Senin, 13 Mei 2013

karena malam tak selalu berbintang
maka aku tak mau maido prengat-prengut dengan sungut yang tak menyenangkan
karena malam tak selalu berbintang
maka aku adalah penggenggam kerinduan milikmu,Sayang

karena malam tak melulu senantiasa berbulan
maka terangilah ia dengan sedikit senyuman
karena malam tak melulu senatiasa berbulan
maka cemerlangilah ia dengan sedikit kerlinganmu, Sayang

saat hati terpaut sumringah lebaran
aku masih saja tak sempat mengingat selain senyum yang berasa madu bercampur tebu milikmu itu
walau aku tak senantiasa bisa sesanding denganmu
setidaknya senyum dan desah manjamu tiap malam, mampu mewakili hadirmumencumbuku
hingga aku mampu melupakan sejenak bayang wajah ayah-ibu yang menderu rindu menghantui lebaranku
karena satu kecupan saja darimu, mampu menghapus duka yang tak ternilai jumlahnya

kini, dua jam selepas tengah malam
kembali rindu padamu merengkuh, merangkulku
entah sebab apa, kerna sekecup-kecapmu padaku
masih jangget dan bahkan tak bisa aku lepas bekasnya
oh, Sayang
esok hari atau kapan lagi, kembali akan kita lewati malam seperti ini
kerna malam memang selalu tak bersela pada kita

sempat tak berucap cuap
sebab bibir tak mampu mengucap
mencecap mengutuki malam yang tak berbintang bulan
karena sekecup mesra yang kau taruh pada bibirku malam tadi

barangkali malam memang selalu tak bersela pada kita
menghaturkan seluruh kemesraanya pada kita
lewat sekecup manja tak lupa
atau barangkali memang kita harus segera bersua
menuai kembali rindu yang mencekik setiap waktu
sebab kecup manja yang tak akan pernah kita lewati dimalam-malam yang lain
bersama kecup-kecup yang tak lain pula dengan bahagia yang sungguh sangat sederhana

aku masih belum mengerti bagaimana bekas kecup pipimu masih membekas pada tiap gerak pikirku
aku masih juga belum mengerti mengapa pada malam hari, aku selalu kangen dibikinmu
apakah pada pipimu ada sebungkus rindu yang tersangkut pada bibir bawah-atasku?
aku masih belum tahu
bahwa tiap malam kembali bertemu pada rembulan atau bintang
aku merasakan yang entah apa namanya tiba-tiba menjelma pada tiap segala kejap
mengelus-alus alis mataku
mengendap-dekap tubuhku
menggaris kelu hingga bikin rindu pada tiap desauku
memantikku, juga tak jarang menamparku sampai bikin sendu
dan bahkan pula ia diam-diam menyetubuhi hatiku sampai entah beberapa detik detil matamu
menyisakan jejak pada tiap lubang poriku
menyuguhkan detak-debar rasa kangenku padamu
: ada apa dengan pipimu?

Blokagung, 18 Agustus 2012
Wahyu Hidayat dan Enggar Tata

0 komentar:

Posting Komentar