Senin, 13 Mei 2013

Entah sebab apa, seketika saja saya ingin menuliskan beberapa kalimat seusai saya melunasi tulisan saya yang berjudul “Cobalah Mengerti – Peterpan.”

Akhir-akhir ini saya memang banyak menuliskan tentang pencapaian cinta saya terhadap seorang wanita. Bahwa saya mengaku mendapatkannya karena perjuangan saya yang sedemikian beratnya. Sebenarnya tidak. Dari apa yang saya tulis,semua hanyalah sebatas kebahagiaan saya mendapatkannya. Saya bangga bukan karena perjuangan saya, melainkan ‘mengenalnya’-lah yang membuat saya bangga.

Di sini sebetulnya saya hanya ingin sekedar berbagi tentang pribadi saya. Tidak lebih.

Barangkali banyak di antara sekian orang yang membaca tulisan saya salah tangkap dalam imajinya. Ya, memang salah satu faktornya adalah tulisan saya sendiri yang kurang dapat memahamkan kepada si pembaca, sehingga banyak dari mereka yang kedapatan keliru mencerna isi dari apa yang sudah saya tulis.

Sejujurnya, saya tidak pernah puas atas apa yang saya dapatkan saat ini. Semua semata karena saya masih jauh dari sekian banyak orang-orang yang telah mumpuni dalam bidang tulis-menulis: Saya masih di sini, belum di situ, apalagi di sana!

Tidak jarang saya kebingungan dalam menentukan kategori tulisan saya. Apakah cerpen? Ataukah esai? Ataukah sajak-sajak yang panjang? Saya juga tidak tahu.

Bahkan salah seorang teman saya mengatakan: Ini tulisan apa? Sajak ataukah cerpen? Saya hanya diam sedikit kebingungan. Saya sendiri juga tidak tahu itu tulisan apa? Lantas saya menjawab seenaknya: Sajak! Tentunya dengan ekspresi yang tidak enak dipandang.

Saya juga masih bingung dengan potensi apa yang sebenarnya bisa saya unggulkan dalam bidang kepenulisan. Acap kali keinginan saya berubah-ubah. Dari keinginan menjadi seorang cerpenis, esais, hingga novelis. Terlalu banyak keinginan-keinginan saya, sehingga saya sendiri bingung dengan pencapaian apa yang telah saya dapatkan—selama ini.

Jika menjadi cerpenis, sejauh ini saya belum pernah menggubah cerpen yang baik. Jika menjadi esais, selama ini saya jugabelum bisa membuat karangan bebas yang mumpuni.  Apalagi novelis! Pikiran saya sama sekali tidak kritis dalam menangkap kejadian-peristiwa di sekitar.

Tidak jarang saya gelagapan bila disuruh membuat artikel-artikel singkat. Apalagi harus membuat dengan spontan. Jujur, saya masih sering tidak siap. Sehingga setiap saya membikin artikel, seringkali saya harus menguras pikiran.

Saya sadar. Itu semua adalah keterbatasan saya. Tentunya bukan hanya sebatas kesadaran. Tanpa ada sebuah tindakan, pastinya tidak sempurna, kan?

Dari sana, saya harus bisa lebih mengevaluasi setiap pekerjaan tangan-pikiran saya. Tidak cukup evaluasi saja. Perlu juga peningkatan yang (semoga) bisa menyempurnakan. Sehingga pada akhirnya, keinginan saya menjadi seorang cerpenis, esais, atau novelis, tidak berujung sekedar harapan. Tentunya pada saat itu tiba: Saya akan menjadi orang yang berbahagia...

Minggu, 22 Juli 2012
—08:36 pm

0 komentar:

Posting Komentar