Senin, 13 Mei 2013

Barangkali musik adalah salah satu penawar saat gelisah. Musik (bagi saya) juga dapat mengobati haru—walau tak sepenuhnya mengobati. Tapi paling tidak, musik sudah bisa menjadi alternatif penyegar hati-pikiran saya.

Bicara tentang musik, pasti tidak lepas dari sebuah grup band. Sebab tanpa ada grup band, tentu sebuah musik tidak akan tercipta, kan? Entah dari mana saya bisa suka band ini—saya juga tidak mengerti. Karena jujur, saya tidak paham dengan musik—juga tak paham dengan bagaimana musik bisa disebut baik. Tapi bagi saya, sekedar mendengar musik saja sudah sedikit nyaman; tentunya bergantung pada suasana hati saya.

Grup band yang berdiri di Bandung ini adalah salah satu grup band yang saya sukai: Peterpan. Ya, Peterpan adalah nama band yang saya senangi dari dulu—sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Dan sejak saya mendengar lagu dan musiknya yang tidak terlalu nyleneh, sejak saat itu pula saya menyukainya.Biarpun pertengahan tahun 2010 vokalisnya tersandung masalah, tapi bagi saya tidak ada indikasi yang begitu kompeks untuk saya harus menyudahi rasa suka saya terhadap grup band ini. Bahkan hingga sekarang, saya (masih) kerap memutar lagu dari Peterpan.

Apalagi lirik-lriknya bisa dibilang cukup bagus menurut saya—dan mungkin juga menurut kalian. Dari beberapa lagu Peterpan yang saya sukai antara lain: Bintang di Surga, Topeng, Menunggu Pagi, Cobalah Mengerti, dan masih banyak lagi lagu-lagu yang lain.

Dari beberapa judul lagu yang saya sebutkan tadi, ada satu lagu yang hingga saat ini sering saya putar pada waktu-waktu senggang: Cobalah Mengerti—yang kini telah diaransmen ulang, berkolaborasi dengan vokalis Geisha; Momo. Lirik lagunya mengkisahkan seseorang yang sedang mengejar cintanya, sampai-sampai ia tak pernah menghiraukan keadaannya sendiri—hingga berdarah sekalipun—asalkan ia mendapatkan cintanya.

Dan kebetulan (atau tidak) lagu itu mengingatkan saya pada seorang wanita yang saya cintai. Hampir seluruh liriknya sama tepat dengan apa yang saya rasakan terhadap wanita itu.

Dulu, saya hampir tidak pernah mempedulikan keadaan saya untuk ke depan karena wanita tersebut. Sudah lama saya mengejarnya, tapi butuh waktu lama pula untuk ia bisa menerima saya—apa adanya.

Tidak jarang ia menjatuhkan saya tiba-tiba—perlahan atau pun seketika. Akan tetapi, keyakinan hatilah yang menguatkan saya—apa pun ujian yang ia berikan pada saya, akan saya lakukan dengan sepenuh hati: Untuk mendapatkan cintanya...

Barangkali ia membutuhkan sebuah bukti, dan barangkali juga ia sama sekali tidak (pernah) butuh kata-kata. Sebab—sejauh yang saya ketahui—kata-kata memang tak pernah membuktikan apa-apa! Okelah, saya terima:Sekarang adalah saatnya pembuktian, bukan lagi rayuan gombal yang membosankan!

Sudah banyak cara yang saya lakukan pada waktu itu. Dan demikianlah hati saya berkata—hampir mirip: Aku takkan pernah berhenti, akan terus memahami—masih terus berpikir. Bila harus memaksa atau berdarah untukmu, apapun itu asalkan kau coba menerimaku.(Peterpan)

Hingga pada saat tiba, wanita tadi menerima saya untuk menjadi kekasihnya. Betapa bahagianya saya. Sejauh apa saja yang saya lakukan ternyata tidaklah percuma: Ia menerima saya apa adanya—seperti saya mencintainya dengan sederhana.

Bagi saya, dia adalah wanita yang benar-benar memantik hati saya—jika tidak berlebihan. Dan terang saja, hingga kini ia tetap yang terbaik.

Akhirnya, sekali lagi, Peterpan adalah grup band yang saya sukai, dan wanita tadi adalah yang saya cintai—hingga saat ini.:)

Jadi, bagaimana dengan kalian?

Tegalsari,
Minggu, 22 Juli 2012
—02:41 pm

0 komentar:

Posting Komentar