Pagi tadi, baru beberapa menit saya masuk kelas,
pembina
OSIS menghampiri saya, beliau bilang: “Habis ini ikut saya ke SMPN 2 Glenmore untuk mengajukan surat kerja sama kegiatan bakti sosial sekolah kita dengan SMP tersebut.” Saya diam sejenak, lantas mengangguk mengisyaratkan persetujuan.
Saya bingung. Sejujurnya, berat bagi saya ikut ajakan beliau. Apalagi beliau mengajak saya pada waktu-waktu efektif. Dan
kebetulan di kelas saya pelajaran Bahasa
Indonesia—yang merupakan pelajaran kesukaan saya. Tapi,
apa boleh buat, saya pengurus osis dan baksos ini termasuk agenda
kegiatan kami yang cukup besar manfaatnya—bagi
kami tentunya.
Berat, tapi saya sepakat untuk ikut. Sebab itu juga tanggung jawab saya. Saya menyadari itu.
…Dan pada akhirnya saya pun
berangkat.
Di perjalanan, sungguh, saya benar-benar tidak nyaman—saya menyesal meninggalkan pelajaran. Alasannya,
saat ini saya kelas tiga
Madrasah Aliyah. Terlebih, saya telah memutuskan,
untuk kelas tiga ini, organisasi akan menjadi bagian
lain bagi saya: Saya sungguh tidak nyaman!
Selama perjalanan, guru saya bercerita tentang masa mudanya. Saya hanya diam mendengarkan,
sesekali juga merespon: Oh, iya... Tapi sebetulnya pada saat itu saya sedang tidak mood berbicara.
Cukup banyak beliau bercerita. Saya hanya diam,
mendengarkan.
“Demikianlah, hidup ini harus berjuang. Seperti saat ini, kita sedang berkorban,” guru saya mengatakan.
Kalimat beliau sungguh membuat saya tersentak, dan mendadak menyita beberapa kegelisahan saya. Secara tidak langsung,
beliau telah menjawab pertanyaan-penyesalan-kegelisahan saya.
Saya sedikit terbebaskan. Dan
lebih bebas lagi saat beliau melanjutkan ucapannya:
Maka, berkorbanlah untuk sebuah perjuangan!
Saya semakin lengang. Tampaknya pagi ini saya harus berjuang!
Blokagung,
Selasa, 24 Juli 2012
—12:49 pm

0 komentar:
Posting Komentar