: Kepada V, yang indah
I/
V, bukankah aneh jika aku memaksamu untuk
tetap di sini, di sampingku—sementara badai-caci-maki tengah melanda kita di
depan mata? Kita harus melarikan diri, V, menyelamatkan apa-apa yang bisa
diselamatkan; membawa apa saja yang masih diperlukan. Dan aku, aku akan membawamu,
tentu saja.
Aku akan membawamu, V, menyelamatkanmu dari
badai itu, dari caci-maki orang-orang yang tak menginginkan kedekatan kita.
Jauh. Sejauh jarak-pandang kita.
Tapi, mungkinkah aku bisa menjinakkan badai
itu? Tanpamu, rasanya cukup sulit, V. Sebab aku bukan (si)apa-(si)apa.
II/
V, kadang-kadang, perkenalan yang terlalu
jauh, pertemuan yang terlalu dalam, hanya akan membuat kita pingsan dan lalu
lupa ingatan. Barangkali kita adalah satu di antara ribuan contoh yang ada di
muka bumi ini.
Jika waktu bisa kuakali agar ia berjalan ke
belakang, sesungguhnya aku mau mengatakan semua itu, V, padamu. Tapi aku tahu,
dan kau juga tahu, waktu memang tak bisa diulang. Dan semua sudah berjalan: Ia
bukan film picisan, yang dibalut dengan slow motion atau kisah
menyedihkan, yang bisa kita putar lagi,
dan lagi; semacam replay pada adegan yang kita inginkan untuk kemudian kita tonton—berulang-ulang.
Maka satu-satunya cara adalah, lepaskan saja,
V, satu per satu, foto-kenanganmu denganku di dinding hatimu—meski sulit, meski
sakit. Dan kau hanya perlu palu dan tenaga untuk melakukan itu.
III/
V, jadi, inikah ujung dari perkenalanku
denganmu dua tahun lalu—di mana aku harus minta ampun pada mimpi dan harapanku?
Jika memang benar, maka kuharap kita sama-sama
bisa menerima. Bukankah memang harus begitu? Berat, itu yang kita rasakan. Kau
mungkin kecewa atas semuanya? Atas keputusan ini? Atas apa saja yang ada
sekaligus terjadi? Ya. Di luar itu, aku juga berhak kecewa, V, sepertimu.
Semua, terutama dirimu, adalah alasan yang
membuat bebanku bertambah berat. Dan tak mudah buat merasakan sakit ini. Ada
perasaan tak terima. Butuh waktu. Seperti tak mudahnya mendapatkanmu, seperti
butuh banyaknya waktu buat mendapatkan cintamu—dulu.
Seperti manusia lain yang menjejakkan kaki di
dunia, V, aku bisa menangis, aku bisa marah, memukul apa-apa di sekitarku,
memaki siapa-siapa, menyerapahi semuanya. Tapi lantas buat apa semua itu, V,
jika kemurunganku tak bisa mengubah keadaan? Semua ini, semacam apa boleh buat,
V. Semacam kerikil yang membuat
kita terpeleset lalu jatuh pada saat lomba maraton, sementara garis finish sudah terbentang jelas di depan
mata kita.
Bahwa aku pernah bermimpi untuk hidup satu
atap denganmu, dan bahagia bersamamu, semua mesti gagal, V, dengan alasan yang
kita berdua sudah tahu.
IV/
Barangkali beberapa pekan atau bahkan beberapa
bulan ke depan, aku hanya ingin menangis, menangis, dan menangis. Biarkan
airmata jadi puisi. Dan aku juga mau
menyendiri, membuat bait-bait paling murung dan sakit, atau melakukan hal-hal, apa saja, yang lebih parah
untuk kurasakan sendiri:
Aku mau menunggumu di sini
saat pagi masih basah akibat embun
atau malam mengancam melalui kegelapan
Aku mau menunggumu saja
saat gerimis mulai memburamkan namamu
pada kaca jendela rumahku
Maka biarkan segalanya berjalan, V, apa
adanya. Seperti sepi yang akan terbelah oleh suara. Sejajar dengan kata pasrah dan putus asa.
Tegalsari,
Selasa, 10 Desember 2013
—03:36 pm
*Gambar diambil dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar