karena malam tak selalu
berbintang
maka aku tak mau maido
prengat-prengut dengan sungut yang tak menyenangkan
karena malam tak selalu
berbintang
maka aku adalah
penggenggam kerinduan milikmu,Sayang
karena malam tak melulu
senantiasa berbulan
maka terangilah ia dengan
sedikit senyuman
karena malam tak melulu
senatiasa berbulan
maka cemerlangilah ia
dengan sedikit kerlinganmu, Sayang
saat hati terpaut
sumringah lebaran
aku masih saja tak sempat
mengingat selain senyum yang berasa madu bercampur tebu milikmu itu
walau aku tak senantiasa
bisa sesanding denganmu
setidaknya senyum dan
desah manjamu tiap malam, mampu mewakili hadirmumencumbuku
hingga aku mampu melupakan
sejenak bayang wajah ayah-ibu yang menderu rindu
menghantui lebaranku
karena satu kecupan saja
darimu, mampu menghapus duka yang tak ternilai jumlahnya
kini, dua jam selepas
tengah malam
kembali rindu padamu
merengkuh, merangkulku
entah sebab apa, kerna
sekecup-kecapmu padaku
masih jangget dan bahkan
tak bisa aku lepas bekasnya
oh, Sayang
esok hari atau kapan lagi,
kembali akan kita lewati malam seperti ini
kerna malam memang selalu
tak bersela pada kita
sempat tak berucap cuap
sebab bibir tak mampu
mengucap
mencecap mengutuki malam
yang tak berbintang bulan
karena sekecup mesra yang
kau taruh pada bibirku malam tadi
barangkali malam memang
selalu tak bersela pada kita
menghaturkan seluruh
kemesraanya pada kita
lewat sekecup manja tak
lupa
atau barangkali memang
kita harus segera bersua
menuai kembali rindu yang
mencekik setiap waktu
sebab kecup manja yang tak
akan pernah kita lewati dimalam-malam yang lain
bersama kecup-kecup yang
tak lain pula dengan bahagia yang sungguh sangat sederhana
aku masih belum mengerti
bagaimana bekas kecup pipimu masih membekas pada tiap gerak pikirku
aku masih juga belum
mengerti mengapa pada malam hari, aku selalu kangen dibikinmu
apakah pada pipimu ada
sebungkus rindu yang tersangkut pada bibir bawah-atasku?
aku masih belum tahu
bahwa tiap malam kembali
bertemu pada rembulan atau bintang
aku merasakan yang entah
apa namanya tiba-tiba menjelma pada tiap segala kejap
mengelus-alus alis mataku
mengendap-dekap tubuhku
menggaris kelu hingga
bikin rindu pada tiap desauku
memantikku, juga tak
jarang menamparku sampai bikin sendu
dan bahkan pula ia
diam-diam menyetubuhi hatiku sampai entah beberapa detik detil matamu
menyisakan jejak pada tiap
lubang poriku
menyuguhkan detak-debar rasa kangenku
padamu
: ada apa dengan pipimu?
Blokagung, 18
Agustus 2012

0 komentar:
Posting Komentar