Senin, 23 Desember 2013

Ibu
adalah pahlawanku
juga pahlawanmu
Blokagung,

22 Desember 2013

*Gambar diambil dari sini.
: V

V, kita sama-sama tahu, bahwa hidup tak mesti berjalan pada jalurnya. Kadang-kadang, ia memilih untuk mengambil jalan pintas—jalan lain yang bahkan tak kita kehendaki. Lalu kita akan menyesal, atau kecewa, pada jalan-jalan yang tak pernah kita ketahui ke mana ujungnya. Sementara dada kita yang terlanjur sesak atau telinga kita yang panas, cenderung selalu menolak nasihat-nasihat paling bijak, sekalipun.

Barangkali saat-saat macam ini, V, di mana aku kembali terjerembap pada lembah-kesedihan, aku selalu mengingat kata-katamu untuk terus bertahan.

"Penderitaan paling hebat hanya terjadi sebentar saja," katamu. Dan waktu itu, aku mengangguk saja. Semacam tak mau lebih banyak lagi mendengar nasihatmu. Nyatanya, kini aku benar-benar tahu, V. Dan kata-katamu waktu itu, selalu relevan untuk kupraktikan kapan aku mulai merasakan kesakitan.

Barangkali rasa sakit milikmu kini masih ada dan tetap terasa, V, seperti masih adanya sakit yang kumiliki. Tapi aku ingin kita sama-sama merawatnya, sebaik mungkin, agar mereka lekas sembuh—bersamaan dengan membaiknya hubungan kita, tentu saja.

Maka kenalilah kembali aku, V; mula-mula namaku, kemudian suaraku, kenangan kita berdua, apa saja: foto kita berdua, tawa kita, sedih, marah, pertengkaran, juga pertimintaan maafku padamu atau sebaliknya. Berikutnya izinkan aku memasuki ruangan pribadimu—hatimu. Lagi. Dan mari mulai kita susun lagi hari-hari agar lebih baik dari yang sudah-sudah.

Lalu genggam tanganku, V, dan tenanglah: semua akan baik-baik saja.
Probolinggo,
Selasa, 17 Desember 2013.

*Catatan dalam bus

*Gambar dari sini.
Selamat malam
hujan, remang
daun yang kedinginan
dan kota Jogja
juga semuanya

Selamat malam
tuan sopir berkumis lebat
sebab saat ini hujan cukup lebat
jadi tolong, laju bus diperlambat
agar kita semua selamat
kami percaya kau hebat

Selamat malam
handphone yang berbatrai lemah
baju yang basah
serta tubuh yang lelah
kami ucapkan
: kami pulang!

Jogja,
Kamis, 19 Desember 2013
*Catatan malam,

dalam bus yang kedinginan

*Gambar dari sini.
: Sopir

Tuan, apa kaukira jalanan ini
adalah track buatmu mahir berkendara?
apa kaupikir ini semua keren?
ini bukan Need for Speed
atau game balap pada PlayStation
: kami ketakutan tiap bus ini bergoyang
dengan cara yang tak wajar
seperti semalam kami tak kunjung tertidur
akibat kecepatan kendaraan ngawur
sementara pagi terlalu menakutkan
dari yang sebelumnya kami banyangkan

Maka, tengoklah ketakutan kami di belakang
kemudikan kendaraan dengan wajar
agar kami tak takut menatap jalan
dan, cepatlah sadar, Tuan!

Rabu,
18 Desember 2013
*Catatan pagi, dalam bus

--menuju Solo

*Gambar diambil dari sini.
: Kepada V, yang indah

I/

V, bukankah aneh jika aku memaksamu untuk tetap di sini, di sampingku—sementara badai-caci-maki tengah melanda kita di depan mata? Kita harus melarikan diri, V, menyelamatkan apa-apa yang bisa diselamatkan; membawa apa saja yang masih diperlukan. Dan aku, aku akan membawamu, tentu saja.

Aku akan membawamu, V, menyelamatkanmu dari badai itu, dari caci-maki orang-orang yang tak menginginkan kedekatan kita. Jauh. Sejauh jarak-pandang kita.

Tapi, mungkinkah aku bisa menjinakkan badai itu? Tanpamu, rasanya cukup sulit, V. Sebab aku bukan (si)apa-(si)apa.

II/

V, kadang-kadang, perkenalan yang terlalu jauh, pertemuan yang terlalu dalam, hanya akan membuat kita pingsan dan lalu lupa ingatan. Barangkali kita adalah satu di antara ribuan contoh yang ada di muka bumi ini.

