Minggu, 15 Desember 2013

Selamat malam. Izinkan kembali aku memasuki ruanganmu paling pribadi. Ruangan yang di dalamnya selalu tertata rapi: ada satu meja sepaket dengan kursi, yang di atasnya ada bunga yang setiap hari diganti. Juga,satu kursi panjang yang khusus kamu sediakan buat tamu.

Tunggulah sebentar. Soal kursi panjang yang kamu sediakan untuk tamu tadi, aku tahu ia hanya kaukhususkan buat tamu yang istimewa saja—orang terdekatmu. Dan aku pernah duduk dan meminum teh, di sana. Bersamamu.

Aku beruntung bisa menjadi salah seorang yang dapat masuk ruangan pribadi milikmu. Selama setahun berada di sana, rasanya aku tak pernah kekurangan apapun: kamu selalu memberikan lebih kepadaku. Tentang kesehatanku,kamu terus berpesan agar aku lebih peduli menjaganya. Maklumlah, aku memang agak cuek urusan kesehatan. Dan kamu tahu itu.

Pengalamanku ketika masih tinggal di ruangan pribadimu—yang hingga kini masih kuingat—adalah ketika suatu hari aku pernah memaksa untuk pergi meninggalkan ruanganmu, untuk mencari ketenangan atau sekadar merasakan udara lembap yang, kata orang-orang, segar. Tapi kamu mencegah dan terus membujukku untuk tak pergi dari ruanganmu.

“Tenanglah sebentar. Jangan terlalu banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya buatmu. Tetaplah di sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.” Katamu membujukku.

Aku terus bersikeras dan tetap ingin pergi meninggalkanmu di ruangan ini. Dan kamu, meski kutahu terpaksa—lebih tepatnya sangat terpaksa,akhirnya mengizinkanku untuk pergi. Senangku bukan kepalang saat kamu mengizinkanku. Sungguh.

Aku yang membangkang nasihatmu, akhirnya menyesal ketika salah seorang menawarkan ‘persinggahan’. Mula-mula aku tak mau. Tapi lama-lama akhirnya aku terbujuk untuk singgah ke tempatnya. Saat itu, entah bagaimana caranya, ia mampu membuatku memercayai kata-katanya.

Satu, dua, empat, sepuluh, duapuluh satu hari aku tinggal di sana, ia membuatku terus tertawa dan bahagia. Sungguh. Sebuah perlakuan yang belum pernah kudapatkan darimu sebelumnya. Hingga genap sebulan, aku baru tahu dan kemudian sadar bahwa seorang tersebut ternyata memiliki tak hanya satu tempat ‘persinggahan’. Tapi lebih!

Ah!

Tiba-tiba aku ingat nasihatmu, agar aku tak pergi dari ruangan pribadimu: “Tenanglah sebentar. Jangan terlalu banyak memakan omongan orang. Di luar sangat berbahaya buatmu. Tetaplah di sini, denganku. Kamu akan baik-baik saja.”  Lamat-lamat suaramu menyelinap ke telingaku. Pikirku, kenapa semua baru terasa seberat ini?

Untuk sebuah penyesalan,mengapa Tuhan menciptakannya untuk kita rasakan di akhir cerita? Mengapa rasa-sakit-akibat-penyesalan selalu lebih menyakitkan? Dan, mengapa kita tak diberitahu—minimal sketsa rahasia di masa depan—agar kita, paling tidak, bisa lebih waspada? Dan, aku jadi mengerti kalau memang kamu sungguh-sungguh memberikan semuanya. Untukku. Sekali lagi, aku menyesal! Ah!

Maafkan aku. Sungguh maafkan aku. Aku tak ingin lagi mengacak-acak ruangan pribadimu yang telah rapi dengan kembalinya aku kemari. Maka izinkan aku untuk menengok isinya kini. Kali ini aku tak akan memaksa untukmendapatkan persetujuanmu.

Dan, tak terbantahkan. Kamu adalah satu-satunya orang yang memberikanku semuanya, tanpa meminta kembaliannya: Kamu menerimaku kembali sebagai tamu istimewa. Sebagai bentuk terima kasihku, aku akan mematuhi nasihatmu dan tak akan keluar dari ruangan ini, kecuali denganmu: Aku janji!

***

Nyatanya, hingga kini, kamu tak pernah memiliki ruangan pribadi lain, kecuali yang kuhuni ini. Aku bersyukur bisa tinggal di sini,bersamamu. Di ruanganmu yang paling pribadi. Ya. Di hatimu.


Tegalsari,
Sabtu, 12 Oktober 2013
—11:24 pm

*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar