Mama, aku
kembali berdiri di sebelah jendela--termangu memandangi denah rumah kita: empat
buah kursi dan satu meja saling bertatapan, tak mau tahu kepadaku. Aku masih
bingung dengan kejadian yang menimpa kita--
Kemarin
sore, dua orang utusan bank datang ke rumah. Mereka berdua menagih
hutang-hutang saudara kita kepadamu.
"Ibu, jangka waktu pembayaran
hutang Ibu kurang sebulan lagi. Mohon segera dilunasi! Kami permisi." aku mendengarkan salah seorang utusan
bank menutup pembicaraan dan bergegas pulang.
Aku
melihatmu menangis di kursi ruang tamu ini. Sementara dua tamu tadi
meninggalkan satu surat berisikan total tagihan yang harus segera dibayar. Rp
80.000.000,-. Demikian tulisan yang tertera di sana.
Rp 80.000.000,-
Hah! Gila!
Mama harus melunasi hutang sebanyak itu? Sementara uang tabunganmu hanya cukup
untuk makan empat hari ke depan. Dapat darimana uang sebanyak itu? Kita seperti
orang yang tak makan buah nangka, tapi terkena getahnya! Apa-apaan semua ini!?
Aku semakin
tak mengerti dengan kejadian ini--
Saudara
kita, yang meminjam uang sebanyak itu di bank, melarikan diri entah ke mana?
Padahal jaminan atas peminjaman uang adalah rumah kita. Setiap hari Mama
berusaha menghubunginya, tapi percuma: Tak pernah diangkat.
Bahkan,
suatu ketika, kamu pernah mencoba mengirim SMS--untuk memberitahukan bahwa
surat tagihan yang ketiga dari bank sudah diantar ke rumah. Dan, di luar
dugaan. Mama malah ditanya: "Ini
siapa, ya?"
***
Mama,
sebulan yang lalu aku diberi nasihat guruku: "Ketika seorang hamba menanggung banyak dosa, sementara amalnya tak
cukup untuk melunasi dosa-dosanya, maka hamba tersebut akan dicoba--diberi
ujian untuk melebur dosanya."
Ha? Apa
kita banyak dosa, Mama? Apa kita banyak
berbuat salah--sehingga Tuhan memberi ujian seperti ini kepada kita?
Ternyata
tidak sepenuhnya. Guruku memberikan kelanjutan nasihatnya: "Dan dosa itu tak sepenuhnya dari kita; bisa
dari anak atau saudara kita. Lalu penebusannya bisa melalui raga kita yang
sakit, harta-benda kita yang berkurang, atau keluarga kita yang tertimpa
bencana."
Kini aku
masih berdiri di sini, Ma, menatap lekat-lekat ruang tamu ini. Jika suatu hari kita harus angkat kaki dari
sini, siapkah kita, Mama?
Pertanyaan
itu sebenarnya untukku sendiri. Jika suatu hari aku harus angkat kaki dari
rumah ini, siapkah aku? Aku masih ragu. Bagaimana bisa aku berpisah dengan
teman-temanku? Biasanya setiap sore, aku pergi ke Pondok untuk menemui
teman-teman: meminta bantuan mereka, meminjam buku, menanyakan suatu hal, atau sekadar
berbincang-bincang.
Mama,
siapkah aku--jika harus angkat kaki dari rumah ini? Aku masih ragu, Ma. Jika
ada dari temanku, guruku, atau siapa saja yang mengenaliku, mendatangi rumah
ini, lalu mereka tahu bahwa ternyata aku tak lagi berada di sini, bagaimana
mereka? Maksudku, bagaimana respon mereka--terhadap nasib yang menimpa kita?
Apakah
mereka biasa saja? Apakah mereka bersimpati? Atau merasa kasihan kepada kita?
Ah, aku tak
mau dikasihani. Aku tak mau melihat orang-orang yang mengenaliku kasihan kepadaku.
Dan sebelum itu semua terjadi, apakah aku dan kamu siap jika harus angkat kaki
dari rumah ini?
Aku tak
berani menjawab. Aku masih ragu, Mama, aku masih ragu.
Bagaimana
kalau Canda mendengar soal ini--dan dia tahu kalau kita mesti pindah dari sini?
Otomatis aku bakal kangen dia. Aku bakal lebih lama lagi tidak bertemu
dengannya. Aku belum siap, Mama!
Lalu,
warung Mama bagaimana?
***
Ma, kupikir
kita masih bisa berada di sini lebih lama lagi, dan mengatasi semua ini secara
baik-baik. Tapi matamu kini tak tegak lagi. Sementara aku tak bisa apa-apa.
Para tetangga juga sudah tahu yang sebenarnya.
Ah, Mama
jangan bersedih lagi. Lekas usap airmatamu yang mengalir di pipi: Semua pasti
ada jalannya, Ma.
Semoga kita tetap tinggal di sini!
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar