Selamat malam. Selamat datang di sepertiga
malam. Ah, sudah lama sekali aku mengharapmu datang kemari. Sejak dua tahun
lalu, sejak kaumemutuskan untuk memilih bermain dengan mimpi-mimpi dalam
tidurmu.
Sekarang, apa kabar?
Kautampak lebih tua kini. Wajahmu menggurat
sepi. Ke mana dulu paras bersihmu itu? Lihat, matamu malah semakin sayu.
Tatapanmu tampak seperti terbebani sesuatu yang beratnya tak tertanggung.
Pipimu semakin rapuh. Ah, itu, dahimu. Dahimu makin banyak kerutannya. Kau
sungguh tak setampan dulu!
Hei, apa karena kini kau tak tampan, maka kau
kembali berkunjung ke sini lagi? Mudah-mudahan bukan karena itu.
Hoho. Kau sudah mengerti, kan, jika
persoalan dunia tak pernah ada habisnya? Dia, Tuan Raja, memberimu soal bukan
untuk kautatap, kaukerjakan sebisanya, kemudian kautinggal. Bukan! Justru Dia
tengah menunggu respon darimu.
Apa kau kesulitan? Jika iya, maka bertanyalah.
Jangan sampai pertanyaanmu—yang kauanggap tak terlalu penting untuk
ditanyakan—kau timbun sendiri dalam gudang hatimu. Lama-lama, ia akan menumpuk
dan membuat ruanganmu penuh dengan rongsokan-pertanyaan milikmu itu tadi. Dan
bukankah kau juga sudah bisa membayangkan apa jadinya jika mereka tertimbun di
sana? Maksudku, kau tentu bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki gudang yang
sangat penuh, bukan? Ya. Sesak! Akan banyak debu di sana. Udara kotor di
mana-mana. Dan, itu tak baik buat hidupmu!
Sekarang, kau sudah bisa merasakannya, kan?
Aku tak ingin tanya bagaimana rasanya. Tentu saja kau akan menjawab: tak enak!
Hahaha.
Ups! Apa aku keterlaluan? Apa aku kurang
sopan? Hmmm, baiklah. Kuucapkan sekali lagi padamu: Selamat datang kembali di
sepertiga malam. Tempat ini adalah tempat paling nyaman untuk golongan
sepertimu. Sekaligus juga tempat yang disukai Tuan Raja.
Apabila ada seseorang yang rela jauh-jauh
datang kemari demi mencari JalanNya saat banyak sekali orang yang tengah sibuk
bermain dengan mimpi atau istrinya, maka Beliau akan senang bukan kepalang. Dan
sebagai imbalannya, Tuan Raja akan lekas memberi apa saja yang kauminta—tentu
saja. Wah! Istimewa, bukan!?
Sekadar kautahu: sepertiga malam adalah tempat
yang jauh bagi mereka yang suka mengeluh. Mereka tak mungkin dapat menempuh
jalan menuju sepertiga malam apabila mereka hanya berkecandan di tempat tidur bersama
istrinya dan berkelana dalam mimpinya. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan tak
mudah untuk menuju tempat itu—bahkan seringkali gagal ditempuh oleh
mereka-mereka yang terlalu manja... tak mau sedikit memaksa bangun dari
tidurnya.
Bukankah kau masih ingat informasi itu? Ya,
kuharap kau masih mengingatnya.
Beberapa bulan yang lalu, kupikir, kau telah
melupakan tempat ini. Namamu hampir saja kucoret dari buku daftar presensiku. Sebab
sudah hampir genap dua tahun kau tak kemari. Untung saja, Tuan Raja melarangku
untuk melakukannya. “Tunggu sepekan lagi. Jika malam Jumat besok tak hadir,
maka coret saja!” KataNya.
Ah. Beruntung sekali Tuan Raja Baik dan
Mahamenunggu.
Ya, sudah. Aku tak mau lama-lama di sini—aku
terburu-buru. Masih banyak rumah-rumah yang belum aku kunjungi. Tetanggamu itu,
sudah dua malam kemarin tak datang. Katanya dia sakit. Tapi entah. Dan malam
ini aku mau ke rumahnya—untuk memastikan bahwa dia sudah sembuh atau belum.
Semoga saja sudah. Tak enak hati aku dengan Tuan Raja jika Beliau tahu kalau buku
daftar presensi malam ini banyak yang alpa.
Aku sudah cukup senang dengan kehadiranmu
kembali. Ah ya, nikmati saja sepertiga malammu. Dalam sunyi, kau boleh curhat
apa saja pada Tuan Raja. Silakan. Jika belakangan terlalu banyak ujian yang
kaupikir berat dan tak masuk akal, katakan saja padaNya. Kuyakin, Tuan Raja
akan memberimu toleransi, atau semacam keringanan. Jika perlu, menangislah.
Sudah ditulis dalam lembaran Kudus: Wa
minal-laili fa tahajjad bihî nâfilatallak, ’asâ ay yab’atsa
rabbuka maqâmam mahmûdâ. Tuan Raja bilang, “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah sebagai
ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang
terpuji.”
Duh! Hampir jam setengah empat! Aku harus
segera mengecek yang lain untuk memastikan mereka hadir atau tak malam ini.
Baiklah. Selamat berbahagia di sepertiga malammu ini. Kuharap, esok kita masih
bisa berjumpa kembali. Tentu saja. Masih banyak yang ingin kusampaikan padamu...
semoga kau istikamah!
Dan sampai jumpa pada tahajudmu selanjutnya!
Tegalsari,
Selasa, 28 Januari 2014
—07:10 pm
*Gambar dari sini.







