, aku telah memiliki satu hal sederhana yang selalu bias membuat bahagia—ketika hujan tiba dan malam menyapa aku akan selalu bahagia, sebab dari situlah aku bisa mengingat hari di mana kita mengikrarkan satu janji.Seperti biasa, satu hal yang mesti kamu tahu: Aku tidak pernah menyesal mengenalmu.

Terakhir, jika kamu telah membaca tulisan ini, belajarlah kembali untuk mengingatku di setiap harimu.

0 komentar:

Posting Komentar