Minggu, 01 Juni 2014

Aku ingin pergi
hanya ingin pergi
: meninggalkanmu


Genteng,
Sabtu, 31 Mei 2014
—04:58 pm
*Dimuat di koran Radar Banyuwangi edisi Minggu, 1 Juni 2014
Seseorang berambut biru bergerak
maju-mundur di bulat cermin retinamu
berpuluh-puluh langkah ia maju
berpuluh-puluh langkah kemudian ia mundur
lalu, kedua alis tipismu yang coklat tertambat
mencipta dua-tiga serupa dinding retak di tengahnya
sesekali satu dari alismu terangkat
dan kembali turun sejumlah ia bergerak

Dan kau masih menyusun balok-balok di kepalamu
agar menjadi bangunan yang berbentuk
atau minimal konsep sederhana yang bisa diterima—asumtif
dari seseorang yang bergerak maju-mundur di matamu

Sementara, kau tak kunjung paham
dan lekas bosan dengan tingkah yang ia lakukan
aku masih tak mengerti dengan semua ini, katamu
lalu seseorang itu membuat gerakan berbeda
mulailah ia bergerak
ke kiri lalu ke kanan
ke kiri lagi dan ke kanan lagi
dan ke atas ke bawah
dan menggulung-gulung
berayun-ayun
: ritmis

Sambil merekam geraknya dengan matamu
bibirmu mulai menyimpul mati
lalu kau pergi
dengan membawa bebalok kayu ‘tak mau tahu’

Padahal ia adalah aku

Tegalsari,
Sabtu, 31 Mei 2014
—01:34
*Dimuat di koran Radar Banyuwangi edisi Minggu, 1 Juni 2014
Di antara gerimis orasi dari mulutmu, Tuan,
yang menyiram ratusan pendukung dan simpatisan
masih ada banyak penduduk di bantaran sungai
yang tiap tahun harus rela tempat tidurnya berdamai dengan basah.

Dan di setiap entah berapa kali bibirmu mengulas senyum, Tuan,
yang konon hanya sering muncul tiap kali mendekati Pemilu,
masih ada ratusan ibu yang bersedih karena sang anak tak makan seminggu.

Maka teruslah menjadi dirimu yang palsu, Tuan, dirimu yang penipu.
Sungguh, betapapun orasimu mampu meruntuhkan gunung
dan senyummu melayukan bunga dan daun-daun,
kebencian kami terhadapmu tak akan runtuh!

Tegalsari,

Jumat, 2 Mei 2014
*Gambar dari sini.
: Ibuku

Arus dari bengawan matamu
yang tak berkelok tak berhulu
menghanyutkan letih yang merambat di bahumu
melenyapkan perih yang berkarat di dadamu

Di dalamnya
ratusan ikan hidup dengan nyaman
bunga teratai dan dedaun kering
melintas di punggungmu
dengan anggun dengan tenang

Aku sering menebar benih luka di atasnya
kadang seember kotoran tertumpah di sana
namun bening bengawan matamu itu
tak pernah keruh apalagi berwarna
Blokagung,
13 Mei 2014

--09:14 pm
*Gambar dari sini.

Jumat, 16 Mei 2014

Di sebuah rumah kecil.

Shinta, seorang anak perempuan berusia delapan memegang gagang telepon. Ragu-ragu ia menekan sejumlah angka, ingin menelepon ayahnya yang seminggu tak pulang—yang katanya ke luar kota, mencari uang.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Esok paginya.

Shinta bangun dengan mata yang lebam sisa tangis semalaman. Rumah kecil itu tetap sepi. Tak ada siapa-siapa, kecuali ia sendiri.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, maaf. Besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Esok paginya. Lagi.

Shinta kembali bangun dengan mata yang lebam, sisa tangis semalaman. Rumah kecil itu masih sepi. Tak ada siapa-siapa, kecuali ia sendiri.

Lalu dalam telepon sebuah percakapan kembali terulang.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, maafkan bapak. Besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Esok paginya.

Shinta bangun kesiangan. Seperti pagi sebelumnya, mata Shinta tetap lebam—juga akibat sisa dari tangis semalaman. Shinta tetap sendirian. Bapak tak pulang, bibirnya mendesis kecewa.

Sebuah percakapan kembali terjadi.

“Bapak, Bapak kapan pulang?”

“Iya, Sayang, maafkan bapak, ya. Besok pagi bapak pulang.”

“Shinta di sini sendirian. Bapak cepat pulang.”

“Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.”

Tut tut tut...

Shinta memeluk bonekanya. Itu hadiah dari almarhum ibunya saat Shinta berulang tahun yang kedelapan.

Lima hari setelah perayaan ulang tahun Shinta, ibu Shinta meninggal. Tetangga Shinta sama-sama bertandang, berempati atas kejadian yang menimpa keluarga Shinta. Sebagian dari mereka memberikan uang, sebagian memberikan mi instan, sebagian lagi memberi beras, sisanya hanya menatap iba sambil berkata pelan pada Shinta, “Yang sabar, ya.” Lalu pergi. Lalu sepi.

Sementara bapak Shinta, tujuh hari usai sang istri meninggal dunia, ia bergegas meringkas beberapa baju dan celana untuk dimasukkan ke dalam koper hitamnya. Bapak mau ke mana, Shinta bertanya. Bapak pergi sebentar mencari uang ke luar kota, jawab bapak pada Shinta.

Shinta diam saja. Ia tak mengerti.

“Nanti kalau bapak belum pulang, Sayang telepon saja ke nomor ini.” Shinta menerima secarik kertas bertuliskan sejumlah angka dari bapaknya.

Lalu bapak Shinta pergi. Rumah sepi. Shinta sendiri.

***

Shinta masih memeluk erat beneka hadiah dari almarhum ibunya. Menangis. Dan jatuh tidur.

Shinta masih sering bangun pagi, kesiangan hanya beberapa kali. Matanya juga masih lebam. Setiap malam Shinta menangis sambil memeluk boneka miliknya. Pagi kesekian setelah berulang-ulang Shinta menelepon bapaknya dan bapaknya tetap tak kunjung pulang.

Shinta mengelap ingusnya dengan punggung tangan sekenanya. Rambutnya berantakan. Baju yang ia pakai sudah dua hari tak dicuci, malas. Gerimis mulai turun, membuat kaca jendela rumahnya berembun. Satu-dua tetes air jatuh dari atap rumahnya yang bocor.

Seorang anak perempuan berusia delapan, bernama Shinta Kumala memegang gagang telepon—untuk kesekian kalinya. Dalam dada yang ragu-ragu ia menekan sejumlah angka, ingin menelepon ayahnya yang dua minggu tak pulang—yang katanya ke luar kota, mencari uang.

“Bapak, Bapak kapan pulang?” Bibir Shinta manyun.

“Siapa, hah!?”

Suara tak bersahabat perempuan muda di seberang telepon menyentakkan dada Shinta. Shinta diam, tak bisa berkata apapun.

“Siapa? Mencari siapa?”

“Eh,” tertahan, “Ba... Bapak kapan pulang?” suara ketakutan Shinta melayang, melintasi kabel telepon, “Shinta di sini sendirian.”