Jika waktu bisa kuakali agar ia berjalan ke belakang, sesungguhnya aku mau mengatakan semua itu, V, padamu. Tapi aku tahu, dan kau juga tahu, waktu memang tak bisa diulang. Dan semua sudah berjalan: Ia bukan film picisan, yang dibalut dengan slow motion atau kisah menyedihkan, yang bisa kita putar lagi, dan lagi; semacam replay pada adegan yang kita inginkan untuk kemudian kita tonton—berulang-ulang.

Maka satu-satunya cara adalah, lepaskan saja, V, satu per satu, foto-kenanganmu denganku di dinding hatimu—meski sulit, meski sakit. Dan kau hanya perlu palu dan tenaga untuk melakukan itu.

III/

V, jadi, inikah ujung dari perkenalanku denganmu dua tahun lalu—di mana aku harus minta ampun pada mimpi dan harapanku?

Jika memang benar, maka kuharap kita sama-sama bisa menerima. Bukankah memang harus begitu? Berat, itu yang kita rasakan. Kau mungkin kecewa atas semuanya? Atas keputusan ini? Atas apa saja yang ada sekaligus terjadi? Ya. Di luar itu, aku juga berhak kecewa, V, sepertimu.

Semua, terutama dirimu, adalah alasan yang membuat bebanku bertambah berat. Dan tak mudah buat merasakan sakit ini. Ada perasaan tak terima. Butuh waktu. Seperti tak mudahnya mendapatkanmu, seperti butuh banyaknya waktu buat mendapatkan cintamu—dulu.

Seperti manusia lain yang menjejakkan kaki di dunia, V, aku bisa menangis, aku bisa marah, memukul apa-apa di sekitarku, memaki siapa-siapa, menyerapahi semuanya. Tapi lantas buat apa semua itu, V, jika kemurunganku tak bisa mengubah keadaan? Semua ini, semacam apa boleh buat, V. Semacam kerikil yang membuat kita terpeleset lalu jatuh pada saat lomba maraton, sementara garis finish sudah terbentang jelas di depan mata kita.

Bahwa aku pernah bermimpi untuk hidup satu atap denganmu, dan bahagia bersamamu, semua mesti gagal, V, dengan alasan yang kita berdua sudah tahu.

IV/

Barangkali beberapa pekan atau bahkan beberapa bulan ke depan, aku hanya ingin menangis, menangis, dan menangis. Biarkan airmata jadi puisi. Dan aku juga mau menyendiri, membuat bait-bait paling murung dan sakit, atau melakukan hal-hal, apa saja, yang lebih parah untuk kurasakan sendiri:

            Aku mau menunggumu di sini
saat pagi masih basah akibat embun
atau malam mengancam melalui kegelapan
               
Aku mau menunggumu saja
saat gerimis mulai memburamkan namamu
pada kaca jendela rumahku

Maka biarkan segalanya berjalan, V, apa adanya. Seperti sepi yang akan terbelah oleh suara. Sejajar dengan kata pasrah dan putus asa.

Tegalsari,
Selasa, 10 Desember 2013

—03:36 pm

*Gambar diambil dari sini.
Koper hitam melayang
pada kaca yang basah
akibat hujan semalaman

Matahari tak segera muncul
langit masih murung
malam lebih panjang dari biasanya

Ayam di belakang rumah terbatuk
suaranya mampet pada leher
disaksikannya dua cacing menggeliat

Di hadapan langit
pelempar koper mengemas sepasang hati yang patah
dipikirnya, hidup memang ambigu
bahkan seringkali paradoks


Tegalsari,
Jumat, 13 Desember 2013


*Gambar diambil dari sini.

Minggu, 15 Desember 2013

Di gigir jalan tempat kau menimang anakmu
Tertcecer pecahan harapan yang kautimbun di dadamu
Beberapa tahun yang lalu

Sepuluh tahun sudah
Sejak kaupilih orang Pacitan itu
Hidupmu tak kunjung menepi dari sungai kemiskinan

Sementara kau kini sudah berumur
Anakmu telah berusia delapan tahun
Dan rencanamu menyekolahkannya
Terpaksa kembali harus diundur

Dan nasibmu yang cuma orang pinggiran
Membuat aspirasimu tak didengarkan
Pertanyaanmu diabaikan
Serta surat-suratmu dibakar

Andai ada malaikat turun menjelma jadi manusia
Barangkali nasibmu kini bisa membaik

Tapi, sayang sekali
Di gigir jalan tempat kau menimang anakmu itu
Kini menjadi tempat terakhir hembusan harapanmu
Sementara anakmu yang berusia delapan tahun itu
Menangis pilu seraya memanggil-panggil namamu

Tegalsari,
Ahad, 24 November 2013

—07:40 pm

*Gambar dari sini.
Apakah Indonesia tengah mimpi buruk?
Ya
Indonesia tengah mimpi buruk
Dalam mimpinya, dia tengah dipimpin
Oleh para bandit berjas hitam dan berseragam
Rajanya keparat
Bertubuh tambun dan bermuka pucat

Tiap hari uang Indonesia terus berkurang
Hilang dibawa kabur bandit berjas hitam
Kadang digunakan membeli mobil
Gatget, rumah mewah, dan perempuan
Untuk jalan-jalan, liburan
Membeli kosmetik dan makanan
Sisanya jadi tinja

Dalam sejarahnya, dari tahun ke tahun
Indonesia terus bermimpi buruk dan tak kunjung bangun!

Tegalsari,
Sabtu, 9 November 2013

—08:09 pm

*Gambar dari sini.
: Untuk teman-temanku
Yang tertindas waktu

Kenangan ini, hilangkah dari ingatan kalian?
aku masih menyimpannya baik-baik

Memang
waktu kadang bisa sangat kejam
: ia tak pernah mengerti
betapa kita ini sama-sama merasakan kesakitan

Kita sama-sama merengek dan berdoa
agar semuanya bisa kembali terpelanting jauh ke masa lalu,
di mana aku dan kamu
pernah mengatakan dan menyatakan benci, marah, dan suka

Tapi seberapapun tangis kita meleleh
dan jerit kita pecah hingga pita suara kita putus
saat itulah waktu akan bertindak kejam
: ia akan tetap melanjutkan perjalanannya sendiri
tak akan peduli bagaimana perasaan kita
seberapa dahsyat luka nyeri yang ada dalam dada

Dan aku sama sepertimu
: Sama-sama tersakiti oleh waktu.

Blokagung,
Jumat, 8 November 2013
—11:48 pm

*Gambar dari sini.
Maaf, Mama
aku kembali gagal
menjadi orang dewasa
betapa tidak?
meski tubuhku terus berkembang
dan umurku terus berjalan-berkurang,
sebetulnya aku masih tetap anak kecil di depanmu;
manusia yang terus keliru
dan akan meminta saran darimu

Jika aku adalah anakmu,
aku hanyalah anak yang merepotkanmu
: anak yang tak pernah jera
meminta menyisihkan kesibukanmu untuk kumintai doa-doa

Tapi sayang,
aku memang manusia keparat!
bagaimana tidak?
aku tak kunjung bisa membahagiakanmu
melalui perilaku-perilaku

Maka maafkan aku, Mama
inilah janjiku
: aku tak akan mengecewakanmu!

Jika aku masih keliru,
sejujurnya aku adalah anakmu
yang memang masih butuh saran juga nasihatmu

Tapi maaf,
di hadapanmu, aku tetap ingin jadi anak kecil saja.
ya
sebab jika persoalan demi persoalan menghantam kepalaku,
sesungguhnya aku adalah anak kecil
yang ingin menangis di bahumu
aku adalah anak kecil
yang mendamba rambutku kau acak-acak

Lalu saat tangisku jadi semakin pilu
dan bajumu mulai basah akibat airmataku
kau akan membisikkan padaku kata-kata itu
: "Jangan menangis
ada ibu di sini
dan semua akan baik-baik saja, Anakku."

Jember,
Jumat, 1 November 2013

—Catatan dalam bus

*Gambar dari sini.
Jika kau tanya 'apa itu hidup' 
pada seorang kakek tua bertopi 
yang sering menginap di bawah jembatan, 
ia akan menjawab sederhana
: Hidup adalah pergi pagi, pulang malam. 

Jika kau tanya 
kepada seorang yang agak agamis 
yang sering muncul di televisi di pagi hari, 
maka ia akan merapikan surbannya dan menjawab
: Ehm, hidup adalah menyembah Ilahi.

Dan jika kau lontarkan pertanyaan itu 
pada koruptor yang mengaku pejabat negeri, 
maka ia akan tegas menjawab
: Hidup itu indah. 

Dalam hati koruptor yang barusan kau tanyai 
muncul jawaban paling jujur
: Hidup itu indah, 
karena kerjaku tiap hari cuma duduk di depan kursi, 
diam di depan layar monitor
atau iseng bermain game

Dan jika kebetulan aku mengantuk 
saat rapat berlangsung, 
maka aku akan menonton BF 
di tablet yang aku beli 
hasil dariku mencuri uang pajak kemarin.
Kamis, 31 Oktober 2013

--Catatan dalam bus
Selamat malam. Izinkan kembali aku memasuki ruanganmu paling pribadi. Ruangan yang di dalamnya selalu tertata rapi: ada satu meja sepaket dengan kursi, yang di atasnya ada bunga yang setiap hari diganti. Juga,satu kursi panjang yang khusus kamu sediakan buat tamu.

Tunggulah sebentar. Soal kursi panjang yang kamu sediakan untuk tamu tadi, aku tahu ia hanya kaukhususkan buat tamu yang istimewa saja—orang terdekatmu. Dan aku pernah duduk dan meminum teh, di sana. Bersamamu.

Aku beruntung bisa menjadi salah seorang yang dapat masuk ruangan pribadi milikmu. Selama setahun berada di sana, rasanya aku tak pernah kekurangan apapun: kamu selalu memberikan lebih kepadaku. Tentang kesehatanku,kamu terus berpesan agar aku lebih peduli menjaganya. Maklumlah, aku memang agak cuek urusan kesehatan. Dan kamu tahu itu.

Pengalamanku ketika masih tinggal di ruangan pribadimu—yang hingga kini masih kuingat—adalah ketika suatu hari aku pernah memaksa untuk pergi meninggalkan ruanganmu, untuk mencari ketenangan atau sekadar merasakan udara lembap yang, kata orang-orang, segar. Tapi kamu mencegah dan terus membujukku untuk tak pergi dari ruanganmu.

“Tenanglah sebentar. Jangan terlalu banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya buatmu. Tetaplah di sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.” Katamu membujukku.

Aku terus bersikeras dan tetap ingin pergi meninggalkanmu di ruangan ini. Dan kamu, meski kutahu terpaksa—lebih tepatnya sangat terpaksa,akhirnya mengizinkanku untuk pergi. Senangku bukan kepalang saat kamu mengizinkanku. Sungguh.

Aku yang membangkang nasihatmu, akhirnya menyesal ketika salah seorang menawarkan ‘persinggahan’. Mula-mula aku tak mau. Tapi lama-lama akhirnya aku terbujuk untuk singgah ke tempatnya. Saat itu, entah bagaimana caranya, ia mampu membuatku memercayai kata-katanya.

Satu, dua, empat, sepuluh, duapuluh satu hari aku tinggal di sana, ia membuatku terus tertawa dan bahagia. Sungguh. Sebuah perlakuan yang belum pernah kudapatkan darimu sebelumnya. Hingga genap sebulan, aku baru tahu dan kemudian sadar bahwa seorang tersebut ternyata memiliki tak hanya satu tempat ‘persinggahan’. Tapi lebih!

Ah!

Tiba-tiba aku ingat nasihatmu, agar aku tak pergi dari ruangan pribadimu: “Tenanglah sebentar. Jangan terlalu banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya buatmu. Tetaplah di sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.”  Lamat-lamat suaramu menyelinap ke telingaku. Pikirku, kenapa semua baru terasa seberat ini?

Untuk sebuah penyesalan,mengapa Tuhan menciptakannya untuk kita rasakan di akhir cerita? Mengapa rasa-sakit-akibat-penyesalan selalu lebih menyakitkan? Dan, mengapa kita tak diberitahu—minimal sketsa rahasia di masa depan—agar kita, paling tidak, bisa lebih waspada? Dan, aku jadi mengerti kalau memang kamu sungguh-sungguh memberikan semuanya. Untukku. Sekali lagi, aku menyesal! Ah!

Maafkan aku. Sungguh maafkan aku. Aku tak ingin lagi mengacak-acak ruangan pribadimu yang telah rapi dengan kembalinya aku kemari. Maka izinkan aku untuk menengok isinya kini. Kali ini aku tak akan memaksa untukmendapatkan persetujuanmu.

Dan, tak terbantahkan. Kamu adalah satu-satunya orang yang memberikanku semuanya, tanpa meminta kembaliannya: Kamu menerimaku kembali sebagai tamu istimewa. Sebagai bentuk terima kasihku, aku akan mematuhi nasihatmu dan tak akan keluar dari ruangan ini, kecuali denganmu: Aku janji!

