Aku sempat terkesima. Mataku tak berkejap. Tubuhku nyaris tak bergerak
barang sedikit. Bahkan aku lupa, apakah aku bernapas atau tidak. Itu terjadi
waktu pertama kita bertemu.
“Namaku Restu,” demikian ucapmu.
Kau menyodorkan suaramu saat aku masih belum percaya akan pertemuan kita.
Aku ingat betul kalimat pertama yang kau ucapkan padaku. Lalu kubalas, “Ya, namaku Indah.” Kau lantas
tersenyum.
Melihatmu tersenyum, aku juga tersenyum—jantungku berdetak tidak
teratur.
Aneh. Apakah aku mencintaimu? Padahal kita tidak pernah
berjumpa, tapi aku merasa beda.
***
Hampir genap sebulan perkenalan kita. Aku tak pernah bertemu lagi
denganmu. Tapi suaramu masih mendengking di telingaku, meski tak sepenuhnya.
Restu, ke manakah kau berpijak, saat ini? Waktu itu kita tak sempat
bertukar alamat e-mail atau nomor telepon.
Pikirku, perasaanmu padamu hanya sebentar dan akan lenyap
bersamaan nanti ketika bus yang kau tunggu telah membawamu. Aku salah, rupanya.
Hingga kini, perasaanku padamu masih terus bergerak dalam
hatiku—seperti pertama kita berjumpa di halte bus, waktu itu.

0 komentar:
Posting Komentar