Kurang lebih
sudah empat bulan kita kenal. Selama itu pula banyak kebahagiaan yang aku
peroleh saat mengenalimu.
Berawal dari ledekan...
Waktu itu aku memanggilmu, menyapamu dengan sebutan
‘artis’; ledekanku untukmu karena fotomu pernah dipampang buat banner sekolah
kita.
“Ehm,
artis...” sapaan pertamaku di facebook—salah satu situs jejarimg sosial—dulu.
Dengan lucunya kamu bales kirimanku di dindingmu
dengan jawaban, “Mesti gitu terus....”
Aku pun tertawa karena kamu merespons ledekanku itu.
Sejak itulah aku mulai enjoy denganmu. Memang, waktu itu aku belum terlalu akrab denganmu;
tapi lama-kelamaan kita makin deket aja.
Kemudian setelah liburan hari raya, waktu kamu mau
berangkat ke pondok aku sering smsan sama kamu. Kalau nggak aku duluan yang sms, ya kamu yang sms aku. Begitu seterusnya.
Selama kita komunikasi rasanya hidupku semakin
berwarna. Sampai-sampai dalam hatiku sering muncul anggapan dan pertanyaan, “Makin lama aku kok makin nyambung ya, sama kamu? Wah,
bisa-bisa jatuh cinta aku sama kamu.”
Memang hati tak pernah berbohong; ternyata anggapanku
itu benar adanya, makin lama aku makin ketagihan smsan sama kamu – padahal cuma
smsan, kok bisa ketagihan gini ya –, sehari saja nggak smsan, serasa ada yang kurang pada diriku. Malah seakan-akan
smsan sama kamu itu kayak kebutuhan pokok; lebay. Tapi realitanya memang
demikian.
Dengan berjalannya waktu, banyak cerita yang aku arsir
bersamamu. Banyak kesamaan diantara aku dan dirimu. Aku pun mulai mengerti dan
tahu bagaimana perasaanmu kepada diriku. Demikian halnya dengan diriku, aku
juga merasa dengan apa yang kau rasa.
Waktu berganti, aku mencoba mengungkapkan rasaku
padamu; sesekali dalam setiap pembicaraan kita aku menyaut, meski sedikit
terbata-bata dalam berbicara, aku coba mengutarakan isi yang ada dalam hatiku;
yang sebenarnya memang juga ada dalam hatimu. Namun kau selalu begitu, menutupi
segala rasa yang sebenarnya ada pada dirimu. Tapi, aku tahu dan mengerti kamu
hanya butuh waktu untuk berpikir, mempertimbangkan segalanya. Aku salut padamu.
Setelah cukup lama aku berusaha mendapatkan jawaban
darimu, akhirnya sedikit demi sedikit kamu mau membuka dan memberi jawaban
padaku.
“Aku minta
kejujuran darimu, tolong kamu jujur, kamu mau apa nggak jadian sama aku?”
ujarku padamu di facebook.
“Iya, aku mau,”
jawabanmu yang singkat.
Tapi meski kamu sudah memberi jawaban, aku tetap
penasaran dengan rasa yang ada pada dirimu.
Dengan penuh penasaran untuk kali kesekian aku bertanya padamu, “Sebenarnya apa sih yang kamu rasakan padaku? Sebenarnya kamu
cinta apa nggak sama aku?” tanyaku dengan penuh keraguan.
Namun kamu tetap, tak pernah mau berkata dan terus
menutupi.
“Aku minta maaf, kalau masalah perasaan aku belum bisa jujur.
Aku belum siap mengungkapkannya padamu atau siapapun.”
Selama empat bulan aku mengenalmu kau tak pernah
mengatakan cinta padaku. Tapi tak apa, aku mencoba memahami akan dirimu. Karena
aku sangat yakin kau pasti juga merasakan dengan apa yang ku rasa selama ini.
Dan aku juga percaya suatu saat kau pasti akan mengatakan hal yang sama padaku.
Untukmu, terimakasih atas rasa dan kata ‘cinta’ yang kau simpan di hatimu
selama empat bulan ini.
Aku amat bangga mengenalmu... :)
Minggu, 22 Januari 2012
—06:58 pm
—06:58 pm

0 komentar:
Posting Komentar