Minggu, 15 Desember 2013

Bagaimana jika aku adalah manusia yang luar biasa? Barangkali aku akan kebal  dari rasa sakit akibat kesalahan yang kamu buat, atau yang orang lain perbuat. Tetapi buat apa jadi manusia luar biasa? Apa bangganya? Apa hebatnya?

Jika aku manusia luar biasa yang kebal dari rasa sakit akibat perbuatan orang terhadapku, barangkali aku akan menolak kosakata “maaf”—

Itu hanya aku yang berandai-andai. Bayangkan jika seluruh manusia ingin menjadi manusia yang luar biasa? Bisa jadi kita, aku, kamu, dan milyardan manusia yang hidup di dunia tak akan mengenal perbendaharaan kata “maaf”, tentu saja.

Maka apa jadinya? Aku tak akan mendengar kata “maaf” yang kamu ucapkan dengan roman muka tulus, darimu. Dan aku tak mungkin mendengar mulutmu berkata “terima kasih” setelah aku memaafkanmu.

***

Hari ini kamu, lagi-lagi, membuat kesalahan padaku. Tapi aku bersyukur. Itu artinya, kita sama-sama diberi anugerah oleh Tuhan untuk tetap saling mengenal: Aku akan kembali melihat dan mendengar kamu mengucapkan maaf padaku, lantas aku akan memaafkanmu. Dan kamu, tentu saja, akan berterima kasih kepadaku—dengan rona merah terbit di mukamu.

Maka jangan menyesal atas kejadian hari ini yang barangkali terlalu sakit untuk dirasakan... tak bisa dinikmati.

Aku beruntung kita bisa saling mengenal, untuk kemudian saling membuat salah, lalu saling memaafkan; Dan, ah ya, selanjutnya kita baru sadar jika aku dan kamu baru saja berkenalan dengan “kedekatan”.

Tegalsari,
Sabtu, 7 September 2013

—07:21 pm

*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar