Sabtu, 07 Desember 2013

Mama, aku kembali berdiri di sebelah jendela--termangu memandangi denah rumah kita: empat buah kursi dan satu meja saling bertatapan, tak mau tahu kepadaku. Aku masih bingung dengan kejadian yang menimpa kita--
Kemarin sore, dua orang utusan bank datang ke rumah. Mereka berdua menagih hutang-hutang saudara kita kepadamu.
"Ibu, jangka waktu pembayaran hutang Ibu kurang sebulan lagi. Mohon segera dilunasi! Kami permisi." aku mendengarkan salah seorang utusan bank menutup pembicaraan dan bergegas pulang.
Aku melihatmu menangis di kursi ruang tamu ini. Sementara dua tamu tadi meninggalkan satu surat berisikan total tagihan yang harus segera dibayar. Rp 80.000.000,-. Demikian tulisan yang tertera di sana.
Rp 80.000.000,-
Hah! Gila! Mama harus melunasi hutang sebanyak itu? Sementara uang tabunganmu hanya cukup untuk makan empat hari ke depan. Dapat darimana uang sebanyak itu? Kita seperti orang yang tak makan buah nangka, tapi terkena getahnya! Apa-apaan semua ini!?
Aku semakin tak mengerti dengan kejadian ini--
Saudara kita, yang meminjam uang sebanyak itu di bank, melarikan diri entah ke mana? Padahal jaminan atas peminjaman uang adalah rumah kita. Setiap hari Mama berusaha menghubunginya, tapi percuma: Tak pernah diangkat.
Bahkan, suatu ketika, kamu pernah mencoba mengirim SMS--untuk memberitahukan bahwa surat tagihan yang ketiga dari bank sudah diantar ke rumah. Dan, di luar dugaan. Mama malah ditanya: "Ini siapa, ya?"
***
Mama, sebulan yang lalu aku diberi nasihat guruku: "Ketika seorang hamba menanggung banyak dosa, sementara amalnya tak cukup untuk melunasi dosa-dosanya, maka hamba tersebut akan dicoba--diberi ujian untuk melebur dosanya."
Ha? Apa kita banyak dosa, Mama?  Apa kita banyak berbuat salah--sehingga Tuhan memberi ujian seperti ini kepada kita?
Ternyata tidak sepenuhnya. Guruku memberikan kelanjutan nasihatnya: "Dan dosa itu tak sepenuhnya dari kita; bisa dari anak atau saudara kita. Lalu penebusannya bisa melalui raga kita yang sakit, harta-benda kita yang berkurang, atau keluarga kita yang tertimpa bencana."
Kini aku masih berdiri di sini, Ma, menatap lekat-lekat ruang tamu ini. Jika suatu hari kita harus angkat kaki dari sini, siapkah kita, Mama?
Pertanyaan itu sebenarnya untukku sendiri. Jika suatu hari aku harus angkat kaki dari rumah ini, siapkah aku? Aku masih ragu. Bagaimana bisa aku berpisah dengan teman-temanku? Biasanya setiap sore, aku pergi ke Pondok untuk menemui teman-teman: meminta bantuan mereka, meminjam buku, menanyakan suatu hal, atau sekadar berbincang-bincang.
Mama, siapkah aku--jika harus angkat kaki dari rumah ini? Aku masih ragu, Ma. Jika ada dari temanku, guruku, atau siapa saja yang mengenaliku, mendatangi rumah ini, lalu mereka tahu bahwa ternyata aku tak lagi berada di sini, bagaimana mereka? Maksudku, bagaimana respon mereka--terhadap nasib yang menimpa kita?
Apakah mereka biasa saja? Apakah mereka bersimpati? Atau merasa kasihan kepada kita?
Ah, aku tak mau dikasihani. Aku tak mau melihat orang-orang yang mengenaliku kasihan kepadaku. Dan sebelum itu semua terjadi, apakah aku dan kamu siap jika harus angkat kaki dari rumah ini?
Aku tak berani menjawab. Aku masih ragu, Mama, aku masih ragu.
Bagaimana kalau Canda mendengar soal ini--dan dia tahu kalau kita mesti pindah dari sini? Otomatis aku bakal kangen dia. Aku bakal lebih lama lagi tidak bertemu dengannya. Aku belum siap, Mama!
Lalu, warung Mama bagaimana?
***
Ma, kupikir kita masih bisa berada di sini lebih lama lagi, dan mengatasi semua ini secara baik-baik. Tapi matamu kini tak tegak lagi. Sementara aku tak bisa apa-apa. Para tetangga juga sudah tahu yang sebenarnya.
Ah, Mama jangan bersedih lagi. Lekas usap airmatamu yang mengalir di pipi: Semua pasti ada jalannya, Ma.
Semoga kita tetap tinggal di sini!
 
Tegalsari,
Jumat, 2 Agustus 2013
--07:16 pm
*Gambar dari sini.
 

0 komentar:

Posting Komentar