Senin, 23 Desember 2013

: Kepada V, yang indah

I/

V, bukankah aneh jika aku memaksamu untuk tetap di sini, di sampingku—sementara badai-caci-maki tengah melanda kita di depan mata? Kita harus melarikan diri, V, menyelamatkan apa-apa yang bisa diselamatkan; membawa apa saja yang masih diperlukan. Dan aku, aku akan membawamu, tentu saja.

Aku akan membawamu, V, menyelamatkanmu dari badai itu, dari caci-maki orang-orang yang tak menginginkan kedekatan kita. Jauh. Sejauh jarak-pandang kita.

Tapi, mungkinkah aku bisa menjinakkan badai itu? Tanpamu, rasanya cukup sulit, V. Sebab aku bukan (si)apa-(si)apa.

II/

V, kadang-kadang, perkenalan yang terlalu jauh, pertemuan yang terlalu dalam, hanya akan membuat kita pingsan dan lalu lupa ingatan. Barangkali kita adalah satu di antara ribuan contoh yang ada di muka bumi ini.

Jika waktu bisa kuakali agar ia berjalan ke belakang, sesungguhnya aku mau mengatakan semua itu, V, padamu. Tapi aku tahu, dan kau juga tahu, waktu memang tak bisa diulang. Dan semua sudah berjalan: Ia bukan film picisan, yang dibalut dengan slow motion atau kisah menyedihkan, yang bisa kita putar lagi, dan lagi; semacam replay pada adegan yang kita inginkan untuk kemudian kita tonton—berulang-ulang.

Maka satu-satunya cara adalah, lepaskan saja, V, satu per satu, foto-kenanganmu denganku di dinding hatimu—meski sulit, meski sakit. Dan kau hanya perlu palu dan tenaga untuk melakukan itu.

III/

V, jadi, inikah ujung dari perkenalanku denganmu dua tahun lalu—di mana aku harus minta ampun pada mimpi dan harapanku?

Jika memang benar, maka kuharap kita sama-sama bisa menerima. Bukankah memang harus begitu? Berat, itu yang kita rasakan. Kau mungkin kecewa atas semuanya? Atas keputusan ini? Atas apa saja yang ada sekaligus terjadi? Ya. Di luar itu, aku juga berhak kecewa, V, sepertimu.

Semua, terutama dirimu, adalah alasan yang membuat bebanku bertambah berat. Dan tak mudah buat merasakan sakit ini. Ada perasaan tak terima. Butuh waktu. Seperti tak mudahnya mendapatkanmu, seperti butuh banyaknya waktu buat mendapatkan cintamu—dulu.

Seperti manusia lain yang menjejakkan kaki di dunia, V, aku bisa menangis, aku bisa marah, memukul apa-apa di sekitarku, memaki siapa-siapa, menyerapahi semuanya. Tapi lantas buat apa semua itu, V, jika kemurunganku tak bisa mengubah keadaan? Semua ini, semacam apa boleh buat, V. Semacam kerikil yang membuat kita terpeleset lalu jatuh pada saat lomba maraton, sementara garis finish sudah terbentang jelas di depan mata kita.

Bahwa aku pernah bermimpi untuk hidup satu atap denganmu, dan bahagia bersamamu, semua mesti gagal, V, dengan alasan yang kita berdua sudah tahu.

IV/

Barangkali beberapa pekan atau bahkan beberapa bulan ke depan, aku hanya ingin menangis, menangis, dan menangis. Biarkan airmata jadi puisi. Dan aku juga mau menyendiri, membuat bait-bait paling murung dan sakit, atau melakukan hal-hal, apa saja, yang lebih parah untuk kurasakan sendiri:

            Aku mau menunggumu di sini
saat pagi masih basah akibat embun
atau malam mengancam melalui kegelapan
               
Aku mau menunggumu saja
saat gerimis mulai memburamkan namamu
pada kaca jendela rumahku

Maka biarkan segalanya berjalan, V, apa adanya. Seperti sepi yang akan terbelah oleh suara. Sejajar dengan kata pasrah dan putus asa.

Tegalsari,
Selasa, 10 Desember 2013

—03:36 pm

*Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar