Kamis, 30 Januari 2014

Selamat malam. Selamat datang di sepertiga malam. Ah, sudah lama sekali aku mengharapmu datang kemari. Sejak dua tahun lalu, sejak kaumemutuskan untuk memilih bermain dengan mimpi-mimpi dalam tidurmu.


Sekarang, apa kabar?

Kautampak lebih tua kini. Wajahmu menggurat sepi. Ke mana dulu paras bersihmu itu? Lihat, matamu malah semakin sayu. Tatapanmu tampak seperti terbebani sesuatu yang beratnya tak tertanggung. Pipimu semakin rapuh. Ah, itu, dahimu. Dahimu makin banyak kerutannya. Kau sungguh tak setampan dulu!

Hei, apa karena kini kau tak tampan, maka kau kembali berkunjung ke sini lagi? Mudah-mudahan bukan karena itu.

Hoho. Kau sudah mengerti, kan, jika persoalan dunia tak pernah ada habisnya? Dia, Tuan Raja, memberimu soal bukan untuk kautatap, kaukerjakan sebisanya, kemudian kautinggal. Bukan! Justru Dia tengah menunggu respon darimu.

Apa kau kesulitan? Jika iya, maka bertanyalah. Jangan sampai pertanyaanmu—yang kauanggap tak terlalu penting untuk ditanyakan—kau timbun sendiri dalam gudang hatimu. Lama-lama, ia akan menumpuk dan membuat ruanganmu penuh dengan rongsokan-pertanyaan milikmu itu tadi. Dan bukankah kau juga sudah bisa membayangkan apa jadinya jika mereka tertimbun di sana? Maksudku, kau tentu bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki gudang yang sangat penuh, bukan? Ya. Sesak! Akan banyak debu di sana. Udara kotor di mana-mana. Dan, itu tak baik buat hidupmu!

Sekarang, kau sudah bisa merasakannya, kan? Aku tak ingin tanya bagaimana rasanya. Tentu saja kau akan menjawab: tak enak! Hahaha.

Ups! Apa aku keterlaluan? Apa aku kurang sopan? Hmmm, baiklah. Kuucapkan sekali lagi padamu: Selamat datang kembali di sepertiga malam. Tempat ini adalah tempat paling nyaman untuk golongan sepertimu. Sekaligus juga tempat yang disukai Tuan Raja.

Apabila ada seseorang yang rela jauh-jauh datang kemari demi mencari JalanNya saat banyak sekali orang yang tengah sibuk bermain dengan mimpi atau istrinya, maka Beliau akan senang bukan kepalang. Dan sebagai imbalannya, Tuan Raja akan lekas memberi apa saja yang kauminta—tentu saja. Wah! Istimewa, bukan!?

Sekadar kautahu: sepertiga malam adalah tempat yang jauh bagi mereka yang suka mengeluh. Mereka tak mungkin dapat menempuh jalan menuju sepertiga malam apabila mereka hanya berkecandan di tempat tidur bersama istrinya dan berkelana dalam mimpinya. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan tak mudah untuk menuju tempat itu—bahkan seringkali gagal ditempuh oleh mereka-mereka yang terlalu manja... tak mau sedikit memaksa bangun dari tidurnya.

Bukankah kau masih ingat informasi itu? Ya, kuharap kau masih mengingatnya.

Beberapa bulan yang lalu, kupikir, kau telah melupakan tempat ini. Namamu hampir saja kucoret dari buku daftar presensiku. Sebab sudah hampir genap dua tahun kau tak kemari. Untung saja, Tuan Raja melarangku untuk melakukannya. “Tunggu sepekan lagi. Jika malam Jumat besok tak hadir, maka coret saja!” KataNya.

Ah. Beruntung sekali Tuan Raja Baik dan Mahamenunggu.

Ya, sudah. Aku tak mau lama-lama di sini—aku terburu-buru. Masih banyak rumah-rumah yang belum aku kunjungi. Tetanggamu itu, sudah dua malam kemarin tak datang. Katanya dia sakit. Tapi entah. Dan malam ini aku mau ke rumahnya—untuk memastikan bahwa dia sudah sembuh atau belum. Semoga saja sudah. Tak enak hati aku dengan Tuan Raja jika Beliau tahu kalau buku daftar presensi malam ini banyak yang alpa.

Aku sudah cukup senang dengan kehadiranmu kembali. Ah ya, nikmati saja sepertiga malammu. Dalam sunyi, kau boleh curhat apa saja pada Tuan Raja. Silakan. Jika belakangan terlalu banyak ujian yang kaupikir berat dan tak masuk akal, katakan saja padaNya. Kuyakin, Tuan Raja akan memberimu toleransi, atau semacam keringanan. Jika perlu, menangislah.

Sudah ditulis dalam lembaran Kudus: Wa minal-laili fa tahajjad bihî nâfilatallak, ’asâ ay yab’atsa rabbuka maqâmam mahmûdâ. Tuan Raja bilang, “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Duh! Hampir jam setengah empat! Aku harus segera mengecek yang lain untuk memastikan mereka hadir atau tak malam ini. Baiklah. Selamat berbahagia di sepertiga malammu ini. Kuharap, esok kita masih bisa berjumpa kembali. Tentu saja. Masih banyak yang ingin kusampaikan padamu... semoga kau istikamah!

Dan sampai jumpa pada tahajudmu selanjutnya!
Tegalsari,
Selasa, 28 Januari 2014
—07:10 pm
*Gambar dari sini.

Jumat, 24 Januari 2014

Malam itu kita duduk berdua di muka pintu rumah saudaramu. Semua sudah terlelap—tinggal aku denganmu. Sementara kau duduk di sampingku.


Sabtu, 11 Januari 2014

Kesunyian menjemputmu
melalui pintu belakang yang lupa tak kaukunci
langkah kecewa huyung mendekat pada ketiakmu
rupa-rupa tak juga sadar kau dibuatnya
nikmat benar kaucicipi hati yang luka akibat dihunus cinta?
Tegalsari,
Sabtu, 11 Januari 2014

—09:04 am
*Gambar diambil dari sini.
: Kepada W

1/

W, aku melihat kobaran api-kemarahan yang menyala-nyala dalam hatimu—membakar dirimu dan melenyapkan kesabaranmu hingga menjadi abu. Aku melihat gumpalan dendam yang terus membesar dan membenturkan dirinya sendiri pada dinding ketabahanmu. Aku melihat pedang menyayat dadamu hingga tampak sekali segaris senyummu yang palsu.

Ke manakah dingin es yang menyejukkan tubuhmu yang selalu dapat kulihat setiap kali kita bertemu? Di manakah tangan keramahan yang terus menumbuhkan rasa damai yang dulu membelaimu—hingga terbitlah senyum manis dari bibirmu?

2/

W, katamu, dalam hidup, kadang kita harus menutup telinga, kadang harus membukanya. Ada saat di mana telinga kita harus digunakan untuk mendengar kritik dan saran dari banyak orang di sekeliling kita, pula ada saat di mana kita mesti mengabaikan percakapan-percakapan orang di belakang mengenai kita—sebab ada dua alasan dalam mencermati percakapan-percakapan mereka: (1)Bisa jadi mereka menginginkan hal-hal positif terus terbangun dari dalam diri kita, (2)sebaliknya, ada beberapa orang yang memang tak cukup senang dengan apa yang kita lakukan, lantas mereka mencibir dan menjatuhkan kita—tanpa tanggungjawab, tentu saja.

3/

W, bersabarlah sekuat-kuatnya, dari segala macam serangan yang mengatasnamakan dirinya keburukan. Dari seratus juta muka yang menatapmu dengan cara yang tak biasa. Dari sejuta suara yang tak pernah bertanggungjawab, yang mencoba mematahkan langkah, yang mencoba mematikan iktikad kebaikanmu.

Teruslah berjalan, W, menelusuri setapak Jalan Benderang. Ikutilah Cahaya itu. Ia akan menuntunmu menuju ke Keabadian. Maka kau akan menemukan dirimu yang tegar di sana. Dirimu yang tersenyum syahdu, di sana.

Sementara, tentang kecewa dan masa depan, kau pernah berpesan padaku—untuk bekal selama aku mengembara. “Kecewa adalah hujan lebat melanda ketika justru kaumendamba terik. Atau gempa dan ledakan gunung yang memuntahkan partikel-partikel harapan. Mereka akan datang menyapamu manakala kaubiarkan harapan ihwal masa depan yang tidak benar-benar menjajikan menyala terlalu lama di hatimu.”

Aku suka dengan nasihatmu waktu itu, W, seperti kembali melahirkan nuraniku untuk terus waspada terhadap apapun saja: tentang hal-hal yang takpernah bisa kita duga-duga. Ya, kita tak bisa meneropong jauh ke depan, seperti katamu.

4/

W, kaupernah mendapati aku tengah terduduk lemas di pinggir hatiku sendiri. Kau tahu: kala itu aku digerus oleh gemerlap dunia—hiruk pikuk ledakan suara yang membuat dadaku makin sesak saja. Tapi seolah dapat mengetahui persoalanku, kau mulai mendekatiku, menepuk pundakku, lantas mengatakan sesuatu: “Jangan sampai tergelincir dari bebatu di pinggir sungai-keduniawian. Aku tahu kita membutuhkannya tetapi jangan sekali-kali, hanya karenanya, kita melakukan hal-hal yang bahkan berlebihan. Cukup letakkan ia pada genggamanmu, hilangkan dari dalam dadamu. Sebab jika kaumenempatkannya pada dadamu yang rapuh, aku tak terlalu yakin kau akan mampu menimangnya—siapapun orangnya, bukan cuma kau.”

Demikianlah, W, kata-katamu, selalu berhasil menguatkan kembali jejak-jejak langkah-kakiku, melapangkan kembali dadaku, mengumpulkan, lagi, semangat-kebaikan milikku.

5/

W, kini ke manapun kaki kita memijak, aku mau kita sama-sama saling menolong—saling mengingatkan: Menolong dari marabahaya apapun saja, keburukan yang barangkali dapat menggelapkan batin sehingga kita tak bisa menempuh Jalan Pulang. Sebab manusia hanya dilahirkan dengan keterbatasan untuk sekadar menyusun rencana-rencana, lalu berusaha, lalu sudah. Sisanya, hanya Dia, Sang Mahamenentukan, yang memutuskan hasil akhirnya, kan? Ya, aku selalu belajar dari kata-kata yang kauucapkan, W.

6/

W, belakangan aku merasakan gemuruh yang bergejolak dalam dadamu—memorak-porandakan apa saja yang berada di sana. Bertahanlah, W, bawalah segala macam amarah pada pejam matamu, lalu nyalakan Cahaya itu dalam gelapmu. Ingatlah bait-bait itu:

aku berserah
pada kekuatan Mahadahsyat
pada Pemegang Kesempurnaan
pada penunjuk Jalan Pulang

aku kembalikan
dendam pada Penyabar
salah pada Pembenar
benci pada Penyayang

maka tunjukkanlah
Lurus
Lapang
pada jalan yang kutempuh
pada langkah yang kuambil
pada debar yang kuputuskan

Maka akan kaulihat api yang membakar hatimu perlahan memadamkan dirinya sendiri. Gemuruh akan pelan-pelan meredakan dirinya kembali. Lalu pecahlah balok es dalam kepalamu—menjelma kesejukan yang menuruni bukit hatimu, yang tak pernah kaurasakan di belahan bumi manapun.


Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014
—08:52 am
*Gambar diambil dari sini.
Aku adalah rumah yang bocor
tiap kali hujan menyerbu
dan meneror dari langit yang sendu

Tiada atap bagi diriku
angin murung terus merutuk
pada langkahku yang rapuh

Ingin kugadaikan
sejuta kepemilikan
pada Tuan Rumah yang ramah
tempat berpulang gelisah

Sementara surat-surat penting
perabotan yang berjejal
akan lekas kubakar
dan lalu segera kusapu

Demi kembalinya ketakutan
demi kaburnya remeh-temeh
supaya dikasihi aku oleh Tuanku
supaya disayangi aku oleh Padukaku
Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014

—04:11 pm
*Gambar diambil dari sini.
Tak perlu kaubawa lari pikiranmu. Percuma! Yang ada, ia akan semakin manja dan ingin singgah ke mana-mana: Menjadi sangkaan buruk sekaligus busuk.

Aku melengang mendengar suara itu. Suara yang entah siapa yang mengucap, dari mana asalnya, dan apakah ia ditujukan padaku? Aku tak benar-benar tahu. Tapi perasaan dari dalam diriku mengatakan seperti itu.

Hei, siapa gerangan sang pemilik suara!? Aku mulai mengajukan pertanyaan pada keadaan sekitarku. Namun begitulah, tak ada jawaban. Aku mulai curiga dan menerka-terka ihwal apa maksud dari suara yang tak jelas siapa pemiliknya: inikah solusi itu?

Akhir-akhir ini, keadaan hatiku memang agak berbeda dari biasanya: Aku sering emosi, dan ini sangat menyiksa diriku sendiri! Sungguh sebuah hal yang sangat tak kusuka. Bah!

“Biarkan pikiranmu itu di sini, mengembang di sini; lantas menjadi optimistis yang kekar nan tinggi.”

Suara itu kembali terdengar oleh telingaku. Apa maksud dari semua ini? Belum usai rasa penasaranku, aku kembali dipaksa untuk mendengarkan nasihat yang, ah, sama sekali tak kuinginkan! Hei, apa maksud dari semua ini? Tanya-batinku, lagi.

Seolah sedang berdialog denganku, suara misterius itu menjawab kata hatiku.

Sebab Hidup berjalan sesuai yang kaupikirkan, maka yakinlah pada hidup yang kaujalani!”

Suara itu, ah, intonasinya makin besar—seperti menggeretak!

Hening merambat di ruangan 4x4 meter persegi, kamar tidurku. Dalam gelap, ingatanku mulai berguguran. Sementara, aku mencoba memungutinya, satu per satu.

Sebulan yang lalu, aku mengalami depresi akibat Rany—perempuanku—memutuskan hubungan kami berdua yang sudah empat tahun berjalan. Ya, sejak sebulan yang lalu, kami sudah tak ada ikatan lagi. Aku sungguh kecewa dengan keputusan ini, tentu saja. Bagaimana tidak? Di awal, kami sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan serius. Bahkan kedua orangtua kami sudah sama-sama setuju. Terlebih, kami sudah bertunangan!

Alasan Rany memutuskanku sangat tidak masuk akal, menurutku. Saat kutanya kenapa, dia menjawab: Kita memang tidak jodoh. Sejurus kemudian, ia pergi naik taksi, entah ke mana? Tak sempat kutanya lebih dalam tentang ini-itu, aku sudah ditinggal pergi lebih dulu!

Berkali aku mencoba menghubungi Rany, baik via SMS, BBM, juga telepon. Tapi sayang, sama sekali tidak ada jawaban dari Rany! Sempat aku bertandang ke rumahnya. Hasilnya? Sial! Dia sudah pindah rumah, entah ke mana?

Saat itu, aku benar-benar terpuruk! Ingin rasanya menjatuhkan diriku dari lantai 5 kampusku! Tapi aku tahu, itu tak akan mengurangi masalahku. Akhirnya kuputuskan untuk mengunci diriku dalam kamar.

Seminggu usai kejadian itu, aku mendengar bahwa Ayahku yang bekerja di luar negeri meninggal dunia setelah terpeleset jatuh dari gedung lantai 33! Bahkan, saat jenazah Ayah akan dipulangkan, pesawat yang membawa  jenazah Ayah mengalami kecalakaan. Dikabarkan bahwa pesawat tersebut jatuh di laut Jawa, dan hingga kini, bangkai pesawat, pilot serta para penumpang, termasuk jenazah Ayah tak diketemukan.

Belum pulih luka di dadaku akibat kematian Ayah, dompetku—yang berisikan KTP, ATM, serta uang 2 juta yang semula ingin kubuat melunasi pembayaran kampus—dicopet orang yang tak punya nurani! Kali ini hatiku benar-benar pecah berkeping-keping!

Akibatnya, aku mengalami depresi berkepanjangan. Aku mulai khawatir tentang semuanya: Apa aku sanggup melanjutkan kuliahku? Apakah aku mampu berjalan di atas penderitaan yang sangat berat ini? Dapatkah aku melanjutkan hidup ini? Aku sangsi. Aku ragu. Aku tak yakin.

***

 Tanpa sadar, di tengah aku memunguti ingatan-kesedihanku yang berguguran, airmataku melinang di kedua pipiku hingga basahlah wajahku.

Di sini, dalam ruangan 4x4 meter persegi, aku menekuri kehidupanku yang gelap dan tiada arah. Sejujurnya aku masih ragu: akankah cahaya segera terbit dalam kehidupan milikku?

“ Kau takut? Jangan takut, kamu tak sendiri,”  Tiba-tiba, setelah sekian jam aku berada di sini sembari mengusap airmataku yang tak kunjung henti, suara misterius itu kembali menasihatiku—dengan bijaknya.

“Jika masih ragu, tanyakan pada-Nya. Bahkan jauh sebelum pertanyaanmu itu muncul, Dia telah lebih dulu mencipta jawabannya: Ana 'inda dzanni abdi bi, Aku seperti yang disangkakan hambaKu kepadaKu.”

Aku terdiam dari isak. Kupejamkan mataku yang sebam. Kuberesi kemurunganku—rasa ragu yang ada di dadaku. Pelan-pelan lalu kupunguti dan kukemasi kata-kata tentang harapan-cinta-masa-depan untuk kemudian kumasukkan dalam ransel hitam.

Dalam hening malam ini, aku kemudian menggumam doa paling sederhana yang sejak kecil terus kugunakan khusus untuk situasi semacam ini: Situasi yang manjatuhkan—yang memaksaku harus larut dalam sungai kesedihan. Maka kuputuskan mengepalkan tangan, kutegakkan lagi kepalaku, kuseka airmataku. Dan doa itu, terus menyala dalam hatiku: “Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.”

Dan aku percaya dengan Tuhanku!
Tegalsari,
Rabu, 08 Januari 2014
—05:25 pm
*Gambar diambil dari sini.
Namamu terkelupas
dari hati yang didera panas
bunga-bunga terhuyung
dalam perjalanan jatuh
kemarau meraung nian panjang

Aku mendengus lepas dan lelah
detak nada cinta seolah pasrah
satu per satu
wajahmu bagai sendu yang gontai

Sadar aku perlahan
intonasi rindu mulai renta kemudian
kubiarkan ia berjalan-jalan sendirian
lalu terlindas bus kota di terminal

Tegalsari,
Jumat, 10 Januari 2014

—10:50 am
*Gambar diambil dari sini.
Selamat tinggal
malam dengan percakapan
sampai jumpa
pagi dengan senyuman
atau sore
bersama perdebatan

Aku akan pergi
barangkali tak terlalu lama
hingga malam menjadi milik kita
pagi segera menerbitkan senyummu
siang yang menentramkanmu
dan sore menjadi kebahagiaanku
: denganmu


Tegalsari,
Kamis, 09 Januari 2014
—04:17 pm
Pesantren. Aku merindukan suasana pesantren. Aku kangen keadaan pesantren: Ramai lalaran, semangat mencari ilmu, keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol bersama teman, hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.

Adakah tempat paling indah di dunia ini selain pesantren? Tempat paling baik sekaligus buruk... Tempatmu memutuskan untuk menjadi imam atau menjadi preman.

Dimana lagi sanggup kautemukan tempat berteman paling ruah, selain di pesantren?: Jawa, Bugis, Sunda, Madura, Osing, dan seterusnya, dapat kautemukan di sana.

Pesantren. Aku malu pada orang-orang yang bermukim di pesantren—yang setiap hari mendengar nasihat-nasihat para kiai. Setiap saat mengaji. Membaca al-quran. Membaca nadzam-nadzam. Menatap wajah kitab. Dan shalat berjamaah. Padahal, hati manusia akan keras bila tak mendengar nasihat selama 40 hari, bukan?

Ah, kapan aku kembali pada suasana seperti itu?

Uang kiriman Ibu telat. Dua hari aku tak makan nasi. Ujian diniah segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Tanggungan bulanan belum terlunasi. Sementara wali kelas terus-menerus menarikku hafalan-hafalan yang belum mencapai target. Aku bingung! Kepalaku pusing!

“Tenang, inna ma’al ‘usri yusrā,” kata mustahiqmu.

Hei, di mana lagi tempat paling bijaksana—selain di pesantren?

Saat-saat kelaparan karena jatah kiriman telat, temanmu akan menawarkan sedikit makanan buatmu. Penamu hilang? Kamu sakit? Masih ada teman, masih ada teman di dekatmu yang bersedia berbaik hati kepadamu: Meminjami pena, membelikan obat, dan merawatmu sampai sembuh.

“Tenang, masih ada kita,” kata mereka, temanmu.

Hafalanmu tak lancar? Di kepalamu banyak persoalan yang tak kunjung terselesaikan? Masih ada ketua kamar, ketua asrama, dan para ustadz, yang bisa jadi rujukanmu—dan mereka akan memberikan solusi-solusi terbaik buatmu.

Maka tak pernah lagi kutemui tempat paling indah selain pesantren: Tempat istijabah bagi pendoa, tempat sederhana yang mendidikmu berpikir ala Amerika dan tetap berjiwa Makkah, tempat paling aman yang melindungimu dari serangan globalisasi dan marabahaya lainnya yang menyerangmu pelan-pelan—atau tiba-tiba.

Ya. Aku merindukan pesantren....

Adzan subuh berkumandang. Suara garang anggota keamanan dan ketertiban. Wudu di kolam belakang asrama. Salat subuh yang masih mengantuk. Dimarahi ketua kamar karena tidur pagi. Dihukum sebab tak mengikuti kegiatan. Ah, menyebalkan!

Tapi, adakah tempat paling telaten selain pesantren? Tempat kediaman yang secara tak sengaja mengajarimu kebaikan-kebaikan—untuk tak gampang marah, mengeluh, dan tak menjadi pemalas; Meski hati tetap dongkol, kamu tetap menaatinya, bukan? Hingga pada akhirnya nanti kamu akan tahu sendiri: Bahwa salat malammu di pesantren, salat duhamu, hafalanmu, kitab kuningmu, sarung yang kaupakai, baju lengan panjang, dan apa saja yang kaukerjakan akan menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang langka—yang tak dilakukan oleh orang-orang yang tak pernah di pesantren.

Duhai Tuhan pemilik semesta
pemilik segala rencana
pemegang kebaikan sepenuhnya
dan penjaga segala rahasia
               
Allahumma-j’alnĭ syakūran
wa-j’alnĭ shabūran
wa-j’alnĭ fĭ ‘ainĭ shaghĭran
wa fĭ a’yuni-nnāsi kabĭran

Dari situlah, pesantren, kamu mengajarkan banyak hal kepadaku; Dan kini aku merindukanmu. Aku kangen suasanamu, aku kangen keadaanmu, dan semuanya...

Maka demi angin yang Kau tiupkan
demi air yang Kau alirkan
demi debu yang Kau tebarkan
bumi
langit
dan semua yang Kau gerakkan
               
Dekatkan kebaikan
jauhkan keburukan
mudahkanlah segala urusan
lapangkanlah semua jalan
               
Allahumma innĭ
a’ūdzubika min ‘ilmin lā yanfa’
wa ‘amalin lā yurfa’
wa du’āin lā yustajāb

Dan sekali lagi aku ingin kembali merasakan suasana itu: Ramai lalaran, semangat mencari ilmu, keluh saat bel diniah dibunyikan, mandi di kolam, mengobrol bersama teman, hafalan, lari terburu-buru karena ketinggalan saf.

Pesantren. Semoga dalam waktu dekat kita bisa segera bertemu! Amin.


Tegalsari,
Ahad, 28 Juli 2013
—09:15 pm
Gambar diambil dari sini.