Barangkali musik adalah salah satu penawar saat gelisah.
Musik (bagi saya) juga dapat mengobati haru—walau tak sepenuhnya mengobati.
Tapi paling tidak, musik sudah bisa menjadi alternatif penyegar hati-pikiran
saya.
Bicara tentang musik, pasti tidak lepas dari sebuah grup
band. Sebab tanpa ada grup band, tentu sebuah musik tidak akan tercipta, kan?
Entah dari mana saya bisa suka band ini—saya juga tidak mengerti. Karena jujur,
saya tidak paham dengan musik—juga tak paham dengan bagaimana musik bisa
disebut baik. Tapi bagi saya, sekedar mendengar musik saja sudah sedikit nyaman;
tentunya bergantung pada suasana hati saya.
Grup band yang berdiri di Bandung ini adalah salah satu
grup band yang saya sukai: Peterpan. Ya, Peterpan adalah nama band yang saya senangi
dari dulu—sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Dan sejak saya mendengar lagu dan musiknya yang tidak
terlalu nyleneh, sejak saat itu pula saya menyukainya.Biarpun
pertengahan tahun 2010 vokalisnya tersandung masalah, tapi bagi saya tidak ada
indikasi yang begitu kompeks untuk saya harus menyudahi rasa suka saya terhadap
grup band ini. Bahkan hingga sekarang, saya (masih) kerap memutar lagu dari
Peterpan.
Apalagi lirik-lriknya bisa dibilang cukup bagus menurut
saya—dan mungkin juga menurut kalian. Dari beberapa lagu Peterpan yang saya
sukai antara lain: Bintang di Surga, Topeng, Menunggu Pagi, Cobalah Mengerti,
dan masih banyak lagi lagu-lagu yang lain.
Dari beberapa judul lagu yang saya sebutkan tadi, ada
satu lagu yang hingga saat ini sering saya putar pada waktu-waktu senggang:
Cobalah Mengerti—yang kini telah diaransmen ulang, berkolaborasi dengan vokalis
Geisha; Momo. Lirik lagunya mengkisahkan seseorang yang sedang mengejar cintanya,
sampai-sampai ia tak pernah menghiraukan keadaannya sendiri—hingga berdarah
sekalipun—asalkan ia mendapatkan cintanya.
Dan kebetulan (atau tidak) lagu itu
mengingatkan saya pada seorang wanita yang saya cintai. Hampir seluruh liriknya
sama tepat dengan apa yang saya rasakan terhadap wanita itu.
Dulu, saya hampir tidak pernah mempedulikan keadaan saya
untuk ke depan karena wanita tersebut. Sudah lama saya mengejarnya, tapi butuh
waktu lama pula untuk ia bisa menerima saya—apa adanya.
Tidak jarang ia menjatuhkan saya tiba-tiba—perlahan atau
pun seketika. Akan tetapi, keyakinan hatilah yang menguatkan saya—apa pun ujian
yang ia berikan pada saya, akan saya lakukan dengan sepenuh hati: Untuk
mendapatkan cintanya...
Barangkali ia membutuhkan sebuah bukti, dan barangkali juga
ia sama sekali tidak (pernah) butuh kata-kata. Sebab—sejauh yang saya ketahui—kata-kata
memang tak pernah membuktikan apa-apa! Okelah, saya terima:Sekarang adalah
saatnya pembuktian, bukan lagi rayuan gombal yang membosankan!
Sudah banyak cara yang saya lakukan pada waktu itu. Dan
demikianlah hati saya berkata—hampir mirip: Aku takkan pernah berhenti, akan
terus memahami—masih terus berpikir. Bila harus memaksa atau berdarah untukmu,
apapun itu asalkan kau coba menerimaku.(Peterpan)
Hingga pada saat tiba, wanita tadi menerima saya untuk
menjadi kekasihnya. Betapa bahagianya saya. Sejauh apa saja yang saya lakukan
ternyata tidaklah percuma: Ia menerima saya apa adanya—seperti saya
mencintainya dengan sederhana.
Bagi saya, dia adalah wanita yang benar-benar memantik
hati saya—jika tidak berlebihan. Dan terang saja, hingga kini ia tetap yang
terbaik.
Akhirnya, sekali lagi, Peterpan adalah grup band yang
saya sukai, dan wanita tadi adalah yang saya cintai—hingga saat ini.:)
Jadi, bagaimana dengan kalian?
Tegalsari,
Minggu, 22 Juli 2012
—02:41 pm
Minggu, 22 Juli 2012
—02:41 pm

0 komentar:
Posting Komentar