***

Nyatanya, hingga kini, kamu tak pernah memiliki ruangan pribadi lain, kecuali yang kuhuni ini. Aku bersyukur bisa tinggal di sini,bersamamu. Di ruanganmu yang paling pribadi. Ya. Di hatimu.


Tegalsari,
Sabtu, 12 Oktober 2013
—11:24 pm

*Gambar dari sini.
: Untuk sahabat-sahabatku dan siapa saja, yang kehilangan cahayanya

Dari mana sesungguhnya cinta itu bermula? Barangkali dari rangkaian peristiwa yang aku jalani berhari-hari. Denganmu. Dari sebuah percakapan ringan yang kau ciptakan. Dan aku seolah merelakan diriku terseret percakapan-percakapan kita yang kau alirkan.

Dari mana sebetulnya rindu itu bekerja? Mungkin dari pertemuan singkat denganmu yang tak lagi kita ulangi berminggu-minggu: Sebuah aktivitas yang sejujurnya menimbulkan sesak yang luar biasa di dadaku.

Lalu untuk siapa mereka berdua—rindu dan cinta—itu diciptakan? Entahlah. Mereka ada, atau tanpa sengaja ada, barangkali sebab telah kubiarkan segala pintu terbuka. Dan kamu adalah tamu istimewa yang kupersilakan masuk melalui pintu mana saja.

Di sana, kamu boleh melakukan kegiatan apapun: duduk-duduk santai, atau jalan-jalan dan mengamati segala hal hingga ke bagian paling dalam dan paling rawan di hidupku. Ya: Di hatiku, kamu satu-satunya orang yang bebas keluar-masuk dengan waktu yang tak ada batasannya.

Dari sini, barangkali pertanyaan untuk siapa rindu dan cinta itu diciptakan bisa kujawab sendiri: Bahwa mereka berdua sebenarnya diciptakan hanya untuk kamu saja. Inilah istimewanya kamu di hatiku; kurasa memang selama berminggu-minggu tak bertemu, aku terus merindukanmu.

Dan sejak saati ini, sejak aku mulai menyadari bahwa cinta pernah bermula dan rindu tengah bekerja, sebenarnya aku tengah mendamba sebuah pertemuan istimewa: Denganmu.

Maka datanglah; aku akan menyambutmu dengan rindu yang kurangkai berminggu-minggu. Kita rayakan makan malam kita yang sempat tertunda beberapa pekan. Segeralah hadir ke hidupku; kupersilakan kamu masuk melalui pintu mana saja. Aku telah mempersiapkan ruangan khusus untuk kita berdua—yang kuhiasi dengan rindu dan cinta.

Ah!

Kurasa semuanya tetap berujung pada kata sia-sia. Ya. Kenyataannya memang begitu. Dan kehilangan adalah rasa ketiga setelah rindu dan cinta.

…Ibu, aku mohon, bangunlah kembali... ke dunia.


Tegalsari,
Rabu, 9 Oktober 2013
01:29 pm

*Gambar dari sini.
Inikah kota sandiwara?
dimana uang dan wanita dipuja di atas segalanya
kolektifitas tak menyokong sosialis masyarakatnya
orang-orang sibuk bekerja
sementara kehidupan hedonis menjadi ciri khasnya

Sebagia besar para remaja telah mumpuni memeraninya
: melakukan seks bebas, minum minuman keras,
dan pemakai aktif pil ekstasi dan narkotika
soal semacam itu,kamilah ahlinya, kata mereka

Anehnya, para orang tua cenderung cuek
dan lebih mementingkan pekerjaannya
di kota sandiwara, cinta tak pernah benar-benar ada
di sana, tak ditentukan pemeran antagonis
protagonis, atau figurannya
semua sama: pemeran utama!

Jember,
Kamis, 3 September 2013

—09:45 pm

*Gambar dari sini
Sengaja kutinggal 
kertas biru bertuliskan namaku
yang kulipat macam perahu
pada mejamu ini--
agar kaubaca pada malam hari 
dalam keadaan sendiri.

Stembel,
Rabu, 2 September 2013
--08:23 pm

*Gambar dari sini.


Bagaimana jika aku adalah manusia yang luar biasa? Barangkali aku akan kebal  dari rasa sakit akibat kesalahan yang kamu buat, atau yang orang lain perbuat. Tetapi buat apa jadi manusia luar biasa? Apa bangganya? Apa hebatnya?

