Entah sebab apa, seketika saja saya ingin menuliskan
beberapa kalimat seusai saya melunasi tulisan saya yang berjudul “Cobalah
Mengerti – Peterpan.”
Akhir-akhir ini saya memang banyak menuliskan tentang
pencapaian cinta saya terhadap seorang wanita. Bahwa saya mengaku
mendapatkannya karena perjuangan saya yang sedemikian beratnya. Sebenarnya
tidak. Dari apa yang saya tulis,semua hanyalah sebatas kebahagiaan saya
mendapatkannya. Saya bangga bukan karena perjuangan saya, melainkan
‘mengenalnya’-lah yang membuat saya bangga.
Di sini sebetulnya saya hanya ingin sekedar berbagi
tentang pribadi saya. Tidak lebih.
Barangkali banyak di antara sekian orang yang membaca
tulisan saya salah tangkap dalam imajinya. Ya, memang salah satu faktornya
adalah tulisan saya sendiri yang kurang dapat memahamkan kepada si pembaca,
sehingga banyak dari mereka yang kedapatan keliru mencerna isi dari apa yang
sudah saya tulis.
Sejujurnya, saya tidak pernah puas atas apa yang saya
dapatkan saat ini. Semua semata karena saya masih jauh dari sekian banyak
orang-orang yang telah mumpuni dalam bidang tulis-menulis: Saya masih di sini,
belum di situ, apalagi di sana!
Tidak jarang saya kebingungan dalam menentukan kategori
tulisan saya. Apakah cerpen? Ataukah esai? Ataukah sajak-sajak yang panjang?
Saya juga tidak tahu.
Bahkan salah seorang teman saya mengatakan: Ini
tulisan apa? Sajak ataukah cerpen? Saya hanya diam sedikit kebingungan. Saya
sendiri juga tidak tahu itu tulisan apa? Lantas saya menjawab seenaknya: Sajak!
Tentunya dengan ekspresi yang tidak enak dipandang.
Saya juga masih bingung dengan potensi apa yang sebenarnya
bisa saya unggulkan dalam bidang kepenulisan. Acap kali keinginan saya
berubah-ubah. Dari keinginan menjadi seorang cerpenis, esais, hingga novelis. Terlalu
banyak keinginan-keinginan saya, sehingga saya sendiri bingung dengan
pencapaian apa yang telah saya dapatkan—selama ini.
Jika menjadi cerpenis, sejauh ini saya belum pernah menggubah
cerpen yang baik. Jika menjadi esais, selama ini saya jugabelum bisa membuat
karangan bebas yang mumpuni. Apalagi
novelis! Pikiran saya sama sekali tidak kritis dalam menangkap
kejadian-peristiwa di sekitar.
Tidak jarang saya gelagapan bila disuruh membuat artikel-artikel
singkat. Apalagi harus membuat dengan spontan. Jujur, saya masih sering tidak
siap. Sehingga setiap saya membikin artikel, seringkali saya harus menguras
pikiran.
Saya sadar. Itu semua adalah keterbatasan saya. Tentunya
bukan hanya sebatas kesadaran. Tanpa ada sebuah tindakan, pastinya tidak
sempurna, kan?
Dari sana, saya harus bisa lebih mengevaluasi setiap
pekerjaan tangan-pikiran saya. Tidak cukup evaluasi saja. Perlu juga
peningkatan yang (semoga) bisa menyempurnakan. Sehingga pada akhirnya,
keinginan saya menjadi seorang cerpenis, esais, atau novelis, tidak berujung
sekedar harapan. Tentunya pada saat itu tiba: Saya akan menjadi orang yang
berbahagia...

0 komentar:
Posting Komentar