padahal malam belum
sepenuhnya larut
tapi mengapa dingin bikin
kaku mulut
padahal bulan masih
bersinar walau tak seutuhnya berbinar
tapi mengapa badan terasa
sungguh gemetar
padahal malam belum
sepenuhnya larut
namun entah mengapa hatiku
begitu terasa kalut
padahal hati telah
dapatkan debar meski dengan sedikit gemetar
mungkinkah dingin atau
satu kecupan tadi yang membuatku bergetar
aku tak tahu
sebab sejak sekilo-dua
seusai aku dan engkau bermega-mesra di segaris jendela,
aku merasa ada beberapa
apa yang tertinggal di sela kaca
sampai pada tengah
perempatan sana, gemetarku kian mengeja
entah tak tahu menahu
soal cumbu
barangkali bekas rindu
yang bergelantungan memberat mata
sebab sekilo-dua tetap
tak lupa tetap bergayut manja—sama sekali tak bersela
sepertinya malam ini aku
macam tak punya bulu
semua terasa layaknya
paku
: kaku
padahal malam belum
sepenuhnya larut
tapi mengapa dingin bikin
kaku mulut
entah jua bagai mulanya
tetap tak kutemui apa
yang tertinggal di segaris jendela
entah tentang gerangan
seperti apa jawabanya?
itukah sebias bianglala
cinta atau hanya semu diatas nafsu belaka sembari menepi
mendayung perahu rasaku
berlabuh di suci hati
tentang makna apa yang
kurasa
itukah yang dikatakan
kebanyakan kaum muda sebagai; cinta
aku sangsi
tetap tak mengerti!
Blokagung, 20 Agustus 2012

0 komentar:
Posting Komentar