Senin, 13 Mei 2013

Demikianlah caraku mencintaimu, aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu. Bahkan pada detik-detik menjelang ujian pun,aku masih selalu mengharap dan berharap kehadiranmu walaupun itu hanya sebatas selayang kabar lewat media-media yang seadanya.

Demikianlah, Kekasihku, aku hampir sama sekali tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu. Bahkan pada detik-detik menjelang aku akan tidur pun,aku masih selalu mengkhayal dan berkhayal tentang raut wajahmu, walaupun gambaranku tak begitu jelas dan seadanya.

Sejak aku mencintai apapun yang berkait-paut tentangmu: Aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu. Bahkan bila teringat lembut tanganmu, aku kerap berkeinginan untuk menjadi sarung tangan yang setiap kali dapat menjagamu dari sekian debu-kotoran yang akan membikin jemarimu kasar, sekaligus bisa mengusap keringat di keningmu saat kau lelah bekerja, atau beraktifitas.

Sejak aku mencintai apapun yang berkait-paut tentangmu: Aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu. Bahkan bila teringat leher yang tertutup jilbab birumu (pada waktu itu), aku kerap berkeinginan menjadi syal, atau mafela, atau selendang yang setiap kali dapat kau gunakan untuk mengurangi rasa dingin yang merambat di leher-pundakmu.

Dan sejak aku mencintai apapun yang berkait-paut tentangmu: Aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu. Bahkan bila aku teringat akan mata indahmu, Kekasihku, aku kerap berkeinginan menjadi lensa ataupun kaca mata yang setiap kali dapat kau pakai sehingga aku pun bisa melihat ayu wajahmu saat dirimu sedang bercermin.

Akan tetapi, mulai saat ini aku ingin belajar melupakan segala keinginanku untuk menjadi sarung tangan, syal, dan lensa: Aku ingin melupakannya saja.

Sebab—barangkali, bila cuma sekedar sarung tangan, kau tak mungkin akan setiap saat memakainya. Bila kau hendak membersihkan wajahmu dengan air, sarung tangan yang tidak kau kenakan tadi mungkin hanya akan menjadi kain-kain yang sedang tidak berguna lagi dan hanya kau tinggalkan dalam lemari.

Bila cuma sekedar syal, barangkali kau tak mungkin akan setiap saat memakainya. Sebab, seandainya dingin malam berubah panas, syal yang tadinya kau kenakan pasti akan kau biarkan tergeletak bersama tepak dalam kotak.

Dan bila cuma sekedar lensa, barangkali kau juga tak mungkin akan setiap saat memakainya. Sebab, seandainya mata indahmu itu tertutup di malam, lensa yang sedari tadi pagi kau kenakan pasti akan kau lepas dan akan kau tinggalkan di samping buku mata pelajaran fisika atau kimia.

Ya, aku ingin melupakannya saja...

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang setiap saatbisa menjadi harap-harapmu. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang setiap saatbisa menjadi bayang-bayang yang lewat dalam pekat-benakmu. Dan aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang kelak bisa memilikimu: Lebih dari sekedar sarung tangan, syal dan lensa.

Demikianlah, Kekasihku,sesederhana itu caraku mencintaimu.

Tegalsari,
Senin, 11 Juni 2012
—11:00 pm
Dalam kamar bersama denyit suara samar

0 komentar:

Posting Komentar