Selasa, 14 Mei 2013


Aku sempat terkesima. Mataku tak berkejap. Tubuhku nyaris tak bergerak barang sedikit. Bahkan aku lupa, apakah aku bernapas atau tidak. Itu terjadi waktu pertama kita bertemu.

“Namaku Restu,” demikian ucapmu. Kau menyodorkan suaramu saat aku masih belum percaya akan pertemuan kita.

Aku ingat betul kalimat pertama yang kau ucapkan padaku. Lalu kubalas, “Ya, namaku Indah.” Kau lantas tersenyum.

Melihatmu tersenyum, aku juga tersenyum—jantungku berdetak tidak teratur.

Aneh. Apakah aku mencintaimu? Padahal kita tidak pernah berjumpa, tapi aku merasa beda.

***

Hampir genap sebulan perkenalan kita. Aku tak pernah bertemu lagi denganmu. Tapi suaramu masih mendengking di telingaku, meski tak sepenuhnya.

Restu, ke manakah kau berpijak, saat ini? Waktu itu kita tak sempat bertukar alamat e-mail atau nomor telepon.

Pikirku, perasaanmu padamu hanya sebentar dan akan lenyap bersamaan nanti ketika bus yang kau tunggu telah membawamu. Aku salah, rupanya.

Hingga kini, perasaanku padamu masih terus bergerak dalam hatiku—seperti pertama kita berjumpa di halte bus, waktu itu.

Tegalsari,
Ahad, 25 November 2012
—06:21 am

0 komentar:

Posting Komentar