Jika aku manusia luar biasa yang kebal dari rasa sakit akibat perbuatan orang terhadapku, barangkali aku akan menolak kosakata “maaf”—

Itu hanya aku yang berandai-andai. Bayangkan jika seluruh manusia ingin menjadi manusia yang luar biasa? Bisa jadi kita, aku, kamu, dan milyardan manusia yang hidup di dunia tak akan mengenal perbendaharaan kata “maaf”, tentu saja.

Maka apa jadinya? Aku tak akan mendengar kata “maaf” yang kamu ucapkan dengan roman muka tulus, darimu. Dan aku tak mungkin mendengar mulutmu berkata “terima kasih” setelah aku memaafkanmu.

***

Hari ini kamu, lagi-lagi, membuat kesalahan padaku. Tapi aku bersyukur. Itu artinya, kita sama-sama diberi anugerah oleh Tuhan untuk tetap saling mengenal: Aku akan kembali melihat dan mendengar kamu mengucapkan maaf padaku, lantas aku akan memaafkanmu. Dan kamu, tentu saja, akan berterima kasih kepadaku—dengan rona merah terbit di mukamu.

Maka jangan menyesal atas kejadian hari ini yang barangkali terlalu sakit untuk dirasakan... tak bisa dinikmati.

Aku beruntung kita bisa saling mengenal, untuk kemudian saling membuat salah, lalu saling memaafkan; Dan, ah ya, selanjutnya kita baru sadar jika aku dan kamu baru saja berkenalan dengan “kedekatan”.

Tegalsari,
Sabtu, 7 September 2013

—07:21 pm

*Gambar dari sini.
Di beringin Malioboro
aku terjebak pada remang Jogja yang malam.

Jogja,
Rabu, 19 Juni 2013
—09:56 pm


Aduhai, wanita yang duduk di bangku sudut
aku suka caramu mengantuk lalu cemberut

Di antara banyak penumpang Trans Jogja
cuma kamu yang terlihat memesona

Aduhai, wanita yang duduk di bangku sudut Trans Jogja
aku hampir pada peringkat tergoda.

Jogja,
Kamis, 20 Juni 2013
—06:33 pm
Stasiun Jember
adalah stasiun terakhir
kereta hanya menyisakan kau dan aku

Betapa tenang, di sini—
tanpa riuh obrolan orang-orang
yang tak pernah kita kenal

Di kaca, kita bisa seenaknya menghitung
dederet desa dan kota—
sementara punggung malam tersenyum pada kita

Lalu lelaplah kau dan aku— 
terkurung dalam berjuta mil khayalan
sebentar sebelum perpisahan

Maka dari sana
kita
tak lagi pernah berjumpa.

Jember,
Jumat, 21 Juni 2013

—06:13 pm
Belum tahu pasti tentang kepastian
aku harus mengakui duluan:
Bahwa mimpiku untuk menjadi bagian darimu
harus tergagalkan.

Jogja,
Rabu, 19 Juni 2013
—03:19 pm


Mereka yang terjaga
dan lelap di jalanan Jogja
banyak mengabaikan
panggilan-panggilan serak
para muazin kota

Hilir mudik
tamu-tamu domestik
dan mancanegara
mengerutkan dahi mereka
Belum lagi, terik tengah hari
yang memeras galonan peluh

Ah,
Jogja, kota impianku
masih banyak yang ingin kuceritakan
untuk menggambarkanmu

Tapi diksiku berserakan di jalananmu.

Jogja,
Kamis, 20 Juni 2013

—05:45 pm
Jangan salahkan saya jika saya menjadi pendiam dan tak mau terbuka! Nanti, kalau saya memutuskan untuk menutup apa saja yang ada pada diri saya, semoga Anda tak menyesal. Sejak lama, saya belajar untuk tetap tersenyum—membuka perasaan, apa saja, kepada Anda. Tapi rupanya saya tak pernah benar. Apa yang saya keluhkan, justru selalu  Anda jatuhkan. Saya kini merasa tertekan atas perlakuan Anda terhadap saya.

Di sini, saya seperti orang bodoh yang berusaha untuk pintar, tapi selalu disalahkan. Saya bagaikan orang yang terjatuh dan berusaha untuk bangun, tetapi tak diberi kesempatan untuk berdiri—meski berusaha, Anda tetap menjatuhkan saya. Lagi, dan lagi.

Kalau kehadiran saya di sini rupanya menjadi persoalan yang besar bagi Anda, saya bersedia pergi—melanjutkan kehidupan lain. Barangkali saja, di tempat lain, saya bisa lebih diorangkan? Usaha saya lebih dihargai. Dan bukan tidak mungkin jika ternyata saya bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat?

Saya tidakmenyalahkan semuanya—yang ada sekaligus terjadi. Tapi saya rasa, semua rencana yang sudah saya pancangkan sejak jauh-jauh hari tergagalkan di sini. Saya menjadi orang yang tak bernilai dari segi apapun.

Selama ini harapan saya Anda dukung dengan kata-kata yang menjajikan, sehingga saya semangat dan merasa bisa merealisir harapan saya—bahkan bisa dikatakan sudah ada di depan mata. Tapi saya salah besar, ternyata. Saya tak pernah menyana semuanya menjadi serba terbalik seperti ini!

Keterbalikan itu saya terima sebagai kehancuran terhebat bagi semua rencana-harapan-juga-cita-cita saya: Dukungan Anda, rupanya hanya sebatas komposisi kata-kata—bukan hasil akhirnya.

Saat ini saya sudah mengetahui yang sebenarnya. Apa yang saya rasakan? Tentu saja kecewa! Saya sangat kecewa, lebih tepatnya. Jika saya boleh mengatakan semuanya, saya merasa sangat tertekan atas kejadian ini. Dada saya, Anda harus tahu, sangat-sangat sulit dibuat bernapas. Saya tak pernah mengalami kesesakkan dada seperti ini. Sehingga bergalon airmata yang tak saya kehendaki tumpah di pipi.

Sampai disini, ketertekanan milik saya belum bisa terbebaskan. Maka jika suatu hari, barangkali mulai saat ini, saya tak lagi bisa membuka rahasia-hati untuk Anda, mudah-mudahan Anda menerima—dan tidak lantas menyalahkan saya. Karena saya sudah memutuskan semuanya!

Jika Anda membaca tulisan ini, sebetulnya tak sebanding dengan kehancuran dinding hati milik saya. Rasanya dari dulu, deretan kata (selalu) tak bisa menjelaskan perasaan seluruhnya.

Dan maaf, saya belum bisa menjadi yang terbaik buat Anda.



Tegalsari,
Ahad, 04 Agustus 2013
—04:45 pm

*Gambar dari sini.
Dua hari yang lalu
aku meletakkan sesuatu
di bawah bangku

Tak ada siapa-siapa
yang tahu
selain aku

Dua hari berlalu
kau menemukannya
dalam keadaan tak bernyawa

Tegalsari,
Senin, 08 Juli 2013
—11:05 am


*Gambar dari sini.
Angin muram yang berembus dari timur
menebas apa saja yang dilaluinya
bebaris semut di dahan melarikan diri

Daun pisang yang tak tahu apa-apa, terkoyak
debu di pinggir jalan, khawatir
malam itu pembunuhan kembali terjadi

Tapi,
kau yang menjadi saksi
malah duduk-duduk tenang sambil minum kopi

Sidoarjo,
Sabtu, 06 Juli 2013

08:05 pm

*Gambar dari sini.

Sabtu, 07 Desember 2013

Andai kutitipkan sesak-rinduku pada debu untukmu

pernahkah ia benar-benar datang menemuimu—
dan menyampaikan rinduku padamu?
Bahwa kerinduan adalah simpul, barangkali benar
: tali yang mengikat leherku kuat-kuat
yang tak bisa terbuka kecuali oleh pertemuan
dan percakapan-percakapan adalah pelengkapnya
Tapi kerinduan padamu bukanlah simpul
ia bagai puisi yang tak putus
sungai tiada muaranya
labirin tanpa ada ujungnya
ya
dan aku sering mengunjungi mereka
mencicipi rindu yang kubikin sendiri
lagi, dan lagi
hingga ada pertemuan kita di ujung senja
 
Stembel,
Senin, 7 Oktober 2013
--07:45 pm

*Gambar dari sini.
Mama, aku kembali berdiri di sebelah jendela--termangu memandangi denah rumah kita: empat buah kursi dan satu meja saling bertatapan, tak mau tahu kepadaku. Aku masih bingung dengan kejadian yang menimpa kita--
Kemarin sore, dua orang utusan bank datang ke rumah. Mereka berdua menagih hutang-hutang saudara kita kepadamu.
"Ibu, jangka waktu pembayaran hutang Ibu kurang sebulan lagi. Mohon segera dilunasi! Kami permisi." aku mendengarkan salah seorang utusan bank menutup pembicaraan dan bergegas pulang.
Aku melihatmu menangis di kursi ruang tamu ini. Sementara dua tamu tadi meninggalkan satu surat berisikan total tagihan yang harus segera dibayar. Rp 80.000.000,-. Demikian tulisan yang tertera di sana.
Rp 80.000.000,-
Hah! Gila! Mama harus melunasi hutang sebanyak itu? Sementara uang tabunganmu hanya cukup untuk makan empat hari ke depan. Dapat darimana uang sebanyak itu? Kita seperti orang yang tak makan buah nangka, tapi terkena getahnya! Apa-apaan semua ini!?
Aku semakin tak mengerti dengan kejadian ini--
Saudara kita, yang meminjam uang sebanyak itu di bank, melarikan diri entah ke mana? Padahal jaminan atas peminjaman uang adalah rumah kita. Setiap hari Mama berusaha menghubunginya, tapi percuma: Tak pernah diangkat.
Bahkan, suatu ketika, kamu pernah mencoba mengirim SMS--untuk memberitahukan bahwa surat tagihan yang ketiga dari bank sudah diantar ke rumah. Dan, di luar dugaan. Mama malah ditanya: "Ini siapa, ya?"
***
Mama, sebulan yang lalu aku diberi nasihat guruku: "Ketika seorang hamba menanggung banyak dosa, sementara amalnya tak cukup untuk melunasi dosa-dosanya, maka hamba tersebut akan dicoba--diberi ujian untuk melebur dosanya."
Ha? Apa kita banyak dosa, Mama?  Apa kita banyak berbuat salah--sehingga Tuhan memberi ujian seperti ini kepada kita?
Ternyata tidak sepenuhnya. Guruku memberikan kelanjutan nasihatnya: "Dan dosa itu tak sepenuhnya dari kita; bisa dari anak atau saudara kita. Lalu penebusannya bisa melalui raga kita yang sakit, harta-benda kita yang berkurang, atau keluarga kita yang tertimpa bencana."
Kini aku masih berdiri di sini, Ma, menatap lekat-lekat ruang tamu ini. Jika suatu hari kita harus angkat kaki dari sini, siapkah kita, Mama?
Pertanyaan itu sebenarnya untukku sendiri. Jika suatu hari aku harus angkat kaki dari rumah ini, siapkah aku? Aku masih ragu. Bagaimana bisa aku berpisah dengan teman-temanku? Biasanya setiap sore, aku pergi ke Pondok untuk menemui teman-teman: meminta bantuan mereka, meminjam buku, menanyakan suatu hal, atau sekadar berbincang-bincang.
Mama, siapkah aku--jika harus angkat kaki dari rumah ini? Aku masih ragu, Ma. Jika ada dari temanku, guruku, atau siapa saja yang mengenaliku, mendatangi rumah ini, lalu mereka tahu bahwa ternyata aku tak lagi berada di sini, bagaimana mereka? Maksudku, bagaimana respon mereka--terhadap nasib yang menimpa kita?
Apakah mereka biasa saja? Apakah mereka bersimpati? Atau merasa kasihan kepada kita?
Ah, aku tak mau dikasihani. Aku tak mau melihat orang-orang yang mengenaliku kasihan kepadaku. Dan sebelum itu semua terjadi, apakah aku dan kamu siap jika harus angkat kaki dari rumah ini?
Aku tak berani menjawab. Aku masih ragu, Mama, aku masih ragu.
Bagaimana kalau Canda mendengar soal ini--dan dia tahu kalau kita mesti pindah dari sini? Otomatis aku bakal kangen dia. Aku bakal lebih lama lagi tidak bertemu dengannya. Aku belum siap, Mama!
Lalu, warung Mama bagaimana?
***
Ma, kupikir kita masih bisa berada di sini lebih lama lagi, dan mengatasi semua ini secara baik-baik. Tapi matamu kini tak tegak lagi. Sementara aku tak bisa apa-apa. Para tetangga juga sudah tahu yang sebenarnya.
Ah, Mama jangan bersedih lagi. Lekas usap airmatamu yang mengalir di pipi: Semua pasti ada jalannya, Ma.
Semoga kita tetap tinggal di sini!
 
Tegalsari,
Jumat, 2 Agustus 2013
--07:16 pm
*Gambar dari sini.