Minggu, 01 Juni 2014

Aku ingin pergi
hanya ingin pergi
: meninggalkanmu


Genteng,
Sabtu, 31 Mei 2014
—04:58 pm
*Dimuat di koran Radar Banyuwangi edisi Minggu, 1 Juni 2014
Seseorang berambut biru bergerak
maju-mundur di bulat cermin retinamu
berpuluh-puluh langkah ia maju
berpuluh-puluh langkah kemudian ia mundur
lalu, kedua alis tipismu yang coklat tertambat
mencipta dua-tiga serupa dinding retak di tengahnya
sesekali satu dari alismu terangkat
dan kembali turun sejumlah ia bergerak

Dan kau masih menyusun balok-balok di kepalamu
agar menjadi bangunan yang berbentuk
atau minimal konsep sederhana yang bisa diterima—asumtif
dari seseorang yang bergerak maju-mundur di matamu

Sementara, kau tak kunjung paham
dan lekas bosan dengan tingkah yang ia lakukan
aku masih tak mengerti dengan semua ini, katamu
lalu seseorang itu membuat gerakan berbeda
mulailah ia bergerak
ke kiri lalu ke kanan
ke kiri lagi dan ke kanan lagi
dan ke atas ke bawah
dan menggulung-gulung
berayun-ayun
: ritmis

Sambil merekam geraknya dengan matamu
bibirmu mulai menyimpul mati
lalu kau pergi
dengan membawa bebalok kayu ‘tak mau tahu’

Padahal ia adalah aku

Tegalsari,
Sabtu, 31 Mei 2014
—01:34
*Dimuat di koran Radar Banyuwangi edisi Minggu, 1 Juni 2014
Di antara gerimis orasi dari mulutmu, Tuan,
yang menyiram ratusan pendukung dan simpatisan
masih ada banyak penduduk di bantaran sungai
yang tiap tahun harus rela tempat tidurnya berdamai dengan basah.

Dan di setiap entah berapa kali bibirmu mengulas senyum, Tuan,
yang konon hanya sering muncul tiap kali mendekati Pemilu,
masih ada ratusan ibu yang bersedih karena sang anak tak makan seminggu.

Maka teruslah menjadi dirimu yang palsu, Tuan, dirimu yang penipu.
Sungguh, betapapun orasimu mampu meruntuhkan gunung
dan senyummu melayukan bunga dan daun-daun,
kebencian kami terhadapmu tak akan runtuh!

Tegalsari,

Jumat, 2 Mei 2014
*Gambar dari sini.
: Ibuku

Arus dari bengawan matamu
yang tak berkelok tak berhulu
menghanyutkan letih yang merambat di bahumu
melenyapkan perih yang berkarat di dadamu

Di dalamnya
ratusan ikan hidup dengan nyaman
bunga teratai dan dedaun kering
melintas di punggungmu
dengan anggun dengan tenang

Aku sering menebar benih luka di atasnya
kadang seember kotoran tertumpah di sana
namun bening bengawan matamu itu
tak pernah keruh apalagi berwarna
Blokagung,
13 Mei 2014

--09:14 pm
*Gambar dari sini.