Senin, 13 Mei 2013

lembut
merambat lambat lamat-lamat
kusaksikan tubuhmu semakin menghilang dalam pekat

detak debar semakin kencang
meluruh riuh bikin seluruh tubuh macam tak utuh
malam ini kita kembali sua, Sayang

acapkali aku merintih
mendesah saling tindih 
sebab deru belenggu salju
ketika lewat tengah malam sepulang kita sua membasuh rindu

dan mendesah
kerna debar kian bertebar
malam ini aku benar-benar tak tahu malu
sebab rona wajahmu tampak layu
sedetik-dua seusai aku menghirup aroma napasmu

entah sebab pesona rindu
atau hanya sekadar cumbu
sebab kibas sayap burung hantu yang menukik
jangkrik yang mengerik menimbulkan berisik dan begitu mengusik
sama sekali tak membuat kita terusik

malam ini adalah malam yang ke sekian aku menemumu
di kamar, di atas ranjang tempat tidurmu
oh, Sayang
aku tak sepenuhnya tahu bagaimana perasaanmu
kerna aku tak melulu bisa melerai cakrawala hatimu
yang aku tahu, malam ini aku sedang duduk denganmu
di dekat jendela kaca berwarna hijau pupus itu
ah, bikin malam kian cepat berlalu

malam ini adalah malam yang entah keberapa kalinya kita bersua;
rahasia di balik segaris jendela kaca

Blokagung, 22 Agustus 2012
Enggar Tata dan Wahyu Hidayat

0 komentar:

Posting Komentar