Demikianlah
caraku mencintaimu, aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti
akan dirimu. Bahkan pada detik-detik menjelang ujian pun,aku masih selalu
mengharap dan berharap kehadiranmu walaupun itu hanya sebatas selayang kabar
lewat media-media yang seadanya.
Demikianlah,
Kekasihku, aku hampir sama sekali tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti
akan dirimu. Bahkan pada detik-detik menjelang aku akan tidur pun,aku masih
selalu mengkhayal dan berkhayal tentang raut wajahmu, walaupun gambaranku tak
begitu jelas dan seadanya.
Sejak
aku mencintai apapun yang berkait-paut tentangmu: Aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu.
Bahkan bila teringat lembut tanganmu, aku kerap berkeinginan untuk menjadi
sarung tangan yang setiap kali dapat menjagamu dari sekian debu-kotoran yang
akan membikin jemarimu kasar, sekaligus bisa mengusap keringat di keningmu saat
kau lelah bekerja, atau beraktifitas.
Sejak
aku mencintai apapun yang berkait-paut tentangmu: Aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu.
Bahkan bila teringat leher yang tertutup jilbab birumu (pada waktu itu), aku kerap
berkeinginan menjadi syal, atau mafela, atau selendang yang setiap kali dapat
kau gunakan untuk mengurangi rasa dingin yang merambat di leher-pundakmu.
Dan
sejak aku mencintai apapun yang berkait-paut tentangmu: Aku hampir tidak pernah bisa untuk sedikit saja mengerti akan dirimu.
Bahkan bila aku teringat akan mata indahmu, Kekasihku, aku kerap berkeinginan
menjadi lensa ataupun kaca mata yang setiap kali dapat kau pakai sehingga aku
pun bisa melihat ayu wajahmu saat dirimu sedang bercermin.
Akan
tetapi, mulai saat ini aku ingin belajar melupakan segala keinginanku untuk
menjadi sarung tangan, syal, dan lensa: Aku
ingin melupakannya saja.
Sebab—barangkali,
bila cuma sekedar sarung tangan, kau tak mungkin akan setiap saat memakainya.
Bila kau hendak membersihkan wajahmu dengan air, sarung tangan yang tidak kau
kenakan tadi mungkin hanya akan menjadi kain-kain yang sedang tidak berguna
lagi dan hanya kau tinggalkan dalam lemari.
Bila
cuma sekedar syal, barangkali kau tak mungkin akan setiap saat memakainya.
Sebab, seandainya dingin malam berubah panas, syal yang tadinya kau kenakan
pasti akan kau biarkan tergeletak bersama tepak dalam kotak.
Dan
bila cuma sekedar lensa, barangkali kau juga tak mungkin akan setiap saat memakainya.
Sebab, seandainya mata indahmu itu tertutup di malam, lensa yang sedari tadi
pagi kau kenakan pasti akan kau lepas dan akan kau tinggalkan di samping buku
mata pelajaran fisika atau kimia.
Ya, aku ingin melupakannya
saja...
Aku
hanya ingin menjadi diriku sendiri yang setiap saatbisa menjadi harap-harapmu.
Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang setiap saatbisa menjadi bayang-bayang
yang lewat dalam pekat-benakmu. Dan aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang
kelak bisa memilikimu: Lebih dari sekedar
sarung tangan, syal dan lensa.
Tegalsari,
Senin, 11 Juni 2012
—11:00 pm
Senin, 11 Juni 2012
—11:00 pm
Dalam kamar bersama denyit
suara samar

0 komentar:
Posting Komentar