Senin, 13 Mei 2013

Riko menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Malam ini ia terseret arus kebingungan yang melelahkan. Bulan-bintang pun tampak muram. Semua terasa terbenamkan.

Lamat-lamat bayangan wajah Rista kembali melekat ke benaknya. Semua dahaga canda bersama Rista minggu lalu kembali tergambar jelas dalam lamunannya. Tapi bukan malah senang, ia tampak sedih. Berulang ia mencoba mengenyahkan bayangan itu, namun hasilnya nihil.

Dua jam yang lalu Riko menelepon pacarnya, Rista. Riko kaget seusai mendengar cerita Rista.

“Aku mau cerita sama kamu, Rik...,” ucap Rista, pelan.

“Iya, cerita aja...,” jawab Riko singkat.

“Sebenernya...,” ucapan Rista terhenti beberapa detik. Dari lubang kecil berbentuk persegi panjang di hapenya, Riko mendengar suara Rista semakin menjauh.

“Sebenernya..., ada apa Ris?” Riko mencoba mengimbangi Rista.

“Sebenernya orang tuaku nggak setuju sama hubungan kita, Rik.”

“Bernarkah? Kamu nggak bohong kan?” Riko sedikit berteriak. Ia terheran-heran dengan perkataan Rista padanya berusan.

“Iya...,” jawab Rista.

Deru napas Riko terdengar. Mereka tidak lagi berucap apa-apa. Hanya sepi yang bergumul. Detik bergeser. Riko menangkap isak suara Rista dari hapenya.

“Ada apa Ris? Kamu nggak apa-apa kan?”

“Nggak Rik...,” Suara Rista terdengar berat karena menahan sedu.

Dari penjelasan Rista, Riko mulai berpikir sejenak. Ribuan perasaannya berantakan. Ia tak lagi bisa menahan beratnya pilu yang dipikulnya. Sekitar tiga menit berlalu tanpa perbincangan.

“Sebenernya apa yang membuat hubungan kita tidak direstui orang tuamu, Ris?” pertanyaan Riko memecah keheningan.

“Karena kita beda strata, Rik....”

“Oh, itu masalahnya.” Riko tertahan sejanak, “Aku tahu, aku menyadarinya Ris.”

Seusai perbincangan itu, isak tangis Rista semakin jelas terdengar. Dan, tut tut tut.... Ternyata hapenya Riko mati.

Untuk Rista yang setia—di sana.

Rista,

Aku datang padamu bukan untuk menanyakan bagaimana perasaanmu terhadapku, seperti yang biasa aku tanyakan padamu, dulu—sebab kini aku telah tahu bagaimana caramu mencintaku begitu menggebu.

Mengenai cinta kita yang belum mendapat restu orang tua, aku bisa menerima. Aku tak mengapa. Kau juga tak perlu bagaimana. Senja akan menjawabnya. Bahwa suatu nanti, orang tuamu pasti akan memberi restu pada kita. Aku yakin itu, Ris! Dan memang itu yang aku harapkan.

Karena aku masih ingin duduk berdua bersamamu di sofa itu, atau sekadar bertemu muka meski diam saja. Sesederhana itu.

Biarlah semuanya berjalan tanpa sandiwara, tanpa kebohongan, dan tanpa kepura-puraan yang membosankan. Aku yakin kita mampu bertahan. Kuatkan dirimu. Jangan berhenti di sini. Semua hanyalah masalah waktu....

Dan waktu pulalah yang akan menggulirkan hati orang tuamu....

Malam semakin larut. Seusai menulis, Riko menutup bukunya dan beristirahat.

***

Sejak kejadian itu, Rista bersama keluarganya memutuskan untuk pergi pindah rumah sekaligus pindah sekolah. Semua yang dilakukan Rista semata adalah karena terpaksa.

Setiap harinya, Rista harus melawan deru rindunya pada Riko yang kian melengking di kedalaman hatinya. Acapkali Rista membuka laptop miliknya untuk melihat foto kenangan berdua bersama Riko. Dan itu yang bisa ia lakukan setiap harinya.

Mereka pun lulus sekolah....

Selama setahun Rista di rumah barunya, ia tetap tidak bisa melupakan begitu saja kenangan bersama Riko. Sejauh ini, Riko-lah yang menguatkan hatinya. Tidak jarang air matanya menyungai kecil menuruni bukit pipinya. Hingga rona muka Rista tak lagi berwarna.

Sama halnya dengan si Riko. Setiap hari ia hanya menulis berlembar-lembar bait sajak buat Rista yang sekarang entah di mana. Dan memang itu yang biasa ia lakukan setiap harinya. Ia sampai tidak mampu melangkahkan cintanya ke wanita manapun. Bagi Riko, sosok Rista begitu istimewa.

Menit demi menit berjalan melupakan detik. Jam demi jam berjalan melupakan menit. Hari bergulir begitu saja. Semua terasa melelahkan karena rindu ini tidak bermuara. Itu yang mereka berdua rasakan.

Hingga suatu hari menjelang senja, di gedung bertingkat tiga, ada wanita yang mematahkan langkah Riko. Kakinya terhenti di tangga. Ia urungkan niatnya naik ke lantai dua. Riko mencoba mengingat wanita yang duduk di kursi di bawah pohon beringin itu, tepatnya di sebelah lapangan basket. Tiba-tiba saja wajah Rista berkelebat di benak Riko. Dan ia berhasil menyimpulkan wajah itu. Wanita yang duduk di kursi itu adalah Rista! Demikian hatinya berkata.

Tanpa menunggu lama, Riko bertolakmenuruni tangga dan menuju ke Rista—wanita yang selama ini benar-benar ia tunggu. Riko berlari. Matanya berbinar. Ia macam melayang. Kali ini wanita yang duduk di kursi itu sudah di hadapannya.

Riko berada tepat di belakang wanita itu. Ia melihat kerudung biru yang dikenakan Rista. Jantungnya berdegup kencang. Kali ini rasa bahagia melilitnya.Riko mencoba menenangkan deburan hatinya, dan memberanikan diri untuk memanggil nama itu.

“Rista...,” suara Riko bergetar. Nadanya tidak karuan sebab bercampur kebahagiaan.

Suara itu..., apa benar suara itu adalah dia yang selama ini aku tunggu kehadirannya? Demikian hati Rista bergumam dan lekas-lekas kepalanya menilik diikuti badannya berbalik ke belakang.

Senyum Rista terurai, ia macam diguyur gelombang cinta. Dengan segenap kerinduan yang tertahan di hatinya, Rista berbalik membalas panggilan Riko terhadapnya, “Riko....”

Seketika Rista mendekat, dan Riko memeluk Rista. Erat. Rista tak kuasa menahan matanya yang diselimuti air. Dan satu demi satu kristal bening jatuh dari matanya. Beberapa detik menumpahkan kerinduan dalam dekapan, mereka beralih ke kursi yang tadinya diduduki Rista.

“Gimana kabarmu Ris?” suara Riko berguncang. Rista masih menangis karena haru.

“Aku baik Rik, kamu baik-baik aja kan?”

“Aku juga baik kok Ris....”

Senja pun tiba, mereka berdua masih duduk di kursi itu. Daun-daun satu demi satu gugur
tak terhitung berapa. Mata mereka saling bertumbuk. Senja kian menua, nyaris hitam.

Akhirnya senyum kita kembali bertemu, Riko...,”hati Rista berkata.

***
Jubah hitam tergelar di langit. Mereka berdua beranjak ke pantai untuk menebus kerinduan yang selama ini mereka tahan. Riko lekas menghidupkan motornya, Rista lantas mengekor naik, tangannya melingkar ke tubuh Riko.

Sudah lama aku menginginkan semua ini terjadi. Dan malam ini, kita kembali bersua—seperti dulu..., Riko bergumam dalam hatinya sembari memacu motornya pelan.

Diam-diam Rista juga menikmati kebersamaannya dengan Riko, Malam yang membahagiakan....

“Rik, aku seneng...,” ucap Rista.

“Aku juga, Ris...,” timpal Riko. Bibirnya menyungging menciptakan senyum.

Pantai sudah tergambar di depan mata, Riko memarkirmotornya di dekat masjid pinggir pantai. Mereka berdua turun dan beranjak meninggalkan motornya yang sudah terparkir untuk mencari tempat duduk.

“Ris, aku masih mencintaimu...,” Riko memulai pengakuannya, “Dalam...,” Suaranya gemetar. Rista lantas duduk di pinggir pantai.

Bulan terlihat penuh rona. Bintang-bintang bertebar di segala. Desau angin berderu di telinga mereka. Ombak pantai melahap pesisir. Lambat. Dari tempat mereka duduk berdua, terlihat perahu nelayan terapung di jauh sana.

“Sebenernya dua bulan sejak aku pindah rumah, aku berusaha menghubungimu, Rik,” Rista berkilah, “Namun semua sia-sia. Setiap hari aku harus melawan ratusan perasaan di hatiku yang kian melumpuhkanku. Aku hampir putus asa dengan semua usahaku menemukan dirimu,” wajah Rista tertunduk. Matanya berair. Ia tersedu.

“Lalu?”

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa Ris?” Riko menggeser posisi duduk, mendekat ke Rista yang duduk persis di sebelah kanannya.

“Orang tuaku telah merestui hubungan kita, Rik,” kepala Rista mendongak ke Riko. Mata mereka beradu, “Mereka berdua telah menyadari bahwa usahanya untuk menjauhkan kita hanya sia-sia. Mereka juga telah tahu kalau aku hanya mencintaimu melalui sikapku setiap harinya.”

Riko tersenyum, rona wajahnya terpancar. Pun pada Rista, senyumnya terurai hingga matanya terlihat tinggal segaris.

“Benarkah yang kamu katakan, Ris?” Rista mengangguk membenarkan, “Aku yakin itu Ris. Bahkan aku telah menyatakannya ke dalam bukuku, sembilan bulan yang lalu.”

“Benarkah?” Rista berbalik bertanya pada Riko. Riko mengangguk mengiyakan.

Sekali lagi senyum mereka bertemu. Senyum yang meneduhkan. Tangan Riko menggamit jemari Rista. Rista beringsut ke tubuh Riko dan kembali menitikkan air mata karena tidak kuasa menahan haru.

Tegalsari,
Sabtu, 15 September 2012
—08:43 pm

0 komentar:

Posting Komentar