“Bapak? Apa katamu?! Bapak?” suara dari seberang telepon meninggi, Shinta mengangguk, “Oh, kau anak dari suamiku? Dia belum bangun!”

Shinta terbiasa setiap hari mengatakan kalimat itu di telepon dengan bapaknya. Sampai hafal. Tetapi jawabannya tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, tak ada jawaban “Iya, Sayang, besok pagi bapak pulang.” yang diharapkannya.

Tak ada.

Dan Shinta masih tak mengerti dengan kepergian bapaknya yang tak kunjung pulang.

“Shinta sendirian. Bapak cepat pulang.”

Tut tut tut...

Tegalsari,
Kamis, 08 Mei 2014

—11:52 am
*Gambar dari sini.

Kamis, 01 Mei 2014

: Pamanku

Mendadak mataku terasa panas. Pandanganku terselubungi kristal bening. Tak lama, aku menunduk. Wajahmu berkelebat di benakku. Semua mengenai dan tentangmu seketika menyeruak membikin dadaku makin sesak.

Aku belum bisa melakukan seperti apa yang kaukatakan padaku kemarin siang: Besok sore aku pergi, kamu tidak usah bersedih! Ah, airmataku menitik di sarungku yang bermotif kotak-kotak. Aku terlanjur tak kuasa membendung gejolak hati.

Dua jam sebelum azan maghrib berkumandang, aku duduk di kursi depan rumah—mencoba mendinginkan mataku yang sejak pagi hendak menyungai kecil di pipi. Baru sebentar aku berada di sana, tiba-tiba saja kau datang, lekas duduk tepat di sebelah kiriku, lantas berkata: Dua jam lagi aku pergi, kamu tidak usah bersedih!

Hatiku bergemuruh, tentu saja.

Aku mengibas-ngibaskan kepalaku ke sekitar—berusaha membuang segala ingatan tentangmu. Pandanganku kubuang ke kiri-kanan. Namun begitu, wajahmu tetap melekat-erat di saung benakku.

Dua jam berlalu. Kini, kau kembali membikin jantungku berguncang, dahsyat. Entah ada berapa detak dalam satu detik. Lagi, kau mengatakannya—sedikit berbeda namun amat mengena: Aku pergi, kamu tidak usah bersedih!

Kini, kau benar-benar pergi dari sini, dariku.


Maafkan aku, maafkan aku, Paman. Baru sebentar kau tinggal, rinduku padamu sudah tak karuan....

*Gambar dari sini.


: Kepada Fikri Lutfian

Izinkan aku mengatakan kembali kesedihanku melalui kalimat-kalimat yang cacat. Kalimat-kesedihan tentang kepergianmu, yang terlebih dahulu meninggalkanku, juga teman-teman kita.

Jika ada banyak orang yang menangisi kepergianmu, barangkali aku adalah salah satunya. Mengetahui bahwa kau telah tiada, aku tak percaya, seperti orang-orang yang lainnya. Kepergianmu kali ini berbeda dengan kepergianmu saat meninggalkan kami untuk melanjutkan studi ke luar kota usai kita lulus dari bangku SMP.

Saat itu acara pengumuman kelulusan sekolah baru saja berakhir. Dan seluruh siswa di sekolah kita, lulus semua.

Aku masih mengingat bagaimana caranya kau tertawa, meluapkan kelulusan kita bersama. “Aku lulus!” katamu seraya mengepalkan tangan kananmu ke udara. Aku masih ingat betul bagaimana caranya kau mengekspresikan kelulusanmu—empat tahun lalu....

Andai kenangan dapat disederhanakan menjadi sebuah tangga, aku ingin turun ke tangga pertama: saat pertama kali kita berkenalan. Atau ke tangga kedua: saat kita duduk-kelelahan di depan asrama setelah bermain sepakbola. Atau ke tangga keberapa saja, waktu kau bercerita ingin memiliki HP baru dan sepeda.

Aku ingin turun ke tangga di mana kau mengantarkanku pulang ke rumah waktu aku sakit. Aku ingin turun ke tangga-tangga itu, ke kenangan kita berdua: Aku ingin mengajakmu lebih akrab lagi—menyusun hari yang lebih baik dari sebelumnya.

Darimu, aku belajar banyak hal. Tentang bagaimana caranya kata ‘persahabatan’ itu bekerja.
Memang tak ada yang salah denganmu dan denganku. Hidup berjalan sesuai aturanNya. Di mana kematian adalah alam ketiga setelah kita berada di kandungan dan di dunia. Dan giliranmu kini memasuki tempat itu... alam ketiga itu.

Barangkali kesedihan atau rasa tak percaya itu tetap ada di dadaku. Tapi, bagaimanapun juga, aku harus merelakan kepergianmu.

Sebagai manusia yang pernah hidup denganmu, pernah berkenalan denganmu, dan akrab denganmu, tentu saja aku betul-betul merasa kehilangan. Mungkin setelah kedua orangtuamu, aku adalah orang yang ikut merasakan kepedihan itu.

Dan sewajarnya manusia biasa, kau dan aku adalah manusia yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kekuranganmu sudah kami lupakan, dan kelebihanmu akan tetap kami kenang: Maka tenanglah, temanku, semua akan baik-baik saja. Doa-doa kami akan menemanimu malam ini dan malam-malam selanjutnya. Dan, tempatmu adalah surga!

...
Selamat jalan
Fikri Lutfian
Semoga kau tenang
Allahummaghfir lahu
Warhamhu
Wa’afihi wa’fu’anhu!

Tegalsari,
Senin, 25 November 2013
 —05:55 pm


Aku punya duniaku sendiri dan kamu punya dunia sendiri. Dunia milikku tak sama dengan dunia yang kamu miliki. Aku ingin menjadi apa, itu terserahku—hakku. Dan kamu pun bebas menjadi apapun yang kamu mau—terserahmu.

Katamu hidup adalah pilihan, bukan? Ya. Ya. Ya. Maka jangan memaksaku untuk menjadi budak atas pilihanmu—apalagi yang tak sejalan dengan inginku. Sebab aku pun tak pernah memaksamu untuk menjadi budak atas pilihanku, kan?

Aku boleh memilih apa yang kukehendaki, seperti kamu boleh memilih apa yang kamu kehendaki. Jadi biarkan aku menentukan apa yang baik buatku. Biarkan aku membuat keputusanku sendiri: aku tahu apa yang terbaik untukku.

Kita sama-sama memiliki kebebasan. Kamu bebas menjadi apa yang kamu mau. Sementara aku tak pernah—juga tak ingin—mengekangmu untuk mengikuti kemauanku, kan? Dan kamu tak mungkin dapat mengekangku untuk mengikuti kemauanmu.


Aku punya napas. Kamu punya napas. Jadi, biarkan aku menghirup napas kebahagiaanku sendiri. Aku tak akan mencegahmu untuk menghirup apapun yang kamu inginkan.

*Gambar dari sini.
Bagi kita yang masih muda, barangkali ‘penyesalan’ sering kita abaikan kehadirannya. Semua mengenai masa depan tak pernah kita pikirkan. Dan kita memang cenderung untuk membiarkan semua berjalan apa adanya.

“Biarkan semua berjalan apa adanya,” katamu.

Aku setuju. Tapi kosakata “muda” tak akan berlangsung lama, bukan? Sementara kita tak pernah membuat rencana-rencana, tak pernah mengubah segala sesuatunya, dan terus(-menerus) membiarkan semuanya berjalan apa adanya(?).

“Apapun yang terjadi hari ini, biarkan saja terjadi. Dan hari esok memang cocok menjadi misteri,” katamu, lagi.

Ah, sayang sekali jika kita selalu abai terhadap masa muda; Seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lamanya, dan kita tak pernah mengagendakan kebaikan-kebaikan di masa yang akan datang.

Kita tahu, sudah banyak manusia di dunia ini yang terlanjur terjerembap pada lubang penyesalan masing-masing karena tak pernah merencanakan masa depannya—dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Lantas waktu yang terus berjalan tak pernah bisa diputar ulang, dan kesalahan demi kesalahan tak bisa berubah menjadi kebaikan-kebaikan oleh kalimat-kalimat penyesalan paling panjang, sekalipun.

Apa yang harus kita rencanakan untuk masa depan adalah mengerjakan kebaikan dan berusaha belajar menjadi lebih baik di hari ini. Agar pada saatnya kita tua nanti, kita tak lantas menyesal pada diri sendiri. Sebab, di manapun, penyesalan tak pernah hadir tepat waktu. Ia selalu datang terlambat. Dan kita yang bertemu dengannya, tak pernah diberi kesanggupan untuk bisa menyulap segala sesuatunya.

Maka jangan biarkan segalanya berjalan apa adanya: Rekayasalah hidupmu untuk menjadi lebih baik. Lama-lama, kamu akan terbiasa dengan kebaikan-kebaikan yang semula hanya pura-pura dan terpaksa.

“Aku tak mau menyesal!” kamu mulai sadar.

Syukurlah, hari ini kita kembali bisa berpikir untuk tidak mengabaikan lagi kosakata yang bernama “sesal”. Mudah-mudahan apa saja yang kita rencanakan saat ini, yang kita lakukan dan kita kerjakan hari ini, tak pernah membuat kita menyesal di kemudian hari.

*Gambar dari sini.

Malam
bila kau izinkan
diriku yang malang
melintas di tingkat khayal
yang amat malam
aku hanya dapat bilang:               
syukron jazilan

Sungguh,
aku benar-benar terbayang
padanya yang kian terawang

Maka, malam, bantu diri
berdoa pada Ilahi
agar ditemukan esok di pagi


Tegalsari,
Minggu, 20 Mei 2012
--12:20 am

Sementara aku hanya pecandu akan ragu
menenggelamkan pada tabung pilu

Tak sulit kuubah antara ungu dan kelabu
bagai membelalakkan mata yang semula layu

Tapi angin dan hujan terus berseru
menjelma badai yang merusak keyakinan itu

Dan aku kembali terduduk lesu
: antara mundur atau maju

Tegalsari,
20 April 2014
Tak perlu lagi 
kita berada di antara puisi 
yang terpasung di bawah pohon camar
menatap iba pada baitnya
dan tiada pernah membaca
apalagi mencerna

Sungguh tak perlu lagi rasanya
bila tiada sejenak kita menyelamatkannya
dari tangis yang memeras dada bidangnya

Tegalsari,
19 April 2014

Kamis, 24 April 2014

“Apa itu kenangan?”

Suara di balik punggungmu menanyakan sesuatu yang sejak tadi tengah kaupikirkan. Dadamu kini sedang hanyut bersama sejuta ingatan dalam sungai masa lalu(mu).

Apa itu kenangan? Kau mengangkat sebelah alismu, mengulang sendiri pertanyaan yang diajukan oleh suara dari belakang punggungmu barusan.

“Barangkali kenangan adalah pohon mangga di halaman sebuah rumah.” Kau menjawab sekenanya tanpa menengok ke asal suara yang bertanya padamu.

“Yang benar saja? Kau yakin? Kenapa begitu?” Suara itu bertanya lagi.

“Entahlah. Aku tak terlalu yakin. Tetapi aku bisa menjawab pertanyaanmu yang terakhir.” Kau tetap berpaling dari suara itu, “Bisa jadi ia adalah dedaunan dari pohon mangga yang tiap sore jatuh diterpa angin. Kita bisa memungut-mengingatnya kapan saja kita mau.”

“Lalu?”

“Lalu sudah.”

Suara itu terkekeh.

“Kenapa?”

“Tak ada.”

“Apa yang lucu?”

“Tak ada.”

“Aku bukan pengandai yang baik.” Kau mendengus.

Suara itu kembali terkekeh.

“Kenapa?”

“Tak ada.”

“Apa yang lucu?”

“Tak ada.”

Dadamu mulai sesak—sebal.

“Percuma.” Kata suara itu.

“Apanya yang percuma?” Kau melotot—masih enggan menghadap ke asal suara.

“Apa yang kau ambil dari kenangan?” Suara itu berbalik bertanya.

Kau makin sebal. Jemarimu diam-diam menyusun dirinya sendiri menjadi seperti sebuah batu alami yang keras. Lenganmu yang berotot mulai ikut keras. Napasmu tersengal. Mukamu memerah. Dan lebih memerah lagi.

“Percuma.” Kata suara itu. Lagi.

“Apanya yang percuma, hah!?” Kali ini kau mengangkat oktaf bunyi suaramu, mukamu merah padam. Napasmu semakin tersengal. Dadamu kian menyesakkan. Tetapi wajahmu masih enggan berbalik ke arah suara.

Suara itu, lagi-lagi, terkekeh.

“Apa yang kau ambil dari kenangan?”

Apa yang kuambil dari kenangan? Kau semakin tak mengerti dengan pertanyaan itu. Kau mulai berpikir keras: Apa yang kuambil dari kenangan?

Tanpa sadar, kepalan tanganmu mulai merenggang. Napasmu perlahan kembali normal. Ternyata tanpa kausadari, dengan berpikir kau menjadi seseorang yang lebih tenang.

Apa yang kuambil dari kenangan?

“Entahlah. Tak ada. Eh. Aku tak tahu.” Jawabanmu berlepotan.

“Cobalah berpikir lagi.”

Jeda sesaat.

“Aku tak tahu.”

“Cobalah lagi.”

Jeda kembali.

“Aku tak tahu.”

“Lagi.”

“Aku tak tahu.” Kau geram.

Suara itu terkekeh.

“Percuma.”

“Aku memang tak tahu!” kau melotot.

Suara itu terkekeh. Lagi.

Kau semakin sebal. Kali ini kau tak ingin menanggapi. Suara itu kembali terkekeh—kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dan kembali terkekeh.

“Percuma!” suara itu terdengar lebih serius.

Kau menelan ludah. Bosan dengan kata percuma yang ia ucapkan berulang-ulang.

“Baiklah. Aku tak tahu. Memangnya apa yang bisa kita ambil dari kenangan? Adakah?”

Suara itu tertawa kecil. “Nah, akhirnya kau bertanya.”

Kau mengernyitkan dahi.

“Ada yang kau lupa. Ada hal yang bisa kita ambil dari kenangan—masa lalu.”

“Apa?”

“Adalah pelajaran, selain juga perasaan ingin mengulanginya tentunya. Kau terlalu mudah marah. Itu sebabnya tadi kau menjawab tak tahu saat kutanya adakah sisa kenangan yang bisa kauambil(?). Kau juga terlalu mudah menyerah. Makanya tadi aku terus mendesakmu untuk mencoba berpikir—mengingat hal-hal baik yang bisa kauambil. Tetapi kau kalah dengan emosimu, lalu menyerah tanpa hasil!”

Suara itu kini semakin mantap menghujanimu kata-kata yang tak pernah kau duga-duga sebelumnya.

“Kau tahu, apa yang membuat kita tak bisa melahirkan ide cemerlang nan berbobot? Emosi. Bahkan seorang hakim tak boleh memutuskan perkara saat ia emosi.”

Kau tak bisa mencegah suara itu yang terus berbicara. Justru kau kini diam-diam membenarkannya.

“Kau bisa saja mengatakan kenangan adalah dedaunan yang gugur akibat diterpa angin senja, atau mengibaratkan dengan apapun. Tetapi kau juga harus ingat: selama tak ada yang kauambil dari sisa kenanganmu, bisa jadi kau hanya manusia yang tak pernah beruntung. Dan celaka bila kau justru tak bisa lebih baik dari kenanganmu—masa lalumu. Itu sebabnya sejak tadi kukatakan padamu percuma, dan percuma!

“Dan lihatlah ke hadapanku. Aku adalah masa depanmu. Sejak tadi kita berdialog, kau hanya berpaling dariku. Kau terlalu sibuk memungut daun-kenangan yang jatuh dari pohon manggamu, untuk bersedih dan menangis, hingga saat berdialog denganku pun, kau tak lantas menatapku—sekadar menghargaiku. Apa kau lupa dengan masa depan? Apa kau tak percaya denganku, masa depanmu—takdirmu?”

Lalu kepalamu pelan-pelan menengok ke belakang, ke asal suara itu, diikuti badanmu. Dadamu tertahan, napasmu tertahan.

“Kau bisa saja tak percaya dengan takdir. Tetapi kau tak bisa menolak apapun saja yang kini tengah terjadi!”

Apa yang kulakukan selama ini? Batinmu. Kau tertunduk. Tersedu.

“Berjanjilah kepadaku untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Berjanjilah.”

Sementara kau masih menangis-menyesal, suara itu tak lagi terdengar. Lalu tanganmu menyeka air mata yang mengalir di pipimu. Kau lantas menegakkan kembali kepalamu yang tadi layu. Matamu penuh dengan harapan. Dan kau telah berjanji untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

Tentu aku akan menjadi lebih baik lagi, katamu dalam hati.

Tegalsari,
Kamis, 17 April 2014
—12:01 pm
*Gambar dari sini.
: Ibu

Seperti manusia lainnya, aku memiliki beberapa keinginan-dan-permintaan yang tak bisa begitu saja mudah diucapkan atau disampaikan—apalagi padamu. Beberapa kali ketika kita bertemu, berpapasan, atau sedang duduk santai tak melakukan kegiatan apapun, kuakui, ingin sekali aku mengatakan semua itu. Tetapi lidahku seperti kaku. Kata-kata yang telah berjam-jam lalu kurangkai sedemikian rupa mendadak berantakan.

Seberapa pentingkah, atau seberapa beratkah urusan yang ingin kusampaikan ini—hingga membuatku selalu menjadi manusia paling pengecut seperti ini?

Entahlah.

Jika dibilang penting, tentu saja penting sekali. Jika ditimbang seberapa berat hingga berkali-kali aku harus menuai kecemasan untuk mengatakannya, sebenarnya tak terlalu berat. Aku bisa saja mengatakan ini padamu sewaktu-waktu. Saat kau memasak, misalnya. Atau saat paling tenang, ketika kita sama-sama saling duduk di kursi ruang tamu usai shalat maghrib. Dan itu mudah sekali, kan? Lalu apa beratnya?

Ada dua hal yang kupikir sangat penting yang masuk dalam daftar pertimbanganku.

Pertama, aku tentu memikirkan persoalan ekonomi kita. Jika aku mengatakannya padamu—tentang keinginan itu, kuyakin hal pertama yang akan kaupikir adalah ekonomi. Mau tak mau urusan ini menjadi beban juga buatku, hingga masuk dalam daftar pertimbanganku.

Kedua. Harus diakui, kau bukan jebolan pesantren. Jika dulu waktu kecil kau mengaji di musalla belakang rumah, mungkin betul. Tetapi itu tak cukup untukmu membulatkan hatimu mengikuti kemauan yang masih kusimpan ini. Ah, atau jangan-jangan ini hanya intuisiku semata? Mudah-mudahan iya.

Sebab dulu aku pernah bilang bahwa aku ingin kembali ke pesantren namun kau melarangku. Alasannya adalah pertimbanganku yang pertama tadi: Ekonomi. Kau kukuh melarang sementara aku tak mau kalah untuk memaksa. Dan kenapa aku memaksa?

Inilah jawabanku.

Bagiku yang pernah mencicipi dunia pesantren, aku selalu percaya bahwa keyakinan akan kecukupan—tentang apapun—adalah doa pertama yang manjur, setidaknya bagi diriku sendiri. Seperti sudah sering kukatakan padamu: Tuhan selalu seperti apa yang kita sangkakan kepadanya. Jika kita menyangkakan hal-hal baik terhadapnya, maka baiklah semuanya. Jika sebaliknya, maka kemungkinan besar juga akan sebaliknya. Bahkan motivator-motivator kelas atas pun selalu menjiplak kata-kata itu—yang sebenarnya sudah ada dalam Kudus sejak ratusan tahun lalu. Maka satu kuncinya: Yakinlah!

Tetapi meski kutahu dulu kau masih ragu, akhirnya kau mengizinkanku untuk kembali ke pesantren—setelah perdebatan kita yang panjang soal ekonomi dan keyakinan itu tadi, tentunya. Bahkan hingga sekarang, kau beberapa kali sempat sangsi. Kemudian aku meneguhkanmu. Lalu beberapa waktu selanjutnya kau meragukannya. Tak berlebihan mungkin jika kukatakan keyakinanmu fluktuatif—kadang menurun, kadang naik.

Setidaknya, beberapa hal di ataslah yang barangkali membuatku harus berkali-kali menunda permintaan-dan-keinginan yang ingin kubicarakan padamu. Barangkali juga sebab aku laki-laki yang sekarang berumur 19 tahun maka aku sedikit terbebani tentang biaya hidup. Kadang aku juga berpikir untuk mencari pekerjaan. Tetapi bagaimana dengan sekolahku jika aku sambil bekerja?

Dan aku juga sering bimbang dengan urusan semacam ini. Tetapi tenanglah sebentar. Beberapa bulan lagi barangkali aku akan dipanggil untuk membantu urusan pesantren. Jika itu benar terjadi, kita bisa sedikit lebih lega. Terutama kau. Doakan saja.

Hei, dari mana saja kita berbincang?

Ah, kurasa ini terlalu jauh. Ah, tetapi juga tidak apa-apa. Setidaknya perbincangan kita yang melebar ini sedikit membuka perbincangan kita selanjutnya... tentang keinginanku di atas tadi. Bolehkah aku mengatakannya sekarang?

Baiklah. Ini adalah beberapa permintaan-dan-keinginan yang selama ini selalu ingin kukatakan tetapi sekaligus tak bisa begitu saja kukatakan. Dengarlah baik-baik.

Ibu, aku ingin sekali kau mengikuti pengajian. Terserah pengajian apapun. Kau bisa mengikuti semuanya atau sebagian saja.

Di desa kita ada pengajian rutinan yasinan tiap pekan buat ibu-ibu. Kemudian di pesantrenku, ada pengajian tiap bulan, setiap Ahad Legi. Lalu pengajian bulanan lainnya, Dzikru As-Syafaah. Sekarang tetangga depan rumah kita mulai mengikuti pengajian itu. Terus terang aku iri pada mereka. Apa kau tak ingin ikut? Setelahnya ada Muslimatan. Ah, ada banyak sekali sebetulnya. Dan aku ingin sekali melihat kau berangkat memakai kerudung, membawa tas berisikan buku-buku tahlil, Majmu’ Syarif, atau kitab Al Barzanji. Bukankah dulu kau juga mengikuti Muslimatan? Aku masih ingat, dengan busana hijau kau mengajakku ke pengajian itu, dulu. Betapa aku ingin sekali melihatmu seperti dulu lagi.

Tentu saja alasanku yang pertama segera timbul di pikiranmu. Ya, aku tahu. Warung kita harus tutup jika kau ikut pengajian. Apa kau keberatan? Jika kau berpikir positif dan menaruh prasangka baik pada Tuhan, kuyakin jawabanmu akan berubah menjadi tidak keberatan. Lagipula jika kau ikut pengajian, warung hanya seminggu sekali, kan? Tidak berhari-hari. Ditambah pengajian bulanan. Baiklah, anggap saja dua minggu warung tutup tiga kali.

Apa kau masih keberatan? Jika iya, aku tak akan memaksa.

Tetapi aku ingat nasihat guruku begini, “Jika ingin anaknya berhasil, maka orang tua juga harus ikut berusaha. Apalagi ia di pesantren. Tak cukup bila seorang anak berusaha sendirian sementara orang tua hanya mencari rejeki, dan mencari rejeki. Harus ada penyeimbang: orang tua pun juga mesti mendoakan si anak. Melalui apa? Tahajud, pengajian-pengajian, bersedekah, dan lain-lain. Lalu si anak juga harus berusaha. Tak hanya belajar. Tetapi itu tadi: berdoa, mendoakan orang tua. Melalui salat dhuha, memperbaiki sikap, dan lain-lain. Dan itu harus seimbang—antara orang tua dan anak.”

Dan mungkin persoalan ekonomi tak akan bisa lepas. Ah. Aku ingin baju koko warna putih. Dua baju putihku kotor dan sulit sekali dibersihkan. Ah. Fathul Qarib-ku hilang. Tafsir milikku juga hilang. Uang SPP belum lunas. Bagaimana mengatasi semua permintaan-keinginan anakmu ini? Maafkan aku. Maafkan aku.

Abaikan saja soal baju koko. Aku hanya ingin engkau ikut jamaah pengajian. Itu saja.

Barangkali pengajian-pengajian hanya akan menyurutkan pemasukan uang kita—sebab segala aktivitas pencarian uang harus dihentikan, termasuk menutup warung kita. Tetapi di luar itu, aku masih percaya, bahwa justru dari situlah semuanya akan berubah dan membaik.

Kau tak percaya?

Ada banyak hal yang tak kita percayai justru terjadi. Dan ingat, Bu, Tuhan tak pernah membiarkan hambaNya kekurangan selama ia memperjuangkan kebaikan dan agama.

Tegalsari,
Kamis, 17 April 2014
—12:42 am
*Gambar dari sini.

Minggu, 16 Maret 2014

: Diriku

Jangan pernah ragu untuk berjalan di atas kakimu sendiri—meski barangkali kau kini tengah sendiri, enyahkanlah ketakutanmu! Barangkali benar jika rival paling tangguh dari ketakutan adalah perlawanan atas ketakutan itu sendiri.

Dan kau tak perlu cemas. Kau tak sendiri. Ada aku yang selalu menemani langkahmu, ke manapun kau memijak.

Ah. Sesekali, cobalah untuk tertawa dan menari di atas bumi yang sering menyakitimu ini. Berbahagialah. Kau tahu? Bahwa sebetulnya kebahagiaan itu tak perlu kau cari ke mana-mana. Ia ada pada dirimu sendiri.

Maka mari kita bernyanyi bersama, dengan lagu-lagu apa saja.

Tunjukkanlah pada dunia, bahwa kau punya keberanian. Dan kau bukan pengecut yang berteriak dan meringkuk ketika tiba-tiba ada yang menatapmu! Maka percayalah, aku tak akan pernah beranjak dari sini, untuk menemanimu: Abaikan saja ancaman-ketakutan-tentang-masa-depan.

Sebab sesungguhnya persoalannya bukanlah masa depan tetapi masa kini.

Masa depan adalah apa saja yang kita peroleh dari masa lalu. Sementara masa kini adalah masa lalu bagi masa depan kita—konsekuensi atas perbuatan kita sekarang.

Sampai kapanpun, aku akan tetap ada di sampingmu. Barangkali aku akan pergi, sesekali menikmati es krim atau rebahan sejenak di atas awan-awan yang lembut. Tetapi jangan cemas, aku segera kembali ke hadapanmu manakala kau lupa. Dan kau boleh memanggilku kapan saja. Maka kenalilah aku: Sesungguhnya aku adalah suara hatimu dan kau adalah yang memilikiku.

Dan bila kita tidak pernah bertemu, mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bisa bertemu. Tetapi kita ditakdirkan untuk bersama. Aku akan tiba saat kau memanggilku, itu pun sebatas suara belaka. Kita hanya bisa bercakap di suatu ruangan khusus, mungkin saat malam hari, atau saat kau mulai merasa kesepian.

Sementara setelah percakapan kita selesai, seperti biasa, aku akan pergi lagi dan hanya bisa mengawasimu dari kejauhan....

Dan mungkin aku akan tertawa bangga ketika kau melangkah di jalan yang tak keliru. Lalu, saat keyakinanmu mulai tumbuh-membesar di dadamu, dan kau mulai berani melawan ketakutanmu sendiri, maka pada saat itu barangkali kau akan melupakanku. Tetapi biarlah, aku tetap bangga, tentu saja.

Maka nyalakanlah cahaya matamu saat kau berjalan sendiri dalam kegelapan. Kuyakin, kau tak mungkin tersesat. Dan jika saat itu tiba, sementara aku sudah terlalu tua, yakinlah, aku telah siap jika sewaktu-waktu Dia menyuruh kita berdua untuk pulang ke RumahNya.

Stembel,
Selasa, 25 Februari 2014

—01:07 am
*Gambar dari sini.
Masa laluku, aku ingin belajar mencintaimu seperti dalam ingatanku:

Lelaki kecil yang mengejar perempuan berseragam putih-merah. Lelaki itu mengejarnya dan mendapatkannya. Si perempuan kalah dan menyerah. Tetapi setelah itu, mereka diam saja sembari tertawa-tawa: Mereka tak pernah tahu untuk apa mereka berkejaran. Yang mereka rasakan hanyalah kesenangan; Senang pada kebiasaan berkejaran itu. Dan pada akhirnya, masing-masing kemudian pergi. Si perempuan membeli es di kantin dan mengelap wajahnya yang basah dengan tisu. Sementara si lelaki, ia memilih mengagumi dan mencintai si perempuan tadi dari kejauhan.

Masa laluku, aku ingin belajar memaafkanmu seperti dalam ingatanku:

Dua anak kecil yang bertengkar saat bermain kelereng. Pada saat itu, mereka saling mengolok-olok. Tak mau kalah. Pantang menyapa. Dan pulang dengan dada yang memendam dendam. Esok pagi, ketika akan berangkat sekolah, seperti tak pernah terjadi apa-apa, mereka menuju sekolah dengan tawa dan perbincangan biasa—seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berdua memutuskan menjadi pemaaf dan melupakan semuanya.

Dan aku ingin belajar berterima kasih padamu, masa laluku, seperti dalam ingatanku:

Seorang remaja yang gagal mendapatkan cintanya, tetapi kemudian ia memaafkan dirinya sendiri dan sadar: Kebahagiaan ternyata bukan tentang cinta-siapa-atau-siapa-cinta-yang-kita-dapatkan, melainkan ihwal bagaimana kita berterima kasih pada hal-hal yang tengah terjadi—mensyukuri apa-apa yang diberikan oleh Hidup.

Maka, masa laluku, demi mereka semua yang berada dalam ingatanku, aku akan melangkah!

Tegalsari,
Sabtu, 22 Februari 2014

—09:27 am
*Gambar dari sini.
Canda, kemarilah sebentar, kuberitahu. Duduklah di sampingku. Ini mungkin tak terlalu penting, tetapi biarlah. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu. Kupikir, semua orang pernah mengalami apa yang akan kukatakan padamu ini. Kamu tentu pernah mengharapkan sesuatu, apapun, untuk kamu dapatkan, bukan? Hmmm, ya, tentu saja. Kamu pasti pernah—seperti aku.

Sekarang, kutanya: Bagaimana jika permintaan atau harapanmu tak tercapai?

Ah, ya, pasti kamu kecewa. Kamu pasti kecewa dengan semuanya, Canda. Eh, tapi, bukankah kecewa hanya akan membuat dadamu sesak? Bukankah kecewa adalah jalan untuk terus menjadi pendendam bagi masa lalumu, masa laluku—masa lalu kita sendiri?

Pikirkan baik-baik, Canda.

Barangkali kita pernah kecewa dan mengecewakan orang lain. Maka inilah yang ingin kukatakan padamu. Belakangan aku cukup resah dengan hal ini. Rupanya, selama ini, aku masih sering mengecewakan orang tuaku, Canda. Apa yang mereka harapkan dariku, barangkali belum bisa kuberikan.

Kemarin, sepulang sekolah, Ibuku bertanya padaku apa aku sudah membelikan kotak nasi? Ah, aku baru ingat. Sebelum berangkat sekolah kemarin, Ibuku menyuruh membelikan kotak nasi sebab ada pesanan cukup banyak untuk acara di musala belakang. Dan aku lupa! Padahal, ini mendadak. Acara akan digelar jam 1 siang. Sementara toko yang menjual kotak nasi hanya ada di samping sekolah kita, yang jaraknya dari rumahku 20 kilometer.

Aku mengecewakan Ibuku!

Kemudian sekitar sebulan yang lalu, kamu tahu, kan, aku diutus Bu Yuni, guru Kesenian kita, untuk lomba melukis. Sebetulnya ada 2 calon kandidat yang bakal diutus sekolah. Aku dan Ratih. Tapi Ratih waktu itu sakit. Jadi, aku yang maju.

Lomba berjalan lancar-lancar saja bagiku. Peserta yang mengikuti lomba ada sekitar 15 orang. Setelah selesai melukis, aku menatap hasil lukisanku dengan puas. Bu Yuni pun begitu. Sembari menunggu peserta lain menyelesaikan lukisannya masing-masing, aku berkeliling untuk melihat hasil dari musuhku. Ada yang melukis tanah yang basah, ada yang melukis gunung meletus, lautan, dan lain-lain. Sementara aku, aku melukis perempuan yang menatap senja.

Bu Yuni dan aku sama-sama yakin bahwa lukisanku bakal menang dan juara. Kami senyum-senyum karena yakin. Ya, yakin saja.

Hingga tiba pengumuman juara, aku dan Bu Yuni masih pede kalau lukisanku yang menang, dan sekolah kita jadi juara!

Dan kamu tahu apa yang terjadi? Aku kalah, Canda! Sekolah kita tak jadi juara. Dan Bu Yuni menggeleng-geleng tanda tak percaya. Aku kecewa. Bu Yuni kecewa. Aku tak tahu apakah guru-guru lain juga akan kecewa mendengar ini. Tapi saat pulang dari lokasi lomba, aku mendengar Bu Yuni menggumam pelan pada dirinya sendiri.

“Andai yang aku tunjuk maju lomba adalah Ratih, mungkin hasilnya akan berbeda.”

Bu Yuni tak tahu jika barusan aku mendengar apa yang beliau ucapkan. Aku menundukkan kepala. Menyesal telah membuat Bu Yuni kecewa.

Hari itu, aku menularkan kekecewaan pada orang lain, Canda. Dan itu membuat dadaku nyeri.

Sesampainya di rumah, aku disambut Ibuku dengan sukacita. Ibu menanyakan bagaimana hasil lomba tadi. Aku menceritakan proses lomba dari awal hingga akhir. Ya... hingga akhirnya aku kalah dan Bu Yuni kecewa... .

Aku meminta maaf pada Ibu dan berjanji akan belajar melukis dengan lebih baik lagi. Ini sebenarnya adalah modusku agar Ibu tak terlalu kecewa mendengar hasilku lomba.

Tapi, Canda, aku tak menduga, sebelumnya. Ibuku tak tampak kecewa. Beliau justru memberiku nasihat untuk menguatkan kembali semangatku. Menumbuhkan kembali harapanku. Dan karena nasihat Ibu, aku bisa menegakkan kepalaku kembali—dengan kelapangan menerima apa-apa yang telah sekaligus tengah terjadi.

“Mata,” Ibuku memulai nasihatnya, “Tentang kecewa, barangkali ia pernah—atau selalu—ada dalam hidup kita. Di suatu waktu, kita pernah mengecewakan orang lain: Menyobek hatinya hingga terluka. Dan di waktu yang lain, pernah juga orang lain (tanpa sengaja) mengecewakan kita.

Ibu menatapku dengan senyum penuh ketulusan.

“Lalu orang-orang yang telah kecewa itu—termasuk kita, akan cenderung tak terima, berontak, menyerapahi apa saja, menuntut hal-hal yang tak masuk akal agar keadaan berubah menjadi seperti yang diharapkan... . Tetapi sayang, apa-apa yang telah terjadi tak pernah bisa berubah—seperti yang kita kehendaki: Sungai tetap mengalirkan air ke laut. Dan apa saja yang akan terjadi, tak pernah bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita. Kabar paling baik buat kita hanyalah ‘berencana’, dan ‘menunggu’. Berencana untuk menjadi baik. Kemudian menunggu sampai waktu memberikan jawabannya—sembari berdoa, tentu saja.”

Aku membetulkan posisi dudukku. Dan Ibu melanjutkan kembali menasihatiku, “Dan Tuhan akan membagikan upah atas kerja payahmu.”

“Oooh.” Aku manggut-manggut.

Maka atas kejadian tersebut, tentang kita pernah mengecewakan orang lain, tentu saja sudah bisa ditebak: kita akan merasa bersalah, berusaha meminta maaf atas kesalahan tersebut. Dan bagaimanapun itu tak cukup, Mata. Barangkali kita butuh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu itu adalah: Perilaku yang mencerminkan penyesalan kita, melakukan tebusan, semacam tingkah laku atau usaha yang lebih baik. Dan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Maka tentang kita pernah dibuat kecewa, lupakan saja, Mata... maafkan saja. Sebab pemaafan akan melapangkan jalan kita selanjutnya, meloloskan napas kebahagiaan kita, dan membuat masa depan akan lebih mudah dari sebelumnya, tentu saja.”

Usai mendengar nasihat Ibu, aku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, Canda. Dalam hati, aku percaya, Tuhan pasti akan memberikan upah yang setimpal bagi mereka-mereka yang mau berusaha.

Tegalsari,
Kamis, 13 Februari 2014
—05:54 pm
*Gambar dari sini.
Lihatlah pada jendela
hujan dan badai tengah berpesta
pohon nangka depan rumah patah
: langit di desamu amat muram
sesekali ia terbatuk
hingga anakmu menjerit ketakutan
bahkan kopi hitam yang kauseduh
jadi menggigil demam

: Benarkah kau dan Dia sudah lama
tiada bertegur sapa?

Tegalsari,
15 Maret 2014

--terjebak hujan
*Gambar dari sini.
Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Tiba-tiba, malam ini aku teringat pertanyaan yang kuajukan buat diriku sendiri—mengulang kembali kebiasaan-kebiasaan lamaku waktu kecil. Aku bergelimpungan di atas tempat tidur, menekuri kehidupan yang kujalani akhir-akhir ini: Apakah aku telah menjadi manusia yang didambakan ibunya?

Dadaku sakit, semacam ditohok sesuatu yang berat, entah apa. Jantungku serasa berhenti sejenak. Oh!

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali diingatkan oleh pertanyaan itu. Pertanyaan yang bercokol dalam benakku saat aku masih sekolah dasar dan selalu tiba-hadir ketika menjelang tidur.

Apa yang sebenarnya aku harapkan dalam hidup ini? Hatiku sibuk menerka-nerka. Mataku mencari-cari sesuatu entah yang terselip di antara sudut-sudut kamarku. Pikiranku bertanya-tanya. Jiwaku melayang... .

Aku melihat jam digital yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurku. Jam menjunjukkan angka 23.00. Rupanya sudah larut. Tetapi aku belum mengantuk. Pikiranku masih sibuk sendiri, ingin menjawab pertanyaan tadi. Seolah ia menuntut sebuah jawaban malam ini juga. Ah.

Aku memang sering mengalami kejadian semacam ini. Tetapi itu dulu, saat aku masih sekolah dasar. Kira-kira umurku waktu itu delapan atau sembilan tahunan. Mungkin aku masih kelas empat atau malah kelas tiga. Aku agak lupa.

Malam menjelang tidur, saat itu, aku seolah sedang berdialog dengan diriku sendiri. Yang jelas aku tak sedang kesurupan jin manapun. Ini hanya pertanyaan sepele yang muncul secara tiba-tiba menjelang aku tidur. Dan pertanyaan itu kini kembali datang padaku, menyelinap diam-diam ke kamarku, setelah sekian tahun aku dan pertanyaan itu tak lagi pernah bertemu:

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Oh!

Sementara aku masih belum bisa menjawab, ingatanku terbang dan hinggap ke salah satu peristiwa saat aku berjalan di sebuah jalanan sepi, beberapa hari yang lalu.

***

Ada dua orang yang sedang bercakap-cakap dan bermain catur, di sebuah kedai warung yang sudah tutup.

Sekak!” salah satu dari mereka berteriak ketika mengetahui lawannya salah langkah.

Si lawan tampak panik tetapi buru-buru menyeruput segelas kopi hitam di sebelah kanan papan catur—menenangkan diri. Sejurus dia berpikir keras untuk keluar dari ancaman sang musuh tadi. Dahinya mengernyit. Alisnya hampir bertaut. Ia kemudian tersadar jika rupanya langkahnya dalam permainan tersebut sudah mati lantas menyerah. Kalah.

Sang lawan menyeringai. “Hahaha. Kamu ini! Hidup harus maju, bro. Kalau tadi sudah kalah, sekarang harusnya kamu bisa menang! Tapi kamu kalah lagi dan kalah lagi! Hahaha.”

Aku sudah berjalan cukup jauh dan membelakangi mereka. Sayup-sayup suara mereka berdua semakin pelan... dan tak terdengar. Aku tertarik pada perkataan pemain catur tadi: “Hidup ini harus maju!”

Hidup harus maju?

Aku mengangkat alisku sebelah. Apakah benar hidup ini harus maju? Aku mengulang pertanyaan itu beberapa kali. Sebentar, sebentar. Aku mendapati ada yang ganjil dengan perkataan si pemain catur tadi.

Ah, mungkin aku perlu mengistirahatkan tubuhku dulu, setelah sejak tadi aku berjalan beberapa kilometer, menyusuri jalanan sepi, di sebuah desa, pikirku.

Hingga tiba aku di rumah. Baju yang kupakai basah di bagian belakang, akibat keringat. Aku mengambil air putih di kulkas untuk kucampur dengan sirop. Lantas duduk di kursi panjang ruang tamu, sekali-dua meminum sirop segar yang kubuat barusan. Tegukan demi tegukan kunikmati dan kurasakan.

“Hidup ini harus maju!”

Ah. Aku teingat kembali dengan perkataan si pemain catur tadi. Baiklah, aku menyerah. Aku akan duduk-duduk sebentar untuk memikirkan apa sebenarnya esensi dari ‘hidup harus maju’ itu. Pertama mungkin aku harus mendefinisikan kata ‘hidup’ terlebih dahulu.

Hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: v 1 masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb); 2 bertempat tinggal (diam); 3 mengalami kehidupan dl keadaan atau dng cara tertentu; 4 beroleh (mendapat) rezeki dng jalan sesuatu; 5 berlangsung (ada) krn sesuatu; 6 tetap ada (tidak hilang); 7 masih berjalan (tt perusahaan, perkumpulan, dsb); 8 tetap menyala (tt lampu, radio, api); tetap bergerak terus; 9 masih tetap dipakai (tt bahasa, adat, sumur, dsb); 10 ramai (tidak sepi dsb); 11 seakan-akan bernyawa atau benar-benar tampak spt keadaan sesungguhnya (tt lukisan, gambar); 12 spt sungguh-sungguh terjadi atau dialami (tt cerita)... .

Ah, membingungkan. Pada pengertian pertama soal hidup, KBBI mengatakan bahwa hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja. Misalnya: “Kakeknya masih hidup, tetapi neneknya telah lama meninggal.”

Hmmm, mungkin penjelasan pertama ini bisa kuterima. Aku mengambil bahan ini saja untuk dibahas. Jadi, dari sini, mungkin pengertian hidup bisa lebih dipersempit dalam kalimat seperti ini: Hidup adalah ketika kita masih bisa melakukan apapun. Benarkah? Barangkali.

Tetapi tunggu sebentar. Tadi, kata si pemain catur, hidup itu harus maju. Hei, kenapa harus ‘maju’?

Aku memilih diam sejenak untuk meneguk sirop yang telah habis separuh.

Jadi, kenapa hidup harus ‘maju’?

Saat di sekolah, aku sering mendengar guru-guru bertutur seperti itu. Mereka seolah berperan bagai motivator.

“Eh, soal segampang ini saja kamu ndak bisa!? Bagaimana kamu bisa lulus, hah!? Bodoh! Untuk lulus UN itu kamu harus belajar dan hidup maju! Jika soal kayak gini ndak bisa, kamu gak bakal lulus!” ujar seorang guru pada salah satu murid yang tak bisa mengerjakan soal Kimia, di depan kelas. Murid itu malu dan tertunduk.

Entah kesurupan jin dari negara mana guru tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali guru yang ketika mendapati muridnya tidak bisa satu soal saja, mudah sekali mengatakan muridnya bodoh, tolol, dungu, dan seterusnya, dan seterusnya. Seolah guru adalah manusia paling pandai dan paling baik, di dunia ini. Sampai ada yang menyerapahi muridnya dengan kata-kata yang tak sepatutnya. Padahal, akibat perkataan kotor yang keluar dari lisan seseorang, siapapun, kelak akan menjadi kenyataan-kenyataan, kan?

Tetapi sudahlah. Itu urusan guru itu! Aku tak mau ikut campur. Biarlah ditanggung sendiri. Aku hanya ingin membahas satu soal saja dari perkataan guru tadi: kita harus hidup maju. Kenapa harus maju?

Baiklah, maksudku sebenarnya begini.

Kita mungkin sedang berada dalam labirin. Hidup manusia sejak dulu hanya seperti itu-itu saja. Dahulu ibu kita dilahirkan dari rahim ibunya. Kemudian ibu kita melahirkan kita, anaknya. Lantas, ibu dari ibu kita kemudian meninggal, dan kita melahirkan anak, dan kelak ibu kita meninggal... .

Tentunya sudah bisa ditebak, kan,  bahwa hidup manusia di dunia sebenarnya adalah sebuah daur atau siklus tetapyang tak bisa diubah: Dilahirkan untuk melahirkan, dan kemudian meninggal!

Lalu apakah manusia harus hidup (untuk) maju? Ketika kita menginginkan untuk hidup maju, bukankah yang terjadi adalah malah sebaliknya? Pada saat itu sebenarnya kita tengah hidup mundur—karena jelas, kita akan meninggal, bukan?

Kemudian apa bedanya usia-kecil-remaja-dewasa-dan-tua?

Selama ini kita sering mendengar seperti ini: “Usiamu sudah tua, namun perilakumu masih anak kecil!” atau, “Aku salut denganmu. Kamu masih kecil tetapi perilakumu menunjukkan sudah dewasa.”

Aku jadi ragu dengan pengklasifikasian umur dalam pelajaran Sosiologi yang diajarkan oleh guruku saat aku masih kelas dua SLTA, dulu. Aku menemukan banyak kejadian bahwa orang-orang yang sudah tua justru seringkali melakukan tindakan-tindakan yang mirip dengan anak kecil. Juga, tak jarang dari mereka yang kualitas pancaindranya menurun. Seperti menjadi semakin pelupa atau kurang bisa mendengar.

Jika kualitas organ tubuh orang tua semakin menurun dan tak berfungsi dengan baik, apakah sebenarnya kita ini sedang hidup menuju ke arah kemajuan? Jangan-jangan kita justru mengarah ke kemunduran?

Aku menghabiskan sirop yang kubuat hingga hanya tersisa es yang beku di gelas.

Malam itu, pernyataan si pemain catur bahwa hidup harus maju benar-benar menyita pikiranku. Aku sampai harus membuka-buka kamus, mengingat-ingat kakek-nenekku yang telah meninggal, mengingat ibuku, dan semuanya. Namun aku belum mengerti benar jawaban itu.

Entahlah.

Barangkali esok atau lusa aku akan berdiskusi dengan teman atau guruku, untuk menanyakan hal (tak penting) ini. Kurasa aku butuh istirahat sekarang.

***

Aku kembali mendarat di dalam kamar setelah aku melayang dalam ingatan pemain catur yang kulihat di sebuah kedai warung yang tutup, beberapa hari yang lalu. Aku menoleh ke arah jam digitalku. 01.12. Oh! Penerbanganku rupanya cukup lama.

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan masa kecilku. Waktu kecil dulu, bila pertanyaan itu menghampiriku, aku selalu menatap wajah Ibu dan membayangkan kami berada dalam suatu tempat yang sebetulnya tidak jauh. Tetapi kami tak bisa bersama sebab di hadapan kami ada jurang yang membentang. Aku dan Ibu barangkali masih bisa bertatapan muka, tetapi kami tak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu dalam bayanganku, wajah Ibu tampak sangat cemas sekali mendapati aku yang menangis meraung—mendamba segera pelukannya. Dalam kenyataan yang sebenarnya, aku benar-benar menangis di samping Ibu yang sudah terlelap. Lalu Ibu mendengar tangisku, dan buru-buru ia memelukku, erat-erat.

“Ada apa?” tanyanya, “Tenang, ibu ada di sini, dan jangan menangis.”

Tetapi aku tetap menangis. Menangisi anak dan Ibu dalam bayanganku: Saat kami tak bisa saling memeluk karena terpisah jurang.

Dan apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Adalah ketika kita mendamba pelukan Ibu atau tangannya yang mengacak-acak rambut kita, tetapi rupanya Ibu kita sudah tiada.

Maka, apa harapan bila aku kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku berharap Ibu masih membangunkanku untuk salat subuh.

Tegalsari,
Selasa, 04 Maret 2014

—06:57 pm
*Gambar dari sini.