Seseorang berambut biru bergerak
maju-mundur di bulat cermin retinamu
berpuluh-puluh langkah ia maju
berpuluh-puluh langkah kemudian
ia mundur
lalu, kedua alis tipismu yang coklat tertambat
mencipta dua-tiga serupa dinding retak di tengahnya
sesekali satu dari alismu terangkat
dan kembali turun sejumlah ia bergerak
Dan kau masih menyusun balok-balok di
kepalamu
agar menjadi bangunan yang berbentuk
atau minimal konsep sederhana yang bisa diterima—asumtif
dari seseorang yang bergerak maju-mundur di matamu
Sementara, kau tak kunjung paham
dan lekas bosan dengan tingkah yang ia lakukan
aku masih tak mengerti
dengan semua ini, katamu
lalu seseorang itu membuat gerakan berbeda
mulailah ia bergerak
ke kiri lalu ke kanan
ke kiri lagi dan ke kanan lagi
dan ke atas ke bawah
dan menggulung-gulung
berayun-ayun
: ritmis
Sambil merekam
geraknya dengan matamu
bibirmu mulai
menyimpul mati
lalu kau pergi
dengan membawa bebalok
kayu ‘tak mau tahu’
Padahal ia adalah
aku
Tegalsari,
Sabtu, 31 Mei 2014
—01:34
*Dimuat di koran
Radar Banyuwangi edisi Minggu, 1 Juni